music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA V KONSISTENSI TANAH

09.43 |


LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH
ACARA V
KONSISTENSI TANAH

Disusun oleh:
Aisyah Puspasari                     [ 12/335033/PN/13002 ]
Dian Candra Septiana             [ 12/335039/PN/13005 ]
Ani Dwi Wimatsa                   [ 12/335083/PN/13018 ]
Dina Islamiyah Putri              [ 12/335159/PN/13027 ]
Arin Amini                              [ 12/338074/PN/13049 ]
Wilda Romadona                    [ 12/338731/PN/13051 ]
Golongan/Kelompok               : A1/5
Asisten                                    : Nadia Ayu Pitaloka

LABORATORIUM TANAH UMUM
JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013



ACARA V
KONSISTENSI TANAH

ABSTRAK
Praktikum acar penetapan konsistensi tanah dilakukan dilaboratorium tanah, jurusan tanah, Universitas Gadjah Mada pada hari senin, 11 Maret 2013. Tuuan praktikum ini dalah untuk menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan kering dan menetapkan konsistensi tanah dalam keadaan basah atau lembap. Penetapan konsistensi dalam praktikum ini dilakukan secara kumulatif. Konsistensi basah ditentukan berdasarkan kelekatan dan plastisitas tanah yang diamati pada saat tanah dalam keadaan basah atau berada diatas kapasitas lapang. Konsistensi kering diukur dengan memecahkan agregat. Hasil praktikum untuk konsistensi: Vertisol = Rendzina = Ultisol > Alfisol > Entisol, sedangkan untuk plastisitas tanah: Vertisol > Rendzina = Ultisol = Alfisol > Entisol. Dan untuk tingkat kelekatan: Vertisol = Ultisol > Rendzina = Alfisol > Entisol.

Kata kunci: konsistensi basah, konsistensi kering


 

PENGANTAR
Tidak semua air yang berada pada tanah dapat digunakan oleh tanaman. Gaya tarik-menarik antar molekul  air disebut dengan kohesi, sedangkan gaya tarik-menarik antara molekul air dengan partikel tanah disebut dengan adhesi. Baik gaya kohesi maupun adhesi menimbulkan gaya kapiler yang menahan air tanah melawan gaya gravitasi dan bertanggungjawab untuk gerak ke atas dan perpindahan ke samping (Pittenger, 2004).
Sifat konsistensi tanah pada kandungan air yang berbeda-beda adalah konsistensi basah (kelekatan dan keliatan), konsistensi lembap, dan konsistensi kering. Kelekatan (stickness) artinya tanah dapat melekat atau menempel pada benda-benda yang mengenainya. Beberapa macam kelekatan yaitu tidak melekat, sedikit melekat, lekat, dan sangat lekat. Liat (plasticity) artinya tanah mudah diubah-ubah bentuknya. Beberapa macam keliatan yaitu non-plastic, slighly plastic, plastic, very plastic. Konsistensi lembap merupakan tanah yang gembur. Beberapa macam konsistensi lembap yaitu lepas, sangat gembur, gembur, teguh, sangat teguh, dan ektrem teguh. Konsistensi kering merupakan tanah yang keras. Beberapa macam konsistensi kering yaitu lepas, lunak, sedikit keras, keras, sangat keras, dan ekstrem keras (Hakim et al., 1986).
Atterberg sendiri menetapkan lima bentuk konsistensi tanah berdasarkan kelembapan tanah. Tanah keras, tanah ini mempunyai konsistensi keras saat disentuh. Tingkat kekerasan tergantung pada tekstur dan bahan organik tanah. Tanah gembur, tanah memiliki sifat ini ketika mudah hancur menjadi butiran atau remah. Membajak atau pengerjaan lahan lainnya harus dilakukan ketika kadar air tanah sedemikian rupa sehingga memiliki konsistensi gembur. Membajak seperti ini menyebabkan tanah ladang yang menguntungkan.
            Tanah lunak, dikatakan memiliki konsistensi lunak ketika tanah tampak basah. Dalam keadaann kering, tanah lunak bisa jadi memiliki konsistensi gembur. Tanah lengket, air terhubung ke sebagian besar air tanah pada tekanan yang sama  yang ada pada seluruh tanah. Oleh karena itu, titik lengket adalah kadar air dimana adhesi maksimum terjadi dan dimana tanah normal diolah. Tanah cair, kelembapan tanah mendekati saturasi (kejenuhan) dan sifat tanah seperti cairan kental (Lal and Shukla, 2004).
Konsistensi tanah juga mempunyai hubungan dengan tekstur tanah. Tanah pasir biasanya tak lekat, tak liat dan lepas. Sebaliknya tanah lempung-berat ber-konsistensi sangat liat, sangat teguh, dan keras. Tanah geluh di antara kedua sifat konsistensi yang ekstrim itu (Darmawijaya, 1997). Faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah adalah kadar air tanah, bahan-bahan penyemen agregat tanah, bahan dan ukuran agregat tanah, tingkat agregasi, dan faktor-faktor penentu struktur tanah (tekstur, macam lempung, dan kadar bahan organik). Batas-batas Atterberg atau batas-batas konsistensi adalah persen berat kadar lengas tanah (Eurocansult, 1989). Nilai-nilai Atterberg adalah batas liat atas (BLA) atau batas cair (BC), Batas lekat (BL), Surplus (S), batas liat bawah (BLB) atau batas gulung (BG), indeks keliatan (Ip), batas berubah warna (BBW) atau batas kerut (BK), dan jangka olah (JO) (Notohadiprawiro, 2000).
METODOLOGI
Percobaan  ini dilaksanakan di Laboraturium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada tanggal 11 Maret 2013. Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cawan sebagai tempat adonan tanah. Bahan yang digunakan adalah tanah kering Vertisol diameter 2 mm, bongkah Vertisol, dan air aquadest.
Pada percobaan tanah kering, tanah bongkah ditekan di antara ibu jari dan jari telunjuk. Bila tidak hancur, bongkah ditekan di antara ibu jari dan telapak tangan. Selanjutnya sifat tanah dapat dilihat pada tabel konsistensi tanah. Pada percobaan tanah basah, tanah kering diameter 2 mm dibasahi dengan air aquadest hingga menjadi adonan atau pasta yang homogen. Pasta tanah dipijit di antara ibu jari dan jari telunjuk. Sisa pasta tanah yang ada pada kedua jari menjadi indikator konsistensi tanah. Sifat tanah dapat dilihat pada tabel kelekatan. Kemudian pipa tanah dibuat dan kriteria mengikuti tabel plastisitas. Hasil percobaan disajikan dalam Tabel Hasil                                                                                                       Percobaan Konsistensi Tanah. Parameter yang diamati dalam praktikum ini adalah konsistensi tanah, kelekatan, dan plastisitas. Metode yang digunakan pada percobaan kali ini adalah metode secara kualitatif.
HASIL DAN PEMBAHASAN

No
Jenis Tanah
Kelekatan
Plastisitas
Konsistensi Tanah
1
Entisol
Agak Lekat
Agak Plastis
Agak Keras
2
Alfisol
Lekat
Plastis
Keras
3
Ultisol
Sangat Lekat
Plastis
Sangat Keras
4
Rendzina
Lekat
Plastis
Sangat Keras
5
Vertisol
Sangat Lekat
Sangat Plastis
Sangat Keras

Konsistensi merupakan ketahanan tanah terhadap tekanan gaya-gaya dari luar, yang merupakan indikator derajat manifestasi kekuatan dan corak gaya fisik (kohesi dan adhesi) yang bekerja pada tanah selaras dengan tingkat kejenuhan airnya. Penurunan kadar air akan menyebabkan tanah kehilangan sifat kelekatan (stickness) dan keliatan (plasticity), menjadi gembur (friable) dan lunak (soft) serta menjadi keras dan kaku (coherent) pada saat kering. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsistensi tanah meliputi tekstur tanah, sifat dan jumlah koloid organik maupun anorganik, struktur tanah (porositas) berat isi dan kadar air tanah. Apabila tekstur tanah didominasi pasir maka konsistensi tanah rendah (tidak plastis, tidak lekat, dan lunak) dan bila dominan lempung maka konsitensi tanah tinggi(plastis, lekat, dan keras). Kadar bahan organik yang tinggi mengakibatkan tanah gembur dan plastis. Sifat atau jenis koloid tanah apabila dominan koloid silikat maka tanah plastis dan bila dominan sesquioksida maka tanah tidak plastis. Porositas rendah maka tanah berkonsistensi tinggi, dan kadar air yang tinggi maka tanah akan plastis dan lekat dan sebaliknya.
            Penentuan konsistensi secara kualitatif dilakukan pada kondisi kering dan kondisi basah. Dalam keadaan kering, tanah tidak mengandung air, sehingga kekerasan tanah dapat diukur. Dari hasil praktikum diperoleh konsistensi kering tanah Entisol agak keras, Alfisol keras,Ultisol sangat keras, Rendzina sangat keras, dan Vertisol sangat keras. Tanah Entisol berkonsistensi agak keras, karena ketika ditekan kuat dengan ibu jari dan jari telunjuk tanahnya hancur. Tanah Alfisol berkonsistensi keras, karena tanahnya hancur ketika ditekan kuat antara ibu jari dengan pangkal telapak tangan, Tanah Ultisol berkonsistensi sangat keras, karena tanahnya tidak hancur ketika ditekan kuat dengan ibu jari dan pangkal telapak tangan, Tanah Rendzina berkonsistensi berkonsistensi sangat keras, karena tanahnya tidak hancur ketika ditekan kuat dengan ibu jari dan pangkal telapak tangan,Tanah Vertisol berkonsistensi berkonsistensi sangat keras, karena ketika ditekan antara pangkal telapak tangan kiri dengan ibu jari kanan, meskipun ditekan kuat tetapi bongkah tanah-tanah tersebut tidak hancur. Jenis tanah yang konsistensi keringnya sangat keras adalah ultisol,vertisol dan rendzina. Ketiga jenis tanah tersebut memiliki konsistensi sangat keras karena dipengaruhi oleh terkstur tanahnya yaitu didominasi oleh lempung, struktur tanahnya yang mampat (gumpal kuat), kondisi kelengasan yang tanahnya yang kering, serta kandungan air tanahnya yang bisa dikatakan tidak ada. Sedangkan konsistensi kering keras adalah jenis tanah alfisol dan agak keras adalah entisol. Sehingga urutan jenis tanah yang memiliki kekerasan tertinggi hingga terendah adalah vertisol, rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol.
            Pada keadaan basah, indikator konsistensi tanah dilihat pada tingkat kelekatan dan plastisitas tanah. Dari hasil praktikum diperoleh hasil kelekatan tanah Entisol agak lekat, tanah Alfisol lekat, tanah Ultisol sangat lekat, tanah Rendzina lekat, dan tanah Vertisol sangat lekat. Plastisitas tanah Entisol agak plastis, tanah Alfisol plastis, tanah Ultisol plastis, tanah Rendzina plastis, dan tanah Vertisol sangat plastis. Jenis tanah yang mempunyai konsistensi basah sangat lekat adalah ultisol, rendzina, dan vertisol. Jenis tanah yang mempunyai konsistensi basah lekat adalah alfisol. Sedangkan tanah yang yang berkonsistensi basah agak lekat adalah entisol. Sehingga urutan jenis tanah yang memiliki kelekatan tertinggi hingga terendah adalah vertisol, rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol.
            Plastisitas adalah kemampuan bahan tanah secara mudah dapat diubah bentuknya karena pengaruh dan tetap pada bentuk semula meskipun tekanan dilepaskan. Dari hasil praktikum diperoleh hasil bahwa jenis tanah yang berkonsistensi basah sangat plastis adalah vertisol. Jenis tanah yang memiliki konsistensi basah plastis adalah alfisol, ultisol dan rendzina. Sedang jenis tanah yang berkonsistensi basah agak plastis adalah entisol sehingga urutan tanah mulai dari tingkat keplastisan paling tinggi hingga paling rendah adalah vertisol, rendzina, ultisol, alfisol, dan entisol.
            Pada entisol, ketika pasta tanah dipijit, pasta yang menempel sedikit. Pada Alfisol, ketika pasta tanah dipijit, pasta yang menempel di salah satu jari banyak, jari lain sedikit. Pada Ultisol, Rendzina, dan Vertisol, ketika pasta tanah dipijit, pasta yang menempel banyak di kedua jari. Untuk plastisitas, tanah vertisol sangat plastis karena ketika dibentuk tidak retak. Tanah rendzina, ultisol, dan alfisol plastis karena dapat dibentuk tetapi retak, dan tanah entisol agak plastis karena tidak dapat dibentuk tetapi dapat dibuat pipa. Hal tersebut terjadi karena tanah yang kandungan lempungnya tinggi mempunyai gaya adhesi terhadap benda lain (misal air) yang tinggi, sangat mudah untuk dibentuk, ikatan massa tanah dalam kondisi kering yang sangat keras, sehingga pengolahan tanah dalam keadaan basah ataupun kering adalah sulit. Sedangkan tanah yang kandungan pasirnya tinggi sulit diubah bentuknya (lepas-lepas), ikatan massa tanahnya sangat lemah sehingga dapat dihancurkan dengan mudah, maka pengolahannya pun mudah, namun boros air atau cepat kering
            Menurut Tan (1986), Tanah Entisol memiliki konsistensi lepas-lepas, namun pada percobaan didapat hasil agak keras. Menurut Soepraptohardjo (1997), Tanah alfisol memiliki konsistensi teguh atau dapat dikatakan keras, lekat dan plastis, hasil percobaan menunjukkan kesamaan. Menurut Sarief (1985), Ultisol memiliki konsistensi gembur (lunak), sedangkan pada percobaan didapat hasil sangat keras. Menurut Darmawidjaya (1992), Ciri - ciri tanah Vertisol adalah- (1) tekstur lempungan,(ii) tanpa horison elluvial dan struktur lapisan atas granuler dengan lapisan bagian bawah gumpal atau pejal. (iv) mengandung kapur, (v) Koefisien pemuaian dan pengkerutan tinggi dengan berubahnya kadar air (vi) konsistensi luar biasa  liat (extremely plastic). Dengan melihat ciri-ciri tersebut maka sesuai dengan hasil percobaan. Tanah rendzina memiliki kemiripan dengan vertisol pada hasil percobaan sehingga dapat dikatakan memiliki konsistensi yang sama dengan vertisol karena keduanya memiliki kadar lempung yang cukup tinggi. Adanya perbedaan pada hasil percobaan dapat diakibatkan karena standar keras-lunak yang berbeda pada setiap praktikan (penetapan konsistensi tanah secara kualitatif ini bersifat subjektif sehingga memungkinkan adanya kesalahan penilaian).
            Konsistensi tanah merupakan ketahanan tanah terhadap perubahan bentuk atau perpecahan. Keadaan ini ditentukan oleh sifat adhesi dan kohesi. Meskipun struktur menentukan bentuk, ukuran dan agregasi alami tanah tertentu, konsistensi tetap menentukan kekuatan dan keadaan alami gaya-gaya di antara partikel. Konsistensi itu penting untuk dipertimbangkan dalam pengolahan tanah. Tanah liat dapat menjadi begitu lekat bila basah seperti membuat tajak atau sangat sukar dibajak. Konsistensi sangatlah penting dalam menentukan daya guna tanah secara praktis. Konsistensi dipakai untuk menggambarkan sifat tanah yang sangat penting yaitu hubungannya dengan pengolahan tanah dan pemadatan mesin pertanian. Dengan mengetahui konsistensi tanah, akan mempermudah pengolahan tanah karena tiap tanah mempunyai konsistensi yang berbeda-beda. Perilaku tersebut diharapkan mampu membuat konsistensi tanah sesuai dengan jenis tanaman yang ditanam sehingga mampu meningkatkan produksi pertanian. 
Metode yang digunakan untuk menetapkan konsistensi tanah  dalam keadaan basah dan kering yaitu menggunakan metode kualitatif. Metode ini biasanya dilakukan di lapangan atau bisa juga di laboratorium. Penetapan konsistensi secara kualitatif dilakukan dengan menekan bongkah tanah diantara ujung telunjuk dengan ibu jari atau ujung ibu jari dengan pangkal tangan untuk kondisi kering dan membuat pasta tanah lalu diamati untuk kondisi basah.  Penetapan secara kualitatif dapat digunakan untuk melihat tingkat kelekatan, keliatan, pada konsistensi basah dan tingkat kekerasan pada konsistensi kering. Metode ini dipilih karena mudah, cepat dan membutuhkan alat dan bahan yang sederhana.
            Konsistensi berhubungan erat dengan derajat struktur dan juga kelas tekstur tanah. Contohnya apabila suatu tanah dengan tekstur pasir maka akan mempunyai struktur butir tunggal dan sifat konsistensi lepas-lepas. Sebaliknya tanah yang bertekstur lempung akan mempunyai struktur gumpal, pejal atau baji dan mempunyai konsistensi agak teguh-teguh pada kondisi kering dan plastis bila basah. Hal tersebut dikarenakan sifat partikel penyusun tanah (pasir, debu, dan lempung) yang terdapat pada suatu tanah akan mempengaruhi gaya yang bekerja pada partikel-partikel tanah sehingga menghasilkan sifat fisik yang saling berkaitan.
KESIMPULAN
Dari percobaan ini dapat disimpulkan bahwa :
1.    Konsistensi dipergunakan oleh tekstur tanah, sifat dan jumlah koloid organik ataupun anorganik, struktur tanah, berat isi dan kadar air tanah.
2.    Tingkat konsistensi tanah dari yang paling keras secara berurutan adalah Vertisol = Rendzina = Ultisol > Alfisol > Entisol.
3.    Tingkat plastisitas tanah dari yang paling keras secara berurutan adalah Vertisol > Rendzina = Ultisol = Alfisol > Entisol.
4.    Tingkat kelekatan tanah dari yang paling keras secara berurutan adalah Vertisol = Ultisol > Rendzina = Alfisol > Entisol.
5.    Semakin banyak kandungan lempung dalam tanah maka makin tinggi konsistensinya, semakin banyak kandungan pasir dalam tanah maka semakin rendah konsistensi tanahnya
DAFTAR PUSTAKA
Darmawijaya, M. L. 1997. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Euroconsult. 1989. Agriculture Compendium. Third Revised Edition. Elsevier , Amsterdam.
Hardjowigeno, S. 1987. Ilmu Tanah. PT. Mediyatama Sarana Perkasa, Jakarta.
Hakim, N., M. Y. Nyakpa,  A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Diha, G. B. Hong, dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung Press, Lampung.
Lal, R., Shukla, M. K. 2004. Principles of Soil Physics. Marcel Dekker Inc., New York.
Notohadiprawiro, T. 2000. Tanah dan Lingkungan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Pittenger, D. R. 2004. California Master Gardener Handbook. University of California Agriculture and Natural Resources, California.
Sarief, S. 1985. Ilmu Tanah Umum. Fakultas Pertanian Universitas Padjajaran, Bandung.
Soepraptohardjo, M. 1977. Jenis Tanah dan Potensinya. Pusat Pendidikan Interpretasi Citra         Penginderaan Jauh dan Survey Terpadu, Yogyakarta.
Tan, K. H. 1986. Dasar – Dasar Kimia Tanah. Universitas Gadjah Mada Press, Yogyakarta.




0 komentar:

Poskan Komentar