music

Total Tayangan Laman

Share It

Keterkaitan Sosiologi dan Pertanian

05.45 |


Keterkaitan Sosiologi dan Pertanian

Tugas Sosiologi Pertanian





Oleh:
Arin Amini (13049)





Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada
2013
Kata Pengantar

Puji syukur, penulis  panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas segala berkat, bimbingan  dan pertolonganNya Penulis dapat menyelesaikan makalah ini tepat waktu. Penulis berharap makalah ini dapat memberikan suatu dampak positif bagi pembaca dan penulis sendiri.
Makalah yang berjudul Keterkaitan Sosiologi dan Pertanain disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Sosiologi Pertanian. Dan juga untuk menjelaskan bahwa sosiologi pertanian adalah salah satu pokok bahasan sosiologi yang sangat penting.
Penulis menyadari dalam makalah ini masih terdapat banyak kesalahan. Baik dalam penulisan, penyampaian, dan lain-lain. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membanguun dari para pembaca untuk menyempurnakan makalah ini.Semoga setiap kata dan tulisan yang ada dalam makalah ini dapat memberi kontribusi yang nyata untuk membawa kehidupan kita bersama ke arah yang lebih baik.



Yogyakarta, 3 Maret  2012

 Penulis








Daftar Isi

KataPengantar ........................................................................................   i
Daftar isi .................................................................................................  ii
BAB I     PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang................................................................. 1
B.   Tujuan ............................................................................. 1

 BAB II   URAIAN
A.     Sosiologi
a.1    Pengertian Sosiologi ............................................... 2
a.2   Sejarah Istilah Sosiologi ........................................  2
a.3   pokok Bahasan Sosiologi ....................................... 3
B.     Sosiologi pertanian
b.1   Pengertian Sosiologi Pertanian................................ 3
b.2   Perkembangan Sosiologi Pertanian......................... 3
C.      Teori Peradaban dan Kriteri suatu Peradaban................. 4
D.     Interaksi sosial dalam pertanian ..................................... 6
E.      Peranan Keluarga dalam Pertanian ................................ 6

 BAB III  PENUTUP
Kesimpulan .......................................................................... 8

Daftar Isi

 
BAB I   
 PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Sosiologi mempelajari kehidupan manusia dalam bermasyarakat di kehidupan sehari-hari dan pertanian adalah salah satu bidang yang dapat ditinjau dalam segi sosiologinya. Didalam interaksinya petani yang mejadi target kajian tidak pernah lepas dengan sosiologi dari interaksi yang mereka lakukan. Dan sosiologi pertanianpun menjadi mata kuliah tersendiri karena kajiannya yang dirasa sangat diperlukan dan dijadikan sebagai pengetahuan awal bagi mahsiswa pertanian tingkat pertama untuk menambah pengetahuan para mahasiswa tentang elemen yang terdapat dalam pertanian

B.     Tujuan
Tujuan dari pembuatn makalah ini adalah untuk membantu para mahasiswa semakin mengerti tentang keterkaitan antara kajian sosiologi  dan sosiologi pertanian





























BAB II  
URAIAN

A.     Sosiologi
a.1 Pengertian Sosiologi
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti teman, bersama-sama dan  Logos berarti omongan. Maka secara umum sosiologi diartikan sebagi ilmu tentang masyarakat. sosiologi lahit takkala August Comte menerbitkan bukunya yang berjudul “Philosophie Positive" tahun 1983 dn diakui sebagai bapak sosiologi. Dan menurut  Max Weber Sosiologi adalah ilmu yang berupaya memahami tindakan-tindakan sosial. Menurut E.R Babbie (1983) sosiologi adalah tentang kehidupan sosial, terentang dari interaksi tatap muka antara dua individu sampai pada hubungan global antara bangsa-bangsa. Walaupun banyak definisi tentang sosiologi namun umumnya sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat. sehingga dari definisi tersebut dapat dirumuskan secara umun sosiologi adalah ilmu yang mempelajari kehidupan manusia, masyarakat, dalam berbagai aspeknya.
Masyarakat sendiri adalah sekelompok individu yang mempunyai hubungan, memiliki kepentingan bersama, dan memiliki budaya. Sosiologi hendak mempelajari masyarakat, perilaku masyarakat, dan perilaku sosial manusia dengan mengamati perilaku kelompok yang dibangunnya. Sebagai sebuah ilmu, sosiologi merupakan pengetahuan kemasyarakatan yang tersusun dari hasil-hasil pemikiran ilmiah dan dapat di kontrol secara kritis oleh orang lain atau umum.
a.2 Sejarah Istilah Sosiologi
Tahun 1842 Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comte tahun 1842 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial. Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia. Comte membedakan antara sosiologi statis, dimana perhatian dipusatkan pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat dan sosiologi dinamis dimana perhatian dipusatkan tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan.
Émile Durkheim ilmuwan sosial Perancis berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain. Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat. Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia. Di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology
 a.3 Pokok Bahasan Sosiologi
Pokok bahasan sosiologi ada empat:
1.      Fakta sosial sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunyai kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut.
2.      Tindakan sosial sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain. Contoh, menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.
3.      Khayalan sosiologis sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah permasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu.
4.      Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.

B.     Sosiologi Pertanian
b.1 Pengertian Sosiologi Pertanian
Menurut Ulrich Planck sosiologi pertanian membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomi pertanain dan objek sosiologi pertanian adalah penduduk yang bertani tanpa memperhatikan tempat tinggalny. Dan dalam gambarannya yang lebih detail Sosiologi Pertanian adalah undang-undang pertanian, organisasi sosial  pertanian (struktur pertanian), usaha pertanian, bentuk organisasi pertanian, terutama koperasi pertanain, dan sebuah aspek penting yakni posisi sosial petani dalam masyarakat.
b.2  Perkembangan Sosiologi Pertanian
Sejarah sosiologi pertanian dimulai  di Prancis dan Jerman pada akhir abad 18 dan 19 yaitu sejak  banyaknya negarawan dan polisi, penyair dan filsuf serta ahli sosiologi mengeluarkan pendapat mengenai rakyat desa. Di Amerika Serikat, penelitian kehidupan desa secara sistematis baru dimulai ketika penelitian sosial desa di Jerman telah berlalu. 1952, didirikan Perhimpunan Peneliti untuk Politik Pertanian dan Sosiologi Pertanian. 1953, terbit setahun dua kali majalah sejarah pertanian dan sosiologi pertanian. Sosiologi pertanian diajarkan di semua fakultas pertanian di Jerman Barat. Setelah Perang Dunia II, sosiologi pertanian bangkit di negara-negara Eropa terutama di Belanda, Prancis, Norwegia, Inggris, Itali. Di semua negara-negara Timur, paling lambat sejak tahun 1960-an sosiologi pertanian naik daun.
1957, didirikan Perhimpunan Sosiologi Pedesaan Eropa, yang  menyelenggarakan kongres dua tahun sekali dan menerbitkan majalah Sosiologia Ruralis dalam bahasa Inggris, Perancis dan Jerman. 1913, terbit buku pelajaran sosiologi pertanian pertama yang ditulis oleh John M. Gillette Sosiologi pertanian dikenal di Amerika Latin setelah PD II. Muncul sebagai prodi di Meksiko, Brasilia, dan Chili. Tahun 1969 didirikan perhimpunan sosiologi pedesaan Amerika Latin Pelembagaan sosiologi Pertanian dan Pedesaan yang bersifat internasional di Asia Tenggara terhambat karena kesulitan bahasa dan budaya serta kurangnya sarana. Konferensi regional Asia untuk penelitian dan pengajaran sosiologi pedesaan di Los Banos Filipina (1971) merupakan langkah pertama di Asia Tenggara yang bsifat internasional. Di negara-negara kepulauan Pasifik, terutama di Australia kurang ada keinginan membangun sosiologi pertanian dan pedesaan.


C.     Teori Peradaban
A. J. Toynbee adalah sejarawan modern yang mencoba membahas secara komparatif kemunculan, pertumbuhan, kemunduran dan keruntuhan peradaban-peradaban dunia. Karyanya, A Study of History, mencapai dua belas jilid. Peradaban, bukan negara yang menjadi basis karya sejarahnya. Bagi Toynbee, peradaban adalah unit nyata dari sejarah. Dia menganalisis, dua puluh satu peradaban, empat peradaban abortif (mati di tengah jalan) dan lima peradaban terpenjara (tidak bergerak dari fase awal peradabannya) .Patut juga dicatat, bahwa Toynbee dalam karyanya ini memberikan pujian yang tinggi kepada Ibn Khaldun karena Muqaddimah-nya.
Menurut  Toynbee, kelahiran sebuah peradaban tidak berakar pada faktor ras atau lingkungan geografis, tetapi bergantung pada dua kombinasi kondisi, yaitu adanya minoritas kreatif dan lingkungan yang sesuai. Lingkungan sesuai ini tidak sangat menguntungkan juga tidak sangat tidak menguntungkan. Mekanisme kelahiran sebuah peradaban berdasarkan kondisi-kondisi ini terformulasi dalam proses saling mempengaruhi dari tantangan dan tanggapan (challenge-and-response). Lingkungan menantang masyarakat dan masyarakat melalui minoritas kreatifnya menanggapi dengan sukses tantangan itu. Solusi yang diberikan minoritas kreatif ini kemudian diikuti oleh mayoritas. Proses ini disebut mimesis. Tantangan baru kemudian muncul, diikuti oleh tanggapan yang sukses kembali. Proses ini terus berjalan. Masyarakat berada dalam proses bergerak terus dan gerak tertentu membawanya kepada tingkat peradaban. Sedangkan bentuk tantangan-tantangan atau rangsangan lingkungan yang melahirkan peradaban ini adalah Negeri yang ganas (hard country), tanah baru (new ground, karena migrasi misalnya), serangan (blows, perang misalnya), tekanan (pressures, kompetisi antar masyarakat), hukuman (penalization, hukuman sosial).
Dalam pemikiran Toynbee, pertumbuhan peradaban tidak diukur dari ekspansi geografis masyarakatnya (kebalikannya malah valid, kemunduran peradaban bisa diasosiasikan dengan ekspansi geografis). Pertumbuhan peradaban juga tidak diukur dari kemajuan teknologinya. Pertumbuhan terdiri dari determinasi diri atau artikulasi diri ke dalam yang progresif dan kumulatif, dalam “etherialisasi” nilai-nilai masyarakat secara progresif dan kumulatif, dan simplifikasi aparatus dan teknik peradabannya (etherialisasi, mengarahkan aksi dari luar ke dalam). Dari aspek hubungan intrasosial dan antar individu, pertumbuhan adalah tanggapan tak kenal henti dari minoritas kreatif terhadap tantangan-tantangan lingkungan yang ada. Peradaban yang berkembang membentangkan potensi dominannya; estetika pada peradaban Hellenik, religius pada peradaban India dan Hindu, saintifik mekanistik pada peradaban Barat, dsb.
Dalam perjalannya terkadang Peradaban yang jatuh kemudian hancur adalah kenyataan sejarah. Tetapi kejatuhan atau kehancuran peradaban bukanlah keniscayaan kosmik atau karena faktor geografis atau karena degenerasi rasial atau karena penyerbuan dari luar. Juga bukan karena kemunduran teknik dan teknologi. Karena kemunduran peradaban adalah sebab, sedang kemunduran teknik adalah konsekuensi atau gejala. Pembeda utama masa pertumbuhan dan disintegrasi adalah pada masa pertumbuhan peradaban sukses memberikan respon terhadap tantangan sedang pada masa disintegrasi peradaban gagal memberi respon yang tepat. Toynbee menegaskan bahwa peradaban runtuh karena bunuh diri (sosial), bukan karena pembunuhan (sosial). Civilizations die from suicide, not by murder. Dalam formulasinya, keruntuhan peradaban berasal dari tiga hal; kegagalan usaha kreatif para minoritas, penarikan mimesis dari mayoritas dan hilangnya kesatuan sosial. Kemunduran peradaban melewati fase-fase berikut; kejatuhan (break-down), distintegrasi dan hancur. Kejatuhan dan disintegrasi bisa berabad-abad, bakan ribuan tahun. Toynbee memberi contoh, peradaban Mesir mulai jatuh pada abad ke-16 SM dan hancur pada abad ke-5 M. Selang dua ribu tahun antara awal jatuh dan kehancurannya adalah masa kehidupan yang membatu.
Pada masa pertumbuhan minoritas kreatif memberi respon yang sukses terhadap tantangan yang muncul, pada periode disintegrasi, mereka gagal. Pada masa kejatuhan, minoritas kreatif mulai teracuni kemenangan, kemudian memberhalakan nilai-nilai relatif atas nilai-nilai absolut, kehilangan karisma yang membuat mayoritas mengikuti mereka. Pada masa disintegrasi, minoritas ini kemudian bergantung pada kekuatan (force) untuk mengatur masyarakat. Mereka berubah dari minoritas kreatif menjadi minoritas penguasaMassa berubah menjadi proletariat. Untuk menjaga kelangsungan hidup peradaban, dikembangkanlah negara universal, semisal Kekaisaran Roma. Sebagian masyarakat, mereka yang ada dalam subordinasi minoritas dalam tubuh peradaban (Toynbee menyebutnya internal proletariat) mulai meninggalkan minoritas ini, tidak puas, kemudian membentuk gereja universal (misal kristianitas dan budhisme). Mereka yang berada di luar peradaban pada kondisi kemiskinan, kekacauan (Toynbee menyebutnya external proletariat) mengorganisasikan diri untuk menyerang peradaban yang mulai runtuh. Perpecahan (schism) menimpa jiwa dan tubuh peradaban. Peperangan kemudian berkobar. Pada jiwa peradaban, schism ini mengubah mentalitas dan prilaku anggotanya.
Personalitas manusia pada fase keruntuhan ini terbagi menjadi empat golongan besar. Mereka yang mengidealisasikan masa lalu (archaism), mereka yang mengidealisasikan masa depan (futurism), mereka yang menjauhkan diri dari realitas dunia yang runtuh (detachment) dan mereka yang menghadapi keruntuhan dengan wawasan baru (transendence, transfiguration). Kecuali bagi transfigurator, usaha-usaha manusia berdasarkan tipe personalitasnya tidak menghentikan proses disintegrasi peradaban, paling banter hanya membuat peradaban menjadi fosil. Jalan tranfigurasi, mentransfer tujuan dan nilai kepada spiritualitas baru, tidak menghentikan disintegrasi peradaban, tetapi membuka jalan bagi kelahiran peradaban baru.

D.     Interaksi Sosial dalam Pertanian
Interaksi sosial dapat diartikan sebagai hubungan-hubungan sosial yang dinamis. Hubungan sosial yang dimaksud dapat berupa hubungan antara individu yang satu dengan individu lainnya, antara kelompok yang satu dengan kelompok lainnya, maupun antara kelompok dengan individu. Dalam interaksi juga terdapat simbol, di mana simbol diartikan sebagai sesuatu yang nilai atau maknanya diberikan kepadanya oleh mereka yang menggunakannya.
Interaksi sosial dapat terjadi bila antara dua individu atau kelompok terdapat kontak sosial dan komunikasi. Kontak sosial merupakan tahap pertama dari terjadinya hubungan sosial Komunikasi merupakan penyampaian suatu informasi dan pemberian tafsiran dan reaksi terhadap informasi yang disampaikan.
Faktor-faktor interaksi sosial adalah Imitasi, Sugesti, kontak antarindividu, kontak antar kelompok, Kontak antara individu dan suatu kelompok, kontak sosial secara langsung dan tidak langsung
Contoh interaksi sosial dalam pertanian adalah
1.     Interaksi antara individu dan individu
Seorang petani saling menegur, bercakap-cakap, bertukar informasi, bernegosiasi ataupun  mungkin bertengkar dengan petani lain
2.      Interaksi antara individu dan kelompok
Seorang penyuluh pertanian  sedang memberikan penyuluhan bibit terbaru didepan para petani. Bentuk semacam ini menunjukkan bahwa kepentingan individu berhadapan dengan kepentingan kelompok .
3.      Interaksi antara Kelompok dan Kelompok
Satu Kelompok tani desa A bertanding melawan kelompok petani desa B untuk memperebutkan predikat kelompok tani terkompak untuk tahun 2013
Dan masih bayak lagi contoh interaksi sosial dalam pertanian.


E.     Peran Keluarga dalam Pertanian
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas Kepala Keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat dibawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.  Dari keluarga inilah interaksi mulai terbangun kemudian berlanjut pada interaksi antara keluarga satu dengan keluarga lainnya. Sehingga menjadi interaksi dalam anggota masyaraakatnya.
Peran keluarga dalam proses pertanian adalah hal yang sangat penting. Seperti yang dibahas diatas dari keluargalah proses awal interaksi dimulai lalu kemudian beralih kepada masyarakat disekiar. Selain itu dalam proses yang paling sederhana keluarga adalah sumber tenaga kerja yang paling murah dalam pertanian. Karena kebayakan dari para petani melibatkan seluruh anggota keluarganya dalam proses pertanian sehingga tidak perlu mengeluarkan biaya yang besar bahkan nol persen untuk biaya tenaga kerja sehingga dapat memaksimalkan untung yang akan petani peroleh saat panen. Biasanya Satu keluarga petani yang tengah mengolah hasil panennya di sawah, mereka menggunakan bantuan alat manual sederhana untuk merontokkan gabah dan selanjutkan diproses menjadi beras.






































BAB III
PENUTUP


A.     Kesimpulan
Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa sosiologi pertanian adalah bagian dari kajian ilmu sosiologi yang membahas tentang kegiatan petani dalam interaksi sehari-hari. Dan sosiologi pertanian sangat erat kaitannya dengan peradaban dimana peradaban tersebut selalu berubah-ubah dari masa kemasa. Salah satu bagian kecil dari sosiologi pertanian adalah keluarga.





































Daftar Isi

Budiman. 2008. Teori Peradaban Toynbee. http://refleksibudi.wordpress.com/2008/10/09/teori-peradaban-toynbee/. Diakses 3 Maret 2013

Dewangga Dwi Yudha Prabowo. 2011. Interaksi Sosial (tugas sosiologi pertanian). http://pencatbenus.blogspot.com/2011/11/interaksi-sosial-tugas-sosiologi.html

Rahadjo. 1999. Pengantar Sosiologi Pedesaan. Gadjah Mada Univesty Press. Yogyakarta
Sajogyo, Sajogyo Pujiwati. 1995. Sosiologi Pedesaan. Gadjah Mada Univesty Press. Yogyakarta







0 komentar:

Poskan Komentar