music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Peran Wirausahawan dalam Mengentaskan Kemiskinan di Indonesia

10.23 |


Peran Wirausahawan dalam Mengentaskan Kemiskinan di Indonesia

Indonesia termasuk negara berkembang, negara berkembang belum mempunyai kondisi ekonomi dan sosial yang makmur, kebanyakan penduduknya miskin, pemikiran-pemikiran modern belum menyusup sampai ke desa-desa, dan kemajuan teknologi masih sangat jarang mampir sampai ke desa-desa, serta banyaknya pengangguran. Permasalahan bangsa Indonesia itu antara lain kemiskinan, semakin bertambahnya pengangguran, rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat, mahalnya harga pangan, mahalnya biaya pendidikan dan kesehatan untuk masyarakat, dan berbagai permasalahan lainnya. Untuk menjawab berbagai permasalahan bangsa tersebut sangat dibutuhkan peran wirausaha (entrepreneur) yaitu sumber daya manusia yang memiliki kemampuan yang kreatif, inovatif, dinamis, dan proaktif terhadap tantangan yang ada. Setiap individu harus berusaha untuk menjadi produktif, memiliki kemandirian yang tinggi, mampu melihat peluang dan tantangan yang ada, mampu memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan, mampu memahami dan mengimplementasikan manajemen bisnis, serta berguna dan memberikan manfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain, organisasi, masyarakat, dan bangsa. Wirausaha usaha memiliki peran yang besar dalam perekonomian nasional seperti :
·         Menciptakan lapangan kerja
·         Mengurangi pengangguran
·         Meningkatkan pendapatan masyarakat
·         Mengkombinasikan faktor – faktor produksi (alam, tenaga kerja, modal dan keahlian)
·         Meningkatkan produktivitas
Selain itu Kewirausahaan juga memiliki peranan penting untuk menjadikan masyarakat lebih kreatif dan mandiri. Di Indonesia sendiri jumlah wirausahawan adalah sebesar 19,3% dari jumlah total penduduk dewasa. Dengan adanya kewirausahaan masyarakat dapat mempunyai kemampuan untuk  menciptakan dan menyediakan produk yang bernilai tambah atau inovasi-inovasi yang baru sehingga dapat menjadikan masyarakat lebih kreatif dalam menyampaikan ide-ide dan kreasinya, mereka bisa menciptakan barang yang dirasa perlu dan penting untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri sehingga tidak perlu menimpor dari luar negeri. Selain itu masyarakat tidak tergantung dengan pemerintah seperti tenaga kerja negri (PNS) yang masih di gaji oleh pemerintah, bahkan seorang wirausaha akan mendatangkan omset yang akan di berikan ke negara melalui pajak. Secara tidak langsung kesejahteraan ekonomi masyarakat bisa stabil.
Alasan ketiga mengapa wirausaha berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia adalah  menarik invesrtor asing untuk berinverstasi atau menanamkan modalnya di Indonesia. Satu kekurangan dari negara maju seperti contohnya negara Amerika yang berinvestasi di Indonesia. Dengan adanya investor asing seperti itu maka akan dapat menambah devisa negara. Selain itu wirausaha dapat mendorong meningkatnya sector pariwisata di Indonesia.
Contohnya:  Seorang wirausaha tidak harus dimulai dari yang besar tapi dimulai dari yang kecil-kecilan seperti menjual dagangan dalam skala kecil. Ataupun membuka usaha pembangunan hotel di dekat pantai Lovina, Daerah Buleleng, Bali. Dengan adanya hotel di depan pantai Lovina maka akan mengundang para turis asing untuk mengunjungi pantai Lovina selain karena devisa negara akan bertambah, si wirausahawan akan membayar pajak dari jumlah pendapatan yang dia peroleh dari usahanya membangun hotel.

1.        Pengertian Wirausahawan
Wirausaha atau entrepreneur adalah seorang yang bertanggung jawab atas sebuah bisnis dengan memikul risiko untung atau rugi. Entrepreneur dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, yaitu business entrepreneur (wirausaha bisnis) dan social entrepreneur (wirausaha sosial). Perbedaan pokok keduanya terletak pada pemanfaatan keuntungan. Bagi business entrepreneur keuntungan yang diperoleh akan dimanfaatkan untuk ekspansi usaha, sedangkan bagi sosial entrepreneur keuntungan yang didapat (sebagian atau seluruhnya) diinvestasikan kembali untuk pemberdayaan masyarakat.  Social entrepreneur adalah orang yang mengerti permasalahan sosial dan menggunakan kemampuan entrepreneurshipnya untuk melakukan perubahan sosial (sosial change), terutama meliputi bidang kesejahteraan (welfare), pendidikan dan kesejahteraan (healthcare). Jika business entrepreneurs mengukur keberhasilan dari kinerja keuangannya (keuntungan ataupun pendapatan), maka keberhasilan social entrepreneurs diukur dari manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
Kewirausahaan (entrepreneurship) memiliki peranan yang sangat penting bagi masyarakat Indonesia. Kewirausahaan dapat menjadi salah satu solusi dalam mengurangi tingkat pengangguran dan pengentasan kemiskinan. Kewirausahaan memiliki peran untuk menambah daya tampung tenaga kerja, generator pembangunan, contoh bagi masyarakat lain, membantu orang lain, memberdayakan karyawan, hidup efisien, dan menjaga keserasian lingkungan. Jiwa kewirausahaan akan mendorong seseorang memanfaatkan peluang yang ada menjadi sesuatu yang menguntungkan. Pendorong utama meningkatnya kebutuhan akan   entrepreneurship adalah munculnya ragam kesempatan berusaha dalam produksi, distribusi, dan  pemasaran barang dan jasa

2.        Permasalahan Bangsa Indonesia
Permasalahan mendasar bangsa Indonesia antara lain :
a.       Kemiskinan
b.      Pengangguran
c.       Besarnya hutang luar negeri
d.      Kelaparan dan krisis pangan
e.       Mahalnya harga pangan
f.       Buruknya sistem pendidikan dan pelayanan kesehatan untuk masyarakat

Kewirausahaan sosial adalah solusi yang paling tepat dalam menyelesaikan permasalahan bangsa. Kewirausahaan sosial merupakan gerakan ekonomi untuk memenuhi kebutuhan sosial, misalnya mengurangi kemiskinan, menyediakan makanan bergizi bagi kaum miskin, asuransi kesehatan dan pendidikan. Gerakan ekonomi dalam konteks ini digerakkan olehcause-driven, bukan profit-driven. Artinya, tujuan yang hendak dicapai dari aktivitas ekonomi tadi adalah implikasinya terhadap kelompok sasaran, jika masyarakat miskin menjadi kelompok sasarannya, diharapkan kondisi kemiskinan tersebut dapat teratasi.
a.      Kemiskinan
Dalam konteks Indonesia, salah satu alternatif solusi bagi pengentasan kemiskinan adalah melalui kewirausahaan sosial. Namun, dibutuhkan strategi yang bisa memperkuat konsep tersebut dalam konteks sosial budaya Indonesia. Ada beberapa strategi yang teridentifikasi, yaitu :
·       Pertama, pendekatan kewirausahaan sosial sebagai bentuk investasi kepada kelompok sosial tertentu, dalam hal pengentasan kemiskinan ini maka kelompok masyarakat miskin yang menjadi sasaran. Investasi disalurkan melalui modal produktif dalam berbagai wujud sumber daya finansial kepada masyarakat miskin.
·       Kedua, penguatan jaringan (networking) dengan kelompok lain yang dapat memberikan ruang bagi kelompok masyarakat miskin guna mendistribusikan atau menjual produk yang dihasilkan dari aktivitas kelompoknya.
·       Ketiga, penguatan kapasitas kelompok masyarakat miskin dalam aspek manajemen ekonomi produktif, sehingga dalam jangka panjang masyarakat miskin dapat melipatgandakan usaha produktifnya dan sekaligus meningkatkan pendapatan serta keuntungan yang mereka peroleh.
·       Keempat, pembangunan kepercayaan (trust building) sebagai awal dari keseluruhan proses tersebut, hal ini bermanfaat bagi peningkatan moral masyarakat miskin sehingga merasa lebih dihargai dan diberi kesempatan secara aktif untuk keluar dari kemiskinannya.
Keempat strategi tersebut merupakan perspektif kewirausahaan yang masuk ke dalam kelompok sosial spesifik, menggunakan pendekatan sosial (dalam wujud penguatan trust) dan bertujuan untuk mengatasi permasalahan sosial. Melalui strategi itu diharapkan ruang sosial terbangun secara praktis. Hal tersebut sebenarnya sudah menjadi bagian dalam beberapa program pemberdayaan masyarakat, tapi belum ada pengaruh yang signifikan dari aplikasi prinsip tersebut terhadap pengentasan kemiskinan.
Perubahan dalam bentuk peran dan kesempatan ekonomi produktif bagi kelompok tersebut, semestinya diiringi dengan perubahan yang menyeluruh dalam cara pandang terhadap diri dan orang lain, sehingga mereka mampu untuk berakselerasi dengan aktivitas ekonomi yang lebih dahulu berjalan. Kemudian kendala atau hambatan dari struktur yang mengitari aktivitas usaha-usaha sosial tersebut, seperti misalnya struktur birokrasi, struktur pasar dan lingkungan politik harus pula diatasi karena faktor ini merupakan ruang yang tidak mudah untuk dihadapi atau diantisipasi pengaruhnya terhadap pergerakan kelompok masyarakat tersebut dalam aktivitas ekonomi produktifnya. Jika faktor ini kontraproduktif terhadap gerakan yang hendak melakukan perubahan secara berkelanjutan tersebut, perubahan peran dan posisi kelompok masyarakat itu tidak menyeluruh. Karena itu, tetap diperlukan pengawalan dari negara agar gerakan ekonomi berbasis kelompok sosial ini dapat secara konsisten berjalan.
b.        Pengangguran
Kewirausahaan memegang peranan besar dalam mengurangi angka pengangguran di berbagai negara. Kegiatan wirausaha secara otomatis menyerap tenaga kerja sehingga memberi kesempatan kerja pada pengangguran sehingga diharapkan dengan berkembangnya berbagai wirausaha di Indonesia akan dapat mengurangi angka penganguran secara signifikan. Di banyak Negara seperti, China, Korea, Taiwan dan banyak Negara maju lainnya peranan lembaga inkubator sangat penting dalam rangka penumbuhan wirausaha baru, khususnya yang berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) knowledge-based entrepreneurs. Menumbuhkan wirausaha baru yang berbasis IPTEK ini menjadi sangat penting untuk menumbuhkan wirausaha-wirausaha yang memiliki daya saing tinggi. Jadi, menumbuhkan wirausaha baru bukan hanya untuk mengatasi masalah pengangguran, tetapi juga untuk meningkatkan daya saing para pelaku bisnis itu sendiri. Kalau para pelaku bisnis meningkat daya saingnya, maka daya saing ekonomi kita juga akan lebih meningkat. Sesungguhnya kewirausahaan adalah hal yang memungkinkan terjadinya multiplier effect, artinya seorang wirausaha yang menerapkan kewirausahaan mampu menciptakan dampak positif bagi dirinya dan sekitarnya. Hal tersebut tidak terbatas hanya pada kata memberikan lapangan pekerjaan, tetapi lebih menekankan tentang bagaimana seseorang bermanfaat dan berperan bagi lingkungannya. Maksudnya kewirausahaan tidak hanya berbicara tentang seorang businessman yang memulai sebuah bisnis, kemudian bisnis tersebut mendatangkan profit bagi dirinya dan membuka kesempatan kerja bagi orang lain. Lebih dari itu kewirausahaan membahas tentang bagaimana setiap orang mampu berperan dan bermanfaat sesuai dengan jati dirinya, sehingga mempunyai peran yang berarti dan nilai lebih bagi dirinya secara pribadi dan sekitarnya sebagai dampak positif.
c.         Kelaparan dan krisis pangan
Permasalahan pokok yang dihadapi dalam bidang ketahanan pangan adalah bagaimana mencukupi kebutuhan pangan nasional dengan sumber daya alam yang sangat terbatas jumlahnya dan pengelolaan sumber daya manusia yang berkualitas, hal ini erat kaitannya dengan bidang pertanian. Dalam perkembangannya petani juga memerlukan jiwa entrepreneur yang tangguh guna mewujudkan ketahanan pangan tersebut. Di sisi lain, fenomena yang terjadi di kalangan petani adalah rendahnya kemampuan manajemen agribisnis yang rendah sehingga petani tidak mampu menghadapi tantangan-tantangan yang muncul dalam proses produksi. Untuk itu pembentukan mental entrepreneur farmer diperlukan di kalangan petani dalam usaha untuk dapat tetap eksis menghadapi tantangan dalam memproduksi pangan maupun ke sistem pemasarannya. Dalam mewujudkan Indonesia yang berketahanan pangan, petani yang yang memiliki jiwa entrepreneur farmer yang tinggi serta memiliki kemampuan manajemen agribisnis yang kuat adalah modal utama untuk mewujudkan ketahanan pangan itu sendiri. Selain perombakan mental petani, harus didukung juga oleh kebijakan-kebijakan pemerintah pusat melalui pemberian penyuluhan dan pelatihan yang intensif. Penerapan mentalentrepreneur farmer juga mampu mengembangkan potensi yang dimiliki oleh petani sesuai dengan karakteristik yang dimiliki. Dengan demikian, pengembangan sektor pertanian yang optimal diharapkan mampu menciptakan Indonesia yang berketahanan pangan.

3.       Perkembagan Wirausahawan di Indonesia
Kewirausahaan tidak terlepas dari usaha kecil. Wirausaha seringkali dikaitkan dengan situasi kegiatan bisnis seseorang yang dimulai dalam skala usaha kecil dan umumnya  dikelola sendiri (Krisnamurthi 2001). UKM selalu digambarkan sebagai sektor yang  mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia. Industri kecil menyumbang pembangunan dengan berbagai jalan, menciptakan kesempatan kerja, untuk perluasan angkatan kerja, urbanisasi, dan menyediakan fleksibilitas kebutuhan serta inovasi dalam perekonomian secara keseluruhan (Partomo & Soejoedono 2002). Pemberdayaan usaha kecil merupakan kunci bagi kelangsungan hidup sebagian besar rakyat Indonesia. Usaha kecil dapat digunakan sebagai penggerak utama dalam mempercepat pemulihan perekonomian Indonesia. Usaha kecil juga dapat digunakan sebagai kunci pemacu ekspor serta peningkatan kesejahteraan rakyat (Riyanti 2003).
Jumlah UMKM lebih banyak jika dibanding usaha besar, bahkan dari tahun 2005-2007 jumlah UMKM mengalami peningkatan sebesar 6,23 persen dari 47.017.062 unit usaha pada tahun 2005 hingga mencapai 50.145.800 unit usaha pada tahun 2007. Sampai dengan tahun 2009, jumlah UMKM di Indonesia telah mencapai 1.354.991 unit dengan penyerapan tenaga kerja di tahun yang sama yaitu 96.211.332 orang. Berdasarkan data, secara keseluruhan jumlah unit usaha pangsa UMKM mencapai 99 persen, sementara sisanya adalah usaha besar. Hal ini menunjukkan terbukanya lapangan kerja yang semakin meningkat pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah.
Tabel 1. Jumlah Unit Usaha Mikro Kecil, Menengah (UMKM) dan Usaha Besar Tahun 2005-2007
Indikator
Tahun
Tahun 2005
Tahun 2006
Tahun 2007
Jumlah
Pangsa
Jumlah
Pangsa
Jumlah
Pangsa
(Unit)
(%)
(Unit)
(%)
(Unit)
(%)
Unit Usaha
47.022.084

49.026.380

50.150.263

(A+B)
A. UMKM
47.017.062
99,99
49.021.803
99,99
50.145.800
99,99
B. Usaha Besar
5.022
0,01
4.577
0,01
4.463
0,01

Semakin meningkatnya jumlah unit usaha, penyerapan terhadap ten                        aga kerja juga semakin bertambah. Pada tahun 2007 usaha besar hanya mampu menyerap tenaga kerja sebesar 2,73 persen atau sebanyak 2.535.411 tenaga kerja. Sementara, UMKM di Indonesia telah menyerap 90.491.930 tenaga kerja pada tahun 2007 atau sebesar 97,27 persen dari total usaha yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa  dengan penyerapan tenaga kerja akan mengurangi tingkat pengangguran secara merata di seluruh wilayah Indonesia.
Tabel 4. Potensi Industri Besar / Menengah dan Kecil Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
No
Kelompok Industri
Jumlah
Investasi
Penyerapan
Perusahaa/ sentra
(Rupiah)
Tenaga Kerja


(Orang)
1
Industri Besar
63
3.967.000.000.000
55.275
2
Industri Menengah
48
13.038.697.934
6.707
3
Industri Kecil Formal
757
16.297.942
5.588
4
Sentra Industri Kecil
106
1.038.285.000
21.033
5
Industri Kecil Informal
8.639
1.805.626
8.292
Sumbangan sektor industri pengolahan terhadap pembentukan PDRB Kabupaten Semarang tahun 2003 sebesar 42,45 persen dan selalu menempati urutan pertama dalam struktur pertumbuhan ekonomi Kabupaten Semarang. Artinya sektor ini tidak hanya memenuhi Kabupaten Semarang saja, tetapi memenuhi kebutuhan dari luar daerah lainnya. Dengan kata lain, sektor ini merupakan sektor yang berpotensi ekspor. Sektor ini memiliki kinerja sektor yang dapat diandalkan dan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, industri pengolahan pada subsistem agribisnis hilir memiliki potensi untuk berkembang dan mempunyai peran dalam pembangunan ekonomi daerah.
Salah satu usaha kecil sektor pengolahan yang menjadi sentra oleh-oleh khas dan berperan dalam menyumbang PDRB Kabupaten Semarang adalah Tahu Serasi Bandungan. Unit usaha ini berada di bawah Kelompok Wanita Tani Damai Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan. Jumlah anggota yang menjadi pelaku usaha Tahu Serasi Bandungan sampai tahun 2011 berjumlah 36 orang. Unit usaha ini mengalami perkembangan hingga saat ini dengan bertambahnya jumlah asset dan laba usaha. Namun, tingkat pertumbuhannya tidak signifikan. Hal tersebut ditandai dengan kapasitas produksi yang mengalami penurunan tiga tahun terakhir yaitu tahun 2008-2010. Hal ini terkait pengelolaan bahan baku yang kurang optimal, akibat dari harga bahan  baku utama kedelai yang tidak stabil,  selain itu terkait dengan kualitas SDM  pelaku usaha yang relatif masih rendah, terutama bidang manajemen.
Menurut Sopanah (2009), jumlah UMKM yang meningkat belum diimbangi dengan perkembangan kualitas Koperasi dan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (KUMKM). Hal tersebut disebabkan  karena beberapa KUMKM yang masih menghadapi permasalahan klasik yaitu rendahnya produktivitas. Keadaan ini secara tidak langsung berkaitan dengan (a) rendahnya kualitas sumberdaya manusia khususnya dalam manajemen, organisasi, teknologi, dan pemasaran; (b) lemahnya kompetensi kewirausahaan; (c) terbatasnya kapasitas UMKM untuk mengakses permodalan, informasi teknologi dan pasar, serta faktor produksi lainnya.

 Daftar Pustaka

Anonim. 2012. Menciptakan Kewirausahaan Sosial dengan Zakat http://www.mystory.web.id/2012_10_01_archive.html. Diakses Tanggal 13 Mei 2013.

Anonim. 2012. Peranan Kewirausahaan dalam Menjawab Permasalahan Bangsa. ttp://nisashare.blogspot.com/2012/02/peranan-kewirausahaan-dalam-menjawab.html . Diakses Tanggal 13 Mei 2013

0 komentar:

Poskan Komentar