music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA VI BAHAN ORGANIK

09.46 |


LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH
ACARA VI
BAHAN ORGANIK  TANAH

Disusun oleh:
Aisyah Puspasari                     [ 12/335033/PN/13002 ]
Dian Candra Septiana             [ 12/335039/PN/13005 ]
Ani Dwi Wimatsa                   [ 12/335083/PN/13018 ]
Dina Islamiyah Putri              [ 12/335159/PN/13027 ]
Arin Amini                              [ 12/338074/PN/13049 ]
Wilda Romadona                    [ 12/338731/PN/13051 ]
Golongan/Kelompok               : A1/5
Asisten                                    : Nadia Ayu Pitaloka

LABORATORIUM TANAH UMUM
JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013




ACARA VI
BAHAN ORGANIK

ABSTRAK
Acara VI praktikum Dasar-dasar Ilmu tanah yang berjudul Bahan Organik Tanah dilaksanakan pada hari Senin, tanggal 11 Maret 2013 di Laboraturium Dasar Ilmu Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Praktikum ini bertujuan untuk menetapkan kadar C-Organik dan kadar bahan organik tanah. dalam praktikum ini digunakan sampel tanah yaitu alfisol, entisol, ultisol, rendzina, dan vertisol. Pengujian dilakukan secara kuantitatif di laboraturium dengan menggunakan metode Walkley and Black. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa setiap jenis tanah memiliki kadar C-organik yang berbeda-beda. Semakin besar kandunga C-organik, semakin besar pula kandungan bahan organik tanah atau begitu pula sebaliknya.

Kata Kunci: Bahan Organik, Metode Walkley and Black, C-Organik


PENGANTAR

Bahan organik selain berpengaruh terhadap pasokan hara tanah juga berpengaruh terhadap sifat fisik, biologi, dan kimia tanah. syarat tanah sebagai media tumbuh dibutuhkan kondisi fisik dan kimia yang baik. Keadaan fisik tanah yang baik apabila dapat menjamin pertumbuhan akar berkaitan dengan peran bahan organik. Peran bahan organik yang paling besar terhadap sifat fisik tanah meliputi: struktur, konsistensi, porositas,daya pengikat air, dan yang palin penting adalah pengikat ketahanan terhadap erosi.
Bahan organik tanah merupakan salah satu penyusun atau pembentuk agregat tanah, yang mempunyai peran sebagai pelekat antarpartikel tanah untuk bersatu menjadi agregat tanah, sehingga bahan organik penting dalam pembentukan struktur tanah. pengaruh pemberian bahan organik terhadap struktur tanah sangat berkaitan dengan tekstur tanah yang diperlakukan. Oleh karena kandungan bahan organik sangat bermanfaat bagi tahah, terutama kesuburan tanah, maka organik sangat bermanfaat bagi tanah, maka penelitian tentang kandungan bahan organik tanah dalam tahah sangat dibutuhkan untuk menegtahui apakah tanah tersebut subur dan layak untuk dijadikan media tanam.
Tanah tersusun dari bahan padatan, air, dan udara. bahan padatan tersebut dapat berupa bahan mineral dan bahan organik. Bahan mineral terdiri dari partikel pasir, debu, dan liat. Ketiga partikel ini menyusun tekstur tanah. Bahan organik dari tanah mineral berkisar 5% dari bobot total tanah. Meskipun kandungan bahan organik tanah mineral sedikit (kurang dari 5%) tetapi memegang peranan penting dalam menentukan kesuburan tanah. bahan organik adalah kumpulan senyawa-senyawa organik kompleks yang sedang atau telah mengalami proses dekomposisi, baik berupa humus hasil humifikasi maupun senyawa-senyawa anorganik hasil mineralisasi dan termasuk juga mikrobia heterofik dan autrofik yang terlibat dan berada di dalamya (Madjid, 2007).
Bahan organik tanah merupakan salah satu bahan pembentuk agregat tanah yang mempunyai peran sebagai bahan perekat antar pertikel tanah untuk bersatu menjadi agregat tanah sehingga bahan organik penting dalam pembentukan struktur tanah. Pengaruh pemberian bahan organik  terhadap struktur tanah sangat berkaitan dengan tekstur tanah yang diperlukan. Pada tanah lempung yang berat, terjadi penebalan struktur gumpal kasar yang kuat menjadi struktur yang lebih halus dan tidak kasar, dengan derajat struktur sedang hingga kuat, sehingga lebih mudah untuk diolah (Stevenson, 1982).
Komponen organik seperti asam humat dan asam fulvat dalam hal ini berperan sebagai sementasi partikel lempung dengan membentuk kompleks lempung logam-humus. Tanah yang kandungan humusnya semakin berkurang, maka lambat laun tanah akan menjaid keras, kompak dan bergumul, sehingga menjadi kurang produktif (Stevenson, 1982). Pada tanah pasiran, bahan organik dapat diharapkan mengubah struktur tanah dari butiran tunggal menjadi bentuk gumpal, sehingga meningkatkan derajat struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus menjadi sedang atau kasar (Seholes et. al, 1994).
Pengaruh bahan organik terhadap salah satu sifat fisika tanah adalah terhadap peningkatan porositas tanah. Porositas tanah adalah ukuran yang menunjukkan bagian tanah yang tidak berisi bahan padat yang terisi oleh udara dan air. Pori-pori tanah dapat dibedakan menjadi pori mikro, pori meso, dan pori makro. Pori-pori mikro sering dikenal sebagi pori kapiler, pori meso dikenal sebagi pori drianase lambat, dan pori makro dikenal sebagai pori drainase cepat. Tanah pasir yang banyak mengandung pori makro sulit menahan air, sedang tanah lempung yang banyak mengandung pori makro drainasenya jelek. Pori dalam tanah menentukan kandungan air dan udara dalam tanah serta menentukan perbandingan tata udara dan tata airyang baik. Penambahan bahan organik pada tanah kasar (berpasir), akan meningkatkan pori yangberukuran menengah dan menurunkan pori makro. Dengan demikian akan meningkatkan kemampuan menahan air (Stevenson, 1982). Penambahan bahan organik (pupuk kandang) akan meningkatkan pori total tanah dan akan menentukan berat volume tanah (Wiskandar, 2002).
Pengaruh bahan organik terhadap peningkatan porositas tanah di samping berkaitan dengan aerasi tanah, juga berkaitan dengan status kadar air dalam tanah. penambahan bahan organik akan meningkatkan kemampuan menahan air sehingga kemampuan menyediakan air tanah untuk pertumbuhan tanaman meningkat. Kadar air yang optimal bagi tanaman dan kehidupan mikroorganisme adalah sekitar kapasitas lapang. Penambahan bahan organikdi tanah pasiran akan meningkatkan kadar air pada kapasitas lapang, akibat dari meningkatnya pori yang berukuran menengah (meso) dan menurunnya pori makro, sehingga daya menahan air meningkat, dan berdampak pada peningkatan persediaan air untuk pertumbuhan tanaman(Seholes et. al, 1994).
Kualitas dan kuantitas input bahan organik akan berpengaruh pada kandungan bahan organik tanah. Substrat organik dengan C/N rasio kecil (<25) menyebabkan dekomposisi berjalan cepat, sebaliknya pada bahan organik dengan C/N besar(>25) maka mendorong mobilisasi, penentuan humus, akumulasi bahn organik dan peningkatan struktur tanah. input bahan yang mengandung lignin dan polyfenol akan menghambat dekomposisi (Supriyadi, 2008). Selain itu, input bahan organik dengan kandungan N dan P rendah akan mendorong pengurangan bahan organik dalam tanah setelah dekomposisi (Fontaine et.al,2004).
METODOLOGI
Percobaan ini dilakukan pada hari Senin, tanggal 11 Maret 2013 di Laboraturium Dasar Ilmu Tanah, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada. Pada percobaan ini, alat yang digunakan antara lain labu takar 50ml, pipet volume 10ml, pipet volume 5ml, gelas ukur 10ml, labu Erlenmeyer 50ml, dan buret. Bahan yang digunakan dalam percobaan ini yaitu contoh tanah kering udara diameter 0,5mm, garam kalium dikromat 1N (K2Cr2O7 1N), asam sulfat pekat (H2SO4 pekat), garam besi (II) sulfat 1N atau fero sulfat 1N (FeSO4), dan indicator difenilamin.
Pada percobaan ini, metode yang digunakan adalh metode Walkley and Black. Tahapan yang dilakukan dalam metode ini adalah tahapan antara, yang artinya kandungan  bahan organik ditentukan oleh besarnay C-organik hasil titrasi kemudian dikalikan dengan konstanta tertentu. Pada metode ini, contoh tanah kering udara dengan diameter 0,5mm ditimbang seberat a gram lalu dimasukkan ke dalam labu takar 50ml dan ditambahkan 10ml K2Cr2O7 1N dengan pipet volume 10ml.  selanjutnya, 10ml H2SO4 pekat ditambahkan secara perlahan lalu digojok dengan gerakan memutar dan mendatar. Setelah itu, larutan didiamkan selama 30menit agar dingin dan setelah dingin ditambahkan 2-3 tetes indicator difenilamin. Lalu, ditambahkan air aquadest hingga volume 50ml dengan botol pancar. Labu takar lau ditutup dan ditutup dan kemudian digojok sampai homogen dan tanah dibiarkan mengendap. Larutan jernih diambil sebanyak 5ml dengan pipet volume 5ml, lalu dimasukkan ke dalam labu Erlenmeyer 50ml dan ditambahkan 15ml aquadest. Setelah itu, larutan tersebut dititrasi dengan FeSO4 1N hingga warna menjadi kehijauan dan dicatat volume titrasinya. Langkah tersebut diulangi untu keperluan blanko tanpa tanah.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Hasil Uji Bahan Organik Tanah

No.
Jenis Tanah
Kadar C-organik (%)
Kadar Bahan Organik(%)
1
Entisol
2,286
3,491
2
Alfisol
3,109
5,36
3
Ultisol
2,387
4,116
4
Rendzina
4,884
8,42
5
Vertisol
2,482
4,28

 Bahan  organik adalah bagian dari tanah yang merupakan suatu system kompleks dan dinamis, yang bersumber dari sisa tanaman dan atau binatang yang terdapat di dalam tanah yang terus menerus mengalami perubahan bentuk, karena dipengaruhi oleh faktor biologi, fisika, dan kimia. Bahan organik tanah adalah semua jenis senyawa organik yang terdapat di dalam tanah, termasuk serasah, fraksi bahan organik ringan, biomassa mikroorganisme, bahan organik terlarut di dalam air, dan bahan organik yang stabil atau humus. Bahan organik memiliki peran penting dalam menentukan kemampuan tanah untuk mendukung tanaman, sehingga jika kadar bahan organik tanah menurun, kemampuan tanah dalam mendukung produktivitas tanaman juga menurun. Menurunnya kadar bahan organik merupakan salah satu bentuk kerusakan tanah yang umum terjadi. Kerusakan tanah merupakan masalah penting bagi negara berkembang karena intensitasnya yang cenderung meningkat sehingga tercipta tanah-tanah rusak yang jumlah maupun intensitasnya meningkat.
Faktor-faktor yang mempengaruhi dekomposisi bahan organik dapat dikelompokkan dalam tiga grup, yaitu 1) sifat dari bahan tanaman termasuk jenis tanaman, umur tanaman dan komposisi kimia, 2) tanah termasuk aerasi, temperatur, kelembaban, kemasaman, dan tingkat kesuburan, dan 3) faktor iklim terutama pengaruh dari kelembaban dan temperatur.
Bahan organik secara umum dibedakan atas bahan organik yang relative sukar didekomposisi karena disusun oleh senyawa siklik yang sukar diputus atau dirombak menjadi senyawa yang lebih sederhana, termasuk di dalamnya adalah bahan organik yang mengandung senyawa lignin, minyak, lemak, dan resin yang umumnya ditemui pada jaringan tumbuh-tumbuhan; dan bahan organik yang mudah didekomposisikan karena disusun oleh senyawa sederhana yang terdiri dari C, O, dan H, termasuk di dalamnya adalah senyawa dari selulosa, pati, gula dan senyawa protein.
            Diantara sekian banyak faktor yang mempengaruhi kadar bahan organik dan nitrogen tanah, faktor yang penting adalah kedalaman tanah, iklim, tekstur tanah dan drainase. Kedalaman lapisan menentukan kadar bahan organik dan N. Kadar bahan organik terbanyak ditemukan di lapisan atas setebal 20 cm (15-20%). Semakin ke bawah kadar bahan organik semakin berkurang. Hal itu disebabkan akumulasi bahan organik memang terkonsentrasi di lapisan atas.  Faktor iklim yang berpengaruh adalah suhu dan curah hujan. Makin ke daerah dingin, kadar bahan organik dan N makin tinggi. Pada kondisi yang sama kadar bahan organik dan N bertambah 2 hingga 3 kali tiap suhu tahunan rata-rata turun 100C. bila kelembaban efektif meningkat, kadar bahan organik dan N juga bertambah. Hal itu menunjukkan suatu hambatan kegiatan organisme tanah. Tekstur tanah juga cukup berperan, makin tinggi jumlah liat maka makin tinggi kadar bahan organik dan N tanah, bila kondisi lainnya sama. Tanah berpasir memungkinkan oksidasi yang baik sehingga bahan organik cepat habis. Pada tanah dengan drainase buruk, dimana air berlebih, oksidasi terhambat karena kondisi aerasi yang buruk. Hal ini menyebabkan kadar bahan organik dan N tinggi daripada tanah berdrainase baik. Disamping itu vegetasi penutup tanah dan adanya kapur dalam tanah juga mempengaruhi kadar bahan organik tanah. Vegetasi hutan akan berbeda dengan padang rumput dan tanah pertanian. Faktor-faktor ini saling berkaitan, sehingga sukar menilainya sendiri
            Berdasarkan hasil percobaan yang dilakukan terhadap nilai kandungan Bahan Organik (BO) pada beberapa jenis tanah didapat data berupa kadar C-Organik (%) yang selanjutnya akan dijadikan dasar perhitungan dalam pentuan kadar BO.tanah yang dijadikan bahan dalam percobaan ini adalah jenis tanah entisol, alfisol, ultisol, rendzina, dan vertisol.  Berdasarkan hasil percobaan, nilai BO rendzina adalah yang paling tinggi yakni 8,42%, sedangkan alfisol sebesar 5,36%, vertisol sebesar 4,28%, ultisol sebesar 4,116 %, dan yang paling rendah adalah kadar BO entisol yakni sebeser 3,941%. Jika ditinjau dari kajian pustaka yang telah ada, ada beberapa data yang tidak sesuai dengan data yang disebutkan dalam sumber pustaka. hal ini terjadi dikarenakan oleh beberapa factor terkait bahan praktikum maupun ketidaksesuaian teknis pada saat percobaan.
                  Nilai BO berpengaruh penting dan memeiliki hubungan yang erat dengan sifat-sifat kimia, fisika, maupun biologi tanah itu sendiri. Sifat fisika tanah yang dipengaruhi oleh kadar BO diantaranya adalah BO merupakan stimulan terhadap granulasi tanah,  memperbaiki struktur tanah menjadi lebih remah, menurunkan plastisitas dan kohesi tanah,      meningkatkan daya tanah menahan air sehingga drainase tidak berlebihan, kelembaban dan temperatur tanah menjadi stabil, mempengaruhi warna tanah menjadi coklat sampai hitam,  menetralisir daya rusak butir-butir hujan,    menghambat erosi, dan mengurangi pelindian (pencucian/leaching).
                  BO juga berpengaruh terhadap sifat kimia tanah, diantaranya adalah     meningkatkan hara tersedia dari proses mineralisasi bagian bahan organik yang mudah terurai, menghasilkan humus tanah yang berperanan secara koloidal dari senyawa sisa mineralisasi dan senyawa sulit terurai dalam proses humifikasi,      meningkatkan kapasitas tukar kation (KTK) tanah 30 kali lebih besar ketimbang koloid anorganik,      menurunkan muatan positif tanah melalui proses pengkelatan terhadap mineral oksida dan kation Al dan Fe yang reaktif, sehingga menurunkan fiksasi P tanah, dan meningkatkan ketersediaan serta efisiensi pemupukan serta melalui peningkatan pelarutan P oleh asam-asam organik hasil dekomposisi bahan organik. Sedangkan mengenai sifat biologi BO berhubungan erat dalam     meningkatkan keragaman organisme yang dapat hidup dalam tanah (makrobia dan mikrobia tanah) dan   meningkatkan populasi organisme tanah (makrobia dan mikrobia tanah).
Melalui penelitian ditemukan bahwa beberapa zat tumbuh dan vitamin dapat diserap langsung dari bahan organik dan dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Dulu dianggap orang bahwa hanya asam amino, alanin, dan glisin yang diserap tanaman. Serapan senyawa N tersebut ternyata relatif rendah daripada bentuk N lainnya. Tidak dapat disangkal lagi bahwa bahan organik mengandung sejumlah zat tumbuh dan vitamin serta pada waktu-waktu tertentu dapat merangsang pertumbuhan tanaman dan jasad mikro.
Bahan organik ini merupakan sumber nutrien inorganik bagi tanaman. Jadi tingkat pertumbuhan tanaman untuk periode yang lama sebanding dengan suplai nutrien organik dan inorganik. Hal ini mengindikasikan bahwa peranan langsung utama bahan organik adalah untuk menyuplai nutrien bagi tanaman. Penambahan bahan organik kedalam tanah akan menambahkan unsur hara baik makro maupun mikro yang dibutuhkan oleh tumbuhan, sehingga pemupukan dengan pupuk anorganik yang biasa dilakukan oleh para petani dapat dikurangi kuantitasnya karena tumbuhan sudah mendapatkan unsur-unsur hara dari bahan organik yang ditambahkan kedalam tanah tersebut. Efisiensi nutrisi tanaman meningkat apabila pememukaan tanah dilindungi dengan bahan organik dan hal ini sangat penting dalam dunia pertanian.
Dalam percobaan ini digunakan beberapa jenis cemichalia yang berfungsi dalam membantu proses penentuan nilai BO pada tiap-tiap jenis tanah. Penetapan bahan organik tanah adalah berdasarkan oksidasi. Dua macam cara oksidasi yang sering digunakan untuk penetapan bahan organik tanah adalah cara oksidasi basah dan oksidasi kering. Penetapan kandungan bahan organik di sini menggunakan cara oksidasi basah, di mana bahan organik tanah dioksidasi dengan kalium dikhromat yang tidak digunakan dititrasi dengan dengan ferro sulfat yang telah diketahui normalitasnya. Difenilamine dalam H2SO4 pekat digunakan sebagai penunjuk titik akhir titrasi, sedang pemberian H3PO4 85% adalah untuk menghilangkan gangguan yang mungkin ditimbulkan oleh adanya ion ferro. Reaksi yang berlangsung pada dasarnya adalah sbb :
3 C + 2 Cr2O7 + 16 H+ 3 CO2 + 4 Cr3+ + 8H2O
Cr2O7 + FeSO4 Cr2(SO4)3 + Fe3+
Penentuan kadar BO dapat dilakukan dengan beberapacara antara lain reaksi pembakaran dan Walkley dan Black.  Metode kedua dilakukan dengan dua tahapan yang terdiri dari penentuan kandungan BO yang ditentukan oleh besarnya hasil C-organik hasiltitrasi. Penggunaan metode ini lebih mudah dan teliti serta tepat dilaksanakan dalam laboraturium.

KESIMPULAN
BO merupakan nilai kadar bahan organik yang terdapat dalam tanah dan pada percobaan ini  terdiri dari tanah jenis entisol, alfisol, ultisol, renzina, dan vertisol didapatkan beberapa data sebagai representasi BO masing-masing tanah tersebut, beberapa data yang tidak sesuai dengan penelitian yang lain dikarenakan oleh beberapa factor. Jika ditinjau dari kajian pustaka yang telah ada,
Ada beberapa data yang tidak sesuai dengan data yang disebutkan dalam sumber pustaka. hal ini terjadi dikarenakan oleh beberapa factor terkait bahan praktikum maupun ketidaksesuaian teknis pada saat percobaan.


DAFTAR PUSTAKA
Fontaine, S., G., Bardoux, L. Abbadie, and Mariotti. 2004. Carbon Input to Soil May Decrease Carbon Content. Ecology Letters, 7: 314-320
Madjid, Abdul. 2007. Bahan  Organik Tanah. (http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2007/11/bahan-organik-tanah.html) Diakses pada tanggal 14 Maret 2013
Scholes, M.C., Swift, O.W., Heal, P.A., Sanckez, JSI., Ingram and R. Dudal. 1994. Soil Fertility Reasearch in Response to Demant for Suitainability. In the Biological Management of Tropical Soil Fertility Ctds Woomer, PI. And Swift, M. J. John Wiley & Sons, New York.
Stevenson, F. T. 1982. Humus Chemistry. John Wiley & Sons, New York.
Supriyadi, Slamet. 2008. Kandungan Bahan Organik sebagai Dasar Pengelolaan Tanah di Lahan Kering Madura. Embryo wol.5 No.2: 178-179
Wiskandar. 2002. Pemanfaatan Pupuk Kandang untuk Memperbaiki Sifat Fisik Tanah di Lahan Kritis yang Telah Diteras. Kongres Nasional VII.


LAMPIRAN
Perhitungan:
KL Vertisol diameter 0,5mm = 13,79 %
Va                                            = 4,4 ml
Vb                                                          = 3,7 ml
N                                             = 0,2 N
a                                              = 0,25 gram


Bahan Organik


0 komentar:

Poskan Komentar