music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA IV STRUKTUR TANAH

09.40 |


LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH
ACARA IV
STRUKTUR TANAH

Disusun oleh:
Aisyah Puspasari                     [ 12/335033/PN/13002 ]
Dian Candra Septiana             [ 12/335039/PN/13005 ]
Ani Dwi Wimatsa                   [ 12/335083/PN/13018 ]
Dina Islamiyah Putri              [ 12/335159/PN/13027 ]
Arin Amini                              [ 12/338074/PN/13049 ]
Wilda Romadona                    [ 12/338731/PN/13051 ]
Golongan/Kelompok               : A1/5
Asisten                                    : Nadia Ayu Pitaloka
LABORATORIUM TANAH UMUM
JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013



ACARA IV
STRUKTUR TANAH

ABSTRAK
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanaha acara IV dengan judul acara Struktur Tanah dilaksanakan di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Senin, 4 Maret 2013. Percobaan ini dilakukan untuk menetapkan kerapatan massa tanah (BV) dan butir tanah (BJ) serta untuk menetapkan porositas total tanah (n). Struktur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang sangat menentukan kemampuan tanah untuk menunjang pertumbuhan tanaman. Struktur tanah akan mempengaruhi regim udara dan air dalam tanah, antara hidrolik dan konsekuensinya pada pertumbuhan akar tanaman dan kegiatan biologi dalam tanah. Metode yang digunakan dalam penentuan struktur tanah adalah metode penentuan kuantitatif cara lilin dan piknometri menggunakan alat piknometer. Bahan dan alat yang digunakan adalah tanah kering udara Ø 2 mm dengan menggunakan jenis tanah yang berbeda-beda. Harga berat jenis tanah seharusnya lebih besar dari harga berat volume karena pembagi BV lebih sedikit daripada BJ. Dari percobaan ini diperoleh nilai BV sebesar 1,25 g/cm3 pada tanah Entisol, Alfisol 1,38 g/cm3, Ultisol 1,39 g/cm3, Rendzina 1,34 g/cm3, dan Vertisol 1,93 g/cm3. Untuk nilai BJ tanah Entisol 2,27 g/cm3, Alfisol 1,96 g/cm3, Ultisol 1,96 g/cm3, Rendzina 1,67 g/cm3 dan Vertisol 1,94 g/cm3.

Kata Kunci: Struktur, BV, BJ, Porositas




PENGANTAR
Keberadaan tanah sangat penting bagi kehidupan semua makhluk hidup, baik itu manusia, hewan maupun tumbuhan. Tanah memiliki banyak fungsi yang sangat berperan dalam kelangsungan kehidupan seperti pemukiman, tempat tumbuhnya tanaman (pertanian), dan tempat berlangsungnya daur atau penguraian bahan organik. Di samping fungsinya yang sangat penting, tanah memiliki sifat-sifat tersendiri, baik sifat fisika maupun sifat kimia yang berbeda pada setiap jenis tanah. Salah satu sifat tanah (sifat fisika tanah) yaitu struktur tanah.
Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat. Dalam tinjauan morfologi, struktur tanah diartikan sebagai susunan partikel-partikel primer menjadi satu kelompok partikel (cluster) yang disebut agregat, yang dapat dipisah-pisahkan kembali serta mempunyai sifat yang bebeda dari sekumpulan partikel primer yang tidak teragregasi. Dalam tinjauan edafologi, sejumlah faktor yang berkaitan dengan struktur tanah jauh lebih penting dari sekedar bentuk dan ukuran agregat. Dalam hubungan tanah-tanaman, agihan ukuran pori, stabilitas agregat, kemampuan teragregasi kembali saat kering, dan kekerasan (hardness) agregat jauh lebih penting dari ukuran dan bentuk agregat itu sendiri (Handayani dan Sudarminto, 2002).
De Boodt (1978) menyatakan bahwa struktur tanah berpengaruh terhadap gerakan air, gerakan udara, suhu tanah, dan hambatan mekanik perkecambahan biji serta penetrasi akar tanaman. Karena kompleksnya peran struktur, maka pengukuran struktur tanah didekati dengan sejumlah parameter. Beberapa parameter tersebut antara lain bentuk dan ukuran agregat, agihan ukuran agregat, stabilitas agregat, persentase agregat, porositas (BV, BJ), agihan ukuran pori, dan kemampuan menahan air.
Komponen penting dari tanah adalah mineral, yaitu kombinasi unsur-unsur anorganik berupa kristal dan amorf, merupakan salah satu faktor yang menentukan sifa tanah. Jenis mineral didalam tanah berkaitan erat dengan tingkat dekomposisinya dan dapat digunakan sebagai alat pendekatan dalam menentukan tingkat kesuburan tanah. Bahan-bahan mineral ini dapat merupakan kerangka dasar tanah. Setiap mineral mempunyai sifat khas secara fisik maupun kimia. Dalam bidang pertanian, susunan mineral lempung suatu tanah perlu diketahui dalam kaitannya dengan pengelolaan tanah untuk menghasilkan produksi yang menguntungkan tanpa terjadi suatu kerusakan tanah (Sirappa dan Sastino, 2003).
Selanjutnya Tanah yang partikel-partikelnya belum tergabung, terutama yang bertekstur pasir disebut tanpa struktur atau bertekstur lepas, sedangkan tanah yang bertekstur liat terlihat massif (padu tanpa ruang pori, yang lembek jika basah dan kering jika kering) atau apabila dilumat dengan air membentuk pasta. Tanah yang bertekstur baik akan mempunyai drainase dan aerase yang baik pula, sehingga lebih memudahkan sistem perakaran tanaman untuk berpenetrasi dan mengapsorbsi hara dan air sehingga pertumbuhan dan produksi menjadi lebih baik. Dilapangan struktur tanah sendiri dideskripsikan menurut:
1.    Tipe, indikator bentuk dan susunan ped, yaitu bulat, lempeng, balok, dan prisma
2.    Kelas, indikator bentuk struktur yang terbentuk dari ped-ped penyusunnya menghasilkan tujuh tipe struktur tanah.
3.    Gradasi, indikator derajat agregasi, atau perkembangan struktur yang dibagi menjadi:
a)    Tanpa struktur, jika agregasi tidak terlihat atau terbatas, tidak jelas atau berbaur dengan batas-batas alamiah
b)   Lemah, jika ped sulit terbentuk tetapi terliahat
c)    Sedang, jika ped dapat terbentuk dengan baik, tanah lama dan jelas, tetapi tak jelas pada tanah utuh
d)   Kuat, jika ped kuat, pada tanh utuh jelas terlihat dan antar ped terikat lemahnamun tahan jika dipindahkan dan hanya terpisah apabila tanah terganggu (Hanafiah, 2005).
Umumnya tanah yang dikehendaki tanaman adalah tanah yang berstruktur remah dengan perbandingan bahan padat dan pori seimbang. Struktur tanah, terutama mengandung debu dan lempung. Keduanya berpengaruh pada pertumbuhan akar dan tanaman akan tetapi pengaruh struktur tersebut secara tidak langsung yaitu melalui pengaruhnya terhadap pemampatan, kadar lengas, dan temperatur tanah (Kohnke, 1968).
METODOLOGI
Praktikum struktur tanah dilaksanakan di Laboratorium Tanah Umum, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gajah  Mada, Yogyakarta pada hari Senin, tanggal 4 Maret 2013. Dalam praktikum ini digunakan alat-alat dan bahan yaitu contoh tanah kering gumpalan udara, cawan pemanas lilin, lampu spiritus, penumpu kaki tiga, tabung ukur, pipet ukur 10 ml, dan termometer. Alat dan bahan tersebut digunakan dalam pengukuran kerapatan massa tanah (BV). Untuk mengukur kerapatan butir tanah (BJ), alat dan bahan yang digunakan yaitu contoh tanah kering udara Φ 2 mm, piknometer, kawat pengaduk halus dan termometer.
Langkah untuk mengukur BV yaitu, pertama diambil sebongkah contoh tanah, kemudian dibuat membola dengan kuku jari tangan, sedemikian rupa sehinga dapat masuk ke dalam tabung ukur dengan longgar ± 1-1,5 cm. Dibersihkan permukaannya dari butir-butir tanah yang menempel secara hati-hati dengan kuas. Contoh tanah bulat diikat dengan benang sehingga dapat digantung, bongkah tanah ini ditimbang. Lilin dicairkan dalam cawan pemanas, diukur suhunya dengan termometer. Pada suhu 60-70°C bongkah tanah dicelupkan ke dalam lilin beberapa detik (± 2-3 detik). Dipastikan lilin benar-benar menutupi permukaan bongkah. Setelah dingin, bongkah tanah berlilin tersebut ditimbang. Tabung ukur diisi dengan air aquadest sampai volume tertentu dan bongkah tanah berlilin dimasukkan perlahan-lahan (volume air aquadest akan naik). Jika volume air tidak jelas, ditambahkan air melalui pipet ukur sampai tepat. Volume aquadest yang ditambahkan dari pipet dicatat. Bongkah tanah diangkat dan tabung ukur dibersihkan. Kemudian, langkah pertama untuk mengukur BJ, piknometer kosong ditimbang dalam keadaan tersumbat. Kemudian diisi dengan tanah  ± ½ volume, disumbat dan ditimbang. Lalu ditambah air aquadest sampai 2/3 volume, diaduk dengan pengaduk kawat untuk menghilangkan udara yang tersekap. Didiamkan selama 1 jam. Kemudian diukur suhu suspensi. BJ suspensi dibaca pada tabel BJ. Diaduk-aduk lagi, kawat pengaduk dicuci dengan botol pancar lalu ditambah air secara perlahan-lahan sampai 2/3 leher piknometer (jangan sampai mengaduk tanah). Kemudian disumbat hingga air aquadest dapat mengisi pipa kapiler sampai penuh. Dinding piknometer dikeringkan dengan kertas tissu dari air yang menempel dan ditimbang. Isi piknometer dibuang dan dibersihkan. Piknometer diisi dengan aquadest sampai penuh dan disumbat. Diamati air harus mengisi pipa kapiler sumbat. Permukaan luar piknometer dikeringkan dengan tissu dan piknometer berisi air ditimbang, diukur suhunya dan dilihat BJ air aquadest pada suhu tersebut pada tabel.
Perhitungan BV :
BV =
BV = g/cm3
Perhitungan BJ :
BV =
BV = g/cm3
Porositas Total Tanah (n) :
n =
n = [1- ] x 100%
HASIL DAN PEMBAHASAN
No
Jenis Tanah
BV (g/cm3)
BJ (g/cm3)
n (%)
1.
Entisol
1,25
2,27
45
2.
Alfisol
1,38
1,96
32,65
3.
Ultisol
1,39
1,96
28,9
4.
Rendzina
1,34
1,67
19
5.
Vertisol
1,93
1,94
0,5

Struktur tanah merupakan penggabungan atas partikel-partikel primer yang membentuk unit-unit struktur yang lebih besar. Secara awam istilah struktur tanah digunakan untuk menggambarkan tingkat kesarngan antar partikel tanah. Bila suatu tanah mempunyai tingkat ikatan partikel yang sarang, maka orang biasa menyebut struktur longgar, dan jika sebalikny maka disebut struktur mampat.
Struktur tanah merupakan satu kesatuan dengan tekstur dan konsistensi tanah. Struktur tanah juga merupakan interaksi dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Salah satu faktor yang mempengaruhi struktur tanah adalah bahan organik. Dalam pembentukannya, bahan organik berperan sebagai perekat atau lem. Selain itu, struktur tanah juga dipengaruhi oleh aktivitas makhluk hidup. Bila didalam tanah banyak aktivitas makhluk hidupnya, maka tanah akan menjadi gembur dan akibatnya struktur tanah menjadi lemah. Tekstur menunjukan perbandingan relatif pasir, debu, dan liat dalam tanah. Tekstur juga menunjukan keadaan kasar atau halusnya suatu tanah itu. Dari penjelasan diatas dilihat hubungan antara struktur dengan tekstur tanah yaitu tekstur tanah sangat butuh peran dalam menentukan struktur tingkat kesulitan dan kemudahan daya oleh tanah dan drainase tanah. Tanah yang kemantapan rendah makin mudah diolah karena kandungan liatnya sedikit dan sebaliknya. Tekstur tanah dengan struktur tanah erat sekali hubungannya. Sebagai contohnya, bila tekstur tanahnya pasir maka struktur tanahnya granuler.
Selain beberapa hal diatas, struktur tanah juga dipengaruhi oleh erosi, perakaran, organisme, dan juga bahan induk. Akar berfungi untuk mendukung berdirinya tanaman dan mengangkut serta menyerap air dan zat – zat makanan dari dalam tanah. Bila akar tanaman tersebut kuat maka akan mengubah struktur dari tanah tersebut, yang semula gumpalan menjadi gumpal bersudut.
Pori-pori tanah adalah bagian yang tidak terisi bahan padat (terisi oleh air dan udara). Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi dua yaitu pori-pori kasar (makro pori) dan pori-pori halus (mikro pori). Pori-pori kasar terisi oleh udara atau air gravitasi (air yang mudah hilang karena gaya gravitasi, sedangkan pori-pori halus (mikro pori) berisi udara dan air kapiler. Tanah dengan pori-pori kasar yang banyak sulit menahan air sehingga tanaman mudah mengalami kekeringan. Dengan kata lain semakin liat suatu tanah maka porositasnya semakin halus dan semakin baik untuk penanaman tanaman.
Nilai porositas suatu tanah memiliki hubungan dengan bulk density dan particle density. Apabila kita telah mengetahui nilai bulk density dan particle density suatu tanah maka akan memudahkan kita untuk mengetahui kadar  dan udara yang terdapat dalam pori tanah sehingga kita dapat menentukan kapan suatu tanah itu perlu untuk diberikan air atau udara yang terdapat dalam pori tanah agar keadaannya tetap gembur. Apabila suatu tanah memiliki ruang pori yang kecil maka tanaman yang tumbuh di atasnya akan kekurangan oksigen, diakibatkan oleh sulitnya pertukaran gas atau udara dengan pori yang terlalu kecil.
Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan terhadap nilai BV, BJ, dan n (%) tanah yang terdiri dari tanah jenis Entisol, Alfisol, Ultisol, Renzina, dan Vertisol didapatkan beberapa data sebagai representasi porositas total tanah. Dari data tersebut telihat bahwa nilai porositas total tanah Entisol yang paling besar, yaitu sebesar 45%. Nilai porositas tanah alfisol adalah 32,65%, sedangkan nilai porositas tanah Ultisol adalah sebesar 28,9%. Untuk tanah jenis Rendzina, mempunyai nilai porositas sebesar 19% dan yang terakhir adalah Vertisol sebesar 0,5%.
            Menurut Wirosoedarmo (2002) BV Vertisol 0,95 gr/cm3, BJ Vertisol 2,17gr/cm3, dan porositasnya 0,560%, BV Alfisol 1.21 gr/cm3, BJ Alfisol 3.071 gr/cm, dan porositasnya 0.493%, Rendzina BV 1,83 g/cm3 dan porositasnya 24,3% (Szreniawska et al., 1996), BV Entisol 1,18 g/cm3 (Melgar et al., 1992), dan BJ Ultisol 1,1 g/cm3 (Dorner et al., 2010). Ada beberapa data yang tidak sesuai dengan data yang disebutkan dalam sumber pustaka. Pada dasarnya nilai porositas tanah yang terdiri dari sebagian besar lempung maka nilai porositas tanah jenis ini yang kecil. Ketidaksesuaian data tersebut diantaranya dikarenakan oleh hal-hal teknis seperti tanah yang digunakan terlalu kering atau terlalu basah dan ketidak rataan bola tanah sehingga memungkinkan adanya cairan lilin yang masuk dan tidak maksimalnya akurasi dalam percobaan.
Struktur tanah sangat penting untuk diketahui karena hal ini mempengaruhi beberapa hal penting lain dalam pengolahan tanah. hal-hal tersebut dintaranya adalah pergerakan air, ukuran, kemantapan agregat, konsistensi, erosi, dan porositas. Porositas atau jumlah ruang pori yang terdapat didalam tanah merupakan salah satu faktor yang dipengaruhi oleh struktur tanah. Semakin padat dan keras struktur tanah maka porositasnya semakin sedikit dan berkurang sebaliknya, semakin remahnya struktur tanah maka porositsnya semakin banyak. Hal-hal tersebut merupakan faktor penting yang harus dipertimbangkan dalam pengolahan tanah dalam jangka waktu yang lama.
Dalam percobaan ini digunakan metode lilin. Metode ini dilakukan dengan membuat selaput lilin secara sempurna di seluruh permukaan bongkah, kemudian menimbang dan menghitung volumenya. Kelebihan dari metode ini ialah selain mudah dilakukan juga tidak memerlukan peralatan khusus. Kekurangannya yaitu harus hati-hati saat pencelupan bola bongkah ke dalam lilin cair. Apabila suhu lilin cair terlalu panas, lilin bisa masuk ke pori-pori tanah dan tidak boleh terlalu lama agar lapisan lilin yang terbentuk tidak terlalu tebal. Selain itu, digunakan juga metode piknometri. Metode ini menggunakan alat yang disebut piknometer. Piknometer ini diberi perlakuan diisi air saja kemudian ditimbang, diukur suhu, dan dilihat BJ pada tabel, begitu juga pada perlakuan tanah dan air. Kelebihan metode ini yaitu mudah, cepat, dan relatif akurat.

KESIMPULAN
Struktur tanah merupakan penggabungan atas partikel-partikel primer yang membentuk unit-unit struktur yang lebih besar. Berdasarkan hasil percobaan yang telah dilakukan terhadap nilai BV, BJ, dan n(%) tanah yang terdiri dari tanah jenis Entisol, Alfisol, Ultisol, Rendzina, dan Vertisol didapatkan beberapa data sebagai representasi porositas total tanah secara berturut-turut yaitu 45%, 32,65%, 28,9%, 19%, dan 0,5%. Faktor yang mempengaruhi struktur tanah yaitu bahan organik tanah, mikroorganisme tanah, tekstur tanah, dan bahan induk. Apabila tanah didominasi lempung, porositasnya semakin rendah.
DAFTAR PUSTAKA

De Boodt, M. 1978. Soil Physics. State University of Ghent, Belgia.

Dörner, J., P. Sandoval, and D. Dec. 2010. The role of soil structure on the pore functionality of an Ultisol. Journal Soil Science Plant Nutrient 10:495-508.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Handayani, S. dan B.H. Sunarminto. 2002. Kajian struktur tanah lapis olah: I. pengaruh pembasahan dan pelarutan selektif terhadap agihan ukuran agregat dan dispersitas agregat. Agrosains 16 : 10-17.

Kohnke, H. 1986.  Soil Physics. Tata Mc Graw Hill Rubl Co.Ltd, New Delhi.

Melgar, R. J., T. J. Smyth, P. A. Sanchez, and M. S. Cravo. 1992. Fertilizer nitrogen movement in a Central Amazon Oxisol· and Entisol cropped to corn Fertilizer. Research 31:241-252.

Sirappa, M.P. dan A. Sastino. 2003. Analisis mineral lempung tnah regosol lombok dengan menggunakan sinar x dalam kaitannya dengan penentuan sifat dan cara pengelolaan tanah. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 3: 1-6.

Szreniawska, M. D., A. Wyczolkowski, B. Jozefaciuk, A Ksiczopolska, J. Szymona, and J. Stawinski. 1996. Relation between soil structure, number of selected group of soil microorganism, organic matter content and cultivation system. Agrophysics 10:31-35.

Wirosoedarmo, R. 2002. Pendekatan teori fractal untuk menentukan kurva retensi air pada vertisol dan alfisol hasil olah tanah. Jurnal Teknologi Pertanian 5:173 - 178.



0 komentar:

Poskan Komentar