music

Total Tayangan Laman

Share It

Struktur Pertanian dan Macam Sistem Pertanian

05.41 |


Struktur Pertanian dan Macam Sistem Pertanian

Tugas Sosiologi Pertanian

Oleh:
Arin Amini (13049)





Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada
2013



Struktur Pertanian
Struktur dipahami sebagia “susunan”. Dalam kamus bahas indonesia (1994) struktur juga berarti susunan, atau “cara sesuatu disusun atau dibangun”. Sedangkan struktur sosial diartikan “konsep perumusan asas-asas hubungna antar individu dalam kehidupan masyarakat yang merupakan pedoman bagi tingkah laku individu”. Pengertian ini tidak jauh berbeda dalam sosiologi H.P. Fraichild, 1957 misalnya struktur sosial diartiakn sebagai pola yang mapan dari organisasi internal setiap kelompok sosial”. Dalam rumusan ini telah tercakup pengertian mengenai karakter atau pola dari semua hubungan yang ada antara anggota dalam suatu kelompok maupun antar kelompok.
Konsep struktur sosial yang menggambarkan “pola hubungan antar individu dalam kelompok ataupun antar kelompok ini” untuk menjelaskannya sering dikaitkan dengan konsep-konsep norma, status, peran, dan lembaga (tercakup pula asosiasi dan organisasi). Dalam setiap lembaga, setiap anggota pasti memiliki status tertentu. Status ini dikenali oleh nilai tertentu yang bersumber pada nilai kebudayaan. Dari sudut pandang tertentu kebudayaan adalah lapangan nilai tertinggi. Hubungan atau nteraksi antar anggota semuanya telah diatur dan ditentukan oleh kompleks oleh norma dan peraturan yang ada.
Sebagai contoh, serign dikemukakan bahwa masyarakat yang tradisinya kuat ternyata disebabkan oleh keterisolasian mereka secara fisik-geografis. Dengan sdemikian struktur fisik atau khususnya dalam tatanan keruangan, sangat mempengaruhi kehidupan sosial. Demikian pula masih terlihat dikebanyakan desa bahkan desa yagn telah maju sealipun bahwa golongan laki-lakidan usia tua memiliki status sosial yang lebih tingggi. Ini menandakan bahwa struktur biologi juga menandakan mempengaruhi tatanan kehidupan sosial masyarakatnya.
Struktur Phisik Desa, berakitan erat dengan lingkungan phisik desaitu dalam berbagai aspeknya. Secara agak lebih khusus ia berkaitan dengan lingkungan geografis denga segala ciri-cirinya seperti: iklim, curah hujan, keadaan atau jenis tanah, ketinggian tanah, tingkat kelembaban udara, topografi dan lainya. Variasi dalam keadaan ciri-ciri ini akan menciptakan pula perbedaan pada jenis tanaman yang ditanam, sisem pertanian yang diterapkan, dan lebih lanjut kehidupan dari masing-masing kelompok masyarakatnya. Lingkungan geografis yang memberikan kemungkinan untuk budidaya tanaman padi akan menciptakan masyarakat petani sawah yang bebeda dengan lingkungan geografis yang cocok untuk budidaya gandum dengan petani gandumnya. Tanah-tanah yang kurang subur akan cenderung menciptakan desa-desa kecil yang terpencar, berjauhan satu sama lain, dengan penduduk yang jarang. Sebaliknya tanah-tanah yang subur akan cenderung menciptakan desa-desa yang besar, berdekatan satu sama lain, dan berpenduduk padat.
Pola pemukiman ini merupakan salah saaatu yagn merupakan salah satu aspek yang dapat menggambarkan degnan jelas keterkaitan antar struktur fisik desa dengan pola kehidupan internal masyarakatnya, melalui penggambaran ini, sejumlah cirri-ciri pokok kehidupan masyarakat desa dapat diungkapkan. Dalam bentuknya yang paling umum terdapat dua poal pemukiaman, yakni (1) pemukiamn penduduknya berdekatan satu sama lain dengan lahan pertananian berada diluar dan terpisah dari lokasi pemukiman, dan (2) yang pemukiman penduduknya terpencar dan terpisah satu sama lain, dan masing-masing berada didalam atau diteeeeeengah lahan pertanian mereka.
Apabila ada perbedan permukiman petani di Indonesia, perbedaan itu lebih berkaitan dengan tingkat kesuburan dan topografi. Seperti misalnya untuk daerah-daerah yang subur terdapat kecenderungan terciptanya satuan pemukiamn yang padat, dalam pengelompokan yagn besar dan berdekatan satu sama lain. Sebaliknya untuk daerah yagn kurang/tidak subur terdapat kecenderungan munculnya desa-desa yang jarang penduduknya denga pengelompokan yagn kecil dan berajauhan satu sama lain. Hal ini bias dilihat pada daerah dataran rendah lebiih memungkinkan terciptanya desa-desa aygn besar, padat penduduk, dan berdekatan satu sama lain. Sedangkat di daerah dataran tinggi cenderung memunculkan desa-desa yang kecil, jarang penduduk, dan berjauhan satu sama lain.
Struktur Biososial, yakni struktur social (vertical maupun horizontal) yang berkaitan dengan factor-faktor biologis seperti umur, jenis kelamin, perkawinan, suku bangsa, dan lain-lain. Keterkaitan antara factor biososial dengan factor biosocial ini terlihat dari sifat matapencaharian masyarakatnya. Dalam masyarakat yang masih bersahaja, yakni dari mulai masyarakat masih dalam tingkat food gathering economics sampai telah mengenal era pertanian (tradisional), masyarakat manusia masih mengandalkan keadaan kekuatan fisik dan pengalaman
Dalam hal kekuatan fisik laki-laki tergolong lebih kuat disbanding dengan wanita. Keterampilan dan kekuatan fisik yang dibutuhkan untuk perburuan secara dominan dimiliki oleh kaum laki-laki. Kaum wanita yang mempunyai kemampuan ini adalah wanita dalam pengecualian. Akibatnya laki-laki lebih dominan dalam kehidupan dalam kelompok masyarakat.
Jika dilihat dari factor usia, maka factor usia ini mempengaruhi pola pelapisan social masyarakat desa. Jenis pekerjaan pertanian selain membutuhkan kekuatan fisik juga membutuhkan pengalaman. Pertanian tradisional tidak memerlukan pendidikan khusus yang menuntuk kemampuan tertentu dari subjeknya. Kegiatan-kegiatan dalm bidang ini cukup hanya memerlukan pembiasaan yang dengan sendirinya akan diperoleh dengan pengalaman. Maka orang tua yang menyimpan pengalaman lebih banyak akan lebih disegani dan dihormati dalam tatanan masyarakat.

Macam-Macam Sistem Pertanian
1.        Pertanian Swasta Besar
Saat ini peran swasta semakin besar dalam bidang pertanian. Namun tidak semua berorientasi pada pencapaian swasembada pangan, khususnya beras. besarnya peranan swasta saat ini terutama dalam hal pengembangan teknologi pangan. Seperti produksi beras dan jagung jenis hibrida dan bioteknologi, dimana produk-produk ini hanya sedikit yang berkaitan dengan kemandirian pangan dan kesejahteraan petani. Selain itu, kekhawatiran yang mulai tampak adalah pengembangan teknologi pertanian oleh swasta tidak bisa diaplikasikan kembali oleh lembaga pengetahuan nasional. Akibatnya, pemerintah akan kesulitan memperbaiki dan meningkatkan produksi pangan melalui teknologi baru.
Masuknya swasta ke sektor pertanian perlu diantisipasi, terutama mengenai penguasaan lahan pertanian. Masalah lainnya, perusahaan swasta internasional sering kali mencoba menguasai lahan pertanian di negara-negara yang masih memiliki lahan luas.
2.        Pertanian Industri
Saat ini, Pemerintah, baik Kementerian Pertanian maupun Pemerintah Provinsi sangat berharap sekali pada Delta Kayan Food Estate. Seolah-olah, DKFE merupakan solusi atas krisis pangan yang dihadapi negeri ini. Swasembada pangan diharapkan kembali hadir, sebagaimana pernah dinikmati dalam waktu singkat setelah revolusi hijau dimulai di negeri ini. Yang selanjutnya, revolusi hijau itu sendiri yang membunuh kedaulatan pangan warga negeri ini.
Pangan, menjadi sebuah hal yang utama dan diutamakan dalam proses pembangunan. Padi atau beras atau nasi, menjadi satu-satunya yang utama dikembangkan dalam sektor pertanian tanaman pangan. Komoditi lain mengikuti dibelakangnya, yang terkadang umbi-umbian dan umbut-umbutan menjadi dilupakan.
Satu waktu, ketika ada impian seorang pemodal menjadikan roti berbahan terigu sebagai makanan pokok warga negeri ini, agar sama dengan warga negara utara. Dan kemudian hari ini, terigu sebagai pangan utama sudah terjadi. Tidak dalam bentuk roti. Dalam bentuk mie instan. Hingga ke pelosok kampung, akan ditemukan bekas bungkus mie instan dari beragam merek. Sebuah keberhasilan perselingkuhan pemodal dan pelayan publik, sementara tepung terigu menjadi prioritas utama untuk diimpor di negeri ini.
Pilihan memasalkan pertanian, melalui pengindustrian, yang disempitkan maknanya menjadi dilakukan oleh pemodal, merupakan sebuah jalan sesat yang ditawarkan oleh pelayan publik. Meletakkan industri dan pemodal di hulu sebuah sektor, adalah sebuah penyiapan bencana di masa datang. Tidak ada sebuah insentif yang baik terhadap industri paling hilir dari sebuah produk. Negeri ini memang direncanakan sebagai penghasil bahan baku, pekerja murah dan pasar dari produk industri yang akan dibuang. Hasilnya, penghancuran sistem budaya hingga penghancuran ekonomi warga negeri. Rapuhnya negeri semakin terlihat. Satu hentakan kecil saja, porak-poranda bangunan ekonominya.
Penempatan arus industri pada hulu setiap sektor pasti akan berujung pada penghilangan kedaulatan warga atas tanah, rumah dan ruang kehidupannya. Konflik akan terus berkelanjutan. Kesenjangan kian terjadi. Pengabaian hak-hak dasar warga negara dilakukan. Pada akhirnya terjadi penghapusan budaya, yang merupakan bagian dari ke-Bhineka Tunggal Ika-an negeri ini.
Bila pelayan publik ingin mensejahterakan warganya, maka pilihannya adalah membangun industri hilir dan memberikan ruang pada pemodal hanya di bagian hilir dari sebuah produk. Tidak dengan memberikan ruang, bahkan insentif, bagi pembangunan industri di hulu dari produk. Risalah pendirian negara inipun dengan jelas memandatkan moda bangunan ekonomi negeri, yang dibangun dalam ke-koperasi-an, yaitu ekonomi kolektif oleh warga. Bukan menyerahkan kendali ekonomi pada pemodal ataupun kelompok kepentingan.
3.        Pertanian Rakyat
Pertanian rakyat adalah suatu sistem pertanian yang dikelola oleh rakyat pada lahan / tanah garapan seseorang untuk memenuhi kebutuhan makanan / pangan dalam negeri. Indonesia adalah negara agraris di mana sebagian besar masyarakatnya hidup dari mata pencaharian sebagai petani yang bercocok tanam atau bertani.
Ciri-Ciri Pertanian Rakyat :
a)      Modal Kecil
Pada umumnya masyarakat pedesaan yang menjadi petani hidup dalam keadaan miskin. Dengan demikian modal yang dimiliki pun sedikit yang mengakibatkan teknik, peralatan dan perlengkapan yang digunakan masih tergolong sederhana. Dengan berbagai barang modal yang berteknologi rendah itu tentu saja tidak akan menghasilkan hasil pertanian yang besar.
b)      Sistem dan Cara Pengolahan Lahan yang Sederhana
Akibat keterbatasan dana, maka sistem yang digunakan untuk bercocoktanam pun juga menjadi sederhana. Dengan modal yang besar pada umumnya akan dapat menerapkan teknologi tinggi untuk mengikatkan kualitas dan kuantitas hasil panen.
c)      Tanaman yang Ditanam Adalah Tanaman Pangan
Rakyat petani Indonesia pada umumnya menanam tumbuhan yang dapat dijadikan bahan makanan. Hal ini disebabkan oleh kondisi ekonomi para petani yang secara umum di bawah garis kemiskinan. Tanaman yang ditanam pun merupakan tanaman pangan sehari-hari agar jika tidak laku terjual dapat dikonsumsi atau dimakan sendiri. Selain itu tanaman pangan memiliki sifar pasar yang inelastis, sehingga produk pangan itu akan selalu laku di pasaran tanpa dapat banyak dipengaruhi oleh harga.
d)     Tidak Meliki Sistem Administrasi yang Baik
Para petani Indonesia pada mulanya bekerja sendiri-sendiri tanpa membuat perkumpulan petani. Dengan diperkenalkannya sistem koperasi, maka pertanian di Indonesia dapat melangkah ke arah yang lebih baik. Koperasi merupakan organisasi badan hukum yang didirikan dengan tujuan untuk mensejahterakan anggota-anggotanya. Dengan sistem administrasi koperasi yang baik maka para petani ini akan lebih memiliki posisi daya tawar dan daya saing yang lebih baik dibandingkan dengan bekerja sendiri-sendiri.
4.        Pertanian Lahan Basah
Kawasan pertanian lahan basah merupakan lahan pertanian yang dalam pengolahannya memerlukan air dalam jumlah yang pasti. Di wilayah Kabupaten Serang, kawasan pertanian lahan basah yang ada mendapat pasokan dari sistem irigasi yang memanfaatkan potensi sungai-sungai yang ada. . Dalam RTRW Kabupaten Serang, alokasi lahan untuk pengembangan kawasan pertanian lahan basah tetap mempertahankan lahan basah yang telah ada terutama kawasan yang telah beririgasi teknis. Dengan dipertahankannya fungsi pertanian lahan basah sebagai sektor yang cukup dominan, dimaksudkan untuk mempertahankan Wilayah Kabupaten Serang sebagai lumbung padi di Provinsi Banten.
Alokasi lahan untuk kawasan pertanian lahan basah meliputi area yang luasnya sekitar 41.773,42 ha (27,72 %). Lahan pertanian lahan basah ini memanfaatkan sistem irigasi yang terdiri atas 6 daerah irigasi, yaitu:
a.       Daerah Irigasi Ciujung, meliputi area persawahan di wilayah Tirtayasa, Pontang, Ciruas, Carenang, Cikande, Pamarayan, Kramatwatu, Kasemen (Kota Serang)
b.      Daerah Irigasi Cicinta, meliputi area persawahan di wilayah Kecamatan Kopo (Carenang Udik, Nyompok, Cidahu)
c.       Daerah Irigasi Cisangu, meliputi area persawahan di wilayah Kecamatan Petir (Bojongcatang, Kamuning)
d.      Daerah Irigasi Cipari/Ciwuni, meliputi area persawahan di wilayah Kecamatan Kragilan (Tagalmaja, Sentul, Cisait, Pabuaran, Pematang, Silebu) dan Kecamatan Ciruas (Kaserangan, Pangampelan, Nyapah)
e.       Daerah Irigasi Ciwaka, meliputi area persawahan di wilayah Kecamatan Ciruas Ranjeng, Citeureup dan sebagian di wilayah Kota Serang.
f.       Daerah Irigasi Cikalumpang, meliputi area persawahan di wilayah Kecamatan Padarincang (Cikalumpang
5.        Pertanian Lahan Kering
Pengertian pertanian lahan kering tampaknya dibangun berdasarkan sejarah atau kebiasaan, yaitu sistem pertanian yang ada di daerah dengan curah hujan tahunan berkisar antara 250 mm (di USA) sampai 510 mm di Russia.
Lahan kering umumnya terdapat didataran tinggi (daerah pegunungan) yang ditandai dengan topografinya yang bergelombang dan merupakan daerah penerima dan peresap air hujan yang kemudian dialirkan kedataran rendah, baik melalui permukaan tanah (sungai) maupun melalui jaringan bumi air tanah. Jadi lahan kering didefinisikan sebagai dataran tinggi yang lahan pertaniannya lebih banyak menggantungkan diri pada curah hujan. Lahan kering diterjemahkan dari kata “upland” yang menunjukkan kepada gambaran “daerah atas”.
Hingga saat ini takrif pengertian lahan kering di Indonesia belum disepakati benar. Di dalam bahasa Inggris banyak istilah-istilah yng dipadankan dengan lahan kering seperti upland, dryland dan unirrigated land, yang menyiratkan penggunan pertanian tadah hujan. Istilah upland farming, dryland farming dan rainfed farming dua istilah terakhir yang digunakan untuk pertanian di daerah bercurah hujan terbatas. Penertian upland mengandung arti lahan atasan yang merupakan lawan kata bawahan (lowland) yang terkait dengan kondisi drainase. Sedangkan istilah unirrigated land biasanya digunakan untuk teknik pertanian yang tidak memiliki fasilitas irigasi. Namun pengertian lahan tidak beririgasi tidak memisahkan pengusahaan lahan dengan system sawah tadah hujan.
Untuk menghilangkan kerancuan pengertian lahan kering dengan istilah pertanian lahan kering Tejoyuwono (1989) dalam Suwardji (2003) menyarankan beberapa pengertian sebagai berikut: 
·       Untuk kawasan atau daerah yang memiliki jumlah evaporasi potensial melebihi jumlah curah hujan actual atau daerah yang jumlah curah hujannya tidak mencukupi untuk usaha pertanian tanpa irigasi disebut dengan “Daerah Kering”.
·       Untuk lahan dengan draenase alamiah lancar dan bukan merupakan daerah dataran banjir, rawa, lahan dengan air tanah dangkal, atau lahan basah alamiah lain istilahnya lahan atasan atau Upland.
·       untuk lahan pertanian yang diusahakan tanpa penggenangan, istilahnya lahan kering.
Definisi yang diberikan oleh soil Survey Staffs (1998) dalam Haryati (2002), lahan kering adalah hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau digenangi air selama periode sebagian besar waktu dalam setahun. Tipologi lahan ini dapat dijumpai dari dataran rendah (0-700 m dpl) hingga dataran tinggi (> 700m dpl). Dari pengertian diatas, maka jenis penggunaan lahan yang termasuk dalam kelompok lahan kering mencakup: lahan tadah hujan, tegalan, lading, kebun campuran, perkebunan, hutan, semak, padang rumput, dan padang alang-alang.
Lahan kering mempunyai potensi yang cukup luas untuk dikembangkan, dengan luas yang mencapai 52,5 juta ha (Haryati, 2002) untuk seluruh indonesia maka pengembangan sangat perlu dilakukan. Menurut Simposium Nasional tentang Lahan Kering di Malang (1991) penggunaan lahan untuk lahan kering berturut adalah sebagai berikut: hutan rakyat, perkebunan, tegalan, tanah yang sedang tidak diusahakan, ladang dan padang rumput.
6.        Pertanian Ecofarming
Ecofarming adalah bentuk budidaya pertanian yang mengusahakan sedapat mungkin tercapainya keharmonisan dengan lingkungannya. Dalam hal tertentu dalam ecofarming bisa saja memasukkan komponen pepohonan atau tumbuhan berkayu lainnya sehingga dapat disebut agroforestri. Dalam eco-farming tidak selalu dijumpai unsur kehutanan dalam kombinasinya, sehingga dalam hal ini ecofarming  merupakan kegiatan pertanian.
Selain itu ecofarming ini mempunyai pengertian sebagai merupakan sistem budidaya tanaman yang berpihak kepada kelestarian lingkungan hidup serta kesehatan konsumennnya. Pada dasarnya, sistem ini bukan merupakan sebuah konsep baru, tetapi merupakan suatu cara bertani yang sudah dikembangkan sebelum diterapkannya pertanian konvensional (revolusi hijau). Namun, keakraban petani dengan sistem pertanian konvensional pada saat ini menyebabkan pengetahuan tentang pola pertanian ekologis dan keterampilan dalam menerapkan sistem pertanian yang sejak dulu telah dilakukan tersebut menjadi terlupakan.
Selain menghasilkan produk pertanian yang aman dikonsumsi, bergizi serta baik bagi kesehatan, keuntungan lain yang dapat diperoleh dari pengembangan sistem pertanian organik diantaranya adalah: meminimalkan polusi yang dihasilkan dari kegiatan pertanian, meningkatkan dan menjaga produktivitas lahan pertanian dalam jangka panjang serta memelihara kelestarian sumberdaya alam dan lingkungan.
Petani menunjukkan pupuk organik hasil produksinyaPertanian ekologis mengacu kepada sistem pertanian yang mengikuti prinsip-prinsip dan logika-logika organisme hidup yang semua elemen-elemennya (tanah, tanaman, ternak serangga, petani, dll) berhubungan erat satu sama lain.  Oleh karenanya pertanian ekologis harus didasarkan pada pengertian yang mendalam dan pengelolaan yang cermat dari interaksi - interaksi dan proses-proses tersebut.
Dengan demikian istilah pertanian ekologis tidak hanya berarti penolakan terhadap penggunaan pupuk dan pestisida yang bersifat sintetis atau kimia.  Petani ekologis dapat banyak belajar dari mengamati hubungan saling ketergantungan dalam suatu ekosistem alam, misalnya hutan.  Semakin beragam komponen, maka akan semakin stabil sebuah ekosistem yang ada di dalamnya.
Dalam melaksanakan program pengembangan masyarakat di daerah-daerah terpencil yang berbatasan dengan kawasan konservasi YEL memperkenalkan system pertanian ekologis melalui penerapan pertanian organik. Dalam menunjang aktivitas penyebarluasan system pertanian ekologis, YEL didukung oleh mitra utamanya, PanEco Switzerland, membangun Pusat Pertanian Ekologis (eco-farming centre) berlokasi di Desa Timbang Lawan, Kecamatan Bohorok, Kabupaten Langkat.
7.        Pertanian Terpadu
Pertanian terpadu merupakan sistem pertanian yang selaras dengan kaidah alam, yaitu mengupayakan suatu keseimbangan di alam dengan membangun suatu pola relasi yang saling menguntungkan dan berkelanjutan di antara setiap komponen ekosistem pertanian yang terlibat, dengan meningkatkan keanekaragaman hayati dan memanfaatkan bahan-bahan limbah organik. Pada dasarnya alam diciptakan dalam keadaan seimbang oleh sang pencipta, sehingga alam mempunyai cara tersendiri untuk memenuhi kebutuhan manusia akan pangan dan manusia sebagai bagian dari unsur alam memiliki tugas untuk mengelola sumber daya alam dan lingkungan dengan baik dan proporsional. Peningkatan kaenekaragaman hayati merupakan hal penting dalam menanggulangi hama penyakit, pengurangan resiko, sedangkan pemanfaatan limbah organik perlu untuk menciptakan keseibangan siklus energi (terutama unsur hara) yang berkelanjutan, serta untuk kepentingan konservasi tanah dan air.
Pola pertanian terpadu merupakan kombinasi antara pola pertanian tradisional dengan ilmu pengetahuan modern di bidang pertanian yang berkembang terus. Pada pelaksanaan pertanian terpadu lebih banyak memanfaatkan potensi lahan yang ada dengan memperhatikan dampak terhadap lingkungan sekitar serta dengan pengelolaan manajemen modern yang dikelola secara profesional dan terpadu.
Tujuan dari sistem pertanian terpadu antara lain yaitu, memasyarakatkan sistem pertanian terpadu sebagai pertanian yang lestari dimana lokasi tanah diperhatikan dan ditingkatkan untuk menjamin kelangsungan siklus yang berkesinambungan. Membentuk masyarakat tani yang mandiri dan peduli lingkungan dan sadar akan jati dirinya sebagai penjaga alam. Meningkatkan taraf hidup kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata dengan pola pikir maju dan pola hidup sederhana. Membentuk suatu ikatan kerjasama dalam bentuk pertanian inti rakyat serta membangun kerjasama yang sejajar dalam memenuhi kebutuhan sektor pertanian. Memenuhi kebutuhan pasar akan makanan yang sehat dan bebas polusi guna meningkatkan kualitas dalam persaingan.
Dalam prakteknya, sistem pertanian terpadu tidaklah semudah dan sesederhana seperti yang banyak disangka orang. Diperlukan strategi-strategi jitu agar tujuan dari sistem pertanian terpadu dapat tercapai sesuai dengan apa yang telah diharapkan. Strategi yang harus dibangun adalah usaha tani terpadu yang berorientasi kepada pasar serta pelestarian nilai budaya tradisional dengan sistem kegiatan manajemen modern. Strategi-strategi yang perlu dibangun tersebut yaitu, yang pertama ialah pertanian tradisional dengan memanfaatkan kekayaan sumber daya yang dimiliki serta dikelola dengan manajemen modern yang bertujuan mengurangi ketergantung terhadap pupuk anorganik.
8.         Dan Lain-lain

Macam-macam pertanian ini muncul dikarenakan terjadinya interaksi dalam kehidupan sehari-hari masyarakat, dari interaksi inilah masyaraakt mulai mengenal peradaban yang sedikit-demi sedikit mengubah kehidupan masyarat untuk mendapatkan hidup yang lebih baik. Bahkan sifat pertaniannya pun telah bergeser menjadi suatu bisnis modern, dimana pertanian lebih merupakan sarana untuk mengerjakan keuntungan dari pada sebagai cara hidup (way of life). Sehingga sosiologi pertanian ini digunakan terutama bila berkaitan dengan analisa mengenai perubahan system produksi terhadap kehidupan social-budaya masyarakat desa (termasuk system nilai, norma dan lembaganya). 
Jika kita lihat lebih jeli lagi menunjukkan bahwa keadaan alamalah yang lebih menentukan corak pertanain, yang lebih lanjut menentuka corak kehidupan (social-budaya) mereka. Oleh karena itu untuk memahami corak kehidupan suatu rakyat desa/petani, pada tingkat pertama setidak-tidaknya perlu dikenal jenis-jenis dan system pertanian yang ada.







0 komentar:

Poskan Komentar