music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA V PENGAMATAN EKOSISTEM

09.12 |


ACARA V
PENGAMATAN EKOSISTEM

I. TUJUAN
1.         Mempelajari macam-macam bentuk ekosistem tegalan.
2.         Mengetahui struktur dan komponen pembentuk ekosistem tegalan.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Ekosistem adalah hubungan timbal balik yang kompleks antara organisme dan lingkungannya baik yang hidup (biotis) maupun yang tidak hidup (abiotis) yang secara bersama-sama membentuk suatu sistem ekologi. Suatu organisme tidak akan dapat hidup sendiri tanpa berinteraksi dengan organisme lain atau lingkungan hidupnya. Dengan demikian untuk kelangsungan hidup suatu  organisme akan bergantung pada kehadiran organisme lain dan sumber daya alam yang ada di sekitarnya untuk keperluan pangan, perlindungan, pertumbuhan, perkembangbiakan, dan sebagainya. Hubungan antara suatu organisme tersebut sangat rumit dan sifatnya timbal balik (Cahyo, dan Muhartini, 1998).
Ekosistem adalah sekelompok komponen yang saling berinteraksi bersama-sama dan bekerja untuk tujuan bersama serta mampu bereaksi sebagai satu kesatuan untuk menanggapi rangsangan dari luar yang tidak dipengaruhi langsung oleh pengeluaran atau output sendiri dan memiliki batasan sendiri berdasarkan penyatuan semua timbal-balik yang berinteraksi satu sama lainnya. Organisme hidup dengan lingkungan tidak dapat dipisahkan dan selalu berinteraksi satu sama lainnya (Odum, 1985).
Ekosistem merupakan sebuah organisasi dimana tidak hanya mencakup serangkaian tumbuhan dan hewan saja tetapi juga segala bentuk materi yang melakukan siklus dalam system tersebut, dan energi yang menjadi kekuatan bagi ekosistem.  Sinar matahari merupakan sumber energi dalam sebuah ekosistem, yang oleh tumbuhan dapat diubah menjadi energi kimia melalui proses fotosintesis.  Pembentukan jaringan hidup selanjutnya tentu saja bergantung pula pada kemampuan tumbuhan untuk menyerap berbagai bahan mineral dalam tanah yang selanjutnya diolah dalam proses metabolisme (Soeriatmadja, 1989).
Interaksi adalah hubungan antara makhluk hidup yang satu dengan yang lainnya. Ada dua macam interaksi berdasarkan jenis organisme yaitu intraspesies dan interspesies. Interaksi intraspesies adalah hubungan antara organisme yang berasal dari satu spesies, sedangkan interaksi interspesies adalah hubungan yang terjadi antara organisme yang berasal dari spesies yang berbeda. Secara garis besar interaksi intraspesies dan interspesies dapat dikelompokkan menjadi beberapa bentuk dasar hubungan, yaitu (i) netralisme yaitu hubungan antara makhluk hidup yang tidak saling menguntungkan dan tidak saling merugikan satu sama lain, (ii) mutualisme yaitu hubungan antara dua jenis makhluk hidup yang saling menguntungkan, bila keduanya berada pada satu tempat akan hidup layak, tetapi bila keduanya berpisah maka masing-masing jenis tidak dapat hidup layak, (iii) parasitisme yaitu hubungan yang hanya menguntungkan satu jenis makhluk hidup saja, sedangkan jenis lainnya dirugikan, (iv) predatorisme yaitu hubungan pemangsaan antara satu jenis makhluk hidup terhadap makhluk hidup yang lain, (v) kooperasi adalah hubungan antara dua makluk hidup yang bersifat saling membantu antara keduanya, (vi) kompetisi adalah bentuk hubungan yang terjadi akibat adanya keterbatasan sumber daya alam pada suatu tempat, (vii) komensalisme adalah hubungan antara dua makhluk hidup, makhluk hidup yang satu mendapat keuntungan sedangkan yang lainnya tidak dirugikan, (viii) antagonis adalah hubungan dua makhluk hidup yang bersifat permusuhan (Elfidasari, 2007).
Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut (Anonim, 2010):
a.       Komponen autotrof
Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia.
b.      Komponen heterotrof
Heterotrf merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain.
c.       Bahan tak hidup (abiotik)
Faktor abiotik meliputi perubahan iklim, unsur hara, tanah, dan lain sebagainya. Perubahan iklim akan menyebabkan: seluruh wilayah Indonesia mengalami kenaikan suhu udara, dengan laju yang lebih rendah dibanding wilayah subtropis, wilayah selatan Indonesia mengalami penurunan curah hujan, sedangkan wilayah utara akan mengalami peningkatan curah hujan. Perubahan pola hujan tersebut menyebabkan berubahnya awal dan panjang musim hujan(Anonim, 2008).
d.      Pengurai (dekomposer)
Pengurai adalah organisme heterotrf yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen.
Air mengandung bermacam-macam mikroorganisme yang berasal dari berbagai sumber, misalnya dari udara, tanah, sampah, lumpur, tanaman atau hewan mati, kotoran manusia atau hewan, maupun dari bahan organik lainnya. Macam-macam mikroorganisme yang terdapat di dalam air tergantung pada berbagai faktor, antara lain sumber air, siaf-sifat fisik air, bahan-bahan organik, senyawa-senyawa yang dapat menstimulasi dan menghambat pertumbuhan bakteri tertentu (Immamudin dkk., 2004).
Suatu ekosistem tersusun dari organisme hidup di dalam suatu area ditambah dengan keadaan fisik yang mana saling berinteraksi. Karena tidak ada perbedaan yang tegas antara ekosistem maka objek pengkajian harus dibatasi atas daerah dan unsur penyusunnya. Kegunaan dari pemikiran dalam ekosistem adalah saling keterkaitan antara satu dengan hal yang lain, saling ketergantungan, dan hubungan sebab akibat yang kesemuanya itu membentuk suatu rantai kehidupan yang berkesinambungan (Clapham et al., 1973 ).
  
III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
Praktikum Dasar-Dasar Ekologi acara V yang berjudul Pengenalan Ekosistem Tegalan dilaksanakan pada hari Selasa tanggal 9 Mei 2013 di Taman Nasional Merapi, Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta. Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah kendaraan bermotor untuk transportasi, kamera untuk dokumentasi, dan alat tulis. Bahan yang digunakan yaitu semua spesies penyusun ekosistem sawah dan komponen-komponen abiotiknya.
Cara kerja yang dilakukan adalah diamatinya komponen penyusun ekosistem sawah, baik biotik maupun abiotik yang ada di dalamnya serta mengamati interaksi yang terjadi. Komponen biotik merupakan komponen hidup dan yang diamati adalah tumbuhan dan hewan yang ada di ekosistem diamati serta organisme yang ada di dalam tanah juga diamati. Sedangkan komponen abiotik adalah komponen mati, misalnya cahaya, air, kelembaban, dan suhu. Selanjutnya, komponen-komponen biotik dan abiotik tersebut dicatat dan diidentifikasi kedudukannya dalam ekosistem sawah, misalnya sebagai produsen, konsumen, dan sebagai dekomposer. Kemudian diambil gambarnya untuk dibuat skema arus energi dan daur materi berdasarkan identifikasi tersebut.
IV. HASIL PENGAMATAN
Dari hasil pengamatan yang dilakukan di lapangan, didapat beberapa organisme yang menempati tingkat trofik berbeda dan berinteraksi satu sama lain. Organisme tersebut dibagi-bagi ke dalam beberapa kelompok berdasarkan kemampuan dalam membuat makanannya, antara lain:
A.      Komponen biotik

1.      Capung
2.      Nyamuk
3.      Ulat
4.      Kupu-kupu
5.      Belalang
6.      Jamur
7.      Pohon pinus
8.      Tanaman paku
9.      Rumput
10.  Murbei
11.  Bambu
12.  Talas-talasan
13.  Lumut
14.  Pohon mangga
15.  Pohon Nangka
16.  Salam
17.  Pohon Kayu Manis
18.  Minyak Kayu Putih
19.  Puring
20.  Melanding
21.  Jati
22.  Rumput Liar Berbunga Putih
23.  Rumput Gajah,
24.  Dan Tumbuhan lainnya

B.       Komponen biotik
1.      Sinar matahari
2.      Udara
3.      Air
4.      Tanah   
5.      Suhu
6.      Kelembaban Udara







C.       Skema arus energi dan daur materi di hutan
 






KETERANGAN :
Daur Materi
Arus Energi

D.      Rantai Makanan di Ekosistem hutan
 


Atau
 

V. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini pengenalan ekosistem yang dipilih adalah ekossistem hutan yang berlokasi di Bukit Turgo Taman Nasional Gunung Merapi. Pengertian ekosistem pertama kali dikemukakan oleh seorang ahli ekologi berkebangsaan Inggris bernama A.G Tansley pada tahun 1935, walaupun kosep itu bukan merupakan konsep yang baru, sebelum akhir tahun 1800-an, pernyataan-pernyataan resmi tentang istilah dan konsep yang berkaitan dengan ekossitem mulai terbit cukup menarik dalam literatur-literatur ekologi di  Amerika, Eropa, dan Rusia (Odum,1993). Ekosistem adalah tatanan dari satu unsur-unsur lingkungan hidup dan kehidupan (abiotik dan biotik ) secara utuh dan menyeluruh, yang saling mempengaruhi dan saling tergantung satu dengan yang lainnya.ekosistem mengandung keragaman jenis dalam suatu komunitas dengan lingkungannya yang berfungsi sebagi suatu satuan interaksi kehidupan dalam alam.
Hutan adalah sebuah kawasan yang ditumbuhi dengan lebat oleh pepohonan dan tumbuhan lainnya. Kawasan-kawasan semacam ini terdapat di wilayah-wilayah yang luas di dunia dan berfungsi sebagai penampung karbon dioksida, habitat hewan, modulator arus hidrologika, serta pelestarian tanah, dan merupakan salah satu aspek biosfer bumi yang paling penting. Selain itu Hutan juga  merupakan suatu kumpulan tumbuhan dan juga tanaman, terutama pepohonan atau tumbuhan berkayu lain, yang menempati daerah yang cukup luas.
Ekosistem hutan ialah hubungan timbal balik yang terjadi di dalam hutan antara organisme dengan lingkungannya baik biotik maupun abiotik. Hubungan timbal balik yang terjadi dapat berupa proses makan-dimakan, kompetisi, dan simbiosis.  Dalam suatu ekosistem terjadi suatu proses yang dinamis. Menurut hasil pengamatan, dalam ekosistem hutan yang bertindak sebagai produsen ialah tumbuhan hijau, kemudian konsumen I yang memakan produsen ialah hewan herbivora, konsumen II yang memakan konsumen I ialah hewan karnivora,  dan yang bertindak sebagai pengurai ialah cacing. Sedangkan unsur abiotik berupa keadaan lingkungannya antara lain sinar matahari, tanah, suhu udara, kelembaban udara, dan tingkat salinitas.
Dalam suatu ekossitem terdapat produsen, konsumen, dan pengurai. Produsen merupakan organisme autotrof, yaitu organisme yang mampu membuat makanan sendiri. Ada organisme yang membuat makanan sendiri dengan memanfaatkan sinar matahari atau yang dikenal dengan fotoautotrof, ada pula yang membuat makanan dari zat-zat kimia disekitarnya atau yang dikenal dengan kemoautotrof. Sebagian besar produsen adalah tumbuhan hijau yang dapat melakukan fotoautotrof. Tumbuhan hijau memanfaatkan energi dari matahari dan mineral-mineral dari dalam tanah untuk menjadi energi dan gula.
Konsumen merupakan organisme heterotrof yaitu organisme yang tidak dapat membuat makanan sendiri dan memperoleh energi yang diperlukannnya dengan memakan organisme lain baik produsen maupun konsumen. Konsumen I biasanya herbivora atau pemakan tumbuhan. Energi hasil fotosintesis dari produsen akan berpindah kepada konsumen apabila konsumen memakan produsen. Kemudian karnivora atau pemakan daging akan memakan herbivora dan bertindak sebagai konsumen tingkat II. Energi konsumen tingkat I berpindah kepada konsumen tingkat II, demikian seterusnya hingga tingkat makanan yang paling atas. Apabila ada organisme yang mati, jasadnya akan diuraikan oleh dekomposer, sehingga menjadi bahan mineral siap pakai yang dapat dimanfaatkan produsen untuk berfotosintesis.
Di dalam ekosistem hutan terjadi daur materi dan arus energi. Energi utama ekosistem hutan berasal dari sinar matahari diterima oleh produsen yang kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan makanan dan diteruskan ke konsumen – konsumen berikutnya sampai ke pengurai (dekomposer) melalui rantai makanan. Masukan energi dan materi memiliki kesinambungan karena energi (panas) dan materi yang keluar dari dalam tubuh juga selalu berhubungan. Keseimbangan masukan serta keluaran tergantung pada daur materi dan aliran (arus) energi. Arus energi tidak sederhana karena dalam ekosistem hutan tidak hanya rantai makanan saja yang membuat semakin kompleksnya daur-daur yang ada dalam ekosistem tersebut. 
Dari skema yang ada dapat diketahui bahwa arus energi berbeda dengan daur materi. Arus energi adalah perpindahan atau transfer tenaga yang dimulai dari sinar matahari melalui organisme-organisme dalam ekosistem melalui peristiwa makan dan dimakan (rantai makanan). Sedangkan daur materi adalah perputaran substansi atau materi melalui peristiwa makan dan dimakan (rantai makanan). Arus energi bersifat non siklik sedangkan daur materi bersifat siklik.
Secara umum, arus energi yang ada di Hutan Turgo dimulai dari penangkapan energi matahari oleh tanaman (produsen) yang kemudian dimanfaatkan dalam proses fotosintesis. Produsen jumlahnya sangat banyak sehingga persediaan makanan untuk konsumen pertama (herbivora) melimpah. Kemudian beralih kepada konsumen. Konsumen merupakan kelompok organisme yang heterotrof, yaitu tidak dapat mensintesis makanannya sendiri. Oleh karena itu, konsumen mendapatkan makanannya dengan cara memakan organisme lain. Berawal dari konsumen tingkat pertama. Konsumen tingkat ini biasanya berkembang biak dengan cepat sehingga populasinya sangat banyak, namun tidak lebih banyak dari produsen. Konsumen tingkat pertama ini biasanya merupakan herbivora (pemakan tumbuhan). Dalam ekosistem hutan ini, konsumen pertamanya adalah belalang yang jumlahnya cukup banyak.
Proses memakan dan dimakan berlanjut kepada konsumen tingkat kedua, ketiga dan seterusnya. Konsumen ini juga merupakan organisme heterotrof. Namun bedanya, organisme tersebut termasuk golongan karnivora (pemakan daging/hewan) dan omnivora. Populasi yang mereka miliki lebih kecil daripada hewan herbivora (konsumen tingkat 1) karena kemampuan berkembangbiaknya rendah. Dalam ekosistem hutan ini, konsumen tingkat kedua ditempati oleh katak dan burung pemakan serangga. Dan konsumen tingkat ketiga ditempati oleh ular. Produsen menempati tempat teratas dengan populasi terbanyak, lalu konsumen tingkat akhir menduduki peringkat paling buncit dengan populasi paling sedikit. Hal tersebut terjadi karena produsen ataupun sumber makanan yang berada satu tingkat diatas konsumen, harus mampu memenuhi semua kebutuhan makanan dan energi konsumen tersebut. Maka dari itu, jumlah populasi produsen atau sumber makanan di atasnya tidak boleh kurang dari jumlah populasi konsumen di bawahnya. Supaya tidak terjadi kekurangan pangan di dalam ekosistem tersebut. Kemudian dilanjutkan dengan pengurai yang sangat berperan dalam ekosistem hutan adalah cacing serta jamur. Perannya tidak hanya menguraikan jasad konsumen yang mati, tetapi juga menguraikan produsen yang mati.
Pada daur materi, apa yang dihasilkan oleh produsen akan kembali lagi kepada produsen.  Sumber materi utama dalam ekosistem Hutan Turgo adalah tanah dan udara yang ada di bumi. Materi yang ada di bumi (air dan CO2) akan diubah menjadi karbohidrat oleh tanaman. Secara berturut-turut zat tersebut akan berpindah dari tubuh organisme satu ke organisme lain, maka suatu ketika akan kembali ke bumi sehingga dapat dimanfaatkan kembali oleh tumbuhan.          
Daur materi dan arus energi erat kaitannya dengan komponen-komponen yang ada pada ekosistem yang bersangkutan (dalam hal ini adalah ekosistem hutan). Secara umum ada dua jenis komponen yang menyusun keberadaan ekosistem hutan. Keduanya adalah komponen biotik dan juga komponen abiotik. Komponen biotik adalah penyusun suatu ekosistem yang terdiri dari organisme-organisme yang  masih hidup. Komponen biotik juga masih bisa dibagi lagi menjadi dua bagian yaitu organisme autotrof (mampu menghasilkan makanan sendiri) dan organisme heterotrof (tidak mampu menghasilkan makanan sendiri). Sedangkan komponen abiotik merupakan penyusun ekosistem yang terdiri dari benda-benda yang tidak hidup atau bisa juga dikatakan lingkungan dalam arti fisiknya.
Dalam ekosistem hutan ini ditemukan faktor abiotik dan faktor biotik. Faktor abiotik adalah faktor yang berasal dari alam semesta yang tidak hidup, faktor abiotik yang ditemukan pada taman nasional ini adalah suhu udara, kelembaban udara, air namun mata air yang mengalir pada aliran sungainya sedang mengering, sinar matahari, tanah, dan batuan. Faktor ini ada yang langsung berpengaruh terhadap individu, misalnya sinar matahari yang menjadi sumber energi pada proses fotosintesis tumbuhan hijau. Contoh pengaruh tidak langsungnya ialah adanya hujan yang mengandung asam yang menyebabkan tumbuhan hijau yang kurang adaptif menjadi mati sehingga konsumen I kekurangan makanannya. Baik lingkunagn biotik maupun abiotik selalu mempengaruhi suatu organisme. Sedangkan faktor biotik  adalah faktor hidup yang meliputi semua makhluk hidup di bumi, baik tumbuhan maupun hewan. Faktor biotik yang ada pada ekosistem hutan ini adalah capung, nyamuk, ulat, kupu-kupu, belalang, jamur sebagai dekomposer, pohon pinus, tanaman paku, rumput, murbei, bambu, talas-talasan, lumut, pohon mangga, pohon nangka, salam, pohon kayu manis, minyak kayu putih, puring, mlanding, jati, rumput liar berbunga putih, rumput gajah, dan masih banyak tanaman lain yang belum kami ketahui namanya.

VI. KESIMPULAN
            Ekosistem merupakan hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Pada praktikum pengenalan ekosistem ini, dipilih lokasi Taman Nasional Merapi, Turgo, Purwobinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta yang berupa ekosistem hutan. Dalam ekosistem terjadi daur materi dan arus energi yang saling bersinergi untuk menjaga keseimbangan ekosistem. Komponen dalam ekosistem terdiri dari komponen biotik dan abiotik. Dari pengamatan, komponen biotik yang terdapat pada hutan yaitu capung, nyamuk, ulat, kupu-kupu, belalang, jamur sebagai dekomposer, pohon pinus, tanaman paku, rumput, murbei, bambu, talas-talasan, lumut, pohon mangga, pohon nangka, salam, pohon kayu manis, minyak kayu putih, puring, mlanding, jati, rumput liar berbunga putih, dan rumput gajah. Sedangkan komponen abiotik terdiri dari suhu udara, kelembaban udara, air namun mata air yang mengalir pada aliran sungainya sedang mengering, sinar matahari, tanah, dan batuan.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Dampak perubahan iklim terhadap sector pertanian, serta strategi antisipasi dan teknologi adaptasi. Pengembangan Inovasi Pertanian 1: 138-140.

Anonim. 2010. Ekosistem. <http://bebas.vlsm.org >. Diakses tanggal 8 April 2010.

Cahyo, S. Muhartini. 1998. Ekologi Pertanian. Universitas Terbuka, Jakarta.

Clapham, W.B. 1973. Natural Ecosystem. Mac Millian Publishing Co, Inc, New York.

Elfidasari, Dewi. 2007. Jenis interaksi intraspesifik dan interspesifik pada tiga jenis kuntul saat mencari makan di sekitar cagar alam pulau Dua Serang propinsi Banten. Jurnal Biodiversitas 8: 266-269.

Immamudin, H., D.R. Rahayu, D. Supriyati, dan G. Kartina. 2008. Pola penyebaran bakteri kaliform di aliran sungai Brantas, Jawa Timur. Jurnal Mikrobiologi Tropika 2: 32-38.

Odum, H. T. 1985. System Ecology. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Soeriatmadja, R. E. 1989. Ilmu Lingkungan. Institut Teknologi Bandung Press, Bandung.







Lampiran
              
                               Serangga                                                                         Taklas-Talasan

                         
                          Rumput Gajah                                                               Pohon Kayu Manis

                          
                    Tumbuhan Paku                                                                        Pohon Murbei
                 
                                  Ulat                                                                    Capung

         
                              Lumut                                                                                          Jamur
               
                       Semut                                                                     Foto kelompok 6/B2

                                                                                          

0 komentar:

Poskan Komentar