music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Norma dan Kerjasama dalam pertanian serta Wilayah Unit Desa

07.31 |


Norma dan Kerjasama dalam pertanian serta Wilayah Unit Desa

Tugas Sosiologi Pertanian


Disusun Oleh
Arin Amini (13049)


Fakultas Pertanian
Univessitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2013

1.        Pengertian Nilai dan Norma Sosial
Nilai merupakan kumpulan sikap perasaan ataupun anggapan terhadap sesuatu hal mengenai baik, buruk, benar, salah, patut-tidak patutu, mulia-hina, penting-tidak penting. Menurut C.Kluckhohn semua nilai kebudayaan alam pada dasarnya ada lima:
a) nilai hakikat hidup manusia
b) nilai mengenai hakikat karya manusia
c) nilai hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang dan waktu
d) nilai dari hubungan manusia dengan alam sekitar
e) nilai dari hubungan manusia dengan sesamanya
Bila sikap dan perasaan tentang nilai sosial itu diikat bersama,maka disebut nilai sosial. Ini melahirkan adanya nilai individual dan definisi yang dikemukakan oleh para ahli misalnya:
a)   Kimbali Young .
Nilai sosial adalah asumsi abstrak dan sering tidak disadari tentang apa yang benar dan apa yang penting
b)   A.W.Green.
Nilai sosial adalah kesadaran yang secara relatif  berlangsung disertai emosi terhadap objek.
c)    Woods.
Nilai sosial merupakan petunjuk umum yang telah berlangsung lama yang mengarahkan tingkah laku dan kepuasan dalam kehidupan.
d)   Robert M.Z. Lawang
Nilai sosial adalah gambaran mengenai apa yang diinginkan, pantas, berharga yang mempengaruhi perilaku sosial.
Norma Sosial
Norma merupakan ukuran yang digunakan oleh masyarakat untuk mengukur apakah tindakan yang dilakukan merupakan tindakan yang wajar dan dapat diterima atau tindakan yang menyimpang. Norma dibangun atas nilai sosial dan norma sosial diciptakan untuk mempertahankan nilai sosial.
Fungsi Norma Sosial
a) Sebagai pedoman atau patokan perilaku pada masyarakat
b) Merupakan wujud konkret dari nilai yang ada di masyarakat
c) Suatu standar atau skala dari berbagai kategori tingkah laku masyarakat

2.        Perbedaan Nilai dan Norma Sosial
·      Nilai bersifat abstrak, tidak bisa dilihat, tidak bisa didokumentasikan sedangkan Norma bersifat konkrit
·      Nilai ada sebelum norma
·      Nilai tidak dilengkapi sanksi, sedangkan norma memiliki sanksi
·      Nilai tidak tertulis
·      Nilai adalah pola kelakuan, sedangkan norma adalah terjadinya perilaku sebagai tindak nyata
·      Nilai sebagai dasar dan tujuan, sedangkan norma sebagai media bertingkah laku menuju kepada nilai.

3.        Jenis Nilai dan Norma Sosial pada Masyarakat Petani
Jenis nilai dan norma sosial pada masyarakat petani tidak berbeda dengan nilai dan norma sosial pada masyarakat secara umum. Hanya saja, karena masyarakat petani pada umumnya merupakan masyarakat pedesaan, nilai dan norma sosial lebih kuat dirasakan pada masyarakat ini. Hal ini dikarenakan, masyarakat petani masih cenderung memegang teguh budaya (adat istiadat) mereka. Pola kehidupan masyarakat petani baik menyangkut aspek statis atau struktural masyarakat maupun aspek-aspek dinamis atau fungsional, selalu diinspirasi oleh sistem norma dan nilai sosial yang berlaku sudah disepakati bersama.

4.        Peranan Nilai dan Norma Sosial bagi Masyarakat Petani
Beberapa peranan Nilai dan Norma Sosial yang perlu diketahui diantaranya adalah :
a.      Sebagai sumber inspirasi dan motivasi bagi masyarakat dalam melakukan hal-hal yang dianggap baik.
b.    Sebagai patokan untuk mengidentifikasi individu dengan kelompok, golongan atau masyarakatnya.
c.    Sebagai pengikat solidaritas diantara warga masyarakat.
d.   Sebagi pedoman dan pengendali aktivitas warga masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.
e.    Sebagai kekuatan pokok untuk menjaga keutuhan dan kelangsungan hidup masyarakat.

5.   Daftar Nilai dan Norma Sosial Masyarakat Petani

Nilai Sosial
Norma Sosial
1.      Nilai Demokrasi
2.      Nilai Cooperatif
3.      Nilai Tradisionalisme
4.      Nilai Aktivitas Kerja
1.      Norma agama
2.      Norma kesusilaan
3.      Norma kesopanan
4.      Norma kebiasaan

6.        Kerjasama merupakan Hal yang Positif
Kerjasama adalah pekerjaan yang biasanya dikerjakan oleh individu tapi dikerjakan secara bersamaan oleh dua orang atau lebih dengan tujuan agar pekerjaan tersebut menjadi lebih ringan. Wujud dari kerjasama bisa merupakan kerja kelompok ataupun kerja yang mencakup skala luas misalnya kerjasama antar organisasi atau kerjasama antar negara (kerjasama internasional). Dengan menerapkan konsep kerjasama maka kita akan mendapatkan kemudahan dalam menyelesaikan pekerjaan yang berat atau membutuhkan kekuatan kelompok.
Kerja sama dapat sejumlah ranah bisnis, pertanian, dan perusahaan dapat diwujudkan dalam bentuk koperasi. Kerja sama umumnya mencakup paradigma yang berlawanan dengan kompetisi. Banyak orang yang mendukung kerja sama sebagai bentuk yang ideal untuk pengelolaan urusan perorangan. Walau begitu, beberapa bentuk kerja sama bersifat ilegal karena mengubah sifat akses orang lain pada sumber daya ekonomi atau lainnya. Sehingga, kerja sama dalam bentuk kartel bersifat ilegal, dan penetapan harga biasanya ilegal.
Suatu tim dalam suatu kelompok atau organisasi adalah kesatuan kelompok orang yang saling bersemangat menuju suatu tujuan yang disepakati bersama. Kerjasama merupakan sarana dan menjadi tanda dari kualitas kedinamisan kelompok sebagai suatu wadah perkumpulan orang. Semakin baik kerjasama anggota kelompok akan menunjukkan pula semakin dinamisnya kelompok tersebut dalam mencapai tujuan bersama. Tingkat kualitas kerjasama kelompok dipengaruhi oleh hal-hal berikut.
1. rasa saling percaya,
2. keterbukaan,
3. realisasi diri, dan
4. saling ketergantungan.
Sesungguhnya kerjasama merupakan inti dari segala pencapaian besar, dan seorang pemimpin tidak mungkin mengerjakan apapun yang benar-benar dikerjakan sendirian. Dalam hukum nilai dijelaskan bahwa:
·      Tim melibatkan lebih banyak orang, sehingga mempunyai sumber daya lebih banyak, ide lebih banyak, enerji lebih banyak, daripada jika hanya seorang diri.
·      Tim memaksimalkan potensi dan meminimalkan kelemahan seorang pemimpin.
·      Tim memberikan perspektif ganda tentang bagaimana caranya memenuhi suatu kebutuhan atau mencapai sasaran, sehingga menciptakan beberapa alternatif untuk masing-masing individu.
·      Tim berbagi kehormatan atas kemenangan yang diraih dan berbagai kekecewaan atas kekalahan yang diderita.
·      Tim menjadi pemimpinnya bertanggung jawab atas sasarannya.
·      Tim bisa lebih banyak mengerjakan daripada secara individu.
Contoh-contoh kerjasama yang dilakukan oleh para petani
a.       Kerjasama pembasmian tikus atau yang dikenal dengan istilah  gropyok tikus dilakukan oleh PT. SHS dengan petani karena banyak terdapat tikus  di wilayah lahan PT. SHS.  Gropyok tikus dilakukan dua kali dalam  seminggu, yaitu pada hari rabu dan sabtu. Setiap petani wajib mengikuti kegitan  gropyok tikus. Namun beberapa  petani menyatakan jarang mengikuti  gropyok tikus, terutama petani yang lahannya tidak diserang tikus sehingga pelaksanaan poin kerjasama ini kurang sesuai dengan
kesepakatan kerjasama. 
b.      sejak 30 tahun lalu kerjasama antara petani Jepang dan Indonesia terjadi. Adalah Japan Agriculture Exchange Council (JAEC) sebagai fasilitator antara keduanya. Konsep yang digunakan adalah “farmer educate farmer.”Program yang ditawarkan oleh JAEC di Indonesia adalah mirip dengan yang telah dilakukan di Filipina, yaitu “Safe Vegetable Production dan Marketing Project with Soil dan Resource Conservation.” Namun, perbedaan program pada tahun 2013 ini dengan tahun sebelumnya adalah, Petani yang terlatih di Jepang, dihadirkan ke Indonesia dan tinggal bersama petani di Indonesia, selama satu tahun.
c.       Negosiasi antara petani dan pemilik tanah telah menghasilkan tiga macam bentuk kerjasama petani, yang dikenal sebagai Tipe I Mawah Sistem, Tipe II Mawah Sistem, dan Sistem kontrak.
d.      Kerjasama pengusaha petani kembangkan desa budaya kertalangu Denpasar. Pengembangan desa budaya itu sekaligus untuk meningkatkan kualitas produksi pertanian, menjaga sawah dan lebih memberdayakan masyarakat sekitarnya. Keterpaduan pengusaha dan petani telah mampu mengembangkan Desa Budaya Kertanlangu, Denpasar Timur, dengan memanfaatkan lahan seluas 70 hektar yang mulai banyak diminati wisatawan asing maupun domestik.

7.        Wilayah Unit Desa
BUUD yang semula hanya dilibatkan dalam program Bimbingan Massal (Bimas sektor pertanian pangan), kemudian ditingkatkan menjadi Koperasi Unit Desa (KUD) dengan tugas serta peranan yang terus dikembangkan. Instruksi Presiden (Inpres) No.4, Tahun 1973, Tentang Unit Desa dikeluarkan 5 Mei 1973, menjadi tonggak yuridis keberadaan KUD. Kebijakan tersebut dilanjutkan dengan Instruksi Presiden No. 4, Tahun 1973, yang membentuk Wilayah Unit Desa (Wilud), pada akhirnya menjadi Koperasi Unit Desa (KUD). Maka dari sinilah lahir Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL), yang berada di bawah Departemen Pertanian. Pada masa periode itu “quarto” Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi (Prof. DR.Subroto), Menteri Perdagangan (Drs. Radius Prawiro) dan Menteri Pertanian (Prof. Ir. Thayib) dan Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (Ir. Sutami), berupaya menjabarkan instruksi Presiden tersebut.
Dan dalam rangka Bimas yang disempurnakan maka wilayah unit desa merupakan suatu daerah administrasi, yang meliputi 600-1000 ha areal tanaman padi yang dapat diintenifkan pengusahaannya secara bimas. Dengan penentuan areal tersebut, maka lembaga-lembaga ekonomi yang bergerak dalam wilayah unit desa diharapkan dapat memperoleh volume pekerjaan yang cukup besar dengan pendapatan yang minimal dapat dipergunakan untuk menutup biaya yang harus dikeluarkan.
Dilain pihak dengan penentuan areal itu diharapkan petani yang dalam wilayah tersebut masih tetap dapat dengan mudah memanfaatkan jasa-jasa yang disediakan baginya. Dalam setiap wilayah unit desa, maka keempat kegiatan tersebut diatas dilaksanakan oeh beberapa unit-kerja, yang terdiri dari:
a.       Penyuluhan pertanian unit desa, yang biasanya dinamakan penyuluh pertanian lapangan (PPL) yang ditugaskan untuk melaksanakan kegiatan percobaan dan penyuluhan. Dia dapat mempergunakan segala media penyuluhan yang ada dalam wilayah unit desa, baik yang bersifa swasta maupun pemerintah. Dia merupakan penggerak utama, yang harus berusaha supaya penyuluh dalam wilayah unit desa dapat berjalan lancar, kontinu dan ke arah yang dikehendaki. PPL merupakan petugas Dinas Pertanian yang paling dekat dengan petani
b.      Unit Desa BRI, yang terdiri dari beberapa orang petugas BRI, yang harus melayani kebutuhan petani akan kredit secara individual dengan prosedur yang cukup sederhana, tetapi cukup aman. Petugas-petugas ini pula yang pertama-tama harus berusaha mengurus pengembalian kredit yang telah dikeluarkan. Karena perkreditan itu menyangkut keuangan yang tidak sedikit, maka pengkreditan secara khusus diserahkan kepada BRI supaya menaganinya secara langsung.
c.       Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi Unit Desa adalah suatu Koperasi serba Pratama Afiliasi Yang beranggotakan Penduduk desa Dan berlokasi didaerah pedesaan, daerah adalah kerjanya biasanya mencangkup Satu wilâyah kecamatan. Pembentukan KUD inisial merupakan penyatuan Bahasa Dari beberapa Koperasi Pertanian Yang Kecil Dan BANYAK jumlahnya dipedesaan. Selain ITU KUD memang secara Resmi didorong perkembangannya Oleh pemerintah.
KUD (Koperasi Unit Desa) berawal Bahasa Dari Koperta (Koperasi Pertanian) Dan BUUD (Badan Usaha Unit Desa). FUNDS years 1963, pemerintah memprakarsai pembentukan Koperta di Kalangan Petani, Yang Produk utamanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan Bahan Pokok MAKANAN, terutama padi. Mengikuti PERATURAN Pemerintah FUNDS waktu ITU, terdapat Empat tingkat Koperta, yaitu: Koperta di tingkat pedesaan, Puskoperta di tingkat kabupaten, tingkat provinsi di Gakoperta, Dan Inkoperta di tingkat pendidikan nasional.
FUNDS years 1966-1967 dikembangan BUUD (Badan Usaha Unit Desa) sebagai Tindak ACLS Bahasa Dari Koperta. BUUD merupakan penggabungan ANTARA Koperasi Pertanian Dan Koperasi Desa Yang ADA Dalam, Satu Unit desa, Yang disebut wilâyah agro-Ekonomis Artikel Baru Luas 600 sampai 1.000 hektar sawah.
Tugas Utama BUUD adalah untuk membantu para Petani PRODUSEN Dalam, mengatasi masalah proses imunisasi meliputi Produksi (termasuk fasilitas kredit Dan ketentuan * Bagi HASIL), penyediaan Sarana Produksi, Serta pengolahan Dan pemasaran REVENUES Produksi. Dalam, Rangka Tugas INILAH, BUUD melakukan pembelian gabah, menggiling Dan menyetor beras Ke Dolog, Serta menjadi penyalur pupuk. Kemudian, konsep pengembangan koperasi di pedesaan inisial disatukan menjadi BUUD / KUD.
Kemudian, lahirlah KUD Yang secara bertahap menggantikan Peran BUUD. Dalam, years-years PERTAMA perkembangan KUD sangatlah PESAT. Kehadiran KUD JUGA tidak terlepas Bahasa Dari Pengembangan strategi pemerintah, khususnya Dalam, Rangka pengadaan Pangan. Sejak Mutasi perkembangan KUD, pemerintah menetapkan Pengembangan strategi Tiga tahap Pembinaan KUD, yaitu: ofisialisasi (ketergantungan kepada pemerintah Masih Ulasan Sangat Besar), deofisialisasi / debirokratisasi (ketergantungan kepada pemerintah secara bertahap Dikurangi), Dan otonomi (Kemandirian).

Unit desa penyalur sarana produksi dan unit desa pengolah dan pemasaran hasil di tingkat wilayah unit desa pada prinsipnya ditugaskan kepada semua badan dan perorangan yang dianggap mempunyai pengalaman, keterampilan dan minat untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut. Jadi kedua kegiatan tersebut bisa dijalankan oleh swasta. Dengan kebijakan itu dimaksudkan agar dapat ditumbuhkan kompetensi yang sehat diantara para pengusaha, sehingga penyediaan sarana produksi dan pelayanan kepada petani dalam bidang pengolahan dan pemasaran hasil dapat ditingkatakn dan dengan demikian diharapkan akan dapat menambah kegairahan berproduksi dari para petani.


  
Daftar Pustaka
Induk KUD Nasional Fereration of Rural Co-operative. Sejarah. http://induk-kud.com/sejarah/. Diakses Tanggal 22 April 2013

Abdul Rohman. 2013. Reformasi: KUD Terbengkalai, Harga Pupuk Membumbung Tinggi.  http://soeharto.co/tag/kud/ . Diakses Tanggal 22 April 2013

Edy marsyuri. 2011. Identifikasi Sistem Kerjasama Petani Penggarap dan Pemilik Tanah dalam Kaitannya dengan Pemerataan Pendapatan Petani Padi Sawah Beririgasi (Suatu Studi terhadap Kelembagaan Petani pada Wilayah Jaringan Sekunder Irigasi Dayah Daboh & Lamcot Kab Aceh Besar). Vol 12, No 1 (2011) 

1 komentar:

Poskan Komentar