music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA III TEKSTUR TANAH

09.34 |


ACARA III
TEKSTUR TANAH

ABSTRAK
            Percobaan  ini dilaksanakan di Laboraturium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada tanggal 4 Maret 2013. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan tekstur tanah secara kualitatif dalam keadaan basah. Contoh tanah yang digunakan yaitu Entisol, Alfisol, Ultisol, Renzina, dan Vertisol. Hasil percobaan menunjukkan tekstur tanah Entisol berupa pasir geluhan, Alfisol berupa geluh lempung pasiran, Ultisol berupa geluh lempungan, Renzina berupa lempung, dan Vertisol berupa geluh lempungan. Percobaan ini berguna sebagai bahan informasi dalam menentukan tanaman budidaya apa yang cocok pada daerah tersebut dengan jenis tekstur tertentu.

Kata kunci: tekstur, tanah

PENGANTAR
Dalam tanah terdapat berbagai jenis sifat fisis dan kimia. Sifat fisis meliputi banyak hal diantaranya tekstur, struktur dan aerasi, sedangkan sifat kimia meliputi pH tanah, kapasitas pertukaran ion, kandungan bahan organik, koloid tanah, dan lainnya. Tekstur tanah perlu dipelajari sebab tanah berpengaruh penting pada tanaman melalui hubungannya dengan udara dan air. Tanah mempengaruhi pertumbuhan pohon terutama keberhasilan pembibitan. Selain itu, tanah juga berfungsi untuk mengetahui fraksi yang dominan dalam proporsi dan komposisinya antara jenis tanah satu dengan tanah yang lain yang berbeda- beda. Tekstur tanah juga sering digunakan untuk menduga asal bahan induk tanah dan proses-proses yang berlangsung pada suatu bentang alam.
Tekstur tanah ialah perbandingan relatif (dalam persen) fraksi-fraksi pasir-debu dan liat. Tekstur tanah penting kita ketahui, oleh karena komposisi ketiga fraksi butir–butir tanah tersebut akan menentukan sifat-sifat fisika, fisika-kimia, dan kimia tanah (Bailey, 1984). tekstur tanah adalah salah satu karakteristik tanah paling penting. Tekstur mempengaruhi banyak sifat pada pengaturan lahan. Beberapa istilah sering digunakan untuk mendeskripsikan macam-macam urutan nama golongan tekstural untuk membahas kecukupan hubungan ini: geluhan atau tekstur menengah (untuk geluh pasiran, geluh, pasir, geluh debuan, geluh pasir lempungan, geluh lempungan, dan geluh lempung pasiran); dan lempung atau tekstur tanah halus (untuk lempung pasiran, lempung debuan, geluh lempung debuan)  (Brown, 2007).
Sifat fisik tanah mempunyai banyak kemungkinan untuk dapat digunakan sesuai dengan kemampuannya yang dibebankan kepadanya. Kemampuan untuk menjadi keras dan menyangga, kapasitas untuk melakukan drainase dan menyimpan air, plastisitas, kemudahan untuk ditembus akar, aerasi dan kemampuan menahan retensi unsur-unsur hara tanaman, semuanya erat hubungannya dengan kondisi fisik tanah. Tekstur merupakan sifat tanah yang lebih permanen dan terpenting (Foth, 1994).
Keragaman sifat tanah dari suatu tempat ke tempat lain dalam suatu bentang lahan merupakan akibat dari banyak faktor yang berbeda dan saling berinteraksi satu dengan lainnya. Topografi dan tipe penutupan lahan merupakan faktor penentu proses geomorfik yang terjadi pada gilirannya mempengaruhi keragaman tanah yang terbentuk (Darusman dan Abubakar, 1998). Kepadatan tanah akibat beban dan tekanan yang bekerja pada tanah terdiri dari tekanan arah horizontal dan vertikal. Tekanan arah horizontal disebabkan oleh kerja implement (bajak), sedangkan tekanan arah vertikal disebabkan berat dinamis traktor. Sifat reaksi tanah terhadap beban ini adalah memberikan penahanan dengan arah horizontal dan kemampuan menyangga beban dinamis traktor ke arah vertikal, serta kekerasan tanah atau kemampuan penetrasi. Ketiga bentuk sifat mekanis ini ditentukan oleh kandungan koloid, bahan pengikat partikel-partikel tanah, tekstur, dan struktur tanah (Yunus, 2006).
METODOLOGI
Percobaan  ini dilaksanakan di Laboraturium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada tanggal 4 Maret 2013. Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cawan sebagai tempat adonan tanah. Bahan yang digunakan adalah tanah kering Vertisol diameter 2 mm dan air aquadest. Tanah kering tersebut diambil segenggam kemudian dibuat adonan seperti adonan kue dengan ditambahkan air sedikit demi sedikit, lalu dengan menggunakan jari tangan, dirasakan apakah rasa yang dominan kasar atau halus licin. Setelah itu, tanah tersebut ditentukan teksturnya berdasarkan tabel.
Hasil percobaan disajikan dalam Tabel Hasil Percobaan Tekstur Tanah. Parameter tekstur yang diamati dalam praktikum ini adalah keliatan dan kekasaran tanah. Metode yang digunakan pada percobaan kali ini adalah metode secara kualitatif. Metode ini merupakan salah satu metode yang dapat digunakan dalam menentukan tekstur suatu tanah dengan mengetahui tingkat keliatan dan kekasaran pada tanah.


HASIL DAN PEMBAHASAN
Table 1. Hasil Percobaan Tekstur Tanah

No.
Tanah
Tekstur
1
Entisol
Pasir geluhan
2
Alfisol
Geluh lempung pasiran
3
Ultisol
Geluh lempungan
4
Renzina
Lempung
5
Vertisol
Geluh Lempungan

Tanah terdiri dari butiran-butiran yang berbeda baik dalam ukuran maupun bentuk. Besarnya partikel tanah relatif sangat kecil, yang biasanya diistilahkan dengan tekstur. Tekstur menunujukkan sifat halus dan kasarnya butiran-butiran tanah. Lebih khusus lagi, tekstur ditentukan oleh perbandingan antara kandungan pasir, debu, dan liat yang terdapat dalam tanah. Dalam pengukuran tekstur tanah, kerikil dan partikel yang lebih besar tidak diperhitungkan karena materi ini tidak mengambil peranan penting dalam penentuan tekstur tanah. Tekstur tanah dapat diartikan sebagai perbandingan relatif (proporsi) dari komposisi fraksi-fraksi penyusun tanah. Fraksi tersebut antara lain fraksi pasir (sand), fraksi debu (silt), dan fraksi lempung (clay). Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah yaitu bahan batuan induk, proses genesis, dan umur.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan, tanah Entisol memiliki tekstur pasir geluhan, sebab ketika dibuat pita tipis, tanah Entisol tidak dapat dibuat menjadi pita tipis (panjang <0,5 cm). Tanah Alfisol memiliki tekstur geluh lempung pasiran, karena ketika dibuat pita tipis panjangnya mencapai 2,5-5cm dan ketika dibuat menjadi adonan bubur dengan dirasakan menggunakan jari, rasa yang dominan adalah kasar. Tanah Ultisol dan Vertisol bertekstur geluh lempungan karena dapat dibuat pita hingga mencapai 2,5-5cm dan ketika dibuat adonan bubur dengan dirasakan menggunakan jari, rasa yang dominan adalah bertekstur kasar dan halus seimbang. Tanah Renzina memiliki tekstur lempung karena dapat dibuat pita tipis hingga mencapai panjang lebih dari 5cm dan ketika dibuat adonan bubur dengan dirasakan menggunakan jari, rasa yang dominan adalah kasar dan halus seimbang.
Tanah Vertisol yang diteliti mempunyai tekstur yang tergolong pada liat berat dengan kandungan fraksi liat > 60%. Tingginya kandungan fraksi liat berhubungan dengan bahan induk tanahnya. Bahan induk Vertisol yang diteliti terdiri atas alluvium napal, peridotit, batu kapur, volkan andesitik, dan dasitik. Bahan-bahan tersebut tergolong pada bahan mudah lapuk, serta endapan banjir dan lakustrin yang memang sudah halus ukuran butirnya. Sedangkan menurut percobaan yang telah dilakukan praktikan, memberikan hasil bahwa tanah Vertisol memiliki tekstur geluh lempungan karena rasa kasar dan halus seimbang ketika dirasakan dengan jari tangan (Prasetyo, 2007).
Entisol lahan pertanian dan hutan mempunyai kelas tekstur sama yaitu pasir geluhan, tetapi dari fraksi-fraksi penyusun tanah menunjukkan tingkat perkembangan tanah yang berbeda. Hal ini dapat dilihat dari fraksi penyusun tanah lahan pertanian mempunyai kandungan pasir 83,69 %, debu 13,12 %, dan lempung 3,20 %. Entisol hutan mempunyai kandungan pasir 78,47 %, debu 15,18 % dan lempung 6,35 % (Arifin, 2011).
Tekstur tanah Ultisol bervariasi dan dipengaruhi oleh bahan induk tanahnya. Tanah Ultisol dari granit yang kaya akan mineral kuarsa umumnya mempunyai tekstur yang kasar seperti liat berpasir (Suharta dan Prasetyo 1986 cit. Prasetyo dan Suriadikarta, 2006), sedangkan tanah Ultisol dari batu kapur, batuan andesit, dan tufa cenderung mempunyai tekstur yang halus seperti liat dan liat halus (Subardja 1986; Subagyo et al. 1987; Isa et al. 2004; Prasetyo et al. 2005 cit. Prasetyo dan Suriadikarta, 2006). Ultisol umumnya mempunyai struktur sedang hingga kuat, dengan bentuk gumpal bersudut (Rachim et al. 1997; Isaet al. 2004; Prasetyo et al. 2005 cit. Prasetyo dan Suriadikarta, 2006). Komposisi mineral pada bahan induk tanah mempengaruhi tekstur Ultisol. Bahan induk yang didominasi mineral tahan lapuk kuarsa, seperti pada batuan granit dan batu pasir, cenderung mempunyai tekstur yang kasar. Bahan induk yang kaya akan mineral mudah lapuk seperti batuan andesit, napal, dan batu kapur cenderung menghasilkan tanah dengan tekstur yang halus (Prasetyo dan Suriadikarta, 2006).
Tanah Vertisol memiliki persen pasir yang lebih dominan yaitu sebesar 57% dan diikuti oleh persen liat sebesar 38% dan persen debu 5%. Dari jumlah persen pasir, debu, dan liat, tanah Vertisol memiliki kelas tekstur liat berpasir (Suwardji dkk., 2006). Tanah Entisol memiliki 66,5% fraksi pasir, 6,5% fraksi debu dan 27% fraksi liat. Tanah ini termasuk dalam kelas lempung liat berpasir yang hampir sama dengan lempung berliat hanya sedikit lebih kasar karena dominan fraksi pasir. Pada tanah dengan dominan pasir memiliki ruang pori makro yang lebih banyak dibandingkan pori mikro sehingga jumlah air yang diikat lebih sedikit. Hal ini disebabkan oleh daya ikat antar partikel tanah lemah. Tanah Alfisol memiliki 69,5% fraksi pasir, 2,5% fraksi debu dan 28% fraksi pasir. Tanah ini tergolong dalam kelas tekstur lempung liat berpasir. Alfiso memiliki kandungan fraksi pasir yang paling tinggi (Suwardji, 2006 cit. Novrizal dan Suwardji, 2007).
Tanah Rendzina atau disebut dengan tanah karbonat kaya humus di Topografi karst berkembang pada lereng yang curam dengan kemiringan 60-75%. Menurut fraksinya, tanah Rendzina dirajai oleh fraksi debu dan lempung. Tanah ini dicirikan oleh kaya kerakal, tekstur geluh pasiran, dan struktur granuler (Nurcholis et al., 2003).
Praktikum ini dilakukan menggunakan metode kualitatif. Metode tersebut dilakukan dengan cara membasahi contoh tanah kering dengan air secukupnya. Kemudian dengan menggunakan jari tangan, dirasakan apakah rasa yang dominan kasar atau halus licin. Setelah itu, tanah tersebut ditentukan teksturnya berdasarkan tabel.
Pada metode kualitatif, kelebihan yang didapatkan adalah dapat dilakukan langsung di tempat (di lapangan). Selain itu, metode ini cenderung lebih mudah digunakan karena hanya dengan menggunakan indera peraba (rasa dari tangan). Adapun kekurangan dari metode ini adalah penyimpulan tekstur tanah cenderung tidak selalu tepat atau tidak akurat karena tidak adanya angka atau perhitungan yang empiris dari penentuan jenis tekstur tanah itu sendiri.
 Pengetahuan akan tekstur tanah sangat bermanfaat di berbagai bidang, terutama di bidang pertanian. Kegunaan tekstur tanah adalah sebagai bahan informasi dalam dalam menentukan tanaman budidaya apa yang cocok pada daerah tersebut dengan jenis tekstur tertentu. Selain itu, tekstur tanah juga berkaitan erat dengan sifat fisik tanah karena komposisi fraksi-fraksi tanah yang berlainan dapat mempengaruhi sifat fisik tanah lainnya.
Sifat fisik yang dipengaruhi tekstur antara lain daya dukung tanah, daya serap atau daya simpan air, permeabilitas, erodibilitas (kemudahan tanah tererosi), kemudahan penetrasi akar tanaman, drainase atau pengatusan, kemudahan terolah, plastisitas, dan kelekatan. Tekstur tanah selain dapat menentukan sifat-sifat fisik tanah, juga dapat menentukan sifat kimia dan mineral tanah. Perbedaan komposisi fraksi dan pengaruhnya terhadap sifat fisik tanah adalah sebagai berikut:
·         Kemudahan pengolahan tanah atau lahan
Tanah yang didominasi fraksi pasir akan lebih mudah diolah, sedangkan tanah yang didominasi fraksi lempung akan lebih sulit diolah karena bertekstur keras dan liat.
·         Daya serap atau daya simpan air
Fraksi tanah yang berupa lempung akan sangat mudah menyerap dan menyimpan air karena memiliki kemampuan menyerap air tinggi, sedangkan tanah berpasir akan lebih sulit dalam menyimpan air karena memiliki pori yang besar.
·         Erodibilitas (kemudahan tanah tererosi)
Tanah dengan tekstur pasir akan mudah tererosi karena memiliki tekstur yang lepas-lepas dan memiliki pori-pori yang besar, sedangkan tanah bertekstur lempung akan lebih sulit tererosi karena memiliki tekstur yang liat dan keras.
·         Kemudahan penetrasi akar tanaman
Tanah dengan kandungan silt (debu) dan clay (lempung) yang tinggi sangat sulit ditembus oleh akar-akar tanaman sehingga percabangan dan perkembangan akar terhambat. Hal ini akan berpengaruh pada daerah yang mempunyai iklim kering panjang. Tanaman yang masih berumur muda sangat peka terhadap tekstur tanah sehingga dapat menghasilkan tanaman dewasa yang berbeda.
KESIMPULAN
Tekstur tanah dapat diartikan sebagai  perbandingan relatif (proporsi) dari komposisi fraksi-fraksi penyusun tanah. Fraksi penyusun tanah yang dimaksud adalah fraksi pasir (sand),  debu (silt), dan  lempung (clay). Berdasrkan hasil percobaan, Entisol bertekstur pasir geluhan, Alfisol bertekstur geluh lempung pasiran, Ultisol memiliki tekstur geluh lempungan, Renzina bertekstur lempung, dan Vertisol memiliki tekstur geluh lempungan. Faktor yang mempengaruhi tekstur tanah antara lain bahan batuan induk, proses genesis, dan umur. Tekstur tanah berkaitan erat dengan sifat fisik tanah. Sifat fisik tanah yang dipengaruhi oleh tekstur tanah yaitu daya dukung tanah, daya serap atau daya simpan air, permeabilitas, erodibilitas (kemudahan tanah tererosi), kemudahan penetrasi akar tanaman, drainase atau pengatusan, kemudahan terolah, plastisitas, dan kelekatan.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Z. 2011. Analisis nilai indeks kualitas tanah entisol pada penggunaan lahan yang berbeda. Agroteksos 21 (1):47-54.
Bailey, H. 1984. Kuliah Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Ilmu Tanah, Palembang.
Brown, R.B. 2007. Soil Introduction .<http://edis.ifas.ufl.edu/55169>. Diakses pada tanggal 16 Maret 2013.
Darusman dan A. K. Bakar. 1998. Keragaman spasial sifat-sifat fisik tanah Andisol sebagai fungsi lereng pada 3 tipe penutupan lahan di Aceh Tengah. Agrista2: 100—101.
Foth, H.D. 1994. Fundamental of Soil Science. 10th ed. John Willey and Sons Inc., Singapore.
Novrizal dan Suwardji. 2007. Prospek pengembangan tanaman jarak pagar (Jatropa curcas) pada berbagai order tanah di Pulau Lombok. Seminar Nasional Dukungan Inovasi Teknologi dan Kelembagaan dalam Mewujudkan Agribisnis Industrial Pedesaan BPTP NTB:23-30.
Nurcholis, M., Sasmita, E. R., dan Sutoto, S.B. 2003. Kualitas tanah di topografi karst di Bedoyo Gunungkidul dan hubungannya dengan reklamasi lahan bekas tambang. Prosiding Lokakarya Nasional Menuju Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Berbasis Ekosistem untuk Mereduksi Potensi Konflik Antar Daerah:220-227.
Prasetyo, B. H. 2007. Perbedaan sifat-sifat tanah Vertisol dari berbagai bahan induk. Jurnal ilmu-ilmu pertanian Indonesia 9(1):23.
Prasetyo, B.H. dan D.A. Suriadikarta. 2006. Karakteristik, potensi, dan teknologi pengelolaan tanah ultisol untuk pengembangan pertanian lahan kering di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian 25(2):39-47.
Yunus, Y. 2006. Perubahan sifat fisika-mekanika akibat lintasan pengolahan tanah dengan traktor pada lahan miring dan efeknya terhadap kedelai. Jurnal Penelitian Pertanian 5: 19—20.

0 komentar:

Poskan Komentar