music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA VIII REAKSI TANAH (pH TANAH)

09.50 |


LAPORAN RESMI
PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH
ACARA VIII
 REAKSI (pH) TANAH

Disusun oleh:
Aisyah Puspasari                     [ 12/335033/PN/13002 ]
Dian Candra Septiana             [ 12/335039/PN/13005 ]
Ani Dwi Wimatsa                   [ 12/335083/PN/13018 ]
Dina Islamiyah Putri              [ 12/335159/PN/13027 ]
Arin Amini                              [ 12/338074/PN/13049 ]
Wilda Romadona                    [ 12/338731/PN/13051 ]
Golongan/Kelompok               : A1/5
Asisten                                    : Nadia Ayu Pitaloka
LABORATORIUM TANAH UMUM
JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013




ACARA VIII
REAKSI TANAH (pH TANAH)

ABSTRAK
Praktikum Dasar-dasar Ilmu Tanah acara VIII dengan judul Reaksi Tanah (pH Tanah) dilaksanakan di Laboratorium Tanah Umun, Jurusan Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta pada hari Senin, 18 Maret 2013. Percobaan ini dilakukan untuk menetapkan pH tanah dari berbagai jenis tanah. Metode yang digunakan dalam percobaan ini adalah metode elektrode gas (elektrometri), yaitu dengan menggunakan pH meter. Untuk mengukur pH aktual, tanah dicampur dengan aquades. Sedangkan pH potensial, tanah dicampur dengan KCl. Reaksi tanah (pH tanah) menunjukkan perimbangan konsentrasi asam-basa dalam tanah. Reaksi tanah merupakan sifat kimia yang penting untuk diamati karena berpengaruh terhadap serangkaian proses-proses kimiawi dalam tanah seperti proses pembentukan mineral lempung, reaksi kimia dan biokimia tanah, dan status hara dalam tanah. Nilai pH tanah setiap jenis tanah berbeda-beda tergantung pada bahan induk, iklim, bahan organik, dan perlakuan manusia. Dalam percobaan diukur dua macam pH yaitu pH aktual dan pH potensial. Dari hasil percobaan didapat pH potensial tanah Entisol 4,96, Alfisol 5,5, Ultisol 4,77, Rendzina 6,32, dan Vertisol 6,27. Sedangkan untuk pH aktual Entisol 6,95, Alfisol 6,5, Ultisol 5,75, Rendzina 7,17, dan Vertisol 6,99.

Kata Kunci: pH Tanah, reaksi, metode Elektrometri, asam-basa.




PENGANTAR
Tanah merupakan komponen penting bagi pertanian. Tanaman akan dapat tumbuh degan baik apabila kondisi tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman. Salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman yaitu reaksi tanah (pH tanah). Reaksi tanah (pH tanah) ini sangat erat kaitannya dengan kesuburan tanah yang nantinya akan berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman dan berdampak pada produktivitas tanaman.
Reaksi Tanah (pH tanah) merupakan salah satu parameter tanah yang paling sering digunakan sebagai acuan proses kimia tanah. Metode pengukuran pH ini dilakukan karena peralatannya yang murah, nilainya mudah dibaca, dan dapat mengetahui adanya elemen yang penting atau racun bagi pertumbuhan tanaman. pH tanah berfungsi dalam penentuan aktivitas hidrogen (H+) dalam larutan dan mengukur intensitas keasaman. Tanah memiliki nilai pH berkisar dari 3,5 sampai lebih dari 10 (Peverill et al., 2001).
Sifat suatu  kimia maupun agronomi tanah dapat ditentukan berdasarkan nilai pH. pH dianggap sebagai variabel utama pada sistem tanah dan sistem pelapukan pada umumnya. pH tanah dilambangkan sebagai negatif logaritma dari ion hidrogen (H+), pH = -log (H+). Namun, sering disebut konsentrasi ion [H+] saja (Chesworth, 2008).
Tanah asam terkadang dianggap tidak subur karena menyebabkan penurunan ketersediaan beberapa nutrisi dan peningkatan logam berat ke tingkat beracun. Dalam hal ini, curah hujan yang tinggi dapat menyebabkan tanah menjadi asam (Shi et al., 2009). Logam berat menyerap ke tanah sangat dipengaruhi oleh pH tanah solusi. Limbah industri dengan terkonsentrasi tinggi membuat kondisi pH tidak terkendali (Fonseca et al., 2009).
Nilai pH akan mempengaruhi kelarutan atau ketersediaan unsur hara. Pada nilai pH sekitar netral, kelarutan unsur hara makro seperti P dan K tinggi, sedangkan kelarutan unsur hara mikro seperti Al dan Fe rendah. Penentuan pH tanah dapat dikerjakan secara elektrometrik dan kalorimetrik, baik di dalam laboratorium maupun di lapangan. Elektrometrik reaksi tanah ditentukan antara lain dengan pH meter Beckman, sedangkan kalorimetrik dapat dikerjakan dengan kertas pH, pasta pH, dan larutan universal (Hidayanto et al., 2004).
pH tanah atau tepatnya pH larutan tanah sangat penting karena larutan tanah mengandung unsur hara seperti Nitrogen (N), Kalium (K), dan Pospor (P) dimana tanaman membutuhkan dalam jumlah tertentu untuk tumbuh, berkembang, dan bertahan terhadap penyakit. Jika pH larutan tanah meningkat hingga di atas 5,5; Nitrogen (dalam bentuk nitrat) menjadi tersedia bagi tanaman. Jika pH larutan antara 6,0-7,0 Pospor akan tersedia bagi tanaman (Siradz, 2006).
Kemasaman dan kebasaan tanah dipengaruhi oleh macam kation yang terserap pada koloid. Kation-kation utama yang terserap ialah Al, H, Na, K, Ca dan Mg. Bila lebih banyak ion Al dan H yang terserap, pH tanah menurun. Bila ion basa lebih banyak terserap, pH tanah meningkat (Coleman dan Thomas, 1967). Keasaman tanah biasa terdapat di daerah dengan curah hujan tinggi sehingga cukup banyak basa dapat tertukar dan terlindi dari lapisan permukaan tanah. Kebasaan tanah terjadi karena derajat kejenuhan basa relatif tinggi. Tanah basa biasa terdapat di daerah kering (Buckman dan Brady, 1969).
METODOLOGI
Percobaan  pH Tanah dilaksanakan di Laboraturium Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada pada tanggal 18 Maret 2013. Alat yang digunakan pada percobaan ini adalah cepuk pH, pH meter, gelas ukur, dan timbangan. Bahan yang digunakan adalah tanah kering Vertisol diameter 2 mm, larutan KCL 1 N, dan air aquadest. Metode yang digunakan pada percobaan ini adalah metode elektrometri dengan mengunakan pH meter.
Pertama, contoh tanah kering diameter 2 mm ditimbang sebanyak 10 gram dan dimasukkan ke dalam cepuk pH. Lalu air aquadest ditambahkan sebanyak 25 ml (air:tanah = 2,5:1). Kemudian diaduk dan didiamkan selama 30 menit. Lalu pH tanah diukur dengan pH meter. Langkah di atas diulangi kembali dengan mengganti aquades menjadi larutan KCl.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanah
pH Potensial (KCl)
pH Aktual (H2O)
Entisol
4,96
6,95
Alfisol
5,5
6,5
Ultisol
4,77
5,75
Rendzina
6,32
7,17
Vertisol
6,27
6,99

Reaksi tanah merupakan salah satu sifat kimia tanah yang mencakup berbagai unsur-unsur dan senyawa-senyawa kimia yang lengkap. Reaksi tanah berkaitan dengankeadaan atau status kimia tanah, dimana status kimia tanah merupakan suatu faktor yang mempengaruhi proses-proses biologis seperti pada pertumbuhan tanaman. Reaksi tanah secara umum dinyatakan dengan pH (power of Hidrogen) tanah. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen H+ di dalam tanah. Makin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, maka tanah tersebut akan semakin masam. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH- yang jumlahnya berbading terbalik dengan ion H+. Semakin banyak ion OH- dalam tanah akan menyebabkan tanah semakin basis. Kemasaman pH tanah secara sederhana merupakan ukuran aktivitas H+ dan dinyatakan sebagai –log (H+).
Reaksi tanah menunjukkan perimbangan antara konsentrasi asam dan basa dalam tanah. Menurut ilmu kimia murni, nilai pH tanah dikatakan netral apabila bernilai 7. Namun, menurut ilmu kimia tanah, pH tanah dikatakan netral jika memiliki nilai 6,5. Pada pH tersebut, ketersediaan unsur hara pada tanaman akan mencapai optimum.
Faktor yang mempengaruhi pH tanah antara lain bahan induk, iklim, bahan organik, dan perlakuan manusia. Bahan induk yang bersifat masam akan mendorong terbentuknya tanah yang juga bersifat masam, begitu pula apabila bahan induk bersifat basis akan membentuk tanah yang bersifat agak netral sampai basis. Pengaruh iklim pada pH tanah yaitu berkaitan dengan reaksi yang melibatkan air. Pada iklim basah, akan banyak reaksi yang melibatkan air, dan dalam air terdapat in H+ yang akan menyebabkan tanah menjadi asam. Jika pada iklim kering, akan sedikit air yang dihasilkan yang menyebabkan tanah bersifat basis. Tanah organik mempunyai pH yang rendah. Hal itu disebabkan karena dalam bahan organik terdapat banyak asam-asam organik hasil proses humifikasi. Pengaruh nyata perlakuan manusia umumnya berupa penggunaan pupuk atau bahan amelioran lainnya. Bila pupuk yang digunakan dalam kurun waktu yang lama mempunyai sifat masam akan menyebabkan nilai pH menurun (bersifat masam), begitu pula sebaliknya jika sering menggunakan pupuk berbahan amelioran yang bersifat basis (banyak mengandung kapur) maka akan menyebabkan peningkatan pada pH tanah (bersifat basis). 
Berdasarkan banyaknya ion H+ dalam tanah, pH dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu pH aktual dan pH potensial. Keasaman yang terukur dari pH aktual dapat diartikan sebagai ion H+ yang terdapat dalam larutan tanah. Sedangkan yang dimaksud dengan pH potensial adalah banyaknya ion H+ yang berada pada larutan tanah dan kompleks serapan tanah. Pada pengukuran pH aktual, bahan pendesaknya adalah H2O, sedangkan pada pengukuran pH potensial bahan pendesaknya adalah KCl. Pada pH potensial, nilainya lebih rendah daripada pH aktual. Hal itu dapat terjadi karena ion H+ yang terukur lebih banyak pada penentuan pH potensial. Selisih pH potensial dengan pH aktual disebut dengan muatan tanah. Jika nilai pH potensial lebih besar, maka muatan yang mendominasi adalah muatan negatif, begitu pula sebaliknya. Jika pH potensial lebih rendah daripada pH aktual, maka muatan positiflah yang mendominasi.
Reaksi (pH) tanah dapat ditentukan melalui metode elektrometri dan kolorimetri. Prinsip penentuan secara kolorimetri adalah mengukur warna larutan tanah dibandingkan dengan warna standar yang telah diketahui nilai pH-nya. Penentuan pH melalui metode kolorimetri dapat dilakukan dengan menggunakan indikator warna seperti lakmus, kertas pH, dan pH stick.  Sedangkan metode elektrometri adalah metode yang menggunakan pH meter yang langsung mengkonversi ion H+ menjadi nilai pH tanah. Pengukuran pH tanah dengan menggunakan pH meter (elektrometri) lebih akurat daripada metode kolorimetri. Hal tersebut dikarenakan mengukur pH dengan menggunakan pH meter mengurangi kemungkinan kesalahan pembacaan skala. Pada pengukuran pH dengan metode kolorimetri, kesalahan pembacaan warna pada kertas pH akibat penafsiran standar warna yang berbeda untuk setiap praktikan sangat mungkin terjadi sehingga data yang diperoleh kurang akurat. Pada percobaan ini, penentuan rekasi (pH) tanah dilakukan dengan metode elektrometri (glass electrode).
Pada percobaan reaksi tanah ini, dilakukan perhitungan pH  potensial dan pH  aktual pada lima contoh tanah yang berbeda yaitu Entisol, Alfisol, Ultisol, Mollisol (Rendzina), dan Vertisol. Berdasarkan tabel Hasil Percobaan Reaksi (pH) Tanah, pada contoh tanah Entisol, pH aktual (dengan bahan pendesak H2O) adalah sebesar 6,95 dan pH potensial (dengan bahan pendesak KCl) sebesar 4,96. Pada tanah Alfisol, pH aktualnya sebesar 6,5 sedangkan pH potensialnya sebesar 5,5. Contoh tanah  Ultisol memiliki pH aktual sebesar 5,75 dan memiliki pH potensial sebesar 4,77. Pada tanah Rendzina (Mollisol), pH aktualnya bernilai 7,17 dan pH aktualnya bernilai 6,32. Sedangkan pada tanah Vertisol, memiliki nilai pH aktual sebesar 6,99 dan pH potensial sebesar 6,27. Berdasarkan hasil percobaan tersebut, tanah yang memiliki pH tertinggi yaitu Rendzina (Molliso) yaitu sebesar 6,32 (pH potensial) dan 7,17 (pH aktual). Sedangkan tanah yang memiliki nilai pH terendah yaitu tanah Ultisol yang memiliki nilai pH aktual sebesar 5,75 dan memiliki pH potensial sebesar 4,77.
Pada percobaan ini, didapatkan hasil bahwa tanah Vertisol memiliki nilai pH aktual sebesar 6,99 dan pH potensial sebesar 6,27. Sedangkan menurut Prasetyo (2007) dalam Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia Volume 9 halaman 20-31, tanah Vertisol memiliki nilai pH berkisar antara 5,5 sampai 7,4. Hal itu dapat terjadi karena secara kimiawi Vertisol tergolong tanah yang relatif kaya akan hara karena mempunyai cadangan sumber hara yang tinggi. Dengan demikian, tanah Vertisol memiliki kapasitas tukar kation tinggi dan pH netral hingga alkali. Sedangakan pH tanah Rendzina 6,4-7,5 (Szreniawska et al., 1996), Entisol 4,7-5,8 (Melgar et. al., 1992), Ultisol 3,1-6,8 (Dorner et. al., 2010), dan Alfisol 4,3-7,4 (Beery and Wilding, 1971). Rendzina memiliki pH cenderung nertal sampai basa karena bahan induknya yang berupa kapur, begitu juga pada Alfisol. Sedangkan Entisol dan Ultisol memiliki pH yang cenderung asam sampai netral karena bahan induknya berupa pasir. Reaksi (pH) tanah yang dominan adalah pH potensial dengan bahan pendesak KCl. Sebab, pada pengukuran pH potensial jumlah H+ yang terukur tidak hanya pada larutan tanah, melainkan juga pada kompleks jerapan tanah. pH potensial umumnya lebih rendah dari pH aktual. Selisih pH potensial dengan pH aktual menunjukkan muatan bersih tanah. Dari hasil percobaan, pH potensial semuanya lebih rendah dari pH aktual sehingga tanah didominasi oleh muatan positif  (cenderung masam hingga netral). Jadi, pH potensial lebih mendominasi pada setiap tanah yang diuji dalam percobaan.
Reaksi (pH) tanah berkaitan erat dengan kesuburan tanah (ketersediaan unsur hara), baik hara makro maupun hara mikro. Meningkatnya kelarutan ion-ion Al, dan Fe dan juga meningkatnya aktifitas jasad-jasad renik tanah sangat dipengaruhi oleh keadaan pH tanah. Pada umumnya unsur hara makro akan lebih tersedia pada pH agak masam sampai netral, sedangkan unsur hara mikro kebalikannya yakni lebih tersedia pada pH yang lebih rendah. Tersedianya unsur hara makro, seperrti nitrogen, fosfor, kalium dan magnesium pada pH 6,5. Unsur hara fosfor pada pH lebih besar dari 8,0 tidak tersedia karena diikat oleh ion Ca. Sebaliknya jika pH turun menjadi lebih kecil dari 5,0 maka fosfat kembali menjadi tidak tersedia. Hal ini dapat menjadi karena dalam kondisi pH masam, unsur-unsur seperti Al, Fe, dan Mn menjadi sangat larut. Fosfat yang semula tersedia akan diikat oleh logam-logam tadi sehingga tidak larut dan tidak tersedia untuk tanaman. Untuk memperoleh ketersediaan hara yang optimum bagi pertumbuhan tanaman dan kegiatan biologis di dalam tanah, maka pH tanah harus dipertahankan pada pH sekitar 6,0 – 7,0 (Yohanes, 2012).
Nilai pH tanah dapat dirubah, yaitu dinaikkan atau diturunkan. Apabila tanah bersifat masam dapat dinetralisir dengan pemberian kapur. Sebaliknya apabila tanah terlalu basis dapat diturunkan pHnya dengan pemberian belerang. Hal itu dilakukan agar didapatkan pH tanah yang sesuai untuk pertumbuhan tanaman.
KESIMPULAN
Reaksi tanah secara umum dinyatakan dengan pH (power of Hidrogen) tanah. Nilai pH tanah menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen H+ di dalam tanah. Berdasarkan banyaknya ion H+ dalam tanah, pH dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu pH aktual dan pH potensial. Faktor yang mempengaruhi pH tanah antara lain bahan induk, iklim, bahan organik, dan perlakuan manusia. Nilai pH tanah berhubungan dengan kesuburan tanah karena berkaitan dengan bahan organik dalam tanah (unsur hara tanah). Keasaman atau pH tanah dapat diubah (dinaikkan dan diturunkan) dengan cara menambahkan zat-zat atau senyawa-senyawa tertentu yang memiliki nilai pH berbeda.
DAFTAR PUSTAKA

Beery, M. and L. P. Wilding. 1971. The relationship between soil ph and base saturation percentage for surface and subsoil horizons of selected mollisols, alfisols, and ultisols in Ohio. The Ohio Journal of Science 71:43-55.

Buckman, H.O dan N.C. Brady. 1969. The Nature and Properties of Soils. The Macmillan Company, New York.

Chesworth, W. 2008. Encyclopedia of Soilscience. Springer, Netherlands.

Coleman, N. T. dan G.W. Thomas. 1976. Basic Chemistry of Soil Activity. Abronomy 12:1-11.

Dörner, J., P. Sandoval, and D. Dec. 2010. The role of soil structure on the pore functionality of an Ultisol. Journal Soil Science Plant Nutrient 10:495-508.
Fonseca, B., A. Teixeira, H. Figueiredo, dan T. Tavares. 2009. Modelling of the Cr(VI) transport in typical soils of the North of Portugal. Journal of Hazardous Materils 167:756–762.

Hidayanto, M., W.A. Heru, dan F. Yossita. 2004. Analisis tanah tambak sebagai indikator tingkat kesuburan tambak. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian 7: 180-186.

Melgar, R. J., T. J. Smyth, P. A. Sanchez, and M. S. Cravo. 1992. Fertilizer nitrogen movement in a Central Amazon Oxisol· and Entisol cropped to corn Fertilizer. Research 31:241-252.
Peverill, K.I., L.A. Sparrow, dan D.J. Reuter. 2001. Soil Analysis: An Interpretation Manual. CSIRO, Australia.

Prasetyo, B. H. 2007. Perbedaan sifat-sifat tanah Vertisol dari berbagai bahan induk. Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Indonesia 9: 20-31.

Shi, W., J. Liu, Z. Du, Y. Song, C. Chen, dan T. Yue. 2009. Surface modelling of soil pH. Geoderma 150:113–119.

Siradz, S.A. 2006. Degradasi lahan persawahan akibat produksi biomassa. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan 6:47-51.

Szreniawska, M. D., A. Wyczolkowski, B. Jozefaciuk, A Ksiczopolska, J. Szymona, and J. Stawinski. 1996. Relation between soil structure, number of selected group of soil microorganism, organic matter content and cultivation system. Agrophysics 10:31-35.
Yohanes. 2012. Hubungan pH Tanah dengan Kesediaan Unsur Hara.  <http://yohannes1. blogspot.com/2012/06/hubungan-ph-tanah-dengan-kesediaan.html>. Diakses tanggal 23 Maret 2013.




0 komentar:

Poskan Komentar