music

Total Tayangan Laman

Share It

LAPORAN RESMI LAPANGAN PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH

09.20 |


LAPORAN RESMI LAPANGAN
PRAKTIKUM DASAR-DASAR ILMU TANAH

ABSTRAK
Praktikum lapangan Dasar-Dasar Ilmu Tanah dilaksanakan pada  tanggal 13 April 2013 dengan lokasi pengamatan di Banguntapan, Patuk, Hutan Bunder, Playen, dan Mulo. Setiap daerah mewakili satu tanah untuk diamati. Bahan dan alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah  palu pedologi, pisau, pH stick, GPS, klinometer, Munsell Color Charts, altimeter, kompas, penggaris, kamera, alat tulis, H2O2  10% ,  H2O2 3%, HCl 2N, dan H2O. Praktikum dilakukan dengan pengamatan berupa profil tanah dan bentang alam sekitar stop site. Deskripsi profil tanah yang diamati yaitu jeluk, warna tanah, tekstur, struktur, konsistensi, perakaran, bahan kasar, kekerasan, kadar BO, Mn, kapur, dan pH tanah. Hasil pengamatan menurut klasifikasi USDA, jenis tanah di Banguntapan adalah Inceptisol dengan penggunaan lahan untuk kebun, jenis tanah di Patuk adalah Alfisol dengan penggunaan lahan untuk pertanian, jenis tanah di Hutan Bunder adalah Mollisol dengan penggunaan lahan untuk hutan, jenis tanah di Playen  adalah Vertisol dengan pengunaan lahan untuk tegalan, dan jenis tanah di desa Mulo adalah Alfisol dengan penggunaan lahan untuk hutan industri rakyat.
Key word: profil tanah, bentang alam

PENGANTAR
Tanah di suatu tempat dengan tempat lainnya tentu memiliki perbedaan dan tidak akan pernah sama persis. Hal ini dikarenakan faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya seperti iklim, bahan induk, relief, organisme yang terkandung dalam tanah, dan waktu pembentukan tanah. Untuk itulah, diperlukan adanya survei profil tanah di lapangan sehingga dapat diketahui perbedaan atau karakteristik tanah secara langsung di tempat yang berbeda.
Prosedur-prosedur untuk meneliti tanah di lapangan bertujuan untuk menghubungkan pendekatan biofisik dan etnografi (Sheil, 2004). Pengamatan dari tanah pertanian di lapangan, dapat diketahui apakah tanah tersebut dapat memenuhi kebutuhan tanaman atau tidak. Memenuhi syarat apabila tanah itu cukup gembur sehingga akar dapat mencari hara yang diperlukan (Aak, 1983).
Tanah dapat diartikan sebagai hasil transformasi zat-zat mineral dan organik di permukaan bumi yang terbentuk di bawah pengaruh faktor-faktor lingkungan yang bekerja dalam masa yang sangat panjang. Komponen tanah (mineral, organik, air, dan udara) Oleh karena intensitas faktor-faktor pembentuk tanah daerah satu dengan yang lain berbeda seperti bahan induk, iklim, topografi, organisme, dan waktu (time), maka tanah yang terbentuk juga berbeda (Rodriquez-Iturbe and Amilcar, 2004). Tanah merupakan komponen penting bagi pertanian. Tanaman akan dapat tumbuh degan baik apabila kondisi tanah sesuai dengan kebutuhan tanaman (Peverill et al., 2001). tanah dapat diklasifikasikan berdasarkan pada kadar lengas tanah, nilai perbandingan disperse tanah, tekstur tanah, struktur tanah, konsistensi tanah, bahan organic tanah, muatan tanah, reaksi pH tanah, dan kadar kapur tanah.
Suatu tubuh tanah apabila dipotong tegak lurus akan menampilkan suatu seri lapisan yang disebut sebagai horizon. Secara garis besar, horizon-horizon tersebut dapat dibedakan menjadi horizon organik (horizon O) dan horizon mineral (horizon A, B, C, dan R). Horizon O, ditemukan terutama pada tanah-tanah hutan yang belum terganggu dan merupakan horizon organik yang terbentuk di atas lapisan mineral. Horizon O terdiri dari O1 yaitu lapisan bentuk asli sisa-sisa tanaman yang masih terlihat dan O2, lapisan bentuk asli sisa-sisa tanaman yang tidak terlihat jelas.
Horizon A merupakan horizon di permukaan tanah yang terdiri dari campuran bahan organik dan bahan mineral. Horizon A disebut pula sebagai horizon eluviasi (yang mengalami pencucian). Horizon A terdiri dari A1, lapisan bahan mineral campur humus, berwarna gelap; A2, lapisan dimana terdapat eluviasi (pencucian) maksimum terhadap liat, Fe, Al, dan bahan organik; A3, lapisan peralihan ke B, lebih menyerupai A. Horizon B merupakan horizon iluviasi (penimbunan) dari bahan-bahan yang tercuci di atasnya (liat, Fe, Al, bahan organik). Horizon B terdiri dari B1, lapisan peralihan A ke B lebih menyerupai B; B2, lapisan penimbunan (iluviasi); B3, lapisan peralihan ke C, lebih menyerupai B. Horizon C merupakan lapisan batuan induk yang sedikit terlapuk. Horizon D atau R (bed rock atau batuan dasar) merupakan lapisan batuan keras yang belum terlapuk.
Beberapa tanah dan karakteristiknya adalah Entisol memiliki tanah yang sederhana dan tidak terdapat lapisan horizon B. Inseptisol yaitu tanah yang baru berkembang, hanya sedikit atau tidak terdapat horizon B. Mollisol memiliki tanah tebal, halus, kaya bahan organik. Vertisol terdapat banyak lempung, tidak terdapat lapisan horizon B. Ultisol, horizon B nya didominasi lempung dan agak sulit terlindi. Alfisol, horizon B nya didominasi lempung dan sulit terlindi (Singer, 2006).
Warna tanah merupakan ciri tanah yang paling nyata dan paling mudah untuk ditemukan. Pada umumnya, bahan organik memberi warna kelam pada tanah, artinya jika tanah asalnya berwarna kuning dan kecoklatan, kandungan bahan organik menyebabkan tanah cenderung berwarna hitam atau kecoklatan. Semakin stabil bahan organik, semakin tua warnanya. Semakin segar tanahnya, semakin cerah warnanya. Humus yang stabil berwarna hitam (Darmawijaya, 1997).
Pertumbuhan tanaman tidak akan lepas dari kandungan air (lengas) dalam tanah sebab air digunakan tumbuhan untuk menjalankan berbagai proses biologi dalam pertumbuhan. Lengas tanah berperan penting dalam menjaga kelembapan tanah. Lengas menyusun dua per tiga bagian dari pori – pori tanah pada suhu kamar dan menjadi satu pertiga bagian jika suhu meningkat (Rodriquez-Iturbe and Amilcar, 2004).
Tanah dengan tekstur kasar seperti pasir tahan terhadap erosi karena butiran-butiran yang besar tersebut memerlukan lebih banyak tenaga untuk mengangkut. Tanah dengan tekstur  halus seperti liat tahan terhadap erosi karena adanya daya kohesi yang kuat dari liat tersebut sehingga gumpalan-gumpalannya sukar dihancurkan. Tekstur tanah yang paling peka terhadap erosi adalah debu dan pasir yang sangat halus. Oleh karena itu, makin tinggi kandungan debu dalam tanah, maka tanah menjadi makin peka terhadap erosi (Singer, 2006).
Tekstur tanah adalah perbandingan relatif (proporsi) dari komposisi fraksi-fraksi penyusun tanah. Fraksi tersebut antara lain fraksi pasir (sand), fraksi debu (silt), dan fraksi lempung (clay) (Bailey, 1984). Macam-macam nama tekstural tanah yaitu geluhan atau tekstur menengah (untuk geluh pasiran, geluh, pasir, geluh debuan, geluh pasir lempungan, geluh lempungan, dan geluh lempung pasiran); dan lempung atau tekstur tanah halus (untuk lempung pasiran, lempung debuan, geluh lempung debuan) (Brown, 2007).
Struktur tanah merupakan sifat fisik tanah yang menggambarkan susunan keruangan partikel-partikel tanah yang bergabung satu dengan yang lain membentuk agregat. (Handayani dan Sudarminto, 2002). Umumnya tanah yang dikehendaki tanaman adalah tanah yang berstruktur remah dengan perbandingan bahan padat dan pori seimbang (Kohnke, 1968). Di lapangan struktur tanah sendiri dideskripsikan menurut tipe, kelas, dan gradasi. Tipe, indikator bentuk dan susunan ped, yaitu bulat, lempeng, balok, dan prisma. Kelas, indikator bentuk struktur yang terbentuk dari ped-ped penyusunnya. Gradasi, indikator derajat agregasi, atau perkembangan struktur yang dibagi menjadi tanpa struktur, lemah, sedang, dan kuat (Hanafiah, 2005).
Sifat konsistensi tanah pada kandungan air yang berbeda-beda terdiri dari konsistensi basah (kelekatan dan keliatan), konsistensi lembap, dan konsistensi kering. Kelekatan (stickness) artinya tanah dapat melekat atau menempel pada benda-benda yang mengenainya. Beberapa macam kelekatan yaitu tidak melekat, sedikit melekat, lekat, dan sangat lekat. Liat (plasticity) artinya tanah mudah diubah-ubah bentuknya. Beberapa macam keliatan yaitu non-plastic, slightly plastic, plastic, very plastic. Konsistensi lembap merupakan tanah yang gembur. Beberapa macam konsistensi lembap yaitu lepas, sangat gembur, gembur, teguh, sangat teguh, dan ektrem teguh. Konsistensi kering merupakan tanah yang keras. Beberapa macam konsistensi kering yaitu lepas, lunak, sedikit keras, keras, sangat keras, dan ekstrem keras (Hakim et al., 1986).
Konsistensi merupakan ketahanan tanah terhadap tekanan gaya-gaya dari luar (kohesi dan adhesi). Apabila tekstur tanah didominasi pasir, maka konsistensi tanah rendah (tidak plastis, tidak lekat, dan lunak) dan bila dominan lempung, maka konsitensi tanah tinggi (plastis, lekat, dan keras). Kadar bahan organik yang tinggi mengakibatkan tanah gembur dan plastis. Penurunan kadar air akan menyebabkan tanah kehilangan sifat kelekatan (stickness) dan keliatan (plasticity), menjadi gembur (friable), lunak (soft) serta menjadi keras dan kaku (coherent) pada saat kering (Notohadiprawiro, 2000).
Bahan organik tanah merupakan salah satu penyusun atau pembentuk agregat tanah. Bahan organik ini berperan sebagai pelekat antarpartikel tanah untuk nantinya bersatu menjadi agregat tanah (Madjid, 2007). Komponen organik seperti asam humat dan asam fulvat dalam hal ini berperan sebagai sementasi partikel lempung (Stevenson, 1982). Pada tanah pasiran, bahan organik dapat diharapkan mengubah struktur tanah dari butiran tunggal menjadi bentuk gumpal sehingga meningkatkan derajat struktur dan ukuran agregat atau meningkatkan kelas struktur dari halus menjadi sedang atau kasar. Penambahan bahan organik akan meningkatkan kemampuan menahan air sehingga kemampuan menyediakan air tanah untuk pertumbuhan tanaman meningkat (Scholes et. al, 1994). Penelitian tentang kandungan bahan organik tanah dalam tahah sangat dibutuhkan untuk mengetahui apakah tanah tersebut subur dan layak untuk dijadikan media tanam (Madjid, 2007).
Kapasitas pertukaran kation (KPK) menyatakan bahwa ion-ion aluminium  mampu untuk menukargantikan dengan ion-ion kalsium, magnesium, kalium, dan natrium dalam larutan. Jika kandungan humus dan bahan organik di dalam tanah sedikit, hal ini akan menyebabkan penurunan kapasitas tukar kation karena hilangnya unsur hara akibat pencucian maupun erosi (Marto et al., 2002). Keasaman tanah biasa terdapat di daerah dengan curah hujan tinggi sehingga cukup banyak basa dapat tertukar dan terlindi dari lapisan permukaan tanah. Kebasaan tanah terjadi karena derajat kejenuhan basa relatif tinggi. Tanah basa biasa terdapat di daerah kering (Buckman dan Brady, 1969). Bahan dasar kapur adalah batu kapur atau dolomit, yang mengandung senyawa kalsium karbonat (CaCO3) (Tjokrodimuljo,1992). Penggunaan kapur bertujuan untuk menaikkkan pH tanah hingga tingkat yang dikehendaki dan mengurangi atau meniadakan keracunan Al (Komprat, 1970).

METODOLOGI
Praktikum lapangan Dasar-Dasar Ilmu Tanah dilaksanakan pada  hari Sabtu tanggal 13 April 2013 dengan lokasi pengamatan di Banguntapan, Patuk, Hutan Bunder, Playen, dan Mulo. Alat-alat yang digunakan adalah palu pedologi, pisau, pH stick, GPS, klinometer, Munsell Color Charts, altimeter, kompas, penggaris, kamera, dan alat tulis. Bahan-bahan yang digunakan adalah H2O2  10% ,  H2O2 3%, HCl 2N, dan H2O.
Pengamatan lapangan dilakukan dengan pembuatan profil tanah. Profil tanah merupakan irisan tegak penampang tanah dengan lebar dan panjang 1-1,5 m dan kedalaman 2 m. Syarat-syarat pembuatan profil antara lain baru, tidak terkena sinar matahari langsung, tidak terendam air dan representatif (mewakili). Pengamatan meliputi morfologi lahan di sekitar profil yang dibuat dan deskripsi profil. Morfologi lahan berupa nama pengamat, lokasi, tanggal, letak lintang, kode, cuaca, fisiologi, topografi, litologi, landform, landuse, vegetasi, kebatuan, pertumbuhan, lereng, arah lereng jeluk air tanah, pola drainase, erosi, tingkat erosi, dan altitude. Deskripsi profil berupa jeluk, warna tanah (matrik, kartan, campuran), tekstur, struktur (tipe, kelas, derajat), konsistensi, perakaran (ukuran, jumlah), bahan kasar (jenis, jumlah, ukuran), dan uji khemikalia dengan H2O2  10% untuk menguji BO (Bahan Organik),  H2O2 3% untuk menguji Mn, HCl 2N untuk menguji kapur, dan H2O untuk menguji pH. Terakhir dilakukan pula pengambilan gambar profil tanah.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Stop side 1
I.     Morfologi

Nama pengamat          : A1/V
Lokasi                         : Banguntapan
Fisiologi                      : kaki Merapi
Topografi                    : Datar 10-5
Lerang                         : 3%
Landuse                      : kebun
Vegetasi                      : rumut, papaya, pisang
Pola drainase               : Denditrik
Erosi                            : kecil
Cuaca                          : cerah
Letak Lintang             : S  070 48. 335’
                                 E 1100 24. 791’





Kode                           : Stop Side 1
Landform                    : Dataran
Litologi                        : Aluviym
Arah Lereng                : 91 NE
Kebatuan                     : Sedikit
Pertumbuhan               : Subur
Jeluk Air Tanah           : 8-16
Tingkat Erosi               : Nihil
Altitude                       : 128 mdpl
Tanggal                       : 13 April 2013

II.     Karakteristik Profil
No
Pengamatan
Lapisan I
Lapisan II
Lapisan III
Lapisan IV
1
Jeluk (cm)
0-33
33-84
84-109

2
Warna Tanah
5 YR 3/1
2,5 YR 3/1
10 YR 2/2


a. Matrik
Cokelat
Cokelat
Cokelat


b.Karatan
-
-
-


c. Campuran
-
-
-

3
 Tekstur
Geluh Pasiran
Geluh Pasiran
Geluh Pasiran

4
Struktur





a. Tipe
Gumpal Butir Tunggal
Gumpal Butir Tunggal
Butir Tunggal


b.Kelas
Halus
Sedang
Kasar


c. Derajat
Lemah
Lemah
Sangat Lemah

5
Konsistensi
Agak Lekat, Tidak Plastis
Agak Lekat, Tidak Plastis
Tidak Lekat, Tidak Plastis

6
Perakaran
Ada




a. Ukuran
Makro
Meso
Mikro


b.Jumlah
Banyak
Sedikit
Sedikit

7
Bahan Kasar
Ada




a. Jenis
Kerikil
Kerikil
Kerikil


b.Jumlah
Sedikit
Sedikit
Sedikit


c. Ukuran
2cm
0.5cm
0.5cm

8
Uji Khemikalia





a.    BO (H2O2 10%)
+
++
++++


b.    Mn (H2O2 3%)
+
++
+++


c.    Kapur (HCl 2N)
+
+
-

9
pH H2O
7
7
7

10
Catatan Khusus
Tanda ++ ditandai dengan parameter banyaknya buih yang tercipta
III.          Klasifisikasi Tanah
a.       PPT                       : Regosol
b.      FAO                      : Regosol
c.       USDA                   : Inceptisol

Lokasi di stop site pertama yaitu di derah Banguntapan. Tanah di daerah ini termasuk tanah Regosol,  selain itu tanah ini memiliki fisiologi Kaki Merapi di daerah Banguntapan ini datar, dan ketika diukur dengan klinometer  tanah ini memiliki kemiringan lereng sebesar 3 %, dengan arah lereng 91 NE. Sedangkan pemerian batuannya (Litologi ) adalah Aluvial atau berasar dari gunug berapi. Ketika diukur dengan GPS Ketinggian (altitude) pada daerah ini adalah 128 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Gambar 1. Stop Site 1
Saat dilakukan pengamatan cuaca pada hari itu sangat mendukung yaitu cerah, penggunaan lahannya atau landusenya adalah kebun campuran. Pola drainasenya adalah dendritik yaitu pola yang menyerupai percabangan pohon dengan tingkat erosi yang rendah atau ringan dan termasuk kedalam erosi alur, erosi alur ini adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air. Erosi alur terjadi ketika air larian masuk ke dalam cekungan permukaan tanah, kecepatan air larian meningkat dan akhirnya terjadilah transportasi sedimen. Stop site satu yaitu di derah Banguntapan terletak pada geografis S  070 48. 335’dan E 1100 24. 791’, sedangkan jeluk air tanahnya 8-16m dengan landform dataran  dan kebatuan yang ditemukan kecil. Vegetasi yang ada di stop site satu ini adalah rumput, papaya, pisang dan sebagainya dengan pertumbuhan sedang, dan tigkat pertumbuhan vegetasinya bisa dikatakan tanah di stop site satu ini termasuk golongan tanah subur.
Tanah di stop side satu ini menurut klasifikasi PPT memiliki ordo  Regosol, berdasarkan Food and Agriculture Organization of United Nations (FAO-PBB) tanah ini berordo Regosol, sedangkan berdasarkan  penamaan Soil Taxonomy United State Department of Agriculture (USDA) memiliki ordo Inseptisol. Pengamatan yang dilakukan pada kali ini meliputi morfologi tanah, profil tanah dan klasifikasi tanah yang dibahas sebelumnya.
Pada pengamatan karakteristik profil tanah, untuk menentukan lapisan tanah ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan berdasarkan perbedaan warna, bila warna sulit dibedakan maka berdasarkan perbedaan tekstur, kalau belum bisa dibedakan lagi maka, konsistensi yang ditandai oleh perbedaan bunyi saat tanah dipukul-pukul. Setelah diketahui berapa lapisan tanah maka di ukur panjang tiap lapisan tersebut menggunakan mistar, dan diperoleh panjang jeluk tanah 8-16m dan terdapat tiga lapisan/horizon tanah hal ini karena adanya perbedaan-perbedaan tiap horizon yang disebabkan oleh factor-faktor tertentu seperti waktu. Warna tanah yang diidentifikasi dengan soil munsell color chart menunjukan horizon I 5 YR 3/1 dengan warna matriks cokelat, Horizon II 2,5 YR 3/1 dengan warna matriks cokelat, dan Horizon III 10 YR 2/2dengan warna matriks cokelat namun tidak ditemukan karatan dan atau campuran. Untuk menentukan tekstur tanah dibasahi air terlebih dahulu, sehingga terasa fraksi yang dominan pada tanah tersebut, dan diketahui bahwa tanah di stop side ini bertekstur  geluh pasiran dengan struktur gumpal, tipenya gumpal butir tunggal, berderajat lemah , dan berkelas halus dan kasar untuk Horizon I dan II. Untuk Horizon III, kelasnya kasar, derajatnya sangat lemah dan tidak plastis.
Untuk menentukan konsistensi tanah dapat dilakukan dengan cara memijat tanah diantara ibu jari dan telunjuk, dan diperoleh konsistensi tanah ini Horizon I dan II adalah tidak plastis dan agak lekat, sedangkan Horizon III tidak lekat dan tidak plastis sehingga untuk mengolah tanah dapat menggunakan pacul.  Ditemukan pula perakaran dengan ukuran mikro, meso dan makro dengan jumlah sedikit, sedangkan bahan kasar yang ditemukan yaitu kerikil yang berukuran mikro dalam jumlah sedikit. Selain itu juga dilakukan uji khemikalia, Uji khemikalia dilaksanakan untuk mengetahui kandungan-kandungan kimia tanah pada daerah banguntapan ini, yang meliputi  BO, kandungan Mn, serta kandungan Kapur. Untuk menentukan kandungan BO digunakn indikator (H2O2 10%) dan diketahui bahwa kandungan BO dalam tanah horizon III relatif tinggi hal ini ditunjukan dengan banyaknya buih yang dihasilkan ketika reaksi, dan hal tersebut tidak terjadi pada Horizon I dan II. Untuk penetapan kadar Mn dalam tanah digunakan indikator (H2O2 3%) dan diperoleh hasil bahwa kandungan Mn dalam tanah Horizon III tersebut lebih banyak dibandingkan dengan Horizon I dan II, diketahui dari banyaknya gelembung yang dikeluarkan. Penetapan kapur dalam tanah dengan menggunakan indicator HCl 2N dan diperoleh hasil bahwa kapur tanah rendah, Uji pH tanah menggunakan kertas pH dan menunjukan tanah yang diamati memiliki pH 7 di setiap horizon dan cenderung basis.
Tanah regosol adalah tanah berbutir kasar dan berasal dari material gunung api. Tanah regosol berupa tanah aluvial yang baru diendapkan. Tanah jenis ini banyak terdapat di Bengkulu, pantai Sumatera Barat, Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara Barat. Material jenis tanah ini berupa abu vulkan dan pasir vulkan. Tanah regosol sangat cocok ditanami padi, tebu, palawija, tembakau, dan sayuran. Tanah regosol merupakan hasil erupsi gunung berapi, bersifat subur, berbutir kasar, berwarna keabuan, kaya unsur hara, pH 6 – 7, cenderung gembur, kemampuan menyerap air tinggi, dan mudah tererosi. Persebaran jenis tanah ini di Indonesia terdapat di setiap pulau yang memiliki gunung api, baik yang masih aktif ataupun yang sudah mati.

Stop Side 2
I.         Morfologi Tapak (Site)

Nama Pengamat   : A1 / V          
Lokasi                  : Patuk, Gunung Kidul
Fisiologi               : Batu Ragung
Topografi             : Perbukitan    
Lereng                  : 9%    
Landuse               : Pertanian
Vegetasi               : Bambu, Kacang, Singkong
Pola Drainase       : Dendritik
Erosi                     : Parit
Cuaca                   : Cerah
Letak Lintang      : South : 07o51.180’
East    : 10o29.376’


Kode                    : Stopsite 2
Landform             : Perbukitan
Litologi                : Batuan Breksi Andesit
Arah Lereng         : 350o NE
Kebatuan              : Sangat sedikit, meso
Pertumbuhan        : Subur
Jeluk Air Tanah    : Dangkal
Tingkat Erosi       : Sedang
Altitude                : 278 mdpl
Tanggal                : 13 April 2013                                                                                                : Sedang


                    
                                                                                                        Tanggal        : 13 April 2013
                    

II.      Karakteristik Profil
No.
Pengamatan
Lapisan I
Lapisan II
Lapisan III
Lapisan IV
Lapisan V
1.
Jeluk (cm)
0 – 32
32 – 43
43 – 69
69 – 72
72 – 110
2.
Warna Tanah






a. Matrik
10 YR 3/4
5 YR 3/3
5 YR 4/3
5 YR 4/3
5 YR ¾

b. Karatan
-
-
Ada
Ada
-

c. Campuran
-
-
-
-
-
3.
Tekstur
Lempung pasiran
Lempung pasiran
Lempung pasiran
Lempung pasiran
Lempung pasiran
4.
Struktur






a. Tipe
Gumpal
Gumpal
Gumpal
Gumpal
Gumpal

b. Kelas
Keras
Keras
Keras
Keras
Keras

c. Derajat
Kuat
Kuat
Kuat
Kuat
Kuat
5.
Konsistensi
Lekat, agak plastis
Lekat, agak plastis
Agak lekat, agak plastis
Lekat, agak plastis
Lekat, agak plastis
6.
Perakaran






a. Ukuran
Mikro
Meso
-
-
-

b. Jumlah
Sedang
Sedang
-
-
-
7.
Bahan Kasar






a. Jenis
-
-
-
-
-

b. Jumlah
-
-
-
-
-

c. Ukuran
-
-
-
-
-
8.
Uji Khemikalia






a. BO (H2O2 10%)
+++++
+
++++
+++
++

b. Mn (H2O2 3%)
+++++
+
++++
++
+++

c. Kapur
-
-
-
-
-
9.
pH H2O
7
8
7
7
7
10.
Catatan Khusus
Terdapat bercak hitam Mn pada lapisan lempung karena pembakaran.

III.  Klasifikasi Tanah
a. PPT             : Inceptisol /Latosol
b. FAO           : Kambisol
c. USDA         : Alfisol

Pengamatan lapangan Stop Site 2 dilakukan di Patuk, Gunung Kidul pada tanggal 13 April 2013. Dari hasil pengamatan morfologi tapak diketahui fisiografi lokasi pengamatan adalah Baturagung dengan landform perbukitan. Topografi atau reliefnya berupa perbukitan. Litologi terdiri atas batuan breksi andesit. Lerengnya yaitu 9% sehingga termasuk kelas lereng bergelombang. Arah lerengnya 350o NE. Kebatuan sangat sedikit dan berukuran meso. Landuse atau tipe penggunaan lahan yaitu untuk pertanian, dengan vegetasi dominan bambu, kacang, singkong, dan rumput, dan pertumbuhannya subur. Jeluk (kedalaman) air tanah dangkal berkisar antara 50-150 cm. Pola drainasenya dendritik (bercabang). Tingkat erosi sedang dengan jenis erosi parit yang ditunjukkan oleh adanya parit-parit kecil. Altitude (ketinggian) tempat pengamatan yaitu 278 mdpl. Letak lintang yaitu south : 07o51.180’ dan east : 110o29.376’. Cuaca ketika pengamatan berlangsung cerah.
Gambar 2. Stopsite 2
Pada pengamatan karakteristik profil, tanah memiliki 5 lapisan. Lapisan I terletak pada jeluk 0-32 cm, lapisan II terletak pada jeluk 32-43 cm, lapisan III terletak pada jeluk 43-69 cm, lapisan IV terletak pada jeluk 69-72, dan lapisan V terletak pada jeluk 72-110. Penentuan kedalaman jeluk tanah masing-masing lapisan ditentukan dengan melihat perbedaan warna yang terdapat pada lapisan tanah atau dengan membandingkan perbedaan bunyi yang terdengar ketika tanah dipukul dengan palu pedologi. Matriks warna tanah yang ditemukan cukup bervariasi, hal ini tergantung dari kadar kandungan bahan organiknya. Lapisan I memiliki matrik warna tanah 10 YR 3/4, lapisan II memiliki matrik warna tanah 5 YR 3/3, lapisan III memiliki matrik warna tanah 5 YR 4/3 dan terdapat karatan, lapisan IV memiliki matrik warna tanah 5 YR 4/3 dan terdapat karatan, dan lapisan V memiliki matrik warna tanah 5 YR 3/4. Karatan merupakan hasil pelapukan batuan tanah yang di pengaruhi oleh adhesi dan kohesi. Dari pengamanatan tanah, terdapat bercak hitam Mn pada lapisan lempung karena pembakaran. Karatan berwarna hitam mengandung banyak mangan (Mn). Karatan merupakan hasil reaksi oksidasi dan reduksi dalam tanah. Karatan menunjukkan hasil reaksi oksidasi dan reduksi dalam tanah. Karatan menunjukkan bahwa udara masih dapat kedalam tanah setempat sehingga terjadi oksidasi ditempat tersebut dan terbentuk senyawa-senywa Fe3+ yang berwarna merah. Bila air tidak menggenang dan tata udara dalam tanah selalu baik, seluruh profil tanah dalam keadaan oksidasi (Fe3+) sehingga umumnya berwarna merah atau coklat. Warna tanah dipengaruhi kandungan bahan organik, mineral, drainase, kandungan air (lengas), dan aerasi tanah dalam hubungannya dengan hidratasi, oksidasi, dan proses pelindian, dan tingkat perkembangan tanah. Bahan organik akan memberi warna gelap pada tanah, sedangkan oksida besi akan memberi warna terang seperti merah, coklat merah sampai kuning. Penetapan warna tanah dilakukan secara kuantitatif dengan kartu warna tanah (Soil Munsell Color Chart). Teksturnya dari kelima lapisan tanah sama yaitu lempung pasiran. Penentuan tekstur dilakukan secara kualitatif dengan memilin tanah dalam kondisi lembab kemudian dirasakan fraksi yang dominan. Strukturnya memiliki tipe gumpal, kelas keras, dan derajatnya kuat. Termasuk tipe gumpal karena ukuran horizontal dan ukuran vertikalnya sama (senanding), kelas keras karena ukurannya besar dan tidak mudah hancur, dan derajat kuat karena perlu cukup tenaga untuk menghancurkannya. Konsistensi lapisan I, II, IV, dan V yaitu lekat dan agak plastis sedangkan lapisan III agak lekat dan agak plastis. Konsitensi lekat karena menempel banyak di salah satu jari dan jari lain sedikit, agak lekat karena menempel sedikit, plastis karena dapat dibentuk, dan agak plastis karena tidak dapat dibentuk. Konsistensi ini dipengaruhi oleh kandungan lempung yang terdapat pada lapisan tanah. Untuk perakaran hanya terdapat pada lapisan I dan lapisan II, lapisan I memiliki ukuran perakaran mikro dan jumlahnya sedang, lapisan II memiliki ukuran perakaran meso dan jumlahnya sedang, sedangkan lapisan III sampai dengan lapisan V tidak terdapat perakaran. Pada tanah ini, semua lapisan tanahnya tidak terdapat bahan kasar.
Ketika diuji dengan khemikalia BO dengan H2O2 10%, lapisan tanah I menunjukkan hasil jumlah positif 5, lapisan II menghasilkan positif 1, lapisan III menghasilkan positif 4, lapisan IV menghasilkan positif 3, dan lapisan V menghasilkan positif 2. Hasil ini menunjukkan semua lapisan memiliki kandungan bahan organik. Kadar bahan organik tertinggi terdapat pada lapisan I karena pada lapisan tersebut terjadi dekomposisi sisa-sisa organisme yang sempurna sehingga tanah berwarna gelap dan subur, sedangkan kandungan bahan organik terendah terdapat pada lapisan II karena pada lapisan ini terjadi pelindian (leaching) sehingga bahan organiknya rendah (kurang subur) dan tanah berwarna lebih terang, bahan organik tersebut mengalami translokasi atau alih tempat ke lapisan di bawahnya, akibatnya lapisan tanah di bawahnya memiliki kandungan bahan organik yang lebih tinggi. Pengujian kandungan Mn menggunakan (H2O2 3%), dengan hasil mirip dengan kadar bahan organik tetapi pada lapisan IV menghasilkan positif 2, sedangkan lapisan V menghasilkan positif 3. Kandungan Mn tertinggi pada lapisan I dan terendah pada lapisan II. Hal tersebut dapat diakibatkan oleh adanya leaching atau pelindian. Untuk menguji kandungan kapur digunakan (HCl 2N) dan hasilnya tidak ditemukan kandungan kapur di semua lapisan karena bahan induknya breksi. Pengujian pH tiap lapisan tanah menunjukkan hasil yang sama pada semua lapisan yaitu 7 kecuali pada lapisan II lebih bersifat basis yaitu 8 sehingga keasaman jenis tanah ini termasuk netral hingga agak alkali. Berdasarkan hasil morfologi tapak dan karakteristik profil, sifat atau karakter tanah pada Stop Site 2 baik secara fisik maupun kimia dapat diklasifikasi sebagai tanah Inseptisol/Latosol menurut klasifikasi PPT, Kambisol menurut klasifikasi FAO, dan Alfisol menurut taksonomi USDA.
   
Stop Side 3
I.         Morfologi Tapak (Site)
Nama Pengamat
: A1/V
Kode
: Stop Site 3
Lokasi
: Hutan Bunder
Landform
: Perbulatan
Fisiologi
: Cekungan Wonosari
Litologi
: Sedimen marine / Carst
Topografi       
: Bergelombang
Arah lereng
: 10° NE
Lereng
: 10 %
Kebatuan        
: Ada batuan
Landuse
: Hutan
Pertumbuhan
: Sedang
Vegetasi
: Kayu putih, mahoni
Jeluk Air Tanah
: Dangkal
Pola Drainase
: Dendritik
Tingkat Erosi
: Sedang
Erosi   
: Alur
Altitude
: 210 mdpl
Cuaca
: Cerah
Tanggal
: 13 April 2013
Letak Lintang
: South : 07° 54.147’
  East   : 110° 33.161’


                                                                                                    
II.      Karakteristik Profil
No.
Pengamatan
Lapisan I
Lapisan II
1.
Jeluk (cm)
0 – 30
30 – 70
0 – 36
36 – 73
2.
Warna Tanah
Hitam
Coklat

a.       Matrik
7,5 YR ³/
2,5 YR 4/2

b.      Karatan
-
-

c.       Campuran
-
-
3.
Tekstur
Geluh lempungan
Lempung
4.
Struktur



a.       Tipe
Gumpal menyudut
Gumpal menyudut

b.      Kelas
Granuler kelas rendah (gumpal)
Sedang

c.       Derajat
Sedang
Remah
5.
Konsistensi
Lekat, plastis
Lekat, plastis
6.
Perakaran



a.       Ukuran
Meso, makro
Makro, meso, mikro

b.      Jumlah
Banyak
Banyak
7.
Bahan kasar



a.       Jenis
Batu
-

b.      Jumlah
Sedikit
-

c.       Ukuran
Makro, meso
-
8.
Uji khemikalia



a.       BO (H2O2 10 %)
+++
++

b.      Mn (H2O2 3 %)
++
++++

c.       Kapur (HCl 2N)
+
++
9.
pH H2O
7
7
10.
Catatan khusus
Clay skin di lapisan II
α-α dipiridil
-
-

III.   Klasifikasi Tanah
a.       PPT                : Mollisol
b.      FAO               : Rendzina
c.       USDA                        : Mollisol

Gambar 3. Tanah Rendzina
Pada praktikum lapangan dengan stopsite  ketiga ini, pengamatan dilaksanakan pada tanggal 13 April 2013 yang berlokasi di Hutan Bunder, Wonosari yang letak lintangnya berada pada 07° 54.147’ (selatan) dan 110° 33.161’ (timur). Cuaca pada saat dilaksanakan praktikum lapangan cerah. Lereng pada stopsite ketiga adalah 10 % dan arah lereng sebesar 10°NE, litologinya adalah sedimen marine atau carst dan landformnya adalah perbulatan. Topografi di daerah Hutan Bunder adalah bergelombang, dengan altitude 210 mdpl. Landusenya adalah hutan yang pertumbuhannya sedang. Pola drainasenya adalah dendritik, erosi berbentuk alur dan memiliki tingkat erosi sedang, serta jeluk air tanahnya adalah dangkal.  Pada stopsite ini terdapat kebatuan.
Gambar 3. Stopsite 3
Vegetasi yang ada (dominan) pada stopsite ini antara lain kayu putih dan mahoni. Karakteristik profil tanah pada stop site pertama ini, profil tanahnya terdiri dari dua lapisan dimana lapisan pertama merupakan horizon O dan pada lapisan kedua adalah horizon A. Jeluk tanah (melintang) pada lapisan pertama dan kedua memiliki kemiringan, sehingga kedalaman atau jeluk antara garis bagian ujung dan pangkal dari profil berbeda. Pada bagian pangkal, jeluknya adalah 0-30 cm dan untuk lapisan kedua 30-70 cm. Sedangkan pada ujung profil, yaitu pada lapisan pertama, jeluknya sebesar 0-36 cm dan pada lapisan kedua sebesar 36-73 cm.
Mengenai warna tanah, penetapan warna tanah dilakukan secara kuantitatif menggunakan kartu warna Soil Munsell Color Charts. Matriks pada lapisan pertama adalah 7,5 YR ³/ dan pada lapisan kedua adalah 2,5 YR 4/2. Warna tanah pada lapisan pertama yaitu hitam, sedangkan pada lapisan kedua berwarna coklat. Pada kedua lapisan tidak terdapat karatan. Teksturnya adalah geluh lempungan pada lapisan pertama dan bertekstur lempung pada lapisan kedua. Tekstur tanah adalah proporsi atau perbandingan relatif dari komposisi fraksi-fraksi penyusun tanah dominan. Pengamatan tekstur di lapangan dilakukan dengan cara dipilin. Dari pilinan tersebut maka akan terasa fraksi apa yang dominan. Pada lapisan pertama disebut geluh lempungan karena pilinan atau pita panjangnya mencapai 2,5-5 cm dan fraksi tanah yang terasa adalah rasa kasar dan halus yang seimbang, sedangkan pada lapisan kedua teksturnya adalah lempung karena panjang pita atau pilinan lebih dari 5 cm dan rasa yang menonjol saat dibuat bubur adalah rasa kasar dan halus yang seimbang.
Struktur tanah adalah susunan zarah-zarah tanah yang saling berikatan membentuk agregat dengan bantuan bahan sedimentasi atau perekat. Dalam struktur tanah dilihat ada tiga macam klasifikasi, yang pertama adalah tipe struktur, yaitu bagaimana bentuknya, kedua adalah kelas struktur, yaitu bagaimana ukurannya, dan yang ketiga adalah derajat struktur yaitu berkaitan mengenai kuat tidaknya ikatan struktur tanahnya. Pada stopsite ketiga, tipe struktur kedua lapisan tanah adalah gumpal menyudut. Kelas srtuktur pada lapisan pertama adalah gumpal yaitu granuler kelas rendah, disebut granuler kelas rendah karena tidak semua butir-butir tanah menyatu namun bentuk yang dominan adalah granuler, dan pada lapisan kedua kelas strukturnya adalah sedang. Derajat struktur adalah sedang pada lapisan pertama dan remah pada lapisan kedua.
Konsistensi merupakan sifat fisika tanah yang menunjukkan bersanya gaya adhesi dan kohesi zarah-zarah pada berbagai kelengasan tanah. Penentuan konsistensi di lapangan dilakukan dengan cara kualitatif, yaitu dengan menekan bongkah tanah di antara ujung telunjuk dengan ujung ibu jari. Konsistensi di stopsite ketiga ini pada lapisan pertama dan kedua adalah lekat dan plastis. Pada profil tanah stop site petama ini terdapat perakaran, yaitu pada lapisan pertama ada banyak perakaran yang berukuran meso dan makro, sedangkan pada lapisan kedua jumlah perakarnnya adalah banyak dan ukurannya adalah makro, meso, serta mikro. Mengenai bahan kasar, pada profil tanah stopsite ketiga ini terdapat bahan kasar yang berjenis batu dengan jumlah sedikit dengan ukuran makro serta meso pada lapisan pertama dan pada lapisan kedua tidak terdapat bahan kasar. Pada saat uji khemikalia, dilakukan tiga perlakuan, yaitu yang pertama adalah tanah diberi H2O2 10% untuk menguji kandungan bahan organic (BO), yang kedua diberi H2O2 3% untuk menguji kandungan Mn, dan yang terakhir diberi HCl 2N untuk menguji kandungan kapur. Pada perlakuan pertama, yaitu ketika diberi H2O2 10%, pada lapisan pertama muncul agak banyak gelembung, pada lapisan kedua jumlah gelembungnya sedang atau lebih sedikit daripada lapisan pertama. Pada perlakuan kedua yaitu ketika diberi H2O2 3%, pada lapisan pertama jumlah gelembung yang muncul adalah sedang dan pada lapisan kedua gelembung yang muncul banyak. Pada perlakuan yang ketiga, yaitu ketika tanah diberi HCl 2N, pada lapisan pertama profil tanah muncul gelembung yang jumlahnya sedikit dan pada lapisan kedua gelembung yang muncul adalah sedang. Pada lapisan kedua di profil tanah stopsite ketiga ini ditemukan clay skin. Clay skin adalah kristal lempung yang menandakan adanya akumulasi lempung.
Pada stopsite ketiga, juga dilakukan uji pH H2O, dimana pada lapisan pertama dan kedua pH tanahnya adalah 7.  Uji dengan α-α dipiridil juga dilakukan pada stopsite ini. Uji α-α dipiridil merupakan pengujian yang dilakukan pada tanah yang terendam, sehingga dapat diketahui apakah terjadi proses reduksi atau tidak. Jika tanah tersebut mengalami reduksi, ketika diuji dengan α-αdipiridil akan menghasilkan warna merah. Pada tanah di stopsite ketiga ini, ketika diuji dengan α-αdipiridil tidak berwarna merah, sehingga dapat diketahui bahwa tanah tersebut tidak mengalami proses reduksi. Berdasarkan karakteristik profil tanah tersebut dapat diketahui bahwa klasifikasi tanahnya adalah Mollisol berdasarkan PPT, Rendzina Berdasarkan FAO, atau Mollisol berdasarkan Soil Taxonomy (USDA).

Stop Side 4
I.         Morfologi

Nama Pengamat
: Kelompok 1 A4
Kode
: Stop Side 4
Lokasi
: Playen G.K
Landform
: Perbukitan
Fisiologi
: Cekungan Wonosari
Litologi    
:Sedimen Marine Dominasi Napal
Topografi       
: Datar
Arah Lereng
: 30 NE
Lereng
: 3%
Kebatuan
: Sedikit
Landuse
: Tegalan
Pertumbuhan
: Sedang
Vegetasi
: Jati
Jeluk Air Tanah
: 25-30
Pola Drainase
: Dendritik
Tingkat Erosi
: Ringan
Erosi
: Alur
Altitude          
: 204 mdpl
Cuaca
: Cerah
Tanggal          
: 13 April 2013
Letak Lintang
: S  070 56. 813’
 E 1100 34. 319’


        
II. Karakteristik Profil
No
Pengamatan
Lapisan I
Lapisan II
Lapisan III
Lapisan IV
1
Jeluk (cm)
0-61



2
Warna Tanah
7,5 YR 2%




a.  Matrik
Hitam




b. Karatan
-




c. Campuran
-



3
 Tekstur
Lempungan



4
Struktur





a.    Tipe
Gumpal Menyudut




b.    Kelas
Sangat Kasar




c.    Derajat
Sedang



5
Konsistensi
Sangat Plastis



6
Perakaran
Ada




c. Ukuran
Meso, Makro




b.Jumlah
Banyak



7
Bahan Kasar
Ada




a.  Jenis
Kerikil




b.Jumlah
Banyak




c. Ukuran
Mikro



8
Uji Khemikalia





d.   BO (H2O2 10%)
+++++




e.    Mn (H2O2 3%)
+++++




f.     Kapur (HCl 2N)
+



9
pH H2O
8



10
Catatan Khusus
Sifat Vertitum : Kembang Kerut, tidak diolah dengan bajak
Warna Hitam  : Warna hitam pada Vertisol karena terjadi adanya Dispersi Bahan Organik, dan hanya menyelimuti

III.Klasifisikasi Tanah
d.   PPT                  : Grumusol
e.    FAO                : Grumusol
f.     USDA             : Vertisol

Lokasi di stop site keempat yaitu di derah Playen Gunung Kidul. Tanah di daerah ini termasuk tanah Vertisol,  selain itu tanah ini memiliki fisiologi cekungan Wonosari. Topografi di daearah playen ini datar, dan ketika diukur dengan klinometer  tanah ini memiliki kemiringan lereng sebesar 3 %, dengan arah lereng 30 NE. Sedangkan pemerian batuannya (Litologi ) adalah sedimen merine dominasi napal maksudnya yaitu batuan sedimen yang diangkut oleh air laut dimana batuan tersebut didominasi oleh batu lempung gampingan. Ketika diukur dengan GPS Ketinggian (altitude) pada daerah ini adalah 204 mdpl (meter di atas permukaan laut).
Gambar 4. Stopsite 4
Saat dilakukan pengamatan cuaca pada hari itu sangat mendukung yaitu cerah, penggunaan lahannya atau landusenya adalah tegalan. Pola drainasenya adalah dendritik yaitu pola yang menyerupai percabangan pohon dengan tingkat erosi yang rendah atau ringan dan termasuk kedalah erosi alur, erosi alur ini adalah pengelupasan yang diikuti dengan pengangkutan partikel-partikel tanah oleh aliran air larian yang terkonsentrasi di dalam saluran-saluran air. Erosi alur terjadi ketika air larian masuk ke dalam cekungan permukaan tanah, kecepatan air larian meningkat dan akhirnya terjadilah transportasi sedimen. Stop site empat yaitu di derah Playen terletak pada geografis 070 56. 813’ dan E 110o 34. 319’, sedangkan jeluk air tanahnya 25-30 cm dengan landform perbukitan dan kebatuan yang ditemukan sedikit. Vegetasi yang ada di stop site empat ini adalah bambo, jati dengan pertumbuhan sedang, dan tigkat pertumbuhan vegetasinya bisa dikatakan tanah di stop site empat ini termasuk golongan tanah subur.
Tanah di stop side empat ini menurut klasifikasi PPT memiliki ordo  Grumusol. berdasarkan Food and Agriculture Organization of United Nations (FAO-PBB) tanah ini berordo Grumusol, sedangkan berdasarkan  penamaan Soil Taxonomy United State Department of Agriculture (USDA) memiliki ordo Vertisol. Pengamatan yang dilakukan pada kali ini meliputi morfologi tanah, profil tanah dan klasifikasi tanah yang dibahas sebelumnya.
Pada pengamatan karakteristik profil tanah, untuk menentukan lapisan tanah ini dapat dilakukan dengan beberapa cara, yaitu dengan berdasarkan perbedaan warna, bila warna sulit dibedakan maka berdasarkan perbedaan tekstur, kalau belum bisa dibedakan lagi maka, konsistensi yang ditandai oleh perbedaan bunyi saat tanah dipukul-pukul. Setelah diketahui berapa lapisan tanah maka di ukur panjang tiap lapisan tersebut menggunakan mistar, dan diperoleh panjang jeluk tanah 0-61 dan hanya terdapat satu lapisan/horizon tanah hal ini karena.... Warna tanah yang diidentifikasi dengan soil munsell color chart menunjukan 7,5 YR 2 % dengan warna matriks hitam, namun tidak ditemukan karatan dan atau campuran. Untuk menentukan tekstur tanah dibasahi air terlebih dahulu , sehingga terasa fraksi yang dominan pada tanah tersebut, dan diketahui bahwa tanah di stop side ini bertekstur  lempung dengan struktur gumpal menyudut, tipenya gumpal menyudut, berderajat sedang, dan berkelas sangat kasar.
Untuk menentukan konsistensi tanah dapat dilakukan dengan cara memijat tanah diantara ibu jari dan telunjuk, dan diperoleh konsistensi tanah ini adalah sangat plastis dan lekat, sehingga untuk mengolah tanah tidak dapat menggunakan pacul dan harus menggunakan linggis dan ganco.  Ditemukan pula perakaran dengan ukuran meso dan makro dengan jumlah banyak, sedangkan bahan kasar yang ditemukan yaitu kerikil yang berukuran mikro dalam jumlah banyak. Selain itu juga dilakukan uji khemikalia, Uji khemikalia dilaksanakan untuk mengetahui kandungan-kandungan kimia tanah pada daerah Playen ini, yang meliputi  BO, kandungan Mn, serta kandungan Kapur. Untuk menentukan kandungan BO digunakn indikator (H2O2 10%) dan diketahui bahwa kandungan BO dalam tanah reatif tinggi hal ini ditunjukan dengan banyaknya buih yang dihasilkan ketika reaksi. Untuk penetapan kadar Mn dalam tanah digunakan indikator (H2O2 3%) dan diperoleh hasil bahwa kandungan Mn dalam tanah tersebut banyak, diketahui dari banyaknya gelembung yang dikeluarkan. Penetapan kapur dalam tanah dengan menggunakan indicator HCl 2N dan diperoleh hasil bahwa kapur tanah rendah, Uji pH tanah menggunakan kertas pH dan menunjukan tanah yang diamati memiliki pH 8 dan cenderung basis.
Tanah vertisol memiliki sifat vertitum atau sifat kembang kerut, maksudnya ketika tanah kering maka tanah akan mengerut sehingga tanah pecah-pecah dan keras umumnya terjadi pada musim kemarau, sedangkan ketika tanah basah yang umunya terjadi pada musim penghujan maka tanah akan mengembang dan lengket. Hal ini karena tanah Vertisol mampu menyerap air yang cukup banyak akibat dari sifatnya yang lempung. Tanah Vertisol juga bersifat pedoturbasi yaitu tanah tersebut mampu bertukar tempat antar lapisan terdekatnya sehingga tanah tersebut cenderung terlihat baru akibat adanya perputaran / rotasi tanah dan akan berlangsung seterusnya dan mengakibatkan terjadinya pula dispersi bahan organik yang mengakibatkan bahan organik tersebar dan menyelimuti partikel tanah sehingga tanah berwarna hitam.
Selain itu  Vertisol yang mendominasi mineral lempung tipe 2:1 yakni Montmorilonit yang mempunyai kemampuan mengikat air yang tinggi, maka pengelolaan pada musim penghujan dimana tanah mempunyai kandungan air yang cukup besar, akan menyebabkan kurang baik bagi tanaman, disebabkan pada kondisi tersebut pengolahan tanah menyebabkan tanah menjadi lumpur dan jika kering menjadi sangat keras; maka Grumosol ini kurang sesuai untuk produksi pertanian dibandingkan dengan ordo tanah yang lain.

Stop Side 5
I.         Morfologi Tapak (Site)
Nama Pengamat
: A1/5
Kode  
: Stopsite 5
Lokasi
: Mulo
Landfrom       
: Angkatan
Fisiologi
: Perbukitan Seribu
Litologi
: Sedimen Marine
Topografi
: Berombak
Arah lereng
: 90 NE
Lereng
: 10%
Kebatuan        
: Batu Bapur
Landuse
: Hutan Industri Rakyat
Pertumbuhan
: Sedang
Vegetasi
: Hutan Akasia
Jeluk Air Tanah
: Dalam
Pola Drainase
: Dendritik
Tingkat Erosi
: Kecil
Erosi
: Alur
Altitude
: 188 mdpl
Cuaca
: Cerah Berawan
Tanggal          
: 13 April 2013
Letak Lintang
: S 8º 20’ 099”
 E 110º 35’ 966”


    
II.      Karakteristik Profil
No.
Pengamatan
Lapisan I
Lapisan II
Lapisan II
Lapisan IV
1.
Jeluk (cm)
0-20
20-55
55-72

2.
Warna Tanah
2,5 yr 3/6
2,5 yr 4/4
2,5 yr ¾


a.       Matrik
merah
Merah
Merah


b.      Karatan
-
-
-


c.       Campuran
-
-
-

3.
Tekstur
Lempungan
Lempung pasiran
Lempung debuan

4.
Struktur





a.       Tipe
Gumpal menyudut
Gumpal menyudut
Gumpal menyudut


      b.  Kelas
Sedang
Sedang
Sedang


b.      Derajad
lemah
Kuat
Kuat

5.
Konsistensi
Lekat
Lekat
Plastis

6.
Perakaran





a.       Ukuran
mikro
Mikro
Mikro


b.      Jumlah
sedang
Sedikit
Sedikit

7.
Bahan Kasar





a.       Jenis
-
-
-


b.      Jumlah
-
-
-


c.       Ukuran
-
-
-

8.
Uji Khemikalia





a.       BO(H2O2 10%)
+++
++
++++


b.      Mn(H2O2 3%)
+++
++++
++


c.       Kapur (HCl 2N)
+
++
+

9.
Ph
7
7
7

10.






III.   Klapsifikasi Tanah
a.    PPT      : Mediteran
b.    FAO    : Alfisol
c.    USDA : Alfisol

Berdasarkan hasil pengamatan morfologi tapak dan karakteristik profil diketahui bahwa klasifikasi dari tanah yang ditemukan di Stop Site V ini berupa Mediteran merah (PPT) dan Alfisol (FAO dan USDA).
Gambar 5. Stopsite 5
Tanah Mediteran adalah salah satu jenis tanah yang dapat ditemui di beberapa wilayah dengan fisiografi Pegunungan Seribu (F-6). Pegunungan Seribu ini terbentang dari daerah Gunung Kidul sampai dengan daerah Pacitan sehingga rentang jarak ini akan dapat kita jumpai lokasi-lokasi yang bertanah Mediteran. Tanah Mediteran, menurut USDA termasuk Alfisol.Tanah ini mempunyai epipedonokrik dan horizon argilik dengan kejenuhan basa sedang sampai tinggi. Pada umumnya saat kondisi tanah tidak kering, tanah yang ekuivalen adalah tanah half-bog, podsolik merah kuning (di Indonesia disebut mediteran), dan planasols.
Dalam pengertian lain,Alfisol merupakan tanah yang relatif muda, masih banyak mengandung mineral primer yang mudah lapuk, mineral liat kristalin dan kaya unsur hara. Tanah ini mempunyai kejenuhan basa tinggi, KPK, dan cadangan unsur hara tinggi. Alfisol merupakan tanah-tanah di mana terdapat penimbunan liat di horizon bawah, liat yang tertimbun di horizon bawah ini berasal dari horizon di atasnya, dan tercuci ke bawah bersama gerakan air perkolasi.
Alfisol sering dijumpai di daerah yang mempunyai curah hujan cukup tinggi untuk menggerakkan lempung turun ke bawah dan membentuk horizonargilik. Horizonargilik merupakan horizon atau lapisan tanah yang terbentuk akibat terjadi akumulasi liat. Alfisol mempunyai kejenuhan basa tinggi (50%) dan umumnya merupakan tanah subur. Tanah tersebut umumnya terbentuk di bawah berbagai hutan atau tertutup semak.Alfisol memiliki ciri penting: (a) perpindahan dan akumulasi liat di horizon B membentuk horizonargilik pada kedalaman 23-74 cm, (b) kemampuan memasok kation basa sedang hingga tinggi yang memberikan bukti hanya terjadi pelindian/pencucian sedang, dan (c) tersedianya air cukup untuk pertumbuhan tanaman selama tiga bulan atau lebih. Alfisol atau tanah Mediteran merupakan kelompok tanah merah yang disebabkan oleh kadar besi yang tinggi disertai kadar humus yang rendah. Warna tanah Alfisol pada lapisan atas sangat bervariasi dari cokelat abu-abu sampai cokelat kemerahan. Warna merah tanah disebabkan oleh oksida-oksida Fe yang teroksidasi dengan baik, sedangkan warna hitam oleh oksida-oksida Mn dan bahan organik yang terhumifikasi.
Hal ini sesuai dengan penelitian Mulyanto &Surono (2009) di Jalur Baron—Wonosari di mana hasil penelitian mengenai warna menunjukkan jenis tanah yang terdapat di daerah Mulo, Gunung Kidul berwarna merah dominan. Selain itu, kelas kemiringan lereng dikategorikan kelas III yaitu 8—15%. Dikatakan pula bahwa topografi menentukan ada tidaknya pergerakan air secara aktif melalui bahan lapukan. Disamping perannya sebagai pengontrol gerakan air tanah secara cacak (vertical), topografi juga memengaruhi proses pelindian serta erosi permukaan sehingga sangat menentukan laju penghilangan hasil-hasil pelapukan. Bahan induk khususnya struktur dan kesarangannya diduga sangat mempengaruhi gerakan air secara vertikal. Topografi dan sifat-sifat batuan tersebut akan mempengaruhi efektivitas pelindian dan pembentukan tanah. Warna tanah merupakan sifat tanah yang mudah berubah oleh kondisi setempat seperti kondisi drainase tanah.
Hasil pengamatan terhadap morfologi tapak diketahui bahwa fisiografi lokasi pengamatan berupa Pegunungan Seribu. Termasuk dalam fisiografiPegunungan Seribu karena lokasinya terletak di rangkaian banyak gunung yang melewatinya. Lokasi yang diambil adalah Mulo, Gunung Kidul di mana merupakan salah satu contoh tempat yang memiliki tanah jenis Mediteran. Vegetasi yang tumbuh di daerah ini adalah jenis tanaman tahunan seperti akasia. Namun kebanyakan wilayah ini hanya digunakan sebagai hutan dan hanya sedikit saja yang digunakan sebagai lahan pertanian mengingat pengairan yang hanya mengandalkan air hujan karena tidak adanya sungai.
Dilihat dari sisi topografi, daerah ini adalah bergelombang. Pola drainasenya adalah pola dendritik. Tingkat atau proses erosi yang terjadi di daerah ini adalah erosi alur di mana terjadi karena aliran-aliran. Berdasarkan sejarahnya, dulunya tanah ini adalah dasaran laut yang mengalami pengangkatan. Hal ini terbukti adanya kapur-kapur batuan. Mungkin hal ini terjadi berjuta-juta tahun yang lampau. Landform dari tanah ini adalah perbukitan. Namun dari sisi lain terdapat tingkat erosi dari sedang sampai dengan berat dengan jenis erosi adalah erosi alur. Daerah ini ternyata juga memiliki posisi atau letak ketinggian sampai 188 m di atas permukaan laut.
Diketahui dari karakteristik profilnya, tanah yang diamati terdiri atas 2 lapisan yaitu dari lapisan 1, lapisan 2, dan lapisan 3. Warna tanah di ketiga horizon tersebut masing-masing secara berurutan yaitu 2,5  YR 3/4 dan 2,5 YR 3/4, dapat diartikan bahwa tanah berwarna merah .Tekstur tanah pada  lapisan 1 adalah lempungan, lapisan 2 adalah lempung pasiran, dan lapisan 3 adalah lempung debuan.  Strukturnya gumpalan menyudut dan kelasnya sedang hingga besar. Konsistensi pada lapisan 1 adalah lekat, lapisan 2 adalah lekat, dan pada lapisan 3 adalah plastis.  Perakaran semua lapisan adalah mikro. Selain itu ketika diadakan uji khemikalia terhadap masing-masing horizon ternyata bahan organik paling banyak pada lapisan 1 dan 3. Kapur hanya ditemukan sedikit sekali pada setiap lapisan tanah. Derajat pH H2O pada semua lapisan adalah 7, yang berarti tergolong pH tanah netral. Dengan demikian, dapat dianalisis bahwa dengan komposisi BO yang cukup, kapur yang sedikit, dan pH netral, tanah dapat dikatakan cocok untuk pertumbuhan vegetasi yang tumbuh di atasnya, seperti tanaman keras (akasia).
Sebagai catatan khusus pada tanah Alfisol yang dijumpai adalah adanya clayskin. Clayskin merupakan selaput liat alumunium silikat, biasanya terdapat di bidang-bidang belahan struktur atau dalam pori-pori dan terletak sejajar dengan bidang-bidang belahan struktur.Selaput liat ini dapat mengandung atau tidak mengandung organik dalam jumlah nyata mengeras bila kering.Bagian lapisan yang mengeras berwarna merah,biasanya mengandung karatan kuning,abu-abu atau putih.Clayskinmenjadi ada tidaknya bukti illuviasi karena merupakan salah satu dasar dalam identifikasi horizon argilik atau bukan argilik. Hal ini dikarenakan horizon argilik merupakan horizon iluviasi liat yang digunakan sebagai horizon bawah penciri untuk mengklasifikasi dan interpretasi proses-proses yang dominan pada pembentukan tanah Alfisol. Sebagai tambahan, terjadinya selaput liat berkaitan dengan akumulasi liat dalam bentuk koloid atau selaput tipis liat.
Salah satu masalah dalam pemanfaatan Alfisol untuk usaha pertanian adalah kandungan hara P tersedia yang rendah. Lahan usaha tani yang sudah lama dimanfaatkan tanpa usaha pengawetan, dapat mengalami penurunan kesuburan kimiawi dan fisik tanah, sehingga produktivitasnya rendah. Alfisol memiliki kondisi geografis dan agroklimat yang mendorongnya untuk menjadi tanah marjinal. Tanah marjinal sangat beragam permasalahannya, dari terlalu basa (pH>7,5) hingga masam (pH<5), solum dangkal, bahan organik rendah, kahat hara makro (N, P, K, Mg, dan S) dan mikro (Fe dan Zn), daya simpan air rendah, dan drainase tanah buruk. Oleh karena itu untuk pengelolaan tanah marjinal perlu penanganan khusus sesuai dengan masalah yang terdapat di lapang. Lebih lanjut, tanah-tanah Alfisol yang telah mengalami erosi, kurang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman. Hal ini disebabkan horizonargilik akan terekspos ke luar menjadi lapisan atas, lapisan ini dapat menghambat pertumbuhan tanaman, terutama pertumbuhan akar.
Solusi dari permasalahan rendahnya unsur hara pada pemanfaatan Alfisol dapat dilakukan dengan pemupukan. Pemupukan dapat dilakukan dengan melakukan kombinasi antara takaran pupuk organik dengan pupuk anorganik. Kombinasi antara kedua pupuk ini  harus sesuai, sehingga dapat dicapai peningkatan pH tanah, kadar bahan organik dan ketersediaan berada pada titik optimum.

KESIMPULAN
Sifat fisik dan kimia tanah berbeda-beda. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan iklim, bahan induk, relief organisme, dan waktu. Hasil pengamatan menurut klasifikasi USDA, jenis tanah di Banguntapan adalah  Inceptisol dengan penggunaan lahan untuk kebun, jenis tanah di Patuk adalah Alfisol dengan penggunaan lahan untuk pertanian, jenis tanah di Hutan Bunder adalah Mollisol dengan penggunaan lahan untuk hutan, jenis tanah di Playen  adalah Vertisol dengan pengunaan lahan untuk tegalan, dan jenis tanah di desa Mulo adalah Alfisol dengan penggunaan lahan untuk hutan industri rakyat.

 PENGHARGAAN

            Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam proses penyelesaian laporan ini.
  1. Dosen-dosen pengampu mata kuliah dasar-dasar ilmu tanah.
  2. Orang tua penulis yang selalu menyayangi penulis dan senantiasa memberi dorongan moril dan spiritual.
  3. Nadia Ayu Pitaloka selaku asisten Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah yang telah membimbing sehingga laporan ini dapat terselesaikan dengan baik.
  4. Seluruh asisten Praktikum Dasar-Dasar Ilmu Tanah.
  5. Kakak-kakak yang bersedia memberi bantuan dan informasi yang belum penulis ketahui.
  6. Semua pihak yang telah membantu penulisan laporan ini dan tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

DAFTAR PUSTAKA
Bailey, H. 1984. Kuliah Ilmu Tanah. Badan Kerjasama Ilmu Tanah, Palembang.

Brown, R.B. 2007. Soil Introduction .<http://edis.ifas.ufl.edu/55169>. Diakses pada tanggal 16 Maret 2013.

Buckman, H.O dan N.C. Brady. 1969. The Nature and Properties of Soils. The Macmillan Company, New York.

Darmawijaya, M. Isa. 1997. Klasifikasi Tanah. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Hakim, N., M. Y. Nyakpa,  A. M. Lubis, S. G. Nugroho, M. A. Diha, G. B. Hong, dan H. H. Bailey. 1986. Dasar-dasar Ilmu Tanah. Universitas Lampung Press, Lampung.

Hanafiah, K. A. 2005. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Handayani, S. dan B. H. Sunarminto. 2002. Kajian struktur tanah lapis olah: I. pengaruh pembasahan dan pelarutan selektif terhadap agihan ukuran agregat dan dispersitas agregat. Agrosains 16:10-17.

Kohnke, H. 1986.  Soil Physics. Tata Mc Graw Hill Rubl Co.Ltd, New Delhi.

Komprat, E. J. 1970. Exchange Able Alumunium as Creation for Liming Leached Mineral Soils. Soilsci, soc. Amer Proc.

Madjid, Abdul. 2007. Bahan  Organik Tanah. <http://dasar2ilmutanah.blogspot.com/2007/11/bahan-organik-tanah.html>. Diakses pada tanggal 14 Maret 2013.

Marto A., K. Fauziah, dan Y. K. N. Mohd. 2002. Mineralogi, mikrostruktur dan komposisi kimia tanah baki granit semenanjung Malaysia. Jurnal Kejuruteraan Awam (Journal of Civil Engineering) 14.

Notohadiprawiro, T. 2000. Tanah dan Lingkungan. Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Peverill, K.I., L.A. Sparrow, dan D.J. Reuter. 2001. Soil Analysis: An Interpretation Manual. CSIRO, Australia.

Rodriquez-Iturbe, I and P.  Amikar. 2004. Ecohydrology of Water-controlled Ecosystem: Soil Moisture and Plant Dynamics. Cambridge University Press, London.

Scholes, M.C., Swift, O.W., Heal, P.A., Sanckez, JSI., Ingram and R. Dudal. 1994. Soil Fertility Reasearch in Response to Demant for Suitainability: In the Biological Management of Tropical Soil Fertility. (Eds Woomer, PI. And Swift, M. J.) John Wiley & Sons, New York.

Singer, M. J. 2006. Soils an Introduction. Pearson Education, Inc., United State of America.

Stevenson, F. T. 1982. Humus Chemistry. John Wiley & Sons, New York.

Tjokrodimuljo, K. 1992. Bahan Bangunan. Jurusan Teknik Sipil FT UGM, Yogyakarta.
  
LAMPIRAN
 
                      Klinometer                                         Pengamatan Lereng
         
                Vegetasi di Stop site 2                                      Vegetasi di Stop site 3 
                 
               Vegetasi di Stop site 4                                      Vegetasi di Stop site 5                                     
                          

0 komentar:

Poskan Komentar