music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Budaya Ilmiah

00.23 |


Nama               : Arin Amini
NIM                : 13049
Jurusan            : Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan (HPT)

Budaya Ilmiah

Budaya ilmiah atau budaya akademik adalah budaya atau perilaku para ilmuwan atau masyarakat akademik yang sesuai dengan kaidah-kaidah keilmuan. Budaya ilmiah juga sering  disebut sebagai budaya saintifik (scientific culture). Selain itu budaya ilmiah juga disebut sebagai budaya baru yang mengikuti perkembangan jaman dan merupakan metamofosis dari suatu budaya, dimana budaya baru inilah yang akan menghasilkan ilmu-ilmu pengetahuan baru, menciptakan teknologi-teknologi baru, dan  dimanfaatkan oleh masyarakat guna mempermudah melakukan kegiatan-kegiatan manusia. Dan pada akhirnya budaya ilmiah ini diharapkan dapat merubah cara pikir masyarakat menjadi masyarakat modern yang ilmiah.
Namun pada kenyataannya bangsa kita jarang sekali menghidupkan budaya ilmiah ini, semua ini terlihat dari cerminan generasi mudanya, mulai dari pelajar sampai mahasiswa terlibat tauran antar pelajar atau kampus, seks bebas meraja lela, praktek aborsi, peminum, pemakai narkoba, pengedar bahkan ada yang sudah menjadi bandar dalam usia tersebut. Keadaan ini sangat memprihatinkan, seharusnya mereka mengisi waktu lunag mereka untuk kegiatan yang lebih positif dan lebih ilmiah seperti aktif dalam keorganisasisan, diskusi dan kegiatan positif lainnya. Sehingga dengan membudayakan aktifitas yang bersifat ilmiah ini akan menjadikan generasi muda yang  cerdas dalam ilmu pengetahuan, keterampilan maupun santun dalam interaksinya.
Tak jarang kita jumpai disekitar kita mahasiswa yang membeli skripsi, mafia-mafia penulisan skripsi dan bahkan tesis yang ada di kota-kota besar. Ini hanyalah sebagian contoh budaya instan akademik yang  menakutkan karena telah mematikan kejujuran akademik dan proses pembelajaran itu sendiri, selain itu masih banyak kejahatan lain yang tidak kita sadari seperti plagiatisme, ketidakjujuran para ilmuan, dan peneliti yang merubah metode ilmiah, merubah hasil-hasil penelitian sehingga terlihat teratur dan benar, mengambil hasil karya orang lain dan mengatasnamakan sebuah karya yang bukan menjadi haknya.
Cerminan budaya ilmiah juga masih kurang terlihat dalam skripsi-skripsi dan tesis-tesis yang mereka tulis, begitu sedikitnya ucapan terima kasih, apresiasi, dan sumber. Padahal untuk merampungkan karya ilmiah tersebut, tentunya bukan datang langsung dari pemikirannya sendiri, ada banyak buku, link-link internet, dan ada banyak orang yang terlibat dalam penyelesaiaannya, walaupun secara tidak langsung. Tapi lagi-lagi, kita jarang memperhatikan budaya ilmiah ini. Lebih-lebih ketika kita mengCopy-paste karya mereka, kita yang kadang bertindak sebagai plagiat tidak pernah memikirkan perasaan mereka yang telah menyusun kata demi kata hingga menjadi artikel yang bagus. Kita seharusnya merubah pola pikir kita dan memperbaiki serta berusaha untuk menumbuhkan budaya ilmiah ini, budaya ilmiah ini bisa ditumbuhkan dengan beberapa cara seperti:
1.        Budayakan Membaca. Dengan membaca kita membuka jendela dunia, dan menembus ruang dan waktu, kita juga mendapatkan informasi baru sehingga pengetahuan kita bertambah pula. Membaca tidak terbatas diatas kertas tapi kita bisa membaca lewat internet, sehingga dalam waktu yang lama kebiasaan membaca akan menjadi kapabilitas kognitif seseorang meningkat dalam berbagai aspek. Untuk membuat kebiasaan membaca ini lebih menyenangkan bisa dimulai dengan membaca bidang/jurusan apa yang disenangi. Dan pada akhirnya dengan kebiasaan membaca ini kita bisa berkomentar terhadap bacaan tersebut sehingga diharapkan budaya membaca ini bisa menjadi jembatan bagi budaya ilmiah kedepannya.
2.        Budayakan Menulis. Apa yang kita baca seharusnya kita tulis, mulailah dari hal-hal yang kecil, dan paksalah diri kita untuk menulis karena dengan kebiasaan menulis ini tumbuh menjadi budaya yang melekat pada diri kita untuk mengekspresikan ide dan pemikiran kita sebagai sumbangsih  dalam mendorong terciptanya budaya ilmiah dikalangan remaja. Dan tanpa disadari tulisan-tulisan tersebut akan bermanfaat baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
3.        Budayakan berdiskusi. Apa yang selama ini dibaca dan ditulis belum pasti kebenarannya, maka dari itu perlu untuk berdiskusi dengan teman, orang yang lebih berilmu, dosen maupun pada seorang ahli. Diskusi adalah forum untuk menguji sejauhmana kemampuan ilmu pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki untuk dijadikan konsensus atau untuk dikritisi sebagai sesuatu yang masih banyak kelemahan dan kekurangannya dari berbagai aspek kajian. Oleh karenanya dengan diskusi kita akan semakin memahami betul akan pentingnya masukan, kritikan dan saran atas apa yang kita ketahui dan kita pahami selama ini. Dengan diskusi pula akan semakin meningkatkan kualitas komunikasi kita untuk dapat meyakinkan dan mempengaruhi orang lain.
4.        Aktif   dalam Forum/Organisasi Ilmiah. Remaja diharapkan berperan aktif didalam berbagai forum/organisasi ilmiah untuk memperdalam ilmu pengetahuan dan turut serta menyumbangkan ide dan pemikirannya. Melalui forum/organisasi ilmiah, setiap remaja akan terlihat cerdas dan unggul baik wawasan maupun ilmu pengetahun yang digelutinya.

Kembali kepermasalahan awal, jika kita bandingkan budaya ilmiah yang diterapkan oleh negara-negara asean, indonesia masih tertinggal jauh dengan malaysia, tahiland dan singapura. Menurut data yang dirilis oleh Scomagojr, Journal, and Country Rank pada 2011 menunjukkan fakta bahwa Indonesia menempati posisi ke-64 dari 236 negara yang di-rang king. Sepanjang 1996-2010, Indonesia memiliki 13.037 buah jurnal ilmiah jauh tertinggal dari Malaysia yang memiliki 55.211 jurnal dan Thailand sebanyak 58.931 jurnal. Maka dari itu kita sebagai generasi mudah seharusnya geram dan prihatin melihat jumlah jurnal ilmiah yang kita miliki, dan marilah kita mulai berkarya.
Melihat survei data tersebut DITJEN Dikti tahun ini mengeluarkan SK pendidikan tinggi, yaitu SK Dirjen Dikti No.152/E/T/2012 tentang publikasi karya ilmiah sebagai syarat kelulusan program sarjana, magister, dan doktor. Kebijakan ini dikeluarkan pada 27 Januari 2012 yang efektif berlaku mulai Agustus 2012 bagi semua perguruan tinggi negeri dan swasta di seluruh Indonesia. Di dalam surat tersebut dipaparkan kewajiban memublikasikan karya ilmiah ke jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan. Untuk lulus program sarjana, harus menghasilkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah. Untuk program magister, harus diterbitkan di jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang sudah terakreditasi oleh Ditjen Dikti. Untuk program doktor, di jurnal internasional.
Dalam surat tersebut juga disebutkan, antara lain alasan perlunya persyaratan itu. Jumlah karya ilmiah dari perguruan tinggi Indonesia dinilai secara total masih rendah jika dibandingkan dengan Malaysia, yakni sekitar sepertujuh. Tujuan akhir dari kebijakan ini adalah mendorong tumbuhnya budaya ilmiah, pengembangan keilmuan, dan meminimalisir plagiarisme. Program tersebut diharapkan akan meningkatkan publikasi ilmiah

Referensi:

0 komentar:

Poskan Komentar