music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Modernisasi Pertanian

07.34 |


Modernisasi Pertanian

Tugas Sosiologi Pertanian



Disusun Oleh
Arin Amini (13049)




Fakultas Pertanian
Univessitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2013
Modernisasi Pertanian

A.      Pengertian Modernisasi
            Modernisasi adalah suatu perubahan sosial yang bentuknya terarah yang didasarkan pada suatu perencanaan yang biasannya disebut social planning. Perubahan ini mencakup banyak bidang-bidang. Tergantung bidang mana yang lebih diutamakan oleh masyarakat.
            Modernisasi juga bisa diartikan sebagai perubahan masyarakat “tradisional” menuju masyarakat yang lebih “modern”. Terutama berkaitan dengan teknologi dan organisasi sosial. Teori modernisasi dibangun diatas asumsi dan konsep-konsep evolusi perubahan sosial merupakan gerakan yang searah (linier), progresif, dan berlangsung perlahan-lahan. Yang membawa masyarakat primitif menuju masyarakat yang lebih maju dari sebelumnya.

B.        Pengertian Pertanian
            Pertanian adalah perilaku manusia yang termasuk didalamnya adalah bercocok tanam, peternakan, perikanan, dan juga kehutanan. Sebagian besar masyarakat indonesia adalah petani. Sehingga sektor pertanian sangatlah kuat untuk dikembangkan di negara kita ini.
            Atau juga bisa disebut sebagai pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya.
            Semua usaha pertanian pada dasarnya adalah kegiatan ekonomi sehingga memerlukan dasar-dasar pengetahuan yang sama akan pengelolaan tempat usaha, pemilihan benih / bibit, metode budidaya, pengumpulan hasil, distribusi produk dan masih banyak lagi.

C.       Perkembangan Pertanian
Pada sebagian besar Negara Sedang Berkembang, teknologi baru di bidang pertanian dan inovasi-inovasi dalam kegiatan-kegiatan pertanian meruapakan prasyarat bagi upaya-upaya dalam peningkatan output dan produktivitas. Ada 3 tahap perkembangan modernisasi pertanian yakni, tahap pertama adalah pertanian tradisonal yang produktivitasnya rendah. Tahap kedua adalah tahap penganekaragaman produk pertanian sudah mulai terjadi dimana produk pertanian sudah ada yang dijual ke sektor komersial, tetapi pemakaian modal dan teknologi masih rendah. Tahap yang ketiga adalah tahap yang menggambarkan pertanian modern yang produktivitasnya sangat tinggi. Modernisasi pertanian dari tahap tradisional  menuju peranian modern membutuhkan banyak upaya lain selain pengaturan kembali struktur ekonomi pertanian atau penerapan teknologi pertanian yang baru. Berikut merupakan 3 tahapan tersebut:
1.       Pertanian Tradisional
Dalam pertanian tradisional, produksi pertanian dan konsumsi sama banyaknya dan hanya satu atau dua macam tanaman saja (biasanya jagung atau padi) yang merupakan sumber pokok bahan makanan. Produksi dan produktivitas rendah karena hanya menggunakan peralatan yang sangat sederhana (teknologi yang dipakai rendah). Penanaman atau penggunaan modal hanya sedikit sekali, sedangkan tanah dan tenaga kerja manusia merupakanfaktor produksi yang dominan.
Pada tahap ini hukum penurunan hasil (law of diminshing return) berlaku karena terlampau banyak tenaga kerja yang pindah bekerja di lahan pertanian yang sempit. Kegagalan panen karena hujan dan banjir, atau kurang suburnya tanah, tindakan pemerasan oleh para rentenir merupakan hal yang sangat ditakuti para petani.
Pertanian tradisional bersifat tak menentu. Keadaan ini bisa dibuktikan dengan kenyataan bahwa manusia seolah-olah hidup diatas tonggak. Pada daerah-daerah yang lahan pertanianya sangat sempit dan penanaman hanya tergantung pada curah hujan yang tak dapat dipastikan, produk rata-rata akan menjadi sangat rendah dan dalam keadaan tahun-tahun yang buruk, para petani dan keluarganya akan meghadapi bahaya kelaparan yang sangat mencekam.
Dengan melihat keadaan diatas, jelas bahwa dalam keadaan yang penuh resiko dan serta tidak ada kepastian seperti itu, para petani merasa enggan untuk pindah dari teknologi tradisional dan pola pertanian yang telah berpuluh tahun dipahaminya ke sistem baru yang akan menjamin hasil produksi yang lebih tinggi, tetapi masih ada kemungkinan mengalami kegagalan waktu panen (mempertahankan hidup) daripada usaha untuk memaksimalkan produk pertanianya.
2.       Tahap Pertanian Tradisional Menuju Pertanian Moderen
Mungkin merupakan suatu tindakan yang tidak realistik jika mentransformasikan secara cepat suatu sistem pertanian tradisional ke dalam sistem pertanian yang modern. Upaya untuk mengenalkan tanaman perdagangan dalam pertanian tradisional seringkali gagal dalam membantu petani untuk meningkatkan tingkat kehidupannya. Menggantungkan diri pada tanaman perdagangan bagi para petani kecil lebih mengundang resiko daripada pertanian tradisional murni karena risiko fluktuasi harga menambah keadaan menjadi lebih tidak menentu.
Oleh karena itu penganekaragaman pertanian( diversified farming) merupakan suatu langkah pertama yang cukup logis dalam masa transisi dari pertanian tradisional  ke pertanian moderen. Pada tahap ini, tanaman-tanaman pokok tidak lagi mendominasi produk pertanian, karena tanaman-tanaman perdagangan yang baru seperti; buah-buahan, kopi, teh dan lain-lain sudah mulai dijalankan bersama dengan usaha pertenakan yang sederhana.
Kegiatan-kegiatan baru tersebut meningkatkan produktivitas pertanian yang sebelumnya sering terjadi pengangguran tak kentara. Usaha-usaha ini terutama sekali sangat diperlukan di sebagian besar negara-negara Dunia Ketiga, dimana angkatan kerja di pedesaan berlimpah agar bisa dimanfaantkan lebih baik dan efisien. Sebagai contoh, andaikan tanaman pokok menggunakan tanah hanya sebagian waktu dalam setahun, maka tanaman-tanaman perdagangan bisa ditanam pada waktu-waktu yang senggang dan bukan hanya tanah yang menganggur tetapi juga memanfaatkan tenaga kerja yang ada dalam keluarga. Keberhasilan atau kegagalan usaha-usaha atau mentransformasikan pertanian tradisional tidak hanya tergantung pada ketrampilan dan kemampuan para petani dalam meningkatkan produktivitasnya, tetapi juga tergantung pada kondisi-kondisi sosial, komersial dan kelembagaan.
3.       Pertanian Modern
Pertanian modern atau dikenal juga dengan istilah pertanian spesialisasi menggambarkan tingkat pertanian yang paling maju. Keadaan demikian bisa kita lihat di negara-negara industri yang sudah maju. Pertanian spesialisasi ini berkembang sebagai respons terhadap dan sejalan dengan pembangunan yang menyeluruh di bidang-bidang lain dalam ekonomi nasional. Kenaikan standar hidup, kemajuan biologis dan teknologis serta perluasan pasar-pasar nasional dan internasional merupakan motor yang penting bagi pembangunan ekonomi nasional.
Dalam pertanian modern (spesialisasi), pengadaan pangan untuk kebutuhan sendiri dan jumlah surplus yang bisa dijual, bukan lagi tujuan pokok. Keuntungan komersial murni merupakan ukuran keberhasilan dan hasil maksimum perhektar dari hasil upaya manusia (irigasi, pupuk, pestisda, bibit unggul dan lain-lain) dan sumber daya alam merupakan tujuan kegiatan pertanian. Dengan kata lain seluruh produksi diarahkan untuk keperluan pasar. Konsep-konsep teori ekonomi seperti biaya tetap dan biaya variabel, tabungan, investasi dan jumlah keuntungan, kombinasi faktor-fakor yang optimal, kemungkinan-kemungkinan produksi yang optimum, harga-harga pasar, semuanya itu merupakan hal-hal yang sangat penting baik secara kuantitatif maupun kualitatif.
Pertanian modern (spesialisasi) berbeda-beda dalam ukuran dan fungsinya. Mulai dari jenis pertanian buah-buahan dan sayur-sayuran yang ditanam secara intensif, sampai kepada pertanian gandum dan jagung yang sangat besar seperti di Amerika Utara. Hampir semuanya menggunakan peralatan mekanis yang sangat hemat tenaga kerja, mulai dari jenis traktor yang paling besar dan mesin-mesin panen yang moderen. Keadaan atau gambaran umum dari semua pertanian moderen adalah titik beratnya pada salah satu jenis tanaman tertentu, menggunakan intensifikasi modal dan pada umumnya berproduksi dengan teknologi yang hemat tenaga kerja memperhatikan skala ekonomis (economic of scale) yaitu denga cara meminumkan biaya untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Untuk mencapai semua tujuan, pertanian moderen praktis tidak berbeda dalam konsep atau operasinya denga perusahaan industri yang besar. Sistem pertanian moderen yang demikian itu sekarang dikenal dengan agri-bisnis.
Kita telah mengetahui bahwa dalam hampir bagi semua masyarakat tradisional, pertanian bukanlah hanya sekedar kegiatan ekonomi saja, tetapi sudah merupakan bagian dari cara hidup mereka. Setiap pemerintah yang berusaha menstranformasi pertanian tradisional haruslah menyadari bahwa pemahaman akan perubahan-perubahan yang mempengaruhi seluruh sosial, politik dan kelembagaan masyarakat pedesaan adalah penting. Tanpa adanya perubahan-perubahan seperti itu, modernisasi pertanian tidak akan pernah bisa berhasil seperti yang diharapkan.

Nilai dan Norma

Agriculture Sustainable (Pertanian Berkelanjutan)
Konsep pertanian yang berkelanjutan terus berkembang, diperkaya dan dipertajam dengan kajian pemikiran, model, metode, dan teori berbagai disiplin ilmu sehingga menjadi suatu kajian ilmu terapan yang diabadikan bagi kemaslahatan umat manusia untuk generasi sekarang dan mendatang. Pertanian berkelanjutan dengan pendekatan sistem dan besifat holistik mempertautkan berbagai aspek dan disiplin ilmu yang sudah mapan antara lain agronomi, ekologi, ekonomi, sosial, dan budaya.
Sistem pertanian berkelanjutan juga beisi suatu ajakan moral untuk berbuat kebajikkan pada lingkungan sumber daya alam dengan memepertimbangkan tiga aspek sebagai berikut:
1.    Kesadaran Lingkungan (Ecologically Sound), sistem budidaya pertanian tidak boleh mnyimpang dari sistem ekologis yang ada. Keseimbangan adalah indikator adanya harmonisasi dari sistem ekologis yang mekanismena dikendalikan oleh hukum alam.
2.    Bernilai ekonomis (Economic Valueable), sistem budidaya pertanian harus mengacu pada pertimbangan untung rugi, baik bagi diri sendiri dan orang lain, untuk jangka pandek dan jangka panjang, serta bagi organisme dalam sistem ekologi maupun diluar sistem ekologi.
3.     Berwatak sosial atau kemasyarakatan (Socially Just), sistem pertanian harus selaras dengan norma-noma sosial dan budaya yang dianut dan di junjung tinggi oleh masyarakat disekitarnya sebagai contoh seorang petani akan mengusahakan peternakan ayam diperkaangan milik sendiri. Mungkin secra ekonomis dan ekologis menjanjikkan keuntungan yang layak, namun ditinjau dari aspek sosial dapat memberikan aspek yang kurang baik misalnya, pencemaran udara karena bau kotoran ayam.
Norma-norma sosial dan budaya harus diperhatikan, apalagi dalam sistem pertanian berkelanjutan di Indonesia biasanya jarak antara perumahan penduduk dengan areal pertanian sangat berdekatan. Didukung dengan tingginya nilai sosial pertimbangan utama sebelum merencanakan suatu usaha pertanian dalam arti luas. Lima kriteria untuk mengelola suatu sistem pertanian berkelanjutan, meliputi:
a.       Kelayakan ekonomis (economic viability)
b.      Bernuansa dan bersahabat dengan ekologi(accologically sound and friendly)
c.       Diterima secara sosial (Social just)
d.      Kepantasan secara budaya (Culturally approiate)
e.       Pendekatan sistem holistik (sistem and hollisticc approach)
Di dalamnya mencakup adat-istiadat, nilai sosial, dan norma sosial. Adat-istiadat secara harfiah diartikan praktik-praktik yang berdasarkan kebiasaan, baik perorangan maupun kelompok. Nilai sosial adalah nilai yang dianut oleh suatu masyarakat, mengenai apa yang dianggap baik dan apa yang dianggap buruk oleh masyarakat.
Sedangkan norma sosial adalah patokan perilaku dalam suatu kelompok masyarakat tertentu .
Nilai terbentuk dari apa yang benar, pantas dan luhur untuk dikerjakan dan diperhatikan. Nilai bukan keinginan, melainkan apa yang diinginkan sehingga bersifat subjektif. Nilai juga bersifat relatif, artinya apa yang menurut kita      benar belum tentu benar bagi orang lain.  penentuan suatu  nilai  tergantung pada ukuran dan   pandangan orang banyak. Nilai sosial adalah penghargaan yang diberikan masyarakat kepada segala sesuatu yang baik, benar, penting, luhur, pantas dan mempunyai dayaguna fungsional bagi perkembangan dan kebaikan hidup bersama

TOLOK UKUR / ACUAN NILAI SOSIAL
Setiap masyarakat mempunyai nilai yang berbeda-beda. Hal ini disebabkan setiap masyarakat mempunyai tolok ukur nilai yang berbeda-beda pula. Selain itu, perbedaan cara pandang masyarakat terhadap nilai mendorong munculnya perbedaan nilai. Misalnya, suatu masyarakat menjunjung tinggi anggapan tentang waktu adalah uang dan kerja keras. Sedang di masyarakat lain menganggap kedua hal tersebut tidak penting atau dianggap sebagai gejala materialisme. Contoh lain adalah kebiasaan dan perilaku seorangmenjaga kebersihan tubuhnya dengan mandi setiap hari.
Tindakan mereka didasarkan pada nilai kebersihan dan nilai kesehatan. Masyarakat menganggap bahwa kebersihan itu baik. Berbeda dengan masyarakat yang tinggal di daerah miskin air. Mandi bukanlah hal yang harus dilakukan. Menurut mereka menjaga kebersihan tidak harus dengan mandi.
Dari dua peristiwa di atas, terlihat adanya perbedaan nilai antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya, inilah yang disebut dengan Nilai Bersifat RELATIF. Selain itu, tatanan nilai dalam suatu masyarakat dapat mengalami pergeseran atau perubahan.
Contoh, dalam keluarga tradisional beranggapan bahwa seorang istri adalah konco wingking suami. Dalam keluarga tradisional, tugas seorang perempuan hanya mengurus keluarga dan melayani suami. Kebebasan perempuan untuk mengembangkan potensi serta berkarier menjadi terbatas. Namun, seiring dengan perkembangan zaman serta meningkatnya kebutuhan hidup, keberadaan perempuan mulai diakui. Saat ini peran perempuan tidak terbatas pada ibu rumah tangga. Namun, pekerjaan yang biasa dilakukan oleh laki-laki tidak jarang pula dilakukan oleh kaum hawa ini. Lantas, apa yang menjadi tolok ukur suatu nilai dalam masyarakat? Suatu nilai dapat tetap dipertahankan apabila nilai tersebut mempunyai daya guna fungsional, artinya mempunyai kebermanfaatan bagi kehidupan masyarakat itu sendiri, seperti pada contoh di atas. Dengan kata lain, tolok ukur nilai sosial ditentukan dari kegunaan nilai tersebut. Jika berguna dipertahankan, jika tidak akan terbuang seiring dengan berjalannya waktu.
Jadi tolok ukur atau acuan nilai sosial  Adalah dari dayaguna, penghargaan, penerimaan, dan pengakuan yang diberikan oleh sebagian besar atu seluruh anggota masyarakat terhadap suatu nilai.
 JENIS-JENIS NILAI SOSIAL
Menurut Notonagoro secara garis besar nilai dibagi menjadi tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
a.       Nilai Material : adalah segala benda yang memiliki fungsi dan kegunaan bagi masyarakat
b.      Nilai Vital : adalah segala sesuatu yang berguna bagi rohani manusia untuk dapat hidup dan beraktifitas
c.       Nilai Spiritual : adalah segala sesuatu yang berguna bagi rohani/jiwa manusia. Nilai ini dibedakan menjadi:
1.      Nilai kebenaran bersumber dari akal dan rasio manusia
2.      Nilai Keindahan bersumber dari perasaan manusia
3.      Nilai Moral, bersumber dari kehendak  manusia
4.      Nilai Religius, bersumber dari ajaran tuhan dan merupakan nilai tertinggi yang bersifat mutlak
CIRI-CIRI NILAI SOSIAL
a.       Sebagai hasil interaksi antar warga masyarakat
b.      Dapat ditularkan
c.       Terbentuk melalui proses belajar
d.      Berbeda dan bervariasi antara kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain
e.       Dapat mempunyai pengaruh yang berbeda terhadap setiap orang baik positif maupun negatif
f.       Merupakan asumsi/anggapan dariberbagai obyek di dalam masyarakat
Ciri-Ciri Dan Fungsi Nilai Sosial
1.      Ciri-Ciri Nilai Sosial
a.       Nilai sosial merupakan konstruksi abstrak dalam pikiran orang yang tercipta melalui interaksi sosial,
b.      Nilai sosial bukan bawaan lahir, melainkan dipelajari melalui proses sosialisasi, dijadikan milik diri melalui internalisasi dan akan mempengaruhi tindakan-tindakan penganutnya dalam kehidupan sehari-hari disadari atau tanpa disadari lagi (enkulturasi),
c.       Nilai sosial memberikan kepuasan kepada penganutnya,
d.      Nilai sosial bersifat relative,
e.       Nilai sosial berkaitan satu dengan yang lain membentuk sistem nilai,
f.       Sistem nilai bervariasi antara satu kebudayaan dengan yang lain,
g.      Setiap nilai memiliki efek yang berbeda terhadap perorangan atau kelompok,
h.      Nilai sosial melibatkan unsur emosi dan kejiwaan, dan
i.        Nilai sosial mempengaruhi perkembangan pribadi.
2.      Fungsi nilai sosial.
Nilai Sosial dapat berfungsi:
a.       Sebagai faktor pendorong, berkaitan dengan nilai-nilai yang berhubungan dengan cita-cita atau harapan.
b.      Sebagai petunjuk arah dari cara berpikir, berperasan, dan bertindak; sarana untuk menimbang penilaian masarakat; penentu dalam memenuhi peran sosial; dan pengumpulan orang dalam suatu kelompok sosial.
c.       Sebagai alat pengawas dengan daya tekan  dan pengikat tertentu. Nilai sosial mendorong, menuntun, dan kadang-kadang menekan para individu untuk berbuat dan bertindak sesuai dengan nilai yang bersangkutan. Nilai sosial menimbulkan perasaan bersalah dan meyiksa bagi pelanggarnya.
d.      Sebagai alat solidaritas kelompok atau masarakat.
e.       Sebagai benteng perlindungan atau penjaga stabilitas budaya kelompok atau masarakat.


 Daftar Pustaka

Alfin, A,. 2010. Nilai dan Norma. http://alfinsosiologi.wordpress.com/2011/12/10/nilai-dan-norma-sosial/ . Diakses Tanggal 28 April 2013

Anonim. 2011. Modernisasi Pertanian. http://marutosuka.blogspot.com/2011/05/modernisasi-pertanian.html. Diakses Tanggal 28 April 2013

Anonim. 2013. Sosiologi Adalah. http://umiarsih.wordpress.com/tag/sosiologi-adalah/ . Diakses Tanggal 28 April 2013

Anonim. 2012. Materi Sosiologi (Nilai dan Norma Sosial). http://pendidikankritis1.blogspot.com/2012/09/materi-sosiologi-nilai-dan-norma-sosial.html . Diakses Tanggal 28 April 2013



0 komentar:

Poskan Komentar