music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Ancaman Nasionalisme Indonesia

00.23 |


Ancaman Nasionalisme Indonesia

Nama               : Arin Amini
NIM                : 13049
Jurusan            : Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan

Nasionalisme adalah perasaan cinta tanah, rasa memiliki, dan mau berkorban bagi bangsa dan negara. Nasionalisme diwujudkan baik perorangan maupun sekelompok orang atau pun suatu organisasi, namun nasionalisme kita yang tengah berada dalam ancaman, paling tidak diindikasikan semakin panjangnya deretan persoalan kebangsaan, seperti besarnya utang luar negeri, fenomena memudarnya rasionalitas dan praktik kriminalitas sosial yang terus diperagakan dalam lahan sosial Indonesia.
Dari tahun ketahun sikap warga tak lagi merasa bangga menjadi orang indonesia, kekecewaan publik tersebut bermuara pada berbagai kondisi yang mengimpit bangsa ini. Berbagai masalah yang dihadapi negara ini menggerus semangat kebangsaan warga Indonesia. Sumber kekecewaan kebayakan dalam persoalan perekonomian serta masalah penegakan hukum di negara ini.
Menurut hasil pengamatan para ahli, rasa nasionalisme bangsa kita sangatlah menipis, bahkan terancam punah. Yang muncul adalah Ikatan Primordialisme, yang berkiblat pada ikatan kesukuan, kedaerahan, keagamaan dan/atau antar golongan. Sejarah membuktikan, selama 30 tahun terakhir Indonesia tercengkeram oleh satu model kekuasaan yang otoritarian, yang biasa disebut rezim Orde Baru. Sebagai akibatnya, banyak masalah ketidaksukaan dan ketidakpuasan bergolak di bawah permukaan. Yang paling menonjol saat itu adalah matinya demokrasi, menjamurkan KKN, tidak adanya hukum yang berkeadilan, dan sebagainya. Akibat kondisi terebut, potensi keretakan berubah menjadi bom waktu. Banyak orang mencoba memobilisasi agama, atau etnisitas, atau bahkan mengusung wacana dunia seperti demokrasi dan keadilan universal untuk melakukan konsolidasi resistensi. Dengan tergesa-gesa dan ceroboh, rezim menyelesaikan resistensi itu dengan kekerasan terbuka atau tersembunyi. Kita tahu, pada waktu itu aparat militer sungguh berkuasa dan menakutkan. Apakah militer melakukan itu dengan memegang semangat nasionalisme Indonesia. Namun, strategi yang paling jitu untuk menangkal resistensi itu pemerintah Orde Baru memanfaatkan nasionalisme untuk mengontrol dan menek potensial yang menghancurkan pemerintahan bahkan negara. Dalam hal ini nasionalisme haruslah dibangun sedemikian rupa yang berkiblat pada bagaimana mempertahankan pluralisme (Bhineka Tunggal Ika) agar kekecewaan-kekecewaan yang terjadi di lokal-lokal dapat dipatahkan. 
Nasionalisme Indonesia dikedepankan untuk menahan agar nasionalisme etnis, atau nasionalisme agama, atau nasionalisme geografis tidak berkembang menjadi kekuatan yang bisa mematikan rasa kebenikatunggal ikaan dalam negara indonesia. Negara Indonesia di dalam wawasan nusantara, yang mengakomodir ketergantungan global. Namun nasionalisme semacam itupun sangat sulit dibangun jika sistem sosial, sistem hukum dan sistem pemerintahan telah terkontaminasi dengan budaya korupsi yang tidak dapat dicegah. Selama Orde Baru, sistem politik atau struktur kekuasaan telah memungkinkan merajalelanya korupsi besar-besaran di segala bidang.
Korupsi yang “membudaya” ini telah membuat kerusakan-kerusakan parah bahkan sampai kepada budaya prilaku masyarakat lapisan bawah yang memandang korupsi sebagai bagian dari sistem sosial, politik, ekonomi, hukum dan pemerintahan. Sekalipun dalam undang-undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi mulai dari UU No.31 tahun 1999 Jo.
UU No.20 tahun 2001 yang dalam pertimbangannya telah menegaskan bahwa “akibat tindak pidana korupsi yang terjadi selama ini selain merugikan keuangan negara atau perekonomian negara, juga menghabat pertumbuhan dan kelangsungan pembangunan nasional yang menuntut efisiensi tinggi”. Korupsi tidak hanya sekedar merusak keuangan dan perekonomian negara, akan tetapi merusak seluruh sendi-sendi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara yang berdaulat. Dari tindak korupsi ini nilai-nilai pancasila sudah mulai luntur dan menjadi disintegrasi bangsa, nasionalisme di perbatasan terguncang, sosial dan politik yang terjadi, dan masih banyak lagi kondisi yang terulang, tetapi penyelesaiannya seperti baru pertama kali mendapati sebuah persoalan dan seolah-olah untuk menyelesaikannya seperti kebakaran jenggot.
Selain tindak korupsi ancaman lain nya terhadap rasa nasionalisme adalah sentimenti kedaerahan meningkat seiring berkembangnya otonomi daerah yang diiringi goyangnya hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Era keterbukaan dan desakan anti sentralistik mendorong gerakan dan tuntutan baru agar daerah-daerah diberi kebebasan lebih luas untuk mengelola dan mengembangkan wilayah. Maka, semangat pemekaran daerah yang berkembang seolah menjadi air bah yang tak terbendung. Berbagai masalah pascapemekaran, seperti konflik perbatasan, perebutan sumber daya alam antardaerah, dan konflik pemerintah pusat dengan pemerintah daerah, jadi masalah baru.
Selain itu Sejumlah masalah muncul mulai dari pertikaian antaretnis, isu separatisme di sejumlah daerah, konflik antaragama hingga konflik politik lokal di berbagai wilayah seperti kasus Ambon, Poso, Kalimantan Barat, sampai pertikaian antarkampung menjadi soal yang datang beruntun. Gugatan kepada negara pun meningkat. Negara dianggap sudah tidak lagi mampu menjamin hak warga untuk memperoleh rasa aman. kelompok seperatisme adalah satu kelompok yang mencoba melakukan pemisahan diri dengan kelompok yang lain-satu bangsa dari negara-dalam kesatuannya. Karena berdirinya bangunan negara oleh kesatuan bangsa itu, maka persepsi tentang seperatisme sering diposisikan sebagai pemeran antagonis yang menjadi ancaman dan harus dimusnahkan.
Minimnya rasa nasionalisme pada mahasiswa juga menurun hal ini bisa dilihat dari mahasiswa telah banyak melakukan protes terhadap negaranya, bahkan kerusuhan pun terjadi dimana-mana. Jika melihat sisi lain, sekelompok mahasiswa mungkin tak peduli terhadap negaranya. Yang terdapat dalam pikiran mereka hanyalah belajar untuk mendapatkan kepuasan diri, yang terwujud dalam keinginan sukses terhadap studi saja. Dengan kata lain, mungkin sebagian mahasiswa tidak mau dipusingkan dengan situasi bangsa ini. Namun, akan menjadi lebih baik ketika seorang mahasiswa memiliki kemauan untuk berjuang bagi bangsa dan studinya. Karena studi menjadi modal dalam rangka menjadi penerus bangsa ini. Nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui keikutsertaan seseorang dalam suatu peperangan demi mempertaruhkan harga diri bangsanya. Hal-hal lain yang dapat diwujudkan diantaranya, mencinta produk-produk dalam negeri dan menggunakan produk-produk tersebut dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat ini, Indonesia telah banyak diperhadapkan dengan berbagai masalah yang mengancam hampir seluruh bidang kehidupan yang ada.Berdasarkan fakta, beberapa mahasiswa yang belajar di luar negeri, kembali lagi ke negeri ini demi membenahi sistem yang ada di negara kita. Namun, sangat memprihatinkan ketika melihat mahasiswa Indonesia, tak ingin kembali ke negaranya. Hal ini dapat terjadi karena  banyak faktor yang manjadi penyebabnya, diantaranya, karena mereka sudah terlena dengan situasi yang membuat diri mereka nyaman di luar sana, belajar di luar negeri merupakan cita-cita mereka sehingga akhirnya mereka bertekad untuk mendapat pekerjaan pula disana dengan gaji yang cukup tinggi, tidak adanya lahan kerja yang sesuai untuk mengaplikasikan ilmunya di negara sendiri, neraga tidak mementingkan orang-orang pitar tetapi negara secara halus mengusir mereka karena kebanyakan dari pejabat-pejabat yang menduduki jabatan penting dipemerintahan telah diisi oleh orang-orang yang bermental lemah dan lain sebagainya. Seperti halnya PT. Freeport. Perusahaan yang saat ini dipegang oleh negara asing, telah merugikan banyak pihak di Indonesia, tertutama Provinsi Papua. Dan Kemanakah orang-orang cerdas yang mau berjuang untuk mengelola kekayaan di provinsi ini, jawabannya mereka sudah enggan melihat negara ini yang dipenuhi dengan politik kotor dan tangan-tangan korupsi.
Memang sulit untuk terus menumbuhkan jiwa nasionalisme masyarakt Indonesia saat ini. Namun, tidak ada salahnya ketika kita mulai dengan diri sendiri. Dengan hal-hal kecil yang bisa kita lakukan, bukan dengan hal besar yang terus kita bayangkan namun tak pernah ada realisasinya dan hanya membuang pikiran kita saja. Dan  permasalahan akan selesai, kalau ada I’tikad yang baik dari semua lini berpikir dan bekerja untuk menuntaskan masalah, dan kerja sama yang baik antara pemberi kebijakan, elit yang mempunyai kepentingan dan rakyat secara keseluruhan. Sehingga berharap saling memberi kepercayaan terjalin dengan baik, dan sehingga rakyat tidak lagi menjadi korban kepentingan antara pemilik kebijakan dan para elit, karena yang rakyat butuhkan hanya ketentraman, kenyamanan, dan kesejateraan.








1 komentar:

Poskan Komentar