music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA I KADAR LENGAS TANAH

09.26 |


LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH
ACARA I
KADAR LENGAS TANAH

Disusun oleh:
Aisyah Puspasari                     [ 12/335033/PN/13002 ]
Dian Candra Septiana             [ 12/335039/PN/13005 ]
Ani Dwi Wimatsa                   [ 12/335083/PN/13018 ]
Dina Islamiyah Putri              [ 12/335159/PN/13027 ]
Arin Amini                              [ 12/338074/PN/13049 ]
Wilda Romadona                    [ 12/338731/PN/13051 ]
Golongan/Kelompok               : A1/5
Asisten                                    : Nadia Ayu Pitaloka

LABORATORIUM TANAH UMUM
JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013



ACARA I
KADAR LENGAS TANAH

ABSTRAK
Percobaan  ini dilaksanakan di Laboraturium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Percobaan ini bertujuan untuk mengukur kadar lengas dengan menggunakan 5 jenis contoh tanah, yaitu Entisol, Alfisol, Ultisol, Rendzina (Mollisol), dan Vertisol dengan ukuran  2mm, 0,5mm, dan contoh tanah bongkah yang masing-masing dibuat dua ulangan dengan volume ±10gram yang diukur dengan metode gravimetri. Pada Rendzina kadar lengas diameter 2 mm sebesar 20,46%, diameter 0,5 mm sebesar 20,54%, dan bongkah sebesar 20,81%. Pada Vertisol kadar lengas diameter 2 mm sebesar 14,34%, diameter 0,5 mm sebesar  13,65%, bongkah sebesar 6,25%. Pada Alfisol kadar lengas diameter 2 mm sebesar 11,01%, diameter 0,5 mm sebesar 10,86%, bongkah sebesar 10,33%. Pada Ultisol kadar lengas diameter 2 mm sebesar 10,63%, diameter 0,5 mm sebesar 9,60%, bongkah sebesar 9,86%. Pada Entisol kadar lengas diameter 2 mm sebesar 4,71%, diameter 0,5 mm sebesar 4,83%, bongkah sebesar 3,61%. Terdapat penyimpangan data pada sampel tanah Vertisol yang kemungkinan merupakan kesalahan dalam pemilihan bahan percobaan. Hasil percobaan pengukuran kadar lengas ini selanjutnya dapat digunakan dalam perhitungan Nilai Perbandingan Dispersi (NPD).

Kata Kunci: Lengas tanah, gravimetris.

PENGANTAR
Tanah sangat dibutuhkan dalam kehidupan sebab tanah dapat dimanfaatkan oleh tumbuh-tumbuhan untuk tumbuh. Selain itu, tanah juga merupakan alat produksi pertanian, yaitu sebagai media tumbuh bai tanaman. Tanah dapat diartikan sebagai hasil transformasi zat-zat mineral dan organik di permukaan bumi yang terbentuk dibawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Komponen tanah (mineral, organik, air, dan udara) tersusun antara satu dengan yang lainnya membentuk tubuh atau struktur tanah. Kenampakan dan sifat-sifat tanah di daerah tertentu berbeda dengan daerah lainnya. Hal ini dipengaruhi oleh proses gabungan anasir alami yaitu bahan induk, iklim, topografi, dan organisme, serta waktu (time). Oleh karena intensitas faktor-faktor pembentuk tanah daerah satu dengan yang lain berbeda maka tanah yang terbentuk juga berbeda.
Untuk mempelajari tanah telah dilakukan melalui beberapa disiplin ilmu yaitu ilmu kimia tanah, fisika tanah, mineralogi tanah, klasifikasi tanah, mikrobiologi tanah, pedologi dan sebagainya. Karakteristik tanah yang utama bahwa dalam mempelajari masalah tanah dibatasi oleh satuan pewakil pedosfer dalam bentuk pencuplikan dan analisis tanah. Analisis tanah dapat berupa pengukuran secara kimiawi, fisika dan biologi yang bertujuan untuk memahami sifat tanah dan kesesuaiannya untuk pertumbuhan tanaman.
Pertumbuhan tanaman tidak akan lepas dari kandungan air (lengas) dalam tanah, sebab air digunakan tumbuhan untuk menjalankan berbagai proses biologi dalam pertumbuhan. Lengas tanah yang merupakan salah satu sifat fisik tanah sangat berperan penting dalam menjaga kelembapan tanah. Lengas menyusun dua per tiga bagian dari pori – pori tanah pada suhu kamar dan menjadi satu pertiga baguan jika suhu meningkat. Oleh karena itu, pengetahuan mengenai kadar lengas sangatlah penting.
Tanah adalah produk transformasi mineral dan bahan organik yang terletak di permukaan sampai kedalaman tertentu yang dipengaruhi oleh faktor genetis lingkungan, yakni bahan induk, iklim,organisme hidup (mikroorganisme dan makroorganisme),topografi, dan waktu yang sangat panjang. Tanah dapat dibedakan dari ciri-ciri bahan induk asalnya baik secara fisik, kimia, biologi, maupun morfologinya.(Rodriquez-Iturbe and Amilcar, 2004).
Tanah memiliki kualitas yang berbeda disetiap wilayah. Pada tahun 1994 Soil Science Society of America (SSSA) telah mendefinisikan kualitas tanah sebagai kemampuan tanah untuk menampilkan fungsi-fungsinya dalam penggunaan lahan atau ekosistem untuk menopang produktivitas biologis, mempertahankan kualitas lingkungan, dan meningkatkan kesehatan manusia, hewan, dan tumbuhan (Agehara and Wameke,2005).
Lengas tanah merupakan air yang terdapat dalam tanah yang terikat oleh berbagai kakas (matrik,osmosis, dan kapiler). Kakas ini meningkat sejalan dengan peningkatan permukaan jenis zarah dan kerapatan muatan elektrostatik zarah tanah. Tegangan lengas tanah juga menentukan beberapa banyak air yang dapat diserap tumbuhan. Bagian lengas tanah yang tumbuhan mampu menyerap dinamakan air ketersediaan (Notohadiprabowo,2006).
Keberadaan lengas tanah dipengaruhi oleh energi pengikat spesifik yang berhubungan dengan tekanan air. Status energi bebas (tekanan) lengas tanah dipengaruhi oleh perilaku dan keberadaannya oleh tanaman. Lengas tanah dipengaruhi oleh keberadaan gravitasi dan tekanan osmosis apabila tanah dilakukan pemupukan dengan konsentrasi tinggi (Bridges, 1979).
Faktor-faktor yang mempengaruhi kandungan lengas dalam tanah antara lain anasir iklim, kandungan bahan organik, fraksi lempung tanah, topografi, dan adanya bahan penutup tanah baik organik maupun anorganik (Walker and Paul, 2002). Bahan organik dalam tanah dapat didefinisikan sebagai sisa-sisa tanaman dan hewan di dalam tanah pada berbagai pelapukan dan terdir dari organisme yang masih hidup ataupun yang sudah mati. Didalam tanah, bahan organik bisa berfungsi dan memperbaiki sifat kimia, fisika, biologi tanah sehingga ada sebagian ahli menyatakan bahwa bahan organik di dalam tanah memiliki fungsi yang tak tergantikan (Sutanto, 2005).
Di dalam tanah, air berada di dalam ruang pori diantara padatan tanah. Jika tanah dalam keadaan jenuh air, semua ruang pori tanah terisi air. Dalam keadaan ini jumlah tanah yang disimpan didalam tanah merupakan jumlah air maksimum disebut kapasitas penyimpanan air maksimum. Selanjutnya jika tanah dibiarkan mengalami pengeringan, sebagian ruang pori akan terisi udara dan sebagian lainnya terisi air. Dalam keadaan ini tanah dikatakan tidak jenuh (Hillel,1983).
METODOLOGI
Percobaan  ini dilaksanakan di Laboraturium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada.  Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 28 Februari 2013. Pada percobaan ini, alat yang dibutuhkan antara lain enam buah botol timbang, timbangan, dan oven. Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah contoh tanah halus masing-masing berukuran Ø 2mm, Ø 0,5 mm, dan contoh tanah bongkah (agregat utuh).
Pada percobaan ini, 6 botol berlabel ditimbang dalam keadaan kosong dengan keadaan tertutup (a gram). Kemudian, botol tersebut diisi dengan contoh tanah 2mm, 0,5mm, dan contoh tanah bongkah yang masing-masing dibuat dua ulangan dengan volume ±10gram. Botol kemudian ditimbang (b gram) dan dioven semalaman dengan suhu 105 sampai kering mutlak. Botol dikeluarkan dalam keadaan tutup serapat mungkin dan dibiarkan dingin dalam desikator selama 15-30 menit (c gram).
Hasil percobaan disajikan dalam a, b, dan c gram pada Tabel Kadar Lengas Tanah.  Parameter sifat fisika yang diamati pada percobaan ini adalah kadar lengas(KL), yaitu dengan menghitung selisih b gram dan c gram yang kemudian dibandingkan dengan selisih  c gram dan a gram, dan kemudian dikalikan dengan presentase (100%). Metode yang digunakan pada percobaan kali ini adalah metode gravimetri. Metode ini merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam menentukan nilai kadar lengas suatu tanah dengan menghitung selisih berat lengas antara sebelum dan setelah dikeringkan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Praktikum kadar lengas tanah bertujuan untuk mengetahui kadar lengas pada suatu jenis tanah. Kadar lengas sendiri merupakan kadar air dalam tanah. Kandungan lengas dalam tanah satu dengan tanah lainnya berbeda. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti iklim, bahan organik dan lempung, topografi atau relief, dan penutup tanah.
Iklim berpengaruh pada sedikit banyaknya air pada tanah. Metode ini dilakukan berdasar selisih antara curah hujan dan penguapan atau evaporasi. Bahan organik dan lempung berguna sebagai penyimpan air. Bahan organik dan lempung berbentuk koloid dan mempunyai luas permukaan yang besar sehingga dapat menyimpan air dalam jumlah banyak. Topografi atau relief berpengaruh pada kecepatan infiltrasi air dan mempercepat bekurangnya kadar lengas melalui permukaan tanah. Relief datar dan cekung akan mengalami infiltrasi yang besar, sedangkan relief curam akan megalami kehilangan air yang besar. Penutup tanah seperti mulsa organik, plastik, kain atau kertas akan mengurangi terjadinya penguapan atau evaporasi sehingga kandungan lengas dalam tanah lebih awet.
Beberapa metode yang dapat dilakukan pada percobaan ini seperti gravimetri, volumetri, tensiometer, neutron probercalcium carbide, dan TDR (Trade Domain Reflektometri). Gravimetri dilakukan dengan cara menghitung selisih berat lengas antara sebelum dan sesudah pengeringan. Volumetri dilakukan dengan cara membandingkan volume air dalam tanah dengan volume tanah. Tensiometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur tekanan potensial tanah terhadap air. Air dalam tanah dipegang oleh tanah pada berbagai tekanan potensial tanah. Dengan kurva standar antara kadar lengas dan tekanan potensial tanah, dapat diketahui berapa besar kadar lengas dalam tanah. Neutron prober atau pancaran neutron berfungsi untuk menghitung pancaran partikel neutron yang menabrak air tanah. Hitungan ini akan tercatat oleh detector. Calcium carbide, adanya desakan (tekanan) gas hasil reaksi antara bahan karbit dengan air tanah akan tercatat oleh manometer. Dari situlah, kandungan lengas dapat terukur. TDR (Trade Domain Reflektometri) berfungsi untuk mengukur konstanta dielektrikum air. Konstanta ini akan menentukan banyak sedikitnya lengas dalam tanah.
Pada percobaan ini, dilakukan metode gravimetri. Metode ini berbiaya murah dan cepat. Akan tetapi, proses penimbangannya harus digunakan timbangan yang sensitive, dalam hal ini timbangan elektronik. Ketika proses penimbangan berlangsung, diperlukan waktu sebentar untuk memastikan berat yang benar karena terkadang terjadi perubahan pada skala timbangan.

Table 1. Kadar Lengas Tanah

No.
Jenis tanah
Diameter
Kadar lengas (%)
Pecobaan 1
Percobaan 2
Rata-rata

1.

Entisol
2 mm
4,78
4,71
4,74
0,5 mm
4,71
4,83
4,77
Bongkah
3,80
3,61
3,71

2.

Alfisol
2 mm
11,09
11,01
11,05
0,5 mm
10,81
10,86
10,84
Bongkah
10,88
10,33
10,61

3.

Ultisol
2 mm
9,01
10,63
9,82
0,5 mm
9,71
9,60
9,66
Bongkah
10,32
9,86
10,09

4.

Rendzina
2 mm
20,51
20,46
20,48
0,5 mm
20,53
20,54
20,54
Bongkah
19,82
20,81
20,32


5.


Vertisol
2 mm
14,31
14,34
14,32
0,5 mm
13,93
13,65
13,79
Bongkah (percobaan 1)
6,68
6,17
6,42
Bongkah (percobaan 2)
5,52
6,25
5,88
Contoh Perhitungan:
Ket:     b-c = berat lengas tanah
c-a = berat tanah kering mutlak

Percobaan kali ini menggunakan 5 jenis tanah, yaitu Entisol, Alfisol, Ultisol, Rendzina, dan Vertisol.  Dari percobaan kedua, didapat kandungan lengas dari paling tinggi hingga rendah yaitu Rendzina, Vertisol, Alfisol, Ultisol, dan Entisol. Pada Rendzina kadar lengas diameter 2 mm sebesar 20,48%, diameter 0,5 mm sebesar 20,54%, dan bongkah sebesar 20,32%. Berdasarkan penelitian Novrizal dan Suwardji dalam Prospek Pengembangan Tanaman Jarak Pagar (Jatropa curcas) pada Berbagai Order Tanah di Pulau Lombok dalam Jurnal Pertanian, Rendzina memiliki kadar lengas sebesar 35,18%. Rendzina memiliki kadar lempung yang tinggi, bertekstur halus, dan daya permeabilitas rendah sehingga kemampuan menahan airnya besar.
Pada Vertisol kadar lengas diameter 2 mm sebesar 14,32%, diameter 0,5 mm sebesar  13,79%, bongkah sebesar 5,88%. Besarnya kadar lengas bongkah yang hanya sebesar 5,88% ini kemungkinan karena waktu pengambilan sampel tanah, tanah dalam keadaan terlalu kering atau panas. Sehingga membuat tanah Vertisol banyak kehilangan air tanah (lengas) karena terjadinya evaporasi pada tanah. Vertisol memiliki tekstur halus berupa lempung, permukaan pori yang lebih luas, dan bahan induk berupa gamping. Permukaan yang luas menyebabkan kemampuan pengikatan air yang tinggi, sedangkan gamping memiliki daya tambat air yang besar.
Menurut penelitian Novrizal dan Suwardji dalam Prospek Pengembangan Tanaman Jarak Pagar (Jatropa curcas) pada Berbagai Order Tanah di Pulau Lombok disebutkan bahwa Vertisol memiliki kadar lengas kapasitas lapang sebesar 29,36 persen dan tekstur tanah liat berpasir. Tanah Vertisol memiliki pasir yang lebih dominan yaitu sebesar 57%, liat sebesar 38%, dan debu sebesar 5%. Dari jumlah persen pasir, liat, dan debu, Vertisol yang digunakan memiliki kelas tekstur liat berpasir (Suwardji dkk., 2006). Yasin (2004) menyebutkan tanah Vertisol memiliki kadar liat yang tinggi ( > 35%). Vertisol dapat menyimpan air dalam jumlah yang lebih besar dan pengikatan antar partikel tanah yang kuat.
Pada Alfisol kadar lengas diameter 2 mm sebesar 11,01%, diameter 0,5 mm sebesar 10,84%, bongkah sebesar 10,61%  dan menurut penelitian Novrizal dan Suwardji dalam Prospek Pengembangan Tanaman Jarak Pagar (Jatropa curcas) pada Berbagai Order Tanah di Pulau Lombok, Alfisol memiliki kadar lengas sebesar 35,89%. Alfisol memiliki tekstur agak kasar, bertekstur lempung, dan bahan induk berupa kapur. Kapur menyebabkan daya permeabilitas lambat.
Pada Ultisol kadar lengas diameter 2 mm sebesar 10,63%, diameter 0,5 mm sebesar 9,60%, bongkah sebesar 9,86%. Menurut M. Dahlan, Mulyati dan Ni Wayan Dwiani Dulur dalam Jurnal Agroteksos Vol. 18 No. 1-3 bulan Desember 2008 halaman: 20-26, menerangkan bahwa kadar lengas untuk tanah Ultisol adalah sebesar kurang lebih 5,6%. Ultisol memiliki tekstur lempung dan berasal dari bahan induk lempung. Hal ini menyebabkan daya permeabilitasnya rendah sehingga mampu menahan air.
Pada Entisol kadar lengas diameter 2 mm sebesar 4,74%, diameter 0,5 mm sebesar 4,77%, bongkah sebesar 3,71%. Sedangkan menurut penelitian Novrizal dan Suwardji dalam Prospek Pengembangan Tanaman Jarak Pagar (Jatropa curcas) pada Berbagai Order Tanah di Pulau Lombok dalam Jurnal Pertanian, Entisol memiliki kadar lengas sebesar 35,18%. Ciri dari tanah Entisol antara lain memiliki tekstur pasir, pori-pori tanah yang besar, dan daya permeabilitas yang tinggi. Hal ini menyebabkan Entisol hanya mampu menyerap atau mengikat sedikit air.
Kandungan lengas tanah berperan sangat penting dalam proses kelengasan tanaman dan renik tanah. Kadar lengas tanah ini berfungsi sebagai pengontrol serapan hara dan pernapasan akar-akar tanaman. Hal ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan proses produksi tanaman serta jenis-jenis tanaman yang cocok ditanam pada suatu jenis tanah (penanaman yang tepat). Selain itu, pengetahuan kadar lengas tanah diperlukan untuk menduga kebutuhan air  persawahan (tipe pengairan yang cocok untuk lahan tersebut), proses irigasi, dan mengetahui kemampuan daya simpan lengas suatu jenis tanah. Di samping itu, air dalam tanah berfungsi pula sebagai pelarut garam-garam mineral, senyawa asam dan basa, serta ion-ion dan gugus-gugus organik maupun anorganik pada setiap reaksi kimia dan fisika yang terjadi di dalam tanah. Kadar lengas dapat digunakan dalam perhitungan Nilai Perbandingan Dispersi (NPD). NPD ini menjadi skala daya tahan tanah terhadap erosi.
KESIMPULAN
Kadar lengas adalah air yang terdapat dalam tanah yang terikat oleh berbagai kakas (matrik,osmosis, dan kapiler).
·         Beberapa faktor yang mempengaruhi kadar lengas tanah seperti iklim, bahan organik dan lempung, topografi atau relief, dan penutup tanah.
·         Pada percobaan ini, dilakukan metode gravimetri. Metode ini berbiaya murah dan cepat.
·         Berdasarkan rata-rata, didapat kandungan lengas dari paling tinggi hingga rendah untuk diameter  2mm yaitu Rendzina, Vertisol, Alfisol, Ultisol, dan Entisol. Sedangkan untuk diameter 0,5mm, tanah yang memiliki kadar lengas dari tinggi ke rendah yaitu Rendzina, Vertisol, Alfisol, Ultisol, dan Entisol. Pada tanah bongkah, urutan kadar lengas dari tinggi ke rendah yaitu Rendzina, Alfisol, Ultisol, Vertisol, dan Entisol.
·         Pengetahuan kadar lengas tanah diperlukan untuk menduga kebutuhan air  persawahan (tipe pengairan yang cocok untuk lahan tersebut), proses irigasi, dan mengetahui kemampuan daya simpan lengas suatu jenis tanah.

DAFTAR PUSTAKA

 Agehara, S and D.D. Warncke. 2005. Soil moisture and temperature effect on nitrogen release from organic nitrogen source. Soil Science Society of American Journal: 69.
Bridges,E.M.1979. World Soils. New York, Cambridge University Press.
Dahlan, M.,  Mulyati, dan N. W. D. Dulur. 2008. Studi aplikasi pupuk organik dan anorganik terhadap perubahan beberapa tanah Entisol. Jurnal Agroteksos Vol. 18 No. 1-3: 20-26.
Hillel, D. 1983. Fundamental of Soil Physic. New York, Academic Press.
Notohadiprawiro,T. 2006. Pendayagunaan pengelolaan tanah untuk proteksi lingkungan.
Jurnal Ilmiah STTL 4:11-26.
Novrizal dan Suwardji. 2007. Prospek pengembangan tanaman jarak pagar (Jatropa Curcas) pada berbagai order tanah di pulau Lombok. Jurnal Pertanian: 23-30.
Rodriquez-Iturbe, I and P.  Amikar. 2004. Ecohydrology of Water-controlled Ecosystem: Soil Moisture and Plant Dynamics. London , Cambridge University Press.
Sutanto, R. 2005. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Yogyakarta, Kanisius.
Suwardji dan Joko. 2003. Inventarisasi Luas Lahan Kritis Propinsi Nusa Tenggara Barat, Mataram.
Walker, J.P and ,R.H. Paul.2002. Evaluation of the ohmmapper instrument for soil measurement. Soil Science Society of American Journal: Vol 66.
Yasin. 2004. Pengantar Klasifikasi Tanah: Bahan Ajar MK Klasifikasi Tanah. Mataram, Fakultas Pertanian Universitas Mataram.

LAMPIRAN
PERHITUNGAN
Keterangan:
·         b-c = berat lengas tanah
·         c-a = berat tanah kering mutlak

1.      Entisol

a)      Tanah 2,0 mm

Percobaan 1
KL =
=
=
= 4,783393502%
 4,78%
Percobaan 2
KL  =
=
=
= 4,712960064%
 4,71%



b)      Tanah 0,5 mm

Percobaan 1
KL  =
=
=
= 4,71842471 %
 4,71%
Percobaan 2
KL  =
=
=
= 4,832713755%
 4,83%
Rata-rata tanah Ø 0,5 mm = 4,77%

c)      Tanah bongkah

Percobaan 1
KL  =
=
=
= 3,804347826%
 3,8%
Percobaan 2
KL  =
=
=
= 3,614451831%
 3,61%
Rata-rata tanah bongkah = 3,705%


2.      Ultisol
a)      Ø0,5mm
Percobaan I
Percobaan II
b)      Ø2mm
Percobaan I
Percobaan II
Bongkah Percobaan I
Percobaan II

3.      Rendzina

a. Diameter 0,5 mm                                 
- Ulangan I
  a = 31,84 gr
  b = 44,05 gr
  c = 32,41 gr
  KL =  x 100% = 20,53 %  

                              
- Ulangan II
a =  42,86gr
b =  34,36gr
c =  42,46gr
KL =  x 100% = 20,54% 
KL Rerata =  
                   =
                   = 20,535  %

b. Diameter 2,0 mm                                
- Ulangan I
  a = 26,9 gr
  b = 39,47gr
  c = 27,48 gr
  KL =  x 100% = 20,51%  

- Ulangan II
a =  28,87 gr
b =  41,88 gr
c =  29,48 gr
KL =  x 100% =  20,46% 
KL Rerata =  
                   =
                   = 20,53  %

c. Tanah gumpalan (bongkah)                 
- Ulangan I
  a = 34,04gr
  b = 43,59 gr
  c = 34,50 gr
  KL =  x 100% = 19,82 %  

- Ulangan II
a =  36,27 gr
b =  47,30 gr
c =  36,78 gr
KL =  x 100% = 20,81% 
KL Rerata =  
                   =
                   = 20,31  %

4.      Grumusol (Vertisol)
Percobaan ke-I
a)      Tanah 2,0 mm
b)      Tanah 0,5 mm

c)      Tanah bongkah
Percobaan Ke-II
d)     Tanah Ø2,0 mm
e)      Tanah Ø0,5 mm

f)       Tanah bongkah
Pada tanah Grumusol (Vertisol) yaitu pada tanah bongkah, dilakukan percobaan yang ke-2 sebagai pengulangan. Berikut adalah perhitungannya:
Ø  Percobaan Ke-I
Ø  Percobaan Ke-II



0 komentar:

Poskan Komentar