music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA IX KADAR KAPUR SETARA TANAH

09.54 |


LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH
ACARA IX
KADAR KAPUR SETARA TANAH

Disusun oleh:
Aisyah Puspasari                     [ 12/335033/PN/13002 ]
Dian Candra Septiana             [ 12/335039/PN/13005 ]
Ani Dwi Wimatsa                   [ 12/335083/PN/13018 ]
Dina Islamiyah Putri              [ 12/335159/PN/13027 ]
Arin Amini                              [ 12/338074/PN/13049 ]
Wilda Romadona                    [ 12/338731/PN/13051 ]
Golongan/Kelompok               : A1/5
Asisten                                    : Nadia Ayu Pitaloka

LABORATORIUM TANAH UMUM
JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013




ACARA IX
KADAR KAPUR SETARA TANAH

ABSTRAK
Praktikum Dasar-Dasr Ilmu tanah acara IX dengan judul percobaan kadar kapur setara tanah dilaksanakan pada hari senin, 25 maret 2013 di Laboratorium Jurusan Tanah Umum, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Metode yang digunakan dalam percobaan ini yaitu metode calsimetri dengan menggunakan khemikalia larutan HCl 2N da metode titrasi (cottienie) dengan menggunakan khemikalia H2SO4 0,5 N, NaOH 0,5 N, dan indikator PP (phenolphlatin). Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui kadar kapur pada berbagai jenis tanah yang akan mempengaruhi kejenuhan basa tanah. Keberadaan kapur tanah dapat dipengaruhi oleh bahan induk dan iklim. Dari percobaan kadar kapur setara tanah didapat hasil untuk metode calsimetri kadar kapur tanah entisol 0,358 % , alfisol 0,454%, ultisol 0,299%, rendzina 1,006%, dan vertisol 0,364%. Sedangkan untuk metode titrasi (cottienie) kadar kapur tanah entisol 0,524%, alfisol 1,222%, ultisol 0,805%, rendzina 4,671% dan rendzina 2,78%.

Kata Kunci: Kadar Kapur, Calcimetri, Titrasi, basa.




PENGANTAR
Tanah merupakan produk sampingan deposit akibat pelapukan kerak bumi dan atau batuan yang tersingkap dalam matrik tanah. Tanah merupakan campuran partikel-partikel yang terdiri dari salah satu atau seluruh jenis seperti berangkal (boulders), kerikil (gravel), pasir (sand), lanau (silt),lempung (clay) dan koloid (colloids) (Bowles, 1989). Kapur memiliki sifat sebagai bahan ikat antara lain: sifat plastis baik (tidak getas), mudah dan cepat mengeras, workability baik dan mempunyai daya ikat baik untuk batu dan bata. Bahan dasar kapur adalah batu kapur atau dolomit, yang mengandung senyawa kalsium karbonat (CaCO3) (Tjokrodimuljo,1992).
Penilaian bahan kapur biasanya didasarkan pada dua pertimbangan yaitu, kemampuan mengoreksi keasamaan tanah, dan jumlah yang diperlukan untuk mengoreksi keasaman tanah ini. Kemampuan koreksi atau nilai netralisasi diukur ekuivelen dengan CaCO3 atau CaO suatu bahan. Ekuivalen CaO sering disebut ekuivalen kapur oksida atau ekuivalen kapur saja. Ukuran partikel bahan kapur dapat dijadiakn petunjuk yang baik untuk penentuan jumlah yang diperlukan untuk koreksi keasaman (Kuswandi, 1993).
Pengapuran tanah mampu menetralkan senyawa-senyawa beracun dan menekan penyakit tanaman. Aminisasi, amonifikasi, dan oksidasi belerang nyata dipercepat oleh meningkatnya pH yang diakibatkan oleh pengapuran. Dengan meningkatnya pH tanah, maka akan menjadikan tersedianya unsur N, P, dan S, serta unsur mikro bagi tanaman. Kapur yang banyak digunakan di Indonesia dalam bentuk kalsit (CaCO3) dan dolomite (CaMg(CO3)2) (Soepardi, 1983). Selain itu penggunaan kapur bertujuan untuk menaikkkan pH tanah hingga tingkat yang dikehendaki dan mengurangi atau meniadakan keracunan Al. Di samping itu juga meniadakan keracunan Fe dan Mn serta hara Ca dan meningkatkan serapan hara dan produksi tanaman pangan pada umumnya (padi, kedelai, jagung, kacangan lainnya, tomat, cabai) (Komprat, 1970).
Bahan kapur pertanian ada tiga macam, yaitu CaCO3 atau CaMg(CO3)2, CaO atau MgO dan Ca(OH)2. Kapur yang disarankan adalah CaCO3 atau CaMg(CO3)2yang digiling dengan kehalusan 100 % melewati saringan 20 mesh dan 50 % melewati saringan80 – 100 mesh. Pemberian kapur dapat menaikkan kadar Ca dan beberapa hara lainnya, serta menurunkan Al dan kejenuhan Al, juga memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Pemberian kapur yang menyebabkan sifat dan ciri tanah membaik, meningkatkan produksi tanaman (Bailey, 1986 ).
Perbedaan kadar kapur pada berbagai jenis tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain komposisi bahan induk dan iklim. Kedua faktor ini berhubungan dengan kadar lengas tanah, terbentuknya lapisan-lapisan tanah, dan tipe vegetasi. Faktor-faktor ini merupakan komponen dalam perkembangan tanah. Pada umumnya batuan kapur/ kwarstik lebih tahan terhadap perkembangan tanah. Pelarutan dan kehilangan karbonat diperlukan sebagai pendorong dalam pembentukan tanah pada batuan berkapur. Garam-garam yang mudah larut (seperti Na, K, Ca, Mg-Klorida dan sulfat, NaCO3) dan garam alkali yang agak mudah larut ( Ca, Mg ) memiliki karbonat yang akan berpindah bersama air, dan bergantung besarnya air yang dapat mencapai kedalaman tanah tertentu. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengayaan garam/ kapur pada horison tertentu dan besarnya sangat bervariasi. Karena terdapat perbedaan kelarutan dan mobilitas tersebut maka yang terendapkan lebih dahulu adalah karbonat. Pada kondisi yang ekstrem kerak garam dan kapur dapat terbentuk di permukaan tanah. Dari sini menunjukan bahwa kadar kapur tanah dapat berbeda-beda (Ayatullah, 2009).
Penambahan kapur menimbulkan muatan positif (kation) dalam air pori. Penambahan kation ini memungkinkan terjadinya proses tarik menarik antara an-ion dari partikel tanah dengan kation dari partikel kapur serta kation dari partikel kapur dengan anion dari partikel air (proses pertukaran ion/cation exchange). Proses ini mengganggu proses tarik menarik antara an-ion dari partikel tanah dengan kation dari partikel air serta proses tarik menarik antara an-ion dan kation dari partikel air, sehingga partikel tanah kehilangan daya tarik antar partikelnya. Berkurangnya daya tarik antar partikel tanah dapat menurunkan kohesi tanah. Penurunan kohesi ini menyebabkan mudah terlepasnya partikel tanah dari ikatannya. Penambahan kapur yang semakin banyak akan menyebabkan semakin turunnya nilai kohesi. Dengan turunnya nilai kohesi akan menyebabkan turunnya nilai batas cair pada tanah (Wiqoyah, 2006). Namun apabila berlebihan, pengapuran dapat berdampak negatif berupa penurunan ketersediaan Zn, Mn, Cu, B yang dapat menyebabkan tanah menjadi devisiensi keempat unsur ini, serta dapat mengalami keracunan Mo (Hanafiah, 2005).
kapur yang mengandung sejumlah besar Mg dapat mengurangi Ca: rasio Mg dalam tanah. Kapur dari dolomit mengandung Mg 10 sampai 15%, sedangkan kalsit kapur mengandung kurang dari 1% Mg. The University of Missouri program uji tanah, yang menggunakan filosofi SL, merekomendasikan dan menerapkan bahan penetral yang efektif (ENM) kapur untuk meningkatkan pH tanah garam menjadi antara 6,1 dan 6,5, yang pH garamnya sasaran kisaran untuk kapas. ENM digunakan untuk menunjukkan efektivitas pengapuran bahan yang didasarkan pada kalsium karbonat diukur kesetaraan dan ukuran partikel. Jika tanah yang kekurangan Mg, kapur dolomit dapat direkomendasikan untuk memperbaiki keasaman tanah dan meningkatkan Mg tanah (Stevens, 2005).
METODELOGI
Percobaan  Kadar Kapur Setara Tanah dilaksanakan di Laboraturium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada tanggal 25 Maret 2013. Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah timbangan elektronik, pipet 5 ml dan 50 ml, buret dan statif, erlenmeyer 250 ml, pemanas, dan calsimeter. Bahan yang digunakan adalah contoh tanah kering udara diameter 2 mm dan larutan HCL 2 N. Calsimeter kosong ditimbang (a gram). Contoh tanah diameter 2 mm ditimbang seberat 5 gram. Lalu tanah dimasukkan ke dalam calcimeter dan ditimbang (b gram). Tempat HCl di calcimeter diisi dengan HCl 2 N sampai hampir penuh dan ditimbang (c gram). Kran HCl dibuka perlahan-lahan sambil digoyangkan mendatar agar reaksi sempurna. Setelah HCl habis, calsimeter dihangatkan. Calsimeter dibiarkan selama 30 menit dan ditimbang (d gram).

HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Hasil Kadar Kapur Setara Tanah
No.
Jenis Tanah
Calsimeter
Titrasi
1
Entisol
0,358 %
0,524%
2
Alfisol
0,454%
1,222%
3
Ultisol
0,299%
0,805%
4
Rendzina
1,006%
4,671%
5
Vertisol
0,364%
2,78%
            Kandungan Ca dan mg yang tinggi dalam tanah kapur berhubungan dengan taraf perkembangan tanah tersebut, semakin tua tanahnya, akan semakin kecil pula kandungan kedua zat tersebut. Kadar tinggi berkaitan dengan pH yang netral. Sebagai unsur hara makro Ca dan Mg mempunyai fungsi yang penting pada tanaman. Kalsium (Ca) berperan sebagai penyusun dinding sel tumbuhan dan sering pula menetralkan bahan racun dalam jaringan tanaman. Magnesium (Mg) merupakan komponen dari klorofil dan berperan pula dalam pembentukan lemak dan minyak pada tumbuhan. Kekurangan kedua zat ini dalam tanah dapat menghambat perkembangan normal pada jaringan muda. 
Kandungan kapur dari setiap jenis tanah berbeda-beda. Kandungan kapur dari lapisan atas tentu berbeda dengan lapisan di bawahnya. Hal ini disebabkan oleh adanya proses pelindian kapur pada lapisan atas oleh air yang akan diendapkan pada lapisan bawahnya. Selain itu keberadaan kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang ada pada lokasi tanah tersebut. Pengaruh iklim terhadap pembentukan dan perkembangan profil tanah sangat bergantung pada besarnya air yang mampu melewati lapisan tanah.
Kandungan kapur dari setiap jenis tanah berbeda-beda. Bahkan kandungan kapur dari lapisan atas tentu berbeda dengan lapisan di bawahnya. Hal ini disebabkan oleh adanya proses pelindian kapur pada lapisan atas oleh air yang akan diendapkan pada lapisan bawahnya. Selain itu keberadaan kapur tanah sangat dipengaruhi oleh batuan induk yang ada disuatu lokasi.
Dalam percobaan ini dilakukan analisis kapur dengan menggunakan metode gravimetri yang dikenal dengan penetapan kadar kapur setara tanah dengan menggunakan alat calcimeter dan khemikalia HCl. CO2 yang menguap dalam penentuan kapur akan diukur menurut reaksi :
CaCO3 + 2 HCl à CaCl2 + H2O + CO2
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, perbedaan kadar kapur pada berbagai jenis tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain komposisi bahan induk dan iklim. Kedua faktor ini berhubungan dengan kadar lengas tanah, terbentuknya lapisan-lapisan tanah, dan tipe vegetasi. Faktor-faktor ini merupakan komponen dalam perkembangan tanah. Pada umumnya batuan kapur/ kwarstik lebih tahan terhadap perkembangan tanah. Pelarutan dan kehilangan karbonat diperlukan sebagai pendorong dalam Hpembentukan tanah pada batuan berkapur. Garam-garam yang mudah larut (seperti Na, K, Ca, Mg-Klorida dan sulfat, NaCO3) dan garam alkali yang agak mudah larut ( Ca, Mg ) memiliki karbonat yang akan berpindah bersama air, dan bergantung besarnya air yang dapat mencapai kedalaman tanah tertentu. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya pengayaan garam/ kapur pada horison tertentu dan besarnya sangat bervariasi. Karena terdapat perbedaan kelarutan dan mobilitas tersebut maka yang terendapkan lebih dahulu adalah karbonat. Pada kondisi yang ekstrem kerak garam dan kapur dapat terbentuk di permukaan tanah. Dari sini menunjukan bahwa kadar kapur tanah dapat berbeda-beda. Tanah ultisol memiliki kadar kapur dan bahan organik cukup tinggi sehingga kecenderungan lebih subur daripada keempat tanah yang lain. Mg da Ca sangat diperlukan tanaman untuk menguatkan batang. Kadar Kapur jenis tanah dari yang tertinggi sampai yang terendah adalah Alfisol, Entisol, Vertisol, Rendzina dan Ultisol. Tanah Entisol tidak berbahan induk kapur seperti karsit, dolomit dan lain-lain sehingga kadar kapur dalam tanah tidak begitu tinggi. Biasanya tanah Entisol memiliki bahan induk abu vulkanik dan batuan sediment dan pasir (Ayatullah, 2009).
Pengujian kandungan kapur dalam tanah dapat dilakukan dengan menggunakan metode kolorimetri-titrasi dan gravimetric. Dalam praktikum digunakan metode titrasi dan gravimetric atau penetapan kadar kapur setara tanah. dalam penetapan kapur diukur dari gas CO2 yang menguap yang akan setara dengan kadar kapur dalam tanah.
Dari percobaan pengukuran kadar kapur setara tanah terhadap lima jenis sampel tanah dan didapatkan hasil seperti pada Tabel Hasil Kadar Kapur Setara Tanah. Pada percobaan dengan menggunakan metode calsimetri didapatkan bahwa Rendzina memiliki kadar kapur setara tanah paling tinggi yakni sebesar 1,006%, lalu Alfisol 0,454%, lalu Vertisol 0,364%, Entisol 0,358 %, dan yang paling kecil adalah kadar kapur setara dalam tanah Ultisol 0,299%. Untuk hasil praktikum dengan menggunakan metode titrasi dengan bantuan perhitungan dalam reaksi kemikalia yang digunakan, didapatkan hasil bahwa tanah rendzina memiliki kadar kapur setara tanah paling tinggi dari lima sampel tanah yang digunakan yakni sebesar 4,671%. Kadar kapur setara tanah jenis vertisol  sebesar 2,78%, alfisol sebesar 1,222%, ultisol sebesar 0,805%, dan entisol sebesar 0,524%.
Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa tanah Entisol yang termasuk dalam tanah Aluvial dan Regosol mempunyai tingkat kejenuhan Na > 15%. Kejenuhan Na dalam suatu tanah menunjukkan tingkat kadar kapur yang ada karena Na bermuatan positif sehingga mengikat lempung yang bermuatan negatif. Tingkat kejenuhan basa tanah Alfisol adalah 35% (Haryantoantho, 2011). Tanah Ultisol termasuk tanah yang mempunyai sifat masam sehingga basa sangat diperlukan. Kadar Ca menunjukkan nilai 11,96 me/100 gram, Mg sebesar 2,22 me/100 gram dan kejenuhan basa mencapai 58% (Nursyamsi et al., 2008). Tanah Rendzina merupakan tanah yang terdapat langsung di atas batuan kapur dan mempunyai kejenuhan basa ≥50% (Adiningsih dan Prihartini, 1986). Tanah Rendzina mempunyai kandungan Ca tertukar 36,70 me/100 gram, Mg tertukar 0,60 me/100 gram dan CaCO3 sebesar 7,73% (Nurcholis et al., 2003). Vertisol mempunyai kandungan liat tertinggi yaitu > 30-60%, mempunyai kandungan bahan organik 1,5-4% serta sumber hara dan pedon > 70% (Haryantoantho, 2011). Vertisol mempunyai kandungan Ca 11,82 me/100 gram, Mg sebesar 3,4 me/100 gram serta kejenuhan basa mencapai 84% (Nurul, 2003).
Dari hasil tersebut, dapat dilihat bahwa kadar kapur setara tanah berbeda-beda tiap jenisnya dan dapat dilihat pula bahwa kadar kapur setara tanah berbeda dengan menggunakan dua metode tersebut. Hal ini tidak sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya, yang telah disebutkan bahwa kadar kapur setara tanah yang tertinggi adalah tanah jenis Rendzina, Alfisol, Vertisol, Entisol, dan Rendzina. Sedangkan berdasarkan teori Vertisol dan Rendzina memiliki kadar kapur tertinggi, Alfisol dan Ultisol memiliki kadar kapur sedang, dan Entisol memiliki kadar kapur renadah. Hal ini dapat terjadi karena adanya ketidaksterilan alat dari air dan beberapa butir tanah yang menyumbat lubang calcimeter. Ketidaksterilan alat tersebut mempengaruhi pengukuran berat dan hasil perhitungan dari kadar kapur setara beberapa jenis tanah. Selain itu, adanya ketidaksesuaian tanah yang digunakan berasal dari lingkungan berbeda. Keadaan lingkungan asal tanah sangat mempengaruhi tingkat pH, KPK, dan kadar kapur setara tanah tersebut.
KESIMPULAN
Kandungan kapur dari setiap jenis tanah berbeda-beda dan dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni iklim, jenis batuan induk, dan air yang melewati lapisan tanah. Terdapat perbedaan hasil kadar kapur setara tanah dari dua metode yang digunakan, dan adanya ketidaksesuaian hasil percobaan dengan hasil penelitian yang ada. Dari percobaan menggunakan metode calsimetri didapatkan urutan tanah yang memiliki kadar kapur yang tertinggi sampai terendah berturut-turut Rendzina, Alfisol, Vertisol, Entisol, dan Ultisol. Untuk metode titrasi didapatkan, urutan sebagai berikut Rendzina, Vertisol, Alfisol, Ultisol, dan Entisol.
DAFTAR PUSTAKA
Adiningsih, S dan T. Prihartini. 1986. Pengaruh pengapuran dan inokulan terhadap produksidan pembintilan tanaman kedelai pada tanaman podsolik di Situng II  Sumatera Barat 139-150.
Ayatullah, M. S., 2009, Kapur dalam Tanah, <http://septa-ayatullah.blogspot.com/ 2009/04/kapur-dalam-tanah.html>. Diakses pada 29 Maret 2013.
Bailey. 1986. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung. Lampung.
Bowles, J. E., 1989, Sifat-Sifat Fisis dan Geoteknik Tanah
 (Mekanika Tanah), Penerbit Erlangga, Jakarta.
Hanafiah Kemas Ali, 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta.
Haryantoantho. 2011. Klasifikasi Tanah di Dunia. http://www.klasifikasi-tanah-di-dunia.htm. Diakses tanggal 31 Maret 2013.
Komprat, E. J. 1970. Exchange Able Alumunium as Creation for Liming Leached Mineral Soils. Soilsci, soc. Amer Proc.
Kuswandi. 1993. Pengapuran Tanah Pertanian. Penerbit Kanisius. Yogyakarta.
Nurcholis M., E. R. Sasmita, S.G Sutoto. 2003. Kualitas tanah di topografi karst di Bedoyo Gunungkidul dan hubungannya dengan reklamasi lahan bekas tambang. Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada. Prosiding Lokakarya Nasional.
Nursyamsi, D., K. Loris, S. Sobiham, D. A Radhim, A. Sofyan. 2008. Pengaruh asam oksalat, Na+, NH4+  dan Fe3+ terhadap ketersediaan K tanah, serapan N, P, dan K tanaman serta produksi jagung pada tanah-tanah yang didominasi smektit. Jurnal Tanah dan Iklim 28.
Nurul, Faori. 2003. Uji korelasi fosforus tanah vertisol Gemarang, Jawa Timur dan adisol.
Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Saduran The Nature and Properties of Soils by Brady. 1983. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Stevens Gene , Gladbach Tina, Motavalli Peter, Dunn David. 2005. Soil Calcium: Magnesium Ratios and Lime Recommendations for Cotton. The Journal of Cotton Science 9:65–71.
Tjokrodimuljo, K., 1992, Bahan Bangunan, Jurusan Teknik Sipil FT UGM, Yogyakarta.
Wiqoyah, Qunik, 2006, Pengaruh kadar kapur, waktu perawatan dan perendaman terhadap kuat dukung tanah lempung, Dinamika Teknik Sipil Volume 6 Nomor 1: 16-24.



PERHITUNGAN



Kalsimetri
a= berat calcimeter= 116,418 g
b= berat calcimeter+tanah= 123,418 g
c= berat calcimeter+tanah+HCl= 149,944 g
c= berat calcimeter+tanah+air dingin= 149,940 g
kadar lengas 2 mm = 14,325%
CaCO3=
CaCO3=
            =
            =
            = 0,143%











Titrasi
VA= 4 ml
VB= 3,05ml
V1= 50ml
V2= 10ml
a= 5gram
KL= 13,79
N= 0,49N
CaCO3 =
                        =
                        =
                        = 2,78%

0 komentar:

Poskan Komentar