music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

08.04 |

ACARA 1
SALINITAS SEBAGAI FAKTOR PEMBATAS ABOITIK

I. TUJUAN
1.  Mengetahui dampak salinitas terhadap pertumbuhan tanaman.
2. Mangetahui tanggapan beberapa macam tanaman terhadap tingkat salinitas yang berbeda.

II. TINJAUAN PUSTAKA
Ekologi sebagai satu ilmu biologi merupakan studi hubungan antara organisme yang terlibat dengan lingkungannya. Meskipun terdapat keanekaragaman yagn besar (dan untungnya masih ada), proses dan prinsip dasar tertentu telah muncul. Ekologi bisa memberiakn beberapa wawasan penting bagi studi sistem pertanian yang dengan paksaan atau pilihan, terus berubah dan sedang disesuaikan dengan keterbatasan lingkungan (Rijntjes, et al , 1992).
Pendekan ekologi adalah suatu pendekatan yang digunakan untuk menelaah dan menganalissi suatu gejala dan masalah geografi dengan menerapkan konsep dan prinsip ekologi. Ekologi mempelajari timbal balik antara manusia dan lingkungannya yang membentuk suatu sistem ekologi atau ekosistem. Ekologi dapat dibagi menjadi empat tahap kajian yang semakin menyeluruh sifatnya, mulai dari interaksi individu organisme dengan lingkungan abiotik hingga ke dinamika ekositem (Fried, et al, 1999).
Ekologi organisme berhubungan dengan cara-cara berprilaku, fisiologis, dan morfologi yang digunakan suatu individu dalam menghadapai tantangan yang ditimbulkan oleh lingkungan abiotinya (Campbell, et al, 1999). Ekologi memiliki tiga unsur penting yaitu materi, energi, dan informasi, lingkungan suatu organisme dapat bersifat biotik dan abiotik. Salah suatu individu suatu ekosistem adalah adanya faktor pembatas. Pada lingkungan abiotik, salah satu faktor pembatas adalah salinitas (Deubenmire,1950)
Tahun 1913 Victor Shelford mengemukakan hukum toleransi. Hukum ini mengungkapkan pentingnya toleransi dalam menerangkan distribusi dari jenis. Hukum toleransi menyatakan bahwa untuk setiap faktor lingkungan suatu jenis mempunyai suatu kondisi minimum dan maksimum yang dapat dipikulnya. Diantara kedua harga ekstrim ini merupakan kisaran toleransi dan termasuk suatu kondisi optimum. Kisaran toleransi dapat dinyatakan dalam bentuk kurva lonceng, dan akan berbeda untuk setiap jenis terhadap faktor lingkungan yang sama atau mempunyai kurva yang berbeda untuk satu jenis organisme terhadap faktor-faktor lingkungan yang berbeda (Siswantoro, et al, 2012).
Organisme hidup di alam dikontrol tidak hanya oleh suplai materi yang minimum diperlukannya tetapi juga oleh faktor-faktor lainnya yang keadaannya kritis. Faktor apapun yang kurang atau melebihi batas toleransinya mungkin akan merupakan pembatas dalam penyebaran jenis. Nilai lebih dari penggabungan konsep faktor pembatas adalah dalam memberikan pola atau arahan dalam kajian hubungan-hubungan yang kompleks dari faktor lingkungan ini. Pandangan ekologi yang lebih berkembang adalah memikirkan perkembangan jenis untuk mencapai suatu kehidupan dengan memperhatikan kisaran toleransi sebagai hasil sampingan dari persyaratan yang dipilih dalam pola kehidupannya. Pendekatan ini menekankan pentingnya evolusi yang membawa pengertian yang lebih baik hubungan antara individu suatu jenis dengan habitatnya (puspitanigtiyas dan Wawangnigrum, 2009).
Salinitas dapat diartikan sebagai suatu keadaan dimana garam dapat larut dalam jumlah yang berlebihan dan berakibat buruk bagi pertumbuhan tanaman. Beberapa jenis iantaranya garam khlorida, sulfat dan bikarbinat dari natrium, kalsium dan magnesium, masing-masing akan memberikan berbagai tingkat salinitas. Garam dapur (NaCl) merupakan senyawa yang mengandung unsur natrium yang merupakan unsur hara mikro esensial bagi tumbuhan. Peran utama natrium dalam tanaman adalah untuk menggantikan sebagian kalium yang dibutuhkan untuk pertumbuhan maksimum. Pada kondisi garam tinggi, tumbuhan akan menghadapi dua masalah yaitu memperoleh air dari tanah yang potensial airnya negatif dan mengatasi konsentrasi ion tinggi natrium, carbonat dan klorida yang kemungkinan beracun. Salah satu metode adaptasi tanaman terhadap salinitas adalah melalui pengaturan osmotik dengan cara mensintesis senyawa-senyawa asam amino prolin, asam amino lain, galaktosilgliserol, dan asam organik (Syakir, et al, 2008).
Satuan pengukuran salinitas adalah konduktivitas elektrik yang dilambangkan deci stemens Im pada suhu 250C. Pengaruh utama salinitas adalah berkurangnya pertumbuhan udara dan berkurangnya hasil fotosintesis. Salinitas mengurangi pertumbuhan dan hasil tanaman., pad kondidi terburuk dapat menyebabkan gagal panen (Shamin, 2009).
Padi (Oryza sativa)adalah salah satu tanaman budidaya terpenting dalam peradaban manusia. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang disebut padi liar (Anonim, 2007) Mentimun atau ketimun (Cucumis sativus, L) adalah tanaman semusim yang menjalar atau memanjat dengan perantaraan alat pemegang berbentuk pilin atau spiral. Tanaman ini dapat tumbuh sampai di ketinggian 800 m dpl. Mentimun termasuk sayuran golongan sayuran buah (Anonim, 2010). Kedelai putih (Glycine max) ini adalah tanaman Yang sama seperti Kedelai hitam. Tanaman inisial dapat Tumbuh Artikel Baru BAIK di daerah adalah sub-Tropis seperti Cina, jepang, amerika Serikat Dan * Semua daerah adalah Yang berada di lintang 23,5 derajat (Ridwan, 2012).


III. METODE PELAKSANAAN PRAKTIKUM
            Acara I praktikum Dasar-Dasar Ekologi yang berjudul Salinitas sebagai Faktor Pembatas Abiotik dilaksanakan pada hari Selasa, 16 April 2013 di Laboratorium Ekologi Tanaman, Jurusan Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Alat yang digunakan dalam praktikum adalah timbangan analitik, gelas ukur, erlenmeyer, alat pengaduk, peralatan tanaman, dan penggaris. Sedangkan bahan yang digunakan adalah benih kedelai (Glycine max), mentimun (Cucumis sativus), padi (Oryza sativa), polybag, NaCl teknis, pupuk kandang, dan kertas tabel.
            Pertama-tama polybag disiapkan dan diisi tanah sebanyak kurang lebih 3 kg yang telah dibersihkan dari kerikil, sisa-sisa dari akar tanaman lain, dan kotoran agar tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Biji yang sehat dipilih dari jenis tanaman yang akan diperlakukan, selanjutnya lima biji ditanam ke dalam masing-masing polybag. Penyiraman dilakukan setiap hari dengan air biasa. Setelah berumur satu minggu, bibit dijarangkan menjadi dua tanaman tiap polybag dan dipilih bibit yang sehat. Kemudian larutan NaCl dibuat dengan konsentrasi 2000 dan 4000 ppm. Air aquadest digunakan sebagai pembanding. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Setelah itu masing-masing konsentrasi larutan garam tersebut dituangkan pada tiap-tiap polybag sesuai perlakuan sampai kapasitas lapang. Volume masing-masing larutan untuk tiap-tiap polybag harus sama. Tiap polybag diberi label sesuai perlakuan dan ulangannya. Label harus mudah dibaca untuk mencegah tertukarnya dengan perlakuan lain saat pengamatan. Pemberian larutan garam dilakukan setiap dua hari sekali sampai tujuh kali pemberian. Selang hari di antaranya tetap dilakukan penyiraman dengan air biasa dengan volume yang sama. Percobaan dilakukan sampai tanaman berumur 21 hari, kemudian dilakukan pemanenan. Akar tanaman diusahakan jangan sampai rusak atau terpotong. Pengamatan dilakukan setiap hari sampai hari ke-21, meliputi tinggi tanaman setiap 2 hari sekali (cm), berat segar tanaman pada akhir pengamatan (g), panjang akar utama pada akhir pengamatan (cm), dan abnormalitas tanaman (klorosis pada daun dan sebagainya). Pada akhir percobaan, dari seluruh data yang terkumpul dihitung rerata tiga ulangan pada tiap perlakuan, selanjutnya digambar grafik tinggi tanaman pada masing-masing konsentrasi garam vs hari pengamatan untuk masing-masing tanaman dan grafik panjang akar pada masing-masing konsentrasi garam vs hari pengamatan untuk masing-masing tanaman.
IV. HASIL PENGAMATAN

Tabel 1.1 Tinggi Tanaman Padi (Oryza sativa)
Perlakuan
Pengamatan ke-
1
2
3
4
5
6
7
0 ppm
13,18
17,3
19,84
21,37
21,8
22,37
23,4
2000 ppm
12,64
16,6
19,01
20,29
21,9
22,55
24
4000ppm
12,78
17,2
19,74
21,21
22,3
23,03
24,1

Tabel 1.2 Tinggi Tanaman Kedelai (Glycine max)
Perlakuan
Pengamatan ke-
1
2
3
4
5
6
7
0 ppm
17,64
23,2
29,34
35,07
43,5
53,6
58,7
2000 ppm
18,43
23
27,88
32,58
43,5
53,98
55
4000ppm
16,53
21,5
24,87
30,8
36,9
45,03
51,9

Tabel 1.3 Tinggi Tanaman Mentimun (Cucumis sativus)
Perlakuan
Pengamatan ke-
1
2
3
4
5
6
7
0 ppm
9,908
11,6
13,15
17,73
22,8
27,6
32,4
2000 ppm
9,383
11
12,61
16,16
20
24,75
26,9
4000ppm
8,283
9,98
11,24
13,57
18,4
21,52
24,8

Tabel 1.4 Jumlah Daun Tanaman Padi
Perlakuan
Pengamatan ke-
1
2
3
4
5
6
7
0 ppm
2,17
2,417
2,833
3,333
3,33
3,67
3,75
2000 ppm
2
2,333
2,667
3,167
3,5
3,75
4
4000ppm
2,08
2,333
2,833
3,333
3,5
3,83
3,83

Tabel 1.5 Jumlah Daun Tanaman Kedelai
Perlakuan
Pengamatan ke-
1
2
3
4
5
6
7
0 ppm
2,08
2,333
2,667
3,417
4,17
4,67
4,92
2000 ppm
2
2,417
3
3,833
4,17
4,67
5,25
4000ppm
2,17
2,333
2,667
3,583
3,67
4,42
4,67

Tabel 1.6 Jumlah Daun Tanaman Mentimun
Perlakuan
Pengamatan ke-
1
2
3
4
5
6
7
0 ppm
1,17
1,833
2,333
3,167
3,75
4,17
4,75
2000 ppm
1
1,833
2,083
2,667
3,08
3,67
4,33
4000ppm
1
1,667
1,833
2,75
3,17
3,67
4,33

Tabel 1.7 Berat Segar, Berat Kering, dan Panjang Akar Tanaman Padi
Perlakuan
Berat Segar (g)
Berat Kering (g)
Panjang Akar (cm)
0 ppm
0,183
0,046
5,26
2000 ppm
0,186
0,055
5,16
4000 ppm
0,183
0,05
5,16

Tabel 1.8 Berat Segar, Berat Kering, dan Panjang Akar Tanaman Kedelai
Perlakuan
Berat Segar (g)
Berat Kering (g)
Panjang Akar (cm)
0 ppm
3,143
0,803
12,4
2000 ppm
2,531
0,613
11,3
4000 ppm
2,765
0,673
11,9

Tabel 1.9 Berat Segar, Berat Kering, dan Panjang Akar Tanaman Mentimun
Perlakuan
Berat Segar (g)
Berat Kering (g)
Panjang Akar (cm)
0 ppm
6,409
0,902
16,2
2000 ppm
5,443
0,878
13,5
4000 ppm
5,888
0,851
12,2



V. PEMBAHASAN
Ketersediaaan garam atau salinitas garam dalam satu tumbuhan berbeda dengan tumbuhan yang lainnya.  Garam-garam yang larut dalam tanah ini merupakan unsur-unsur yang esensial bagi pertumbuhan tanaman, tapi kehadiran larutan garam yang berlebih di dalam tanah akan meracuni tanaman. Kadar garam (salinitas) akan mempengaruhi proses fisiologi dan marfologi dalam hubunganya dengan keseimbangan air dalam tubuh tanaman. Kadar garam yang tinggi akan menghambat perkecambahan benih, kualitas hasil, produksi dan merusak jaringan tanaman, menurunkan laju fotosintesis pada tanaman akibat terhambatanya pengambilan CO2, hal ini mengganggu pertumbuhan tanaman. Karena sebagian besar energi hasil respirasi akan diubah untuk mengatasi cekaman garam, akibatnya kemampuan tanaman untuk tumbuh dan berproduksi menjadi berkurang.
Selain itu Keberadaan larutan garam tersebut sangatlah mempengaruhi tanaman karena tanaman merupakan organisme yang bersifat holofitik, artinya tanaman memanfaatkan cairan untuk melarutkan unsur hara agar tanaman dapat tumbuh. Tanaman akan kesulitan dalam menyerap larutan makanan, apabila viskositas larutan yang diserap sama atau lebih besar daripada cairan di dalam tubuh tumbuhan tersebut. Semakin banyak unsur atau senyawa yang terlarut dalam larutan tersebut, viskositas larutan akan semakin besar. Semakin tingginya kadar garam yang terkandung di dalam larutan, maka tekanan osmotik  larutan di dalam tanah akan meningkat, sehingga ketersediaan air bagi tanaman juga akan berkurang.
Dalam kaitannya dalam lingkungan salin, tanaman diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu halofit, euhalofit dan glikofit. Halofit adalah kelompok tanaman yang toleran terhadap salinitas. Euhalofit adalah kelompok tanaman yang hampir tidak terpengaruh dengan keberadaan salinitas. Sedangkan glokofit adalah kelompok tanaman yang sangat rentan terhadap adanya salinitas baik rendah maupun tinggi. Tujuan dari praktikum acara 1 Dasar-Dasar Ekologi yang berjudul Salinitas sebagai Faktor Pembatas Abiotik adalah mengetahui dampak salinitas terhadap pertumbuhan tanaman dan mengetahui tanggapan berbeda beberapa macam tanaman terhadap tingkat salinitas yang berbeda. Dalam praktikum akan diketahui pengaruh salinitas terhadap jumlah daun, tinggi tanaman, panjang akar, berat basah, dan berat kering tanaman kedelai (Glycine max), mentimun (Cucumis sativus), dan padi (Oryza sativa). Grafik jumlah daun tanaman padi vs hari pengamatan pada kondisi salin adalah sebagai berikut.
A. Tinggi Tanaman
Pertumbuhan tanaman diartikan sebagai pertambahan massa, bobot, atau volume yang bersifat tidak dapat balik (irreversible). Pertumbuhan dapat diukur dengan beberapa parameter seperti pertambahan panjang atau tiggi tanaman. Jadi pertumbuhan yang optimal akan ditunjukan dengan pertambahan panjang atau tinggi tanaman yang optimal juga. Tanah salin dapat berpengaruh terhadap pertumbuahn tanaman yang pada akhirnya juga mempengaruhi tinggi tanaman dan tergantung pada tingkat toleran tanaman terhadap tanah salin.
1. Tanaman Padi (Oryza sativa)
          
Gambar 1.1 Tinggi tanaman padi
Dari grafik terlihat bahwa pada hari pengamatan pertama sampai hari ketujuh, tanaman padi pada ketiga perlakuan memiliki tinggi yang hampir sama. Hal ini disebabkan karena cadangan makanan yang tersedia masih cukup dan efek dari pemberian larutan garam belum begitu berarti. Urutan pertumbuhan tanaman padi dari tinggi ke rendah yaitu pada perlakuan pemberian larutan garam konsentrasi 4000 ppm, 2000 ppm dan 0 ppm. Terjadinya kesamaan tinggi tanaman pada ketiga tanaman tersebut disebabkan oleh faktor genetis pada biji yang ditanam kualitas biji yang hampir sama dalam kemampuan bernasnya. Pada pengamatan hari terakhir pengamatan  tinggi tanaman padi pada konsentrasi 4000 ppm paling tinggi diantara ketiga perlakuan, selanjutnya pada perlakuan dengan kadar garam 2000 ppm dan tinggi tanaman paling rendah terjadi pada perlakuan kadar garam konsentrasi 0 ppm.
Dan dapat disimpulkan bahwa tanaman padi termasuk tanaman yang toleran terhadap kondisi salin, hal ini tanmapak dari pertumbuhan padi pada perlakuaan 4000 ppm memiliki pertumbuhan yang paling baik. Namun tanaman padi juga baik ditanam pada lingkungan yang normal optimum 0 ppm . Sehingga dapat dikatakan bahwa padi termasuk tanaman halofit. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa padi termasuk golongan tanaman halofit.
2. Tanaman Kedelai (Glycine max)
 
Gambar 1.2 Tinggi tanaman Kedelai
Dari grafik terlihat bahwa pada hari pengamatan pertama sampai kedua, tanaman kedelai pada ketiga perlakuan memiliki tinggi yang hampir sama. Secara teori kedelai digolongkan dalam tanaman halofit  yaitu tanaman yang toleran terhadap kadar garam tingggi. Urutan tinggi tanaman kedelai dari tinggi ke rendah yaitu pada perlakuan pemberian larutan garam konsentrasi 0 ppm, 2000 ppm dan 4000 ppm. Seharusnya semakin tinggi kadar salinitas, pertumbuahan tanaman kacang panjang semakin menurun. Pada perlakuan 4000 ppm sudah pasti memiliki tinggi tanaman yang paling rendah. Akan tetapi, pada perlakuan 2000 ppm memiliki hasil pengamatan tinggi tanaman yang hampir sama dengan perlakuan 0 ppm. Hal ini dapat disebabkan  oleh berbagai faktor baik dari faktor dalam (genetik) biji kacang panjang tersebut maupun dari lingkungannya. Faktor genetik yaitu adanya perbedaan kualitas biji kacang panjang yang diberi perlakuan. Sedangkan faktor lingkungan yaitu dapat disebabkan oleh cahaya yang sampai pada tanaman untuk ketiga perlakuan berbeda. Hal itu juga didukung dengan teori bahwa pada pertumbuhan tanaman dipengaruhi oleh berbagai faktor lingkungan baik bersifat abiotik maupun biotik. Selain hal ini juga disebabkan karena tanaman kedelai termasuk tanaman halofit yang toleran terhadap salinitas tinggi sehingga walaupun dengan perlakukan pengiraman 2000 ppm NaCl tapi pertumbuhan tinggi tanamannya tidak terlalu terganggu.
3. Tanaman mentimun (Cucumis sativus)
 
Gambar 1.3 Tinggi tanaman mentimun
Dari grafik menunjukkan bahwa tinggi tanaman mentimun untuk berbagai konsentrasi dari pengamatan hari pertama sudah menunjukkan pertumbuhan yang berbeda yaitu pertumbuhan mentimun konsentrasi 4000 ppm lebih terhambat daripada konsentrasi 0 ppm dan 2000 ppm. Hal ini membuktikan bahwa tanaman mentimun tidak tahan lingkungan kondisi salin sehingga pertumbuhannya terganggu. Tinggi tanaman mentimun untuk konsentrasi 2000 ppm berada ditengah-tengah antara 0 ppm dan 4000 ppm, sdangkan untuk konsentrasi 0 ppm menunjukkan bahwa tinggi tanaman mentimun paling tinggi dan paling optimum pertumbuhannya. Sehingga dapat dikatakan bahwa pertumbuhan tanaman mentimun untuk konsentrasi 0 ppm lebih baik daripada pertumbuhan tanaman untuk konsentrasi 2000 ppm dan 4000 ppm. Dan membuktikan bahwa tanaman mentimun adalah tanaman glikofit yaitu rentan terhadap kadar garam tinggi.
B. Jumlah Daun
Hubungan antara jumlah daun dengan faktor salinitas adalah luas daun tanaman akan dipengaruhi oleh jumlah daun. Pengurangan luas daun merupakan salah satu bentuk mekanisme toleransi tanaman terhadap tanah salin yaitu secara morfologi. Pengurangan jumlah dan luas daun bertujuan untuk memperkecil kehilangan air akibat cekaman garam karena transpirasi tidak diimbangi oleh penyerapan air dari tanah.  Perubahan yang tejadi pada pengurangan jumlah daun tanaman dalam tanah salin juga tergantung pada tingkat toleran tanaman terhadap tanah salin.
1.         Tanaman Padi (Oryza sativa)
Gambar 1.4 Jumlah daun tanaman padi
Dari grafik terlihat bahwa pada hari pengamatan pertama sampai keenam, tanaman padi pada ketiga perlakuan memiliki jumlah daun yang  sama. Namun masih terlihat jelas bahwa jumlah daun pada konsentrasi 4000ppm lebih besar daripada konsentrasi 0 ppm dan 2000 ppm. Namun, pada pengamatan terakhir menunjukkan bahwa jumlah daun konsentrasi 2000 ppm lebih banyak daripada kondisi konsentrasi 4000 ppm dan 0 ppm. Secara keseluruhan, jumlah daun berbagai konsentrasi hampir sama karena grafiknya saling berdekatan. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa tanaman padi masih dapat bertahan hidup di lingkungan salin karena tanaman padi masih memiliki cadangan makanan untuk bertahan hidup.Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa padi termasuk tanaman halofit. Hal ini sesuai dengan teori yang menyatakan bahwa padi termasuk golongan tanaman halofit.
2.      Tanaman Kedelai (Glycine max)
Gambar 1.5 Jumlah daun tanaman kedelai
Dari grafik dapat diketahui bahwa pengamatan hari pertama dan kedua jumlah daun tanaman kedelai pada konsentrasi 4000 ppm, 2000 ppm, dan 0 ppm adalah sama.  Namun, pada pengamatan ke tiga dan ke empat, tinggi tanaman kedelai sudah terlihat perbedaan jumlah daunnya, pada pengamatan hari kelima dan keenam jumlah daun tanaman kedelai pada konsentrasi 4000 ppm paling sedikit dan pada konsentrasi 0 ppm dan 2000 ppm jumlah daunnya sama. Sedangkan pada pengamatan terakhir, urutan jumlah daun dari yang banyak ke sedikit adalah daun pada konsentrasi 2000 ppm, 0 ppm, dan 4000 ppm. Dengan demikian, tanaman kedelai termasuk ke dalam kelompok halofit. Hal ini terlihat dari grafik jumlah daun berbagai konsentrasi yang selisihnya sangat sedikit (antar grafik saling berdekatan).








3.      Tanaman mentimun (Cucumis sativus)
              
Gambar 1.6 Jumlah daun tanaman mentimun
Dari grafik terlihat bahwa pada hari pengamatan pertama dan kedua, tanaman mentimun pada ketiga perlakuan memiliki jumlah daun yang sama. Urutan jumlah daun tanaman mentimun dari ketiga perlakuan yaitu pada perlakuan pemberian larutan garam konsentrasi 0 ppm, 2000 ppm dan 4000 ppm menunjukkan bahwa pada perlakuan pemberian larutan garam 2000 dan 4000 ppm terjadi pertumbuahan jumlah daun yang hampir sama. Pada perlakuan pemberian larutan garam konsentrasi 0 ppm jumlah daun mentimun paling banyak dibandingkan dengan perlakuan dengan konsentrasi 2000 ppm dan 4000 ppm, hal ini terlihat dari hari pertama sampai hari ketujuh. Dari grafik di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tanaman mentimun termasuk tanaman yang rentan terhadap kadar garam tinggi (glikofit) dan tumbuh optimal pada tanah yang kandungan garamnya normal (0 ppm).
C.  Panjang Akar
Akar Merupakan bagian tumbuhan yang biasanya terdapat di dalam tanah, dengan arah tumbuh ke pusat bumi (geotrop) atau menuju ke air (hidrotrop), meninggalkan udara dan cahaya. Selain itu akar juga merupakan bagian tanamna yang digunakan untuk mengambil air dan zat hara dari tanah. Akar dibedakan menjadi dua, yaitu akar tunggang dan serabut. Pada pengamatan panjang akar di setiap tanaman yang memperoleh perlakuan yang berbeda-beda akan diperoleh suatu analisis mengenai ketersediaan air di lingkungan. Akar yang panjang berarti menandakan lingkungan tanaman tersebut kekurangan air.
Gambar 1.7. Panjang akar 0 ppm.
Dari histogram diatas dapat diketahui bahwa tanaman padi akarnya berkembang optimum pada perlakuan 0 ppm dengan panjang akar 5,2583 cm. Pada perlakuan 0 ppm akar tanaman kedelai dapat mencapai panjang 12,375 cm.Pada percobaan ini tanaman mentimun mendapatkan panjang akar yang paling tinggi yaitu 16,167 cm. Hal ini dikarenakan panjang akar pada tumbuhan juga disesuaikan dengan tubuh tanaman mentimun atau tanaman kedelai yang memang pertumbuhannya cepat jika berasal dari biji.
Gambar 1.8. Panjang akar 2000 ppm.
Berdasarkan histogram diatas dapat diketahui bahwa tanaman mentimun akarnya berkembang optimum pada perlakuan 2000 ppm dengan panjang akar 13,54 cm. Pada perlakuan 2000 ppm akar tanaman kedelai dapat mencapai panjang 11,275 cm, dan pada perlakuan 2000 ppm akar tanaman padi dapat mencapai panjang 5,158 cm. Hal ini sudah hampir sesuai dengan teori, karena seharusnya proses pertumbuhan akar pada tanah yang salinitasnya tinggi akan terhambat. Tetapi karena pada dasarnya tanaman kedelai adalah termasuk tanaman halofit yang toleran terhadap salinitas, sehingga tanaman padi masih bisa tumbuh dan berkembang pada kadar salinitas yang tinggi serta hanya terkena sedikit saja dampak saja dari salinitas. Tanah dengan kadar salinitas tinggi menyebabkan tekanan osmosis pada akar terganggu sehingga pertumbuhan akar terhambat. Tekanan osmosis yang terganggu akan menghambat pertukaran ion yang diperlukan tanaman untuk berkembang dan tumbuh. Pertukaran ion sangat diperlukan bagi tanaman dalam proses metabolisme.
Gambar 1.9. Panjang akar 4000 ppm.
Berdasarkan histogram diatas dapat diketahui bahwa tanaman mentimun akarnya berkembang optimum pada perlakuan 4000 ppm dengan panjang akar 12,167 cm. Hal ini sesuai dengan teori, karena pada dasarnya tanaman mentimun adalah termasuk tanaman glikofit yang rentan terhadap salinitas, sehingga tanaman mentimun tidak bisa tumbuh dan berkembang secara maksimal pada kadar salinitas yang tinggi. Tanah dengan kadar salinitas tinggi menyebabkan tekanan osmosis pada akar terganggu sehingga pertumbuhan akar terhambat. Tekanan osmosis yang terganggu akan menghambat pertukaran ion yang diperlukan tanaman untuk berkembang dan tumbuh. Pertukaran ion sangat diperlukan bagi tanaman dalam proses metabolisme.




D. Berat Segar dan Berat Kering
Hubungan berat segar dan berat kering  tanaman dengan pertumbuahan yaitu jumlah kadar air yang dapat diserap oleh tanaman. Jika tanaman dapat menyerap secara optimal kadar air yang ada di dalam tanah tanah maka berat segar dan berat keringnya akan tinggi dibandingkan dengan tanaman yang menyerap air secara tidak  optimal. Kadar garam berlebih dalam tanah berbahaya bagi tanaman dalam pertumbuhannya. Hal ini disebabkan  tanaman kehilangan air akibat proses evaporasi. Kandungan garam yang tinggi pada tanah akan mengganggu proses penyerapan air sehingga akan terjadi pengurangan berat segar dan berat kering tanaman tergantung pada toleransi tanaman terhadap tanah salin.
Gambar 1.10. Berat segar dan berat kering 0 ppm.
Berdasarkan histogram diatas dapat diketahui bahwa berat segar pada tanaman padi pada perlakuan 0 ppm memiliki berat 0,183 gram, berat segar tanaman kedelai pada perlakuan 0 ppm yaitu 3,143 gram dan tanaman mentimun pada perlakuan 0 ppm yaitu 6,409 gram. Berat segar dari tanaman padi pada perlakuan 0 ppm adalah yang paling rendah, hal ini membuktikan bahwa tanaman dapat tumbuh baik dalam tanah yang memiliki salinitas rendah. Berat kering menunjukkan berat biomassa tanaman dan berat kering diperoleh dari pengovenan. Setelah dioven, berarti semua kandungan zat yang diserap pada tanaman tersebut akan hilang. Oleh karena itu, selisih antara berat segar dan berat kering akan menunjukkan banyaknya zat yang diserap oleh tanaman. Semakin besar selisih antara berat segar dan berat kering tanaman maka zat yang dihasilkan tanaman tersebut akan lebih banyak. Sebaliknya jika selisih antara berat segar dan berat kering tanaman semakin kecil maka zat yang dihasilkan dalam tanaman tersebut pun sedikit. Berat kering padi pada konsentrasi garam 0 ppm memiliki selisih yang paling kecil dengan berat segarnya. Hal ini menunjukkan bahwa zat yang di hasilkan tanaman sangat sedikit. Sedangkan mentimun pada konsentrasi 0 ppm memiliki selisih berat segar dan berat kering yang paling besar, sehingga padi pada konsentrasi ini merupakan yang paling optimal dalam memproduksi zat-zat hasil metabolisme dan fotosintesis.
Gambar 1.11. Berat segar dan berat kering 2000 ppm.
Berdasarkan histogram diatas dapat diketahui bahwa berat segar pada tanaman mentimun pada perlakuan 2000 ppm memiliki berat paling tinggi yaitu 5,44 gram, berat segar tanaman kedelai pada perlakuan 2000 ppm yaitu 2,53 gram dan tanaman padi pada perlakuan 2000 ppm yaitu 0,185 gram. Berat segar dari tanaman padi pada perlakuan 2000 ppm adalah yang paling rendah, hal ini membuktikan bahwa tanaman padi tidak dapat tumbuh baik dalam tanah yang memiliki salinitas tinggi, tetapi juga masih bisa toleran terhadap salinitas pada perlakuan 2000 ppm. Berat kering tanaman kedelai adalah yang paling besar pada perlakuan 2000 ppm yaitu 0,613 gram. Berat kering menunjukkan berat biomassa tanaman dan berat kering diperoleh dari pengovenan. Setelah dioven, berarti semua kandungan zat yang diserap pada tanaman tersebut akan hilang. Oleh karena itu, selisih antara berat segar dan berat kering akan menunjukkan banyaknya zat yang diserap oleh tanaman. Semakin besar selisih antara berat segar dan berat kering tanaman maka zat yang dihasilkan tanaman tersebut akan lebih banyak. Sebaliknya jika selisih antara berat segar dan berat kering tanaman semakin kecil maka zat yang dihasilkan dalam tanaman tersebut pun sedikit. Berat kering padi pada konsentrasi garam 2000 ppm memiliki selisih yang paling kecil dengan berat segarnya. Hal ini menunjukkan bahwa zat yang di hasilkan tanaman sangat sedikit. Sedangkan kedelai pada konsentrasi 2000 ppm memiliki selisih berat segar dan berat kering yang paling besar, sehingga kedelai pada konsentrasi ini merupakan yang paling optimal dalam memproduksi zat-zat hasil metabolisme dan fotosintesis.
Gambar 1.12 Berat segar dan berat kering 4000 ppm.
Berdasarkan histogram diatas dapat diketahui bahwa berat segar pada tanaman mentimun pada perlakuan 4000 ppm lebih berat dengan 5,88 gram, berat segar tanaman padi pada perlakuan 4000 ppm yaitu 0,18 gram dan tanaman kedelai pada perlakuan 4000 ppm yaitu 2,76 gram. Berat segar dari tanaman mentimun pada perlakuan 4000 ppm adalah yang paling tinggi, hal ini tidak sesuai dengan teori yang ada yang seharusnya tanaman mentimun tidak bisa hidup pada tingkat sakinitas yang tinggi seperti perlakuan 4000 ppm. Setelah dioven, berarti semua kandungan zat yang diserap pada tanaman tersebut akan hilang. Oleh karena itu, selisih antara berat segar dan berat kering akan menunjukkan banyaknya zat yang diserap oleh tanaman. Semakin besar selisih antara berat segar dan berat kering tanaman maka zat yang dihasilkan tanaman tersebut akan lebih banyak. Sebaliknya jika selisih antara berat segar dan berat kering tanaman semakin kecil maka zat yang dihasilkan dalam tanaman tersebut pun sedikit. Berat kering padi pada perlakuan 4000 ppm memiliki selisih yang paling kecil dengan berat segarnya. Hal ini menunjukkan bahwa zat yang di hasilkan tanaman sangat sedikit. Sedangkan mentimun pada konsentrasi 4000 ppm memiliki selisih berat segar dan berat kering yang paling besar begitu pula dengan tanman kedelai mempunyai selisih yang besar.


VI.    KESIMPULAN
  1. Salinitas merupakan salah satu faktor pembatas bagi tanaman, berdampak pada pertumbuhan tanaman baik pertumbuhan tinggi tanaman, jumlah daun maupun panjang akar.
  2. Tanaman padi termasuk tanaman halofit atau tanaman yang toleran terhadap salinitas, tanaman padi tumbuh maksimal pada perlakuan 2000 ppm.Tanaman kedelai termasuk tanaman halofit atau tanaman yang toleran terhadap salinitas, tanaman kedelai tumbuh maksimal pada perlakuan 4000 ppm.Tanaman mentimun termasuk tanaman glikofit yang rentan terhadap salinitas dan tumbuh optimal pada pada perlakuan 0 ppm.







Daftar Pustaka

Anonim. 2007. “Padi (Oryza sativa)”. <http://anekaplanta.wordpress.com/2008/01/01/padi-oryza-sativa/> . Diakses tanggal 23 April 2013

 

Anonim. 2010. “Mau Langsing? Makan Mentimun!”. <http://lifestyle.okezone.com/read/2010/10/15/195/382989/mau-langsing-makan-mentimun> . Diakses Tanggal 23 April 2013-04-23

 

Campbell,. Jane., Reece. 1999. Biologi edisi kelima jilid ke 3. Erlangga, Jakarta

 

Deubenmire. 1950. Plant and Environtment. S text Book on Plant Out Ecology: John Willey and Sons, New York.

 

Fried G H, Hademenos G J. 1999 Schum’s Outlines of Theory and Plroblrms of Biology Second Edition. Mc-Graw-Hill, usa

 

Puspitaningtyas D M dan Wawangningrum H. 2009. Eksplorasi keanekaragaman tumbuhan di kawasan solok Sumatera barat. Ekologia, Vol. 9 No. 2 : 1-6

Reijntjes, C. Haverkort, B. Bayer, A,W.1992. pertanian Masa Depan (Pengantar untuk Pertanian Berlenjutan dengan input rendah. Kanisius, Yogyakarta.

 

Ridwan. 2012. “Mengenal bahan makanan dari kacang kedelai. <http://ridwanaz.com/kesehatan/mengenal-bahan-makanan-dari-kacang-kedelai/>. Diakses Tanggal 23 April 2013

 

Siswantoro H , Anggoro S, Sasongko D  P. 2012.  Strategi optimasi wisata massal di kawasan konservasi taman wisata alam grojogan sewu.  Jurnal ilmu lingkungan. Volume 10 Issue 2: 100-110

Shamin, A., H. 2009. Dezanisation of saline soits aimed at enviromentally sustanable agriculture: a new thougt. Journal of America science. 5: 197-198

Syakir M, Maslahah N, Januwati M. 2008. Pengaruh salinitas terhadap pertumbuhan, produksi dan mutu sambiloto (Andrographis paniculata Nees). Bul. Littro. Vol. XIX No. 2, , 129 - 137

 






1 komentar:

Poskan Komentar