music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA IV ADAPTASI TANAMAN PADA FAKTOR AIR

09.09 |


ACARA IV
ADAPTASI TANAMAN PADA FAKTOR AIR

I. TUJUAN
1.    Mengetahui macam-macam adaptasi tanaman terhadap ketersediaan air.
2.    Untuk mengetahui perbedaan anatomis maupun morfologis tanaman yang beradaptasi pada kandungan air yang berbeda.

II. TINJAUAN PUSTAKA
            Adaptasi adalah perubahan dalam bentuk tingkah laku dari organisme selama hidupnya sebagai sebuah respon kepada stimulan lingkungannya. Kemampuan suatu makhluk hidup dalam beradaptasi juga akan berpengaruh pada eksistensi suatu makhluk hidup pada mekanisme seleksi alam. Suatu individu akan bertahan hidup, bereproduksi, dan meninggalkan keturunannya di beberapa lingkungan tetapi tidak untuk yang lainnya. Hal ini adalah perkiraan dari bagian yang mana dari alam yang akan hilang akibat dari seleksi apabila beberapa individu meninggalkan beberapa keturunannya daripada karakteristik lainnya dari satu populasi berubah dari generasi ke generasi, lalu evolusi dari seleksi alam telah dijawab untuk mempunyai ketepatan (Bagon et al., 1990).
Adaptasi tanaman terhadap lingkungan merupakan rekayasa secara khusus sifat-sifat karakteristik anatomi dan fisiologi untuk memberikan peluang keberhasilan menyesuaikan kehidupan di habitat tertentu.Oleh karena itu, adaptasi anatomi dan fisiologi dapat dijadikan indikator terhadap perubahan lingkungan hidup tanaman.Namun demikian, jenis tumbuhan yang berbeda menunjukkan sensifitas yang berbeda pula terhadap perubahan lingkungan bahkan terhadap bahan pencemar khususnya logam berat (Haryanti, 2009).
Air merupakan salah satu faktor alam yang penting bagi tumbuhan.Tidak seperti hewan aktif, tumbuhan tidak dapat bergerak untuk mencari air maka harus menyesuaikan diri terhadap hubungan perubahan air yang ada di habitatnya.Beberapa tumbuhan tertentu mengembangkan bagian-bagian tubuhnya secara efektif untuk mangambil dan mengontrol kehilangan air akibat evaporasi maupun transpirasi (Robert, 1976).
            Air di dalam jaringan tanaman selain berfungsi sebagai penyusun utama jaringan yang aktif mengadakan kegiatan fisiologis juga berperan penting dalam memelihara turgiditas yang diperlukan untuk pembesaran dan pertumbuhan sel. Peranan yang penting ini menimbulkan konsekuensi bahwa secara langsung atau tidak langsung defisit air tanaman akan mempengaruhi semua proses metabolisme dalam tanaman yang mengakibatkan tergantungnya proses pertumbuhan (Lestari, 2006).
            Ada tiga penggolongan berdasarkan ketersediaan air dan adaptasi, yakni tanaman yang beradaptasi pada kondisi basah (hidrofit), tanaman yang beradaptasi pada kondisi kering (xerofit), dan tanaman yang beradaptasi pada kondisi air yang cukup (mesofit).Tanaman hidrofit memiliki tempat penyimpanan gas yang berbentuk rongga udara yang dipisahkan diafragma. Tanaman mesofit yang berkutikula tipis, jaringan epidermisnya bermodifikasi menjadi sel kipas untuk mengurangi penguapan dan stomata terlindungi.Xerofit memiliki sistem perakaran penetrasi yang mengabsorbsi lebih efektif (Leopard, 1964).
Tumbuhan xerofit beradaptasi terhadap kekurangan air dengan menutup stomata, menggunakan lapisan kutikula yang tebal, memperkecil bidang penguapan dan menyimpan air (Levitt, 1980). Ciri-ciri tumbuhan xerofit antara lain, (1) menggugurkan daunnya pada musim panas, (2) melipat atau mengubah posisi daun untuk mengurangi pancaran cahaya, (3) mempunyai daun berduri sebagai pertahanan diri, (4) mempunyai batang dan kulit tebal, berlilin, serta berbulu tebal untuk mengurangi laju transpirasi, dan (5) akarnya mampu menjalar mendekati permukaan tanah (Anonim, 2011). Contoh tanaman xerofit yaitu kaktus (Opunctia sp) memiliki keistimewaan yang menyebabkan dapat bertahan hidup di lingkungan dan suasana kering. Tanaman ini memiliki batang dan daun yang tebal. Bagian-bagian ini dilapisi oleh tebal kutikula dan lilin di lapisan permukaan yang berfungsi mencegah kehilangan air pada proses transpirasi (Kimball, 1965).
Tanaman juga memiliki rehidrasi atau cekapan air, tidak hanya kondisi air dan salinitas tinggi. Cekaman kekeringan dapat mempengaruhi sebagai mekanisme seluler, biokimia, dan fisiologi tanaman. Pada tingkat seluler kekeringan mengakibatkan kehilangan air protoplastik sehingga konservasi ion meningkat. Menghambat fungsi-fungsi metabolik dan meningakatkan kemungkinan terjadinya interaksi antar molekul yang dapat menyebabkan denaturasi protein dan fusi membran. Pengaruh negatif cekaman kekeringan terhadap tanaman ditentukan oleh tingkat cekaman dan fase pertumbuhan saat mengalami cekaman (Magnard, 2008).
  
III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikum Dasar-Dasar Ekologi acara IV yang berjudul Adaptasi Tanaman pada Faktor Air dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 30April 2013 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam praktikum adalah silet, mikroskop, kaca preparat, pensil, dan kertas.Sedangkan bahan-bahan yang digunakan adalah tanaman mesofit yang berupa jagung (Zea mays), tanaman xerofit yang berupa kaktus (Opuntia sp.), tanaman hidrofit yang berupa enceng gondok (Eichornia crassipes), dan gabus.
Langkah pertama dalam praktikum adalah tanaman-tanaman yang termasuk mesofit, xerofit, hidrofit disiapkan. Satu tanaman dari masing-masing kelompok tanaman diambil kemudian dilakukan pengamatan secara morfologis. Selanjutnya, satu tanaman untuk masing-masing kelompok tanaman dibuat penampang melintang dan membujur daunnya, untuk diamati secara anatomis. Pengamatan morfologis meliputi habitus tanaman, bentuk batang, dan cabang-cabangnya, bentuk daun, tangkai daun, permukaan daun, dan ketebalan daun. Pengamatan anatomis dibedakan secara melintang dan membujur. Pengamatan penampang melintang daun meliputi ketebalan kutikula, letak stomata, banyak atau sedikitnya jaringan pengangkut, ada tidaknya tempat penimbunan air, dan aerenkim. Sedangkan pengamatan penampang membujur daun meliputi bentuk sel epidermis dan banyak sedikitnya stomata. Tanaman atau bagian tanaman tersebut dibuat gambar secara morfologis maupun anatomis, lengkap dengan bagian-bagiannya dan keterangannya.










IV. HASIL PENGAMATAN
A.   JAGUNG (Zea mays)
       Pengamatan Morfologis
Keterangan gambar:
1. Helaian daun
2. Upih daun
3. Batang
4. Akar adventatif
5. Akar





Gambar 4.1 Habitus lengkap tanaman jagung
Deskripsi:
Tanaman jagung berdiri tegak. Daun berbentuk pita dengan permukaan atas berbulu dan permukaan bawah halus. Tangkai daunnya kecil, bahkan hampir tidak ada. Batang berbentuk bulat, tidak bercabang dan akarnya serabut. Bunga jagung berkelamin satu, yaitu bunga jantan dan betina terpisah letaknya. Bunga jantan terdapat pada ujung tanaman sedangkan bunga betina pada ketiak daun. Pada satu batang tumbuh satu, dua, atau tiga bunga betina. Poros malai bunga jantan merupakan kelanjutan dari batang pokok.
Pengamatan Melintang
Keterangan gambar:
1. Sel kipas
2. Trikoma
3. Kutikula
4. Epidermis atas
5. Mesofil
6. Berkas pengangkut yang belum berdiferensiasi
7. Epidermis bawah
8. Stoma
Gambar 4.2 Struktur daun jagung dengan mesofil yang tidak terdiferensiasi
Deskripsi:
Hampir semua tanaman darat memiliki stomata pada permukaan atas daun, demikian juga pada jagung yang memiliki stoma lebih banyak pada permukaan daun. Jagung termasuk tanaman monokotil sehingga mesofil tidak berdiferensiasi menjadi jaringan palisade dan bunga karang. Sel kipas akan terlihat jelas dari bentuk rongga besar. Epidermis atas dan bawah merupakan jaringan pelindung. Kutikula merupakan penutup lapisan epidermis dan biasanya tipis. Berkas pengangkut (xylem dan floem) belum terdiferensiasi. Stomata merupakan sel epidermis yang mengalami pembesaran bersama-sama disebut sel penjaga dan terdapat lubang diantaranya.
Pengamatan Membujur










Gambar 4.3 Bentuk dan sebaran stoma pada irisan membujur daun jagung bagian atas
Keterangan gambar:
1.  Epidermis daun
2.  Sel epidermis dengan dinding sel yang berkelok-kelok
3. Stoma bertipe Gramineae; sel penutup berbentuk halter; membuka dan menutup sejajar poros stoma
Deskripsi:
Ikatan pembuluh tersebar pada parenkim dasar. Stoma pada daun berbentuk halter, yaitu stomata tersusun dalam barisan yang sejajar. Setiap stoma dikelilingi sel-sel epidermis berbentuk kipas. Dinding sel penutup bagian tengah tebal yang merupakan penopang pada halter tersebut. Masing-masing ujung dindingnya tipis, sedangkan dinding atas dan bawah tebal. Stoma tipe ini hanya terdapat pada Gramineae/Poaceae dan Cyperaceae (Haryanti dan Meirina, 2009).
B.   ENCENG GONDOK (Eichornia crassipes)
Pengamatan Morfologis
Keterangan gambar:
1. Helaian daun
2. Tangkai daun
3. Akar dengan kantung akar
(root pocket) pada bagian
ujungnya







Gambar 4.4 Habitus lengkap enceng gondok
Deskripsi:
Habitus perdu herbaseus dengan batang yang tereduksi; bentuk daun bulat atau hampir bulat, tebal, permukaan kedua sisi daun halus; tangkai daun membengkak dan membentuk jaringan spon yang menjadi organ pengapung tumbuhan, percabangan dengan stolon; perakaran dengan serabut dan berbulu untuk menangkap unsur hara yang larut dalam air.
Pengamatan Melintang










Gambar 4.5 Transeksi daun enceng gondok
Keterangan gambar:
1. Kutikula
2. Epidermis
3. Rongga stoma
4. Jaringan palisade
5. Sklerenkim
6. Ruang udara
7. Stoma
8. Berkas pengangkut
9. Epidermis bawah
Deskripsi:
Enceng gondok memiliki jaringan pengangkut seperti pada tumbuhan tingkat tinggi lainnya dan adanya rongga udara.






Pengamatan Membujur
                                                                                                     Keterangan gambar:
                                                                                                     1. Stomata
                                                                                                2. Sel epidermis daun







Ganbar 4.6 Irisan membujur epidermis atas daun enceng gondok
Deskripsi:
Epidermis tidak bersifat melindungi. Kutikula sangat tipis, stomata terdapat di permukaan atas daun-daun.
C.   KAKTUS (Eichornia crassipes)
Pengamatan Morfologis
                                                                             Keterangan gambar:
                                                                             1. Batang
                                                                             2. Daun
                                                                             3. Akar                                                                                                                                   







Gambar 4.7 Penampakan batang kaktus
Deskripsi: Habitus tanaman terna, herbaseus, tegak, daun berbentuk seperti duri; batang menjadi seperti daun pipih atau persegi, hijau, berdaging percabangan aksiler tak terbatas; akar serabut,tersebar luas di tanah lapisan atas.
Pengamatan Melintang
Keterangan gambar:
1. Kutikula tebal
2. Stomata tersembunyi
3. Epidermis
4. Jaringan palisade
5. Hipodermis
6. Jaringan penyimpan air


Gambar 4.8 Transeksi batang kaktus
Deskripsi:
Lapisan kutikula yang cukup tebal, mempunyai jaringan pengangkut dan mempunyai jaringan penyimpan air

Pengamatan Membujur
Keterangan gambar:
1.      Epidermis atas
2.      Duri
3.      Epidermis bawah





Gambar 4.9 Penampang membujur daun kaktus
Deskripsi:
Epidermis bertipe multiserat, stomata berjumlah sedikit dan letaknya tersembunyi, jaringan palisade terdapat di antara epidermis dan hypodermis.
V. PEMBAHASAN
Praktikum acara IV ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan adaptasi bermacam tanaman terhadap ketersediaan air dimana kemampuan beradaptasi ini akan menjadikan tumbuhan tertentu mempunyai ciri-ciri, baik itu secara morfologis maupun secara anatomis sesuai dengan keadaan tempat hidupnya.
Banyak air yang tersedia tergantung dari keadaan porositas tanah, banyak intensitas cahaya matahari, keadaan iklim, dan sebagainya. Dengan berbagai kondisi kadar air yang tidak sama di permukaan bumi baik tumbuhan , hewan, maupun manusia harus menyesuaikan diri terhadap keadaan tersebut agar dapat eksis atau bertahan hidup. Kemampuan makhluk hidup dalam menyesuaikan diri terhadap lingkungannya atau beradaptasi tiap jenis makluk hidup berbeda, meski tidak menutup kemungkinan ada yang sama. Tanaman yang beradaptasi pada lingkungan yang banyak air tentu saja memiliki ciri atau karakteristik yang membedakannya dengan tanaman yang berdaptasi pada lingkungan sedikit atau kekurangan air.
Jumlah air tersedia di berbagai tempat di muka bumi tidak lah sama. Air yang tersedia tersebut dipengaruhi oleh tekstur tanah. Jika tekstur tanah tersebut adalah pasiran maka tanah tersebut memiliki air yang sedikit karena pori pasiran sangat besar sehingga air dalam pasiran mudah mengalir ke bawah. Jika tesktur tanah tersebut lempungan maka air yang terkandung akan banyak karena lempungan mempunyai pori yang kecil sehingga air tidak mudah mengalir ke bawah.
            Di alam banyak sekali tipe habitat yang lingkungannya mengandung air tetapi tidak semua tanaman dapat hidup dan berkembang, baik di daerah yang terlalu  banyak air ataupun yang terlalu kering. Setiap  organisme hanya bisa hidup dan berkembang pada habitat yang sesuai kandungan airnya. Namun, pada suatu perubahan spesies melakukan adaptasi (penyesuaian) dengan lingkungan yang berubah.Berdasarkan atas ketersediaan air, tanaman dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, yaitu xerofit, mesofit, dan hidrofit. Xerofit merupakan tanaman yang dapat beradaptasi pada kondisi air yang kurang, contohnya adalah kaktus. Mesofit merupakan tanaman yang dapat beradaptasi pada kondisi air yang cukup, contohnya adalah jagung dan kedelai. Sedangkan hidrofit merupakan tanaman yang dapat beradaptasi pada kondisi yang  tergenang air, contohnya adalah enceng gondok dan teratai.
Jagung (Zea mays) merupakan tanaman mesofit yang berada di daerah yang cukup air. Pada umumnya, tanaman ini telah mempunyai sistem perakaran yang lebih  sempurna dibandingkan tanaman xerofit dan hidrofit, stomata tidak dilindungi, akar dan daunnya berkembang. Daun tanaman jagung berbentuk pita dan berupa daun berupih. Pada permukaan bawahnya halus. Batangnya bertipe batang rumput yaitu batang yang tidak keras dan berbentuk bulat. Tangkai daunnya kecil sekali bahkan hampir tidak ada. Tanaman jagung tidak mempunyai percabangan dan sistem perakarannya serabut.
Pada penampang melintang tanaman jagung terlihat adanya sel kipas yang berfungsi untuk mengurangi penguapan karena jagung tumbuh pada kondisi cukup air sehingga beradaptasi agar dapat menghemat penggunaan air. Jagung menggunakan stomata sebagai alat untuk mengkonversi air dan menghindari keadaan stres sedang sampai stress berat. Selain itu, adanya  trikoma, stomata yang dimiliki tersusun secara teratur. Sedangkan bagian lain yang juga dimiliki oleh hidrofit dan xerofit yaitu adanya jaringan pengangkut, kutikula, meski distribusi dan kuantitas berbeda atau bahkan fungsinya kurang berperan karena digantikan bagian yang lain.
Penampang membujur daun jagung menunjukkan bahwa stomata lebih banyak terdapat pada permukaan bawah daun dengan tipenya graminae dan sel penutupnya berbentuk halter yang membuka dan menutup sejajar poros stomata. Sedangkan sel epidermisnya disertai dengan dinding sel yang berkelok-kelok.
Tanaman xerofit merupakan tanaman yang teradaptasi pada kondisi air terbatas, contohnya adalah kaktus (Opuntia sp.).Batang kaktus dilapisi jaringan lilin yang dapat mengurangi penguapan. Jaringan ini mampu menyimpan air dan tahan terhadap kekeringan.Akan tetapi, kaktus juga membutuhkan air untuk bertahan hidup sehingga akar kaktus sangat panjang hingga bermeter-meter ke dalam pusat bumi untuk mencari sumber air.
Daun tanaman kaktus termodifkasi menjadi duri, kecil, dan terletak berurutan secara membujur di permukaan batangnya. Tanaman kaktus mempunyai tipe batang herbacius. Pada umumnya batang berwarna hijau, sehingga batang menjadi seperti daun  pipih atau persegi dan berdaging. Tanaman ini mempunyai percabangan yang berupa aksiler tak terbatas. Sistem perakarannya serabut dan panjang, selain itu juga tersebar luas di tanah  lapisan atas.
Tanaman kaktus mempunyai bentuk stomata yang tersembunyi. Jaringan palisadenya terletak antara epidemis dan hypodermis. Di bawah hypodermis terdapat jaringan penyimpan air yang berfungsi untuk menyimpan (menimbun) air. Adanya jaringan penyimpan air  ini juga merupakan adaptasi tanaman kaktus pada lingkungan kering.
Pada penampang melintang batang tanaman kaktus dapat ditunjukkan, bahwa kaktus mempunyai kutikula tebal untuk mengurangi penguapan dan dengan bentuk stomata yang tersembunyi untuk memperkecil air yang keluar dari tubuh. Untuk menyimpan air, maka di dalam sel tanaman ini terdapat jaringan penyimpan air yang ada di bawah hipodermis, yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan air secara efisien. Jaringan palisade terletak di bawah epidermis untuk proses fotosintesis karena di dalamnya banyak terdapat stomata. Ruang antar selnya relatif kecil.
Pada penampang membujur batang tanaman kaktus, tampak bagian-bagian yang sama dengan penampang melintang daun kaktus. Bagian-bagiannya antara lain kutikula yang tebal, stomata tersembunyi, epidermis, jaringan palisade, hypodermis, dan jaringan penyimpan air. Pada daun kaktus ini terdapat banyak stomata yang terletak di jaringan palisade sehingga proses fotosintesis terjadi di jaringan palisade.
Tanaman hidrofit terbagi menjadi tiga, yaitu tenggelam, terapung, dan amfibi.Tenggelam jika tanaman tersebut seluruh bagian tubuhnya tenggelam, misalnya tanaman hidrilla.Tanaman terapung jika setengah dari bagian tubuhnya berada dalam air dan setengah lagi berada di permukaan air.Tanaman terapung dibedakan lagi menjadi dua kelompok, yaitu akar bebas dan akar di dasar.Tanaman akar bebas adalah tanaman terapung yang akarnya tidak menempel pada dasar sehingga bebas bergerak, misalnya enceng gondok.Tanaman akar di dasar adalah tanaman terapung yang akarnya menempel di bagian dasar sehingga tidak dapat bergerak bebas, misalnya teratai.Sedangkan tanaman amfibi adalah tanaman yang mampu hidup di kondisi kurang air dan kondisi air berlebihan, misalnya kangkung dan padi.
Enceng gondok (Eichornia crassiper) merupakan tanaman yang beradaptasi pada daerah yang tergenang air. Sedangkan air menyediakan habitat yang seragam sehingga struktur anatomis tumbuhan air kurang bervariasi dibandingkan dengan xerofit. Faktor-faktor yang mempengaruhi enceng gondok ialah suhu, udara, dan konsentrasi serta komposisi garam-garam dalam air. Ciri struktural yang paling mencolok pada daun-daun tumbuhan air ialah berkurangnya jumlah jaringan penunjang dan pelindung, berkurangnya jumlah jaringan pembuluh, khususnya xylem dan adanya rongga-rongga udara.
Enceng gondok tumbuh di kolam-kolam dangkal, tanah basah dan rawa, aliran air yang lambat, danau, tempat penampungan air, dan sungai. Tumbuhan ini dapat mentolerir perubahan yang ekstrim dari ketinggian air, laju air, dan perubahan ketersediaan nutrien, pH, temperatur, dan racun-racun dalam air. Pertumbuhan enceng gondok yang cepat terutama disebabkan oleh air yang mengandung nutrien yang tinggi, terutama yang kaya akan nitrogen, fosfat, dan potasium. Kandungan garam dapat menghambat pertumbuhan eceng gondok seperti yang terjadi pada danau-danau di daerah pantai Afrika Barat, di mana enceng gondok akan bertambah sepanjang musim hujan dan berkurang saat kandungan garam naik pada musim kemarau.
Secara morfologis bagian dari tanaman ini antara lain helaian daun, bunga, aerenkim, akar, dan tangkai daun. Aerenkim merupakan rongga udara yang  terdapat pada organ vegetatif. Tipe daunnya bertangkai dan mempunyai permukaan daun yang licin. Bentuk daunnya hampir bulat, lebar, dan tebal. Struktur akar tanaman ini merupakan akar serabut.Tanaman ini memiliki rongga udara atau aerenchym pada organ vegetatif pada batang dan daun yang berfungsi sebagai ruang antar sel yang berperan dalam pertukaran udara. Adaptasi yang lain, yaitu daun yang dimiliki umumnya lebar dan terapung untuk mempermudah penguapan karena dalam lingkungan air yang berlebih. Kutikulanya tipis, mempunyai epidermis seperti yang dimiliki tanaman lain namun fungsinya untuk jalan keluar gas untuk memperoleh unsur-unsur atau zat-zat tertentu yang terlarut dalam air
Pada penampang melintang daun enceng gondok tampak adanya lapisan kutikula yang terletak dipermukaan bagian atas. Rongga stomata pada daun enceng gondok terdapat di permukaan bagian atas dan bagian  bawah. Di bawah kutikula terdapat epidemis atas, jaringan palisade, dan sklerenkim.  Pada  sklerenkim terdapat berkas pengangkutan dan rongga udara. Rongga udara ini berfungsi untuk menyaring udara  pada waktu respirasi karena tanaman ini hidup di lingkungan yang tergenang air. Bagian bawah daun enceng gondok terdapat epidermis bawah.
Pada penampang membujur daun enceng gondok tampak adanya sel  epidermis atas dan stomata. Stomata yang terdapat pada daun enceng gondok ini cukup banyak.Epidermis pada enceng gondok tidak berfungsi sebagai pelindung tetapi berperan dalam pengambilan zat-zat nutrien dari air dan berperan pula dalam pertukaran gas. Kutikula yang ada sangat tipis begitu pula dinding selnya dan sel-sel epidermisnya banyak mengandung kloroplas.
Stomata terdapat di permukaan atas daun-daun yang terapung. Pada daun dan batangnya terdapat rongga yang berisi gas. Biasanya rongga-rongga udara ini terpisah-pisah karena partisi tipis satu atau dua lapisan  sel yang mengandung kloroplas. Rongga seperti itu disebut laluan udara atau lacuna.

 VI. KESIMPULAN
1.      Tanaman berdasarkan ketersediaan air ditempat hidupnya dikelompokkan menjadi tanaman mesofit, xerofit, dan hidrofit.
2.      Enceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan salah satu tanaman hidrofit yang mampu beradaptasi pada lingkungan air yang berlebih ataupun tergenang. Untuk beradaptasi, enceng gondok memiliki rongga udara, berkutikula tipis, dan akarnya berkantung. Jagung (Zea mays)merupakan contoh tanaman mesofit, yaitu tanaman yang beradaptasi pada keadaan lapang atau cukup air, tidak terlalu becek dan tidak terlalu kering. Ciri yang dimiliki adalah adanya sel kipas, stomata teratur berjejer, dan adanya trikoma. Kaktus (Opunctia sp.)merupakan contoh tanaman xerofit, yaitu tanaman yang beradaptasi pada lingkungan kering atau kekurangan air. Ciri yang dimiliki adalah adanya jaringan penyimpan air; daun tebal, berduri atau berbentuk  jarum; kutikula yang tebal; dan  stomata tersembunyi.


















Daftar Pustaka

Anonim. 2011. “Adaptasi tanaman pada faktor air”. <http:arivanipotter.wordpress.com/2011/05/12/acara-4-adaptasi-tanaman-pada-faktor-air/>. Diakses tanggal 06 Mei 2013.

Bagon, M., J. L. Harper, and C. R. Townsend. 1990. Ecology: Individuals, Populations, and Communities. Blackwell Scientific Publication, Washington DC.

Haryanti, S. 2009. The physiology and anatomy response of enceng gondok (Eichornia crassipes) in the various of polluted territorial water. Jurnal Penelitian Sains dan Teknologi 10: 30-40.

Kimball, J.W. 1965. Biology. Adisson-Wesley Publishing Company, Massachusette.

Leopard, A. C. 1964.Plant Growth and Development. Mc. Graw H. Book Company, London.

Lestari, E. G. 2006.Hubungan antara kerapatan stomata dengan ketahanan pada somaklon padi gadjahmungkur, towuti, dan IR 64. Biodiversitas 7: 44-48.

Levitt, J. 1980. Responses of Plants to Environmental Stress. Academic Press, New York.
Maynard, G. H. 2008. Dampak cekaman kekeringan terhadap pertumbuhan, hasil, dan kandungan total prolina dan cabai. Jurnal imiah agrista 12:19-27

Robert, L. W. 1976. Plant Biology. W.B. Sounds Company, London.

1 komentar:

Poskan Komentar