music

Total Tayangan Laman

Share It

Pergeseran Orientasi Nilai Sosial

07.42 |


Pergeseran Orientasi Nilai Sosial

Tugas Sosiologi Pertanian

  




Oleh:
Arin Amini (13049)



Fakultas Pertanian
Universitas Gadjah Mada
2013

Pergeseran Orientasi Nilai Budaya

Terdapat banyak nilai kehidupan yang ditanamkan oleh setiap budaya yang ada di dunia. Nilai kebudayaan pasti berbeda-beda pada dasarnya tetapi kesekian banyak kebudayaan di dunia ini memiliki orientasi-orientasi yang hampir sejalan terhadap yang lainnya. Jika dilihat dari lima masalah dasar dalam hidup manusia, orientasi-orientasi nilai budaya hampir serupa.
     Lima Masalah Dasar Dalam Hidup yang Menentukan Orientasi Nilai Budaya Manusia             ( kerangka Kluckhohn ) :
1.        Hakekat Hidup
·         Hidup itu buruk
·         Hidup itu baik
·         Hidup bisa buruk dan baik, tetapi manusia tetap harus bisa berikthtiar agar hidup bisa menjadi baik.
·         Hidup adalah pasrah kepada nasib yang telah ditentukan.
2.        Hakekat Karya
·         Karya itu untuk menafkahi hidup
·         Karya itu untuk kehormatan.
3.        Persepsi Manusia Tentang Waktu
·         Berorientasi hanya kepada masa kini. Apa yang dilakukannya hanya untuk hari ini dan esok. Tetapi orientasi ini bagus karena seseorang yang berorientasi kepada masa kini pasti akan bekerja semaksimal mungkin untuk hari-harinya.
·         Orientasi masa lalu. Masa lalu memang bagus untuk diorientasikan untuk menjadi sebuah evolusi diri mengenai apa yang sepatutnya dilakukan dan yang tidak dilakukan.
·         Orientasi masa depan. Manusia yang futuristik pasti lebih maju dibandingkan dengan lainnya, pikirannya terbentang jauh kedepan dan mempunyai pemikiran nyang lebih matang mengenai langkah-langkah yang harus di lakukann nya.
4.        Pandangan Terhadap Alam
·         Manusia tunduk kepada  alam yang dashyat.
·         Manusia berusaha menjaga keselarasan dengan alam.
·         Manusia berusaha menguasai alam.
5.        Hubungan Manusia Dengan Manusia
·         Orientasi kolateral (horizontal), rasa ketergantungan kepada sesamanya, barjiwa gotong royong.
·         Orientasi vertikal, rasa ketergantungan kepada tokoh-tokoh yang mempunyai otoriter untuk memerintah dan memimpin.
·         Individualisme, menilai tinggi uaha atas kekuatan sendiri.

Perubahan Kebudayaan
Pengertian perubahan kebudayaan adalah suatu keadaan dalam masyarakat yang terjadi karena ketidak sesuaian diantara unsur-unsur kebudayaan yang saling berbeda sehingga tercapai keadaan yang tidak serasi fungsinya bagi kehidupan.
Contoh: Masuknya mekanisme pertanian mengakibatkan hilangnya beberapa jenis teknik pertanian tradisional seperti teknik menumbuk padi dilesung diganti oleh teknik “Huller” di pabrik penggilingan padi. Peranan buruh tani sebagai penumbuk padi jadi kehilangan pekerjaan.
Semua terjadi karena adanya salah satu atau beberapa unsur budaya yang tidak berfungsi lagi, sehingga menimbulkan gangguan keseimbangan didalam masyarakat. Perubahan dalam kebudayaan mencakup semua bagian yaitu : kesenian, ilmu pengetahuan, teknologi dan filsafat bahkan perubahan dalam bentuk juga aturan-aturan organisasi social. Perubahan kebudayaan akan berjalan terus-menerus tergantung dari dinamika masyarakatnya.
Ada faktor-faktor yang mendorong dan menghambat perubahan kebudayaan yaitu:
a.    Mendorong perubahan kebudayaan
Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi mudah berubah, terutama unsur-unsur teknologi dan ekonomi ( kebudayaan material).Adanya individu-individu yang mudah menerima unsure-unsur perubahan kebudayaan, terutama generasi muda.Adanya faktor adaptasi dengan lingkungan alam yang mudah berubah.
b.    Menghambat perubahan kebudayaan
Adanya unsur-unsur kebudayaan yang memiliki potensi sukar berubah seperti :adat istiadat dan keyakinan agama ( kebudayaan non material) Adanya individu-individu yang sukar menerima unsure-unsur perubahan terutama generasi tu yang kolot.
Ada juga faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan kebudayaan :
1.      Faktor intern
·  Perubahan Demografis
Perubahan demografis disuatu daerah biasanya cenderung terus bertambah, akan mengakibatkan terjadinya perubahan diberbagai sektor kehidupan, c/o: bidang perekonomian, pertambahan penduduk akan mempengaruhi persedian kebutuhan pangan, sandang, dan papan.
·  Konflik social
Konflik social dapat mempengaruhi terjadinya perubahan kebudayaan dalam suatu masyarakat. c/o: konflik kepentingan antara kaum pendatang dengan penduduk setempat didaerah transmigrasi, untuk mengatasinya pemerintah mengikutsertakan penduduk setempat dalam program pembangunan bersama-sama para transmigran.
·  Bencana alam
Bencana alam yang menimpa masyarakat dapat mempngaruhi perubahan c/o; bencana banjir, longsor, letusan gunung berapi masyarkat akan dievakuasi dan dipindahkan ketempat yang baru, disanalah mereka harus beradaptasi dengan kondisi lingkungan dan budaya setempat sehingga terjadi proses asimilasi maupun akulturasi.
·  Perubahan lingkungan alam
Perubahan lingkungan ada beberapa faktor misalnya pendangkalan muara sungai yang membentuk delta, rusaknya hutan karena erosi atau perubahan iklim sehingga membentuk tegalan. Perubahan demikian dapat mengubah kebudayaan hal ini disebabkan karena kebudayaan mempunyai daya adaptasi dengan lingkungan setempat.
2. Faktor ekstern
·      Perdagangan
Indonesia terletak pada jalur perdagangan Asia Timur denga India, Timur Tengah bahkan Eropa Barat. Itulah sebabnya Indonesia sebagai persinggahan pedagang-pedagang besar selain berdagang mereka juga memperkenalkan budaya mereka pada masyarakat setempat sehingga terjadilah perubahan budaya dengan percampuran budaya yang ada.
·      Penyebaran agama
Masuknya unsur-unsur agama Hindhu dari India atau budaya Arab bersamaan proses penyebaran agama Hindhu dan Islam ke Indonesia demikian pula masuknya unsur-unsur budaya barat melalui proses penyebaran agama Kristen dan kolonialisme.
·      Peperangan
Kedatangan bangsa Barat ke Indonesia umumnya menimbulkan perlawanan keras dalam bentuk peperangan, dalam suasana tersebut ikut masuk pula unsure-unsur budaya bangsa asing ke Indonesia.

Macam-Macam Pergeseran Orientasi Nilai Buadaya (Mobilita Vertikal dan Horizontal)

1.    Orientasi Nilai Budaya Tentang Hakekat Hidup
Nilai budaya yang berkaitan dengan hakekat hidup didasarkan atas  kepercayaan adanya alam lain selain alam dunia yaitu alam kematian atau  alam akherat. Bagi masyarakat yang memiliki nilai budaya bahwa hidup di dunia merupakan suatu hal yang buruk dan menyedihkan, maka akan menghindarinya  dengan cara mencari cara agar dapat hidup baik di alam lain (akherat). Sebaliknya bagi masyarakat yang memiliki nilai budaya bahwa hidup di dunia ini baik dan menyenangkan, maka akan cenderung hidup dengan berfoya-foya, tanpa memikirkan hari depan dan adanya kehidupan lain di alam akherat. Tapi ada pula nilai budaya yang menganggap bahwa hidup di dunia itu buruk, tetapi manusia dapat mengusahakannya agar hidup di dunia itu menjadi hal yang baik dan menyenangkan (Koentjaraninggrat, 1982).
2.    Orientasi Nilai Budaya Tentang Hakekat Karya
Menurut Kerangka Kluckhohn, ada tiga kemungkinan nilai budaya yang berkembang berkaitan dengan  hakekat karya. Pertama, nilai budaya yang memandang bahwa hakekat dari karya manusia adalah untuk memungkinkannya hidup;   kedua, nilai budaya yang menganggap bahwa hakekat dari karya manusia itu adalah untuk memberikan suatu kedudukan yang penuh kehormatan (status sosial) dalam masyarakat; dan  ketiga adalah nilai budaya yang menganggap hakekat dari karya manusia itu adalah sebagai gerak hidup yang harus menghasilkan lebih banyak karya lagi (Koentjaraninggrat, 1982).
3.    Orientasi Nilai Budaya Tentang Hakekat
Ruang dan Waktu Berkaitan dengan hakekat ruang dan waktu; ada tiga kemungkinan nilai budaya yang berkembang; yaitu nilai budaya yang berorientasi pada masa lampau, yang memandang kehidupan masa lampau lebih baik, sehingga dalam bertingkah laku dan mengambil keputusan sering berpedoman pada kehidupan masa lampau. Sebaliknya ada nilai budaya yang berorientasi pada masa kini. Masyarakat yang bernilai budaya seperti ini umumnya berpandangan sempit, tidak peduli dengan kehidupan masa lampau maupun masa yang akan datang; yang penting adalah kehidupannya pada masa kini. Selain itu ada pula masyarakat yang memiliki  nilai budaya yang berorientasi pada masa depan; dimana warga masyarakatnya memiliki pandangan jauh ke depan, sehingga dalam menjalankan kehidupan biasanya dibarengi dengan perencanaan. Kalau nilai budaya di atas dikaitkan dengan nilai budaya yang berkembang pada masyarakat lokal Suku Sasak, maka sebelum masuk pariwisata cenderung nilai budayanya berorientasi ke masa kini dibandingkan masa lampau atau masa depan. Ini artinya masyarakat mempunyai pandangan yang sempit, tanpa banyak melihat kehidupan masa lampau ataupun masa yang akan datang.
4.    Orientasi Nilai Budaya Tentang Hubungan Manusia Dengan Alam
Dalam kaitannya dengan hakekat hubungan manusia dengan alam, terdapat nilai budaya
yang menganggap  bahwa alam merupakan suatu yang sangat dahsyat, sehingga manusia harus tunduk dan menyerah pada kemauan alam. Sebaliknya ada pula nilai budaya yang menganggap bahwa alam dapat dilawan dan dikuasai sehingga cenderung mengekspoitasi alam. Diantara kedua nilai budaya tersebut, ada nilai budaya yang menselaraskan diri dengan alam, sehingga masyarakatnya cenderung melestarikan alam.  
Orientasi masyarakat lokal Suku Sasak di kawasan Wisata Senggigi dalam kaitannya dengan hakekat hubungan manusia dengan alam menurut informasi yang disampaikan oleh tokoh masyarakat mengalami perubahan setelah berkembang pariwisata. Sebelum berkembang pariwisata, masyarakat cenderung mengeksploitasi alam. Hal ini dapat diamati dari beberapa aktivitas masyarakat di laut ataupun di darat. Di laut, masyarakat dalam menangkap ikan banyak yang menggunakan bom; tanpa memikirkan akibatnya terhadap ekosistem laut lainnya. Selain itu, masyarakat juga banyak memiliki aktivitas mengambil batu kapur dengan merusak terumbu karang tempat ikan bertelur dan berkembang biak. Hal yang sama juga terjadi di darat, terutama di hutan. Masyarakat banyak yang memiliki pencarian di hutan dengan menebang kayu hutan untuk dijadikan bahan bakar dan bahan bangunan.
5.    Orientasi Nilai Budaya Tentang Hubungan Manusia Dengan Sesamanya
Nilai budaya yang berkaitan dengan hubungan antar manusia,  terdapat tiga kemungkinan, yaitu: nilai budaya yang lebih mementingkan hubungan vertikal antara manusia dengan sesamanya. Nilai budaya seperti ini dicirikan oleh kecenderungan masyarakat berpedoman pada tokoh-tokoh masyarakat,  orang-orang yang dianggap senior atau orangorang yang menjadi atasannya. Berikutnya adalah nilai budaya yang lebih mementingkan hubungan horizontal antara manusia dengan sesamanya; dimana manusia merasa sangat tergantung kepada sesamanya, sehingga senantiasa menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Nilai budaya seperti ini dicirikan oleh menonjolnya aktivitas masyarakat dalam kegiatan gotong royong dan tolong menolong. Selain itu, ada nilai budaya yang tidak membenarkan bahwa manusia hidup harus tergantung pada orang lain. Masyarakat dengan nilai budaya seperti ini sangat individualis, mandiri, dan senantiasa berusaha mencapai tujuannya dengan sedikit mungkin melibatkan orang lain.
Pada masyarakat lokal Suku Sasak yang ada di kawasan wisata Senggigi, nilai budaya yang berkembang sebelum masuk pariwisata, cenderung lebih mementingkan hubungan horizontal, dibandingkan hubungan vertikal atau individual. Dalam banyak hal memang masyarakat masih banyak tergantung pada orang-orang yang ditokohkan, seperti tokoh agama yang disebut ”Tuan Guru” atau ”Ustaz” atau tokohtokoh adat yang disebut ”keliang”  atau tokohtokoh formal, seperti Kepala Desa, Camat atau Bupati. Namun ketergantungan masyarakat terhadap tokoh-tokoh masyarakat tersebut, masih dalam lingkup terbatas, yaitu pada bidang kegiatan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh masyarakat itu. 
Dalam kehidupan sehari-hari; masyarakat lebih mementingkan hubungan horizontal yang
terlihat dari aktivitas gotong royong dan tolong menolong yang dilakukan. Untuk mendapatkan gambaran tentang aktivitas gotong royong dan tolong menolong, sebelum dan setelah berkembang pariwisata, dapat disimak dari penuturan Djohan Bachry (46 tahun, Dosen Fakultas Pertanian yang pernah melakukan penelitian di Kawasan Senggigi) berikut :
”menyangkut solidaritas sosial atau saling tolong menolong antara  sesama warga tidak banyak mengalami perubahan antara sebelum dengan setelah berkembang pariwista. Misalnya jika salah seorang warga mengalami kematian, maka solidaritas sosial muncul secara spontan. Hal ini ditunjukkan melalui kepedulian untuk turut terlibat dalam proses penanganan masalah yang berhubungan dengan kematian tersebut. Bila warga mendengar kematian salah seorang warga, maka sudah menjadi tradisi ibu-ibu akan pergi melayat ke rumah ”ahlul musibah” dengan membawa segantang beras yang dalam istilah lokal disebut ”belangar”. Sementara kaum pria dewasa akan melibatkan diri dalam pembuatan keranda jenazah yang disebut ”korong batang”, kemudian memandikan jenazah, mensholatkan, dan mengantarnya ke pemakaman. Solidaritas sosial terus berlanjut sampai sembilan malam, yaitu melakukan acara tahlilan di rumah duka. Solidaritas sosial seperti ini masih berlanjut sampai sekarang. Hal yang mengalami pergeseran atau perubahan yang cukup signifikan adalah pada cara menyikapi kematian tersebut. Dulu sebelum masuk pariwisata, kalau ada warga yang meninggal dunia, maka warga sekampung tidak dibenarkan bahkan ditabukan untuk bekerja ke luar kampung. Tapi sekarang, hal tersebut tidak terlalu mengikat; yang masih mengikat adalah kewajiban untuk turut dalam acara pemakaman dan tahlilan selama sembilan malam”

Perubahan Sosial secara Struktural dan Kultural

Pada akhir dasawarsa 1960-an Prof. Koentjaraningrat mulai memperkenalkan di kalangan ilmuwan sosial Indonesia konsep nilai budaya atau orientasi nilai budaya, yang sesungguhnya dipinjam dari konsep value orientation (orientasi nilai) yang diperkenalkan Florence R. Kluckhohn dan F.L. Strodtbeck dalam buku berjudul Variations in Value Orientation (1961).9 Clyde Kluckhohn, mendefinisikan value sebagai: sebuah konsepsi tentang sesuatu yang seharusnya diinginkan, eksplisit atau implisit, yang khas milik seseorang individu atau suatu kelompok, yang mempengaruhi pilihan terhadap bentuk-bentuk, cara-cara, dan tujuan-tujuan
tindakan yang ada (1961).
Sedangkan mengenai kebudayaan, Antropolog Kroeber dan C. Kluckhohn, pernah mengumpulkan paling sedikit 160 buah definisi yang kemudian dianalisis, dicari latar belakang, prinsip, dan intinya serta diklasifikasikan ke dalam beberapa tipe. Hasil analisis tentang aneka definisi kebudayaan itu diterbitkan dalam buku berjudul: Culture, A Critical Review of Concepts and Definitions (1952).
Menurut ilmu antropologi, ‘kebudayaan’ adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat, yang dijadikan milik manusia lewat proses belajar (Koentjaraningrat, 1990:180).Karena kebudayaan itu dicapai lewat proses belajar yang dilakukan secara terus-menerus dan seumur hidup (life-long learning process)
Anonim. 2011. Pergeseran Orientasi Nilai Dan Perubahan Sosial Budaya Yang Menggugat Teori Pembangunan. < http://nagekeobersatu.wordpress.com/2011/10/14/pergeseran-orientasi-nilai-dan-perubahan-sosial-budaya-yang-menggugat-teori-pembangunan/ >. Diakses Tanggal 17 Mei 2013
Perubahan itu meliputi aspek struktural, kultural, dan aspek hubungan-hubungan atau jaringan sosial. Aspek struktural adanya kesempatan terbuka bagi penduduk pribumi untuk menjadi pegawai pemerintah. Aspek cultural, mendidik pribumi diberi kesempatan untuk memperoleh pendidikan meskipun pada tingkat yang terbatas. Sementara hubungan terjadinya mobilitas horizontal penduduk dari satu daerah ke daerah lain, disini terjadi adanya pembauran-pembauran. Perubahan-perubahan yang terjadi dimasyarakat, selain membawa segi positif tetapi juga ada akses negatifnya seperti antara lain memudarnya sistem kekerabatan, kerja sama, dan semangat gotong royong yang merupakan tradisi masyarakat Indonesia. 

Anonim. 2011. Teori Perubahan Sosial. <http://mhionk.blogspot.com/2011/04/teori-perubahan-sosial.html>. Diakses Tanggal 17 Juni 2013.


Perubahan Sosial secara Struktural
Fungsionalisme struktural adalah sebuah sudut pandang luas dalam sosiologi dan antropologi yang berupaya menafsirkan masyarakat sebagai sebuah struktur dengan bagian-bagian yang saling berhubungan. Fungsionalisme menafsirkan masyarakat secara keseluruhan dalam hal fungsi dari elemen-elemen konstituennya; terutama norma, adat, tradisi dan institusi. Sebuah analogi umum yang dipopulerkan Herbert Spencer menampilkan bagian-bagian masyarakat ini sebagai "organ" yang bekerja demi berfungsinya seluruh "badan" secara wajar. Dalam arti paling mendasar, istilah ini menekankan "upaya untuk menghubungkan, sebisa mungkin, dengan setiap fitur, adat, atau praktik, dampaknya terhadap berfungsinya suatu sistem yang stabil dan kohesif.
Teori fungsionalisme struktural adalah suatu bangunan teori yang paling besar pengaruhnya dalam ilmu sosial di abad sekarang. Tokoh-tokoh yang pertama kali mencetuskan fungsional yaitu August Comte, Emile Durkheim dan Herbet Spencer. Pemikiran structural fungsional sangat dipengaruhi oleh pemikiran biologis yaitu menganggap masyarakat sebagai organisme biologis yaitu terdiri dari organ-organ yang saling ketergantungan, ketergantungan tersebut merupakan hasil atau konsekuensi agar organisme tersebut tetap dapat bertahan hidup. Sama halnya dengan pendekatan lainnya pendekatan structural fungsional ini juga bertujuan untuk mencapai keteraturan sosial. Teori struktural fungsional ini awalnya berangkat dari pemikiran Emile Durkheim, dimana pemikiran Durkheim ini dipengaruhi oleh Auguste Comte dan Herbert Spencer. Comte dengan pemikirannya mengenai analogi organismik kemudian dikembangkan lagi oleh Herbert Spencer dengan membandingkan dan mencari kesamaan antara masyarakat dengan organisme, hingga akhirnya berkembang menjadi apa yang disebut dengan requisite functionalism, dimana ini menjadi panduan bagi analisis substantif Spencer dan penggerak analisis fungsional. Dipengaruhi oleh kedua orang ini, studi Durkheim tertanam kuat terminology organismik tersebut. Durkheim mengungkapkan bahwa masyarakat adalah sebuah kesatuan dimana di dalamnya terdapat bagian–bagian yang dibedakan. Bagian-bagian dari sistem tersebut mempunyai fungsi masing–masing yang membuat sistem menjadi seimbang. Bagian tersebut saling interdependensi satu sama lain dan fungsional, sehingga jika ada yang tidak berfungsi maka akan merusak keseimbangan sistem. Pemikiran inilah yang menjadi sumbangsih Durkheim dalam teori Parsons dan Merton mengenai struktural fungsional. Selain itu, antropologis fungsional-Malinowski dan Radcliffe Brown juga membantu membentuk berbagai perspektif fungsional modern.
Selain dari Durkheim, teori struktural fungsional ini juga dipengaruhi oleh pemikiran Max Weber. Secara umum, dua aspek dari studi Weber yang mempunyai pengaruh kuat adalah
  • Visi substantif mengenai tindakan sosial dan
  • Strateginya dalam menganalisis struktur sosial.
Pemikiran Weber mengenai tindakan sosial ini berguna dalam perkembangan pemikiran Parsons dalam menjelaskan mengenai tindakan aktor dalam menginterpretasikan keadaan

Anonim. 2013. Fungsionalisme struktural. <http://id.wikipedia.org/wiki/Fungsionalisme_ struktural >.

 

Perubahan Sosial secara Kultur atau Budaya
Terjadinya perubahan-perubahan di dalam masyarakat sebenarnya bukanlah merupakan suatu hal yang luar biasa , dengan kata lain perubahan sosial maupum budaya merupakan gejala yang umum, karena setiap masyarakat atau selama masyarakat itu tetap ada sudah pasti akan mengalami perubahan-perubahan.dalam perjalanannya perubahan kebudayaan ada yang diikuti oleh perubaahn social dan ada yang tidak diikuti oleh perubaahn sosial.

a. Perubahan Kebudayaan yang di ikuti dengan perubahan sosial.
Perubahan dalam alat  transportasi, dengan adanya alat transportasi maka terciptalah peraturan-peraturan dalam berlalu lintas yang harus dipatuhi oleh pengguna jalan.
b.Perubahan Kebudayaan yang tidak di ikuti Perubahan Sosial.
Perubahan mode pakaian, potongan rambut. Walaupun mode berganti setiap saat tetapi sistem sosial di masyarakat tidak mengalami perubahan.
Perubahan sosial budaya atau kultur adalah sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan sosial budaya merupakan gejala umum yang terjadi sepanjang masa dalam setiap masyarakat. Perubahan itu terjadi sesuai dengan hakikat dan sifat dasar manusia yang selalu ingin mengadakan perubahan. Hirschman mengatakan bahwa kebosanan manusia sebenarnya merupakan penyebab dari perubahan.
Perubahan sosial budaya terjadi karena beberapa faktor. Di antaranya komunikasi; cara dan pola pikir masyarakat; faktor internal lain seperti perubahan jumlah penduduk, penemuan baru, terjadinya konflik atau revolusi; dan faktor eksternal seperti bencana alam dan perubahan iklim, peperangan, dan pengaruh kebudayaan masyarakat lain.
Ada pula beberapa faktor yang menghambat terjadinya perubahan, misalnya kurang intensifnya hubungan komunikasi dengan masyarakat lain; perkembangan IPTEK yang lambat; sifat masyarakat yang sangat tradisional; ada kepentingan-kepentingan yang tertanam dengan kuat dalam masyarakat; prasangka negatif terhadap hal-hal yang baru; rasa takut jika terjadi kegoyahan pada masyarakat bila terjadi perubahan; hambatan ideologis; dan pengaruh adat atau kebiasaan.

Anonim. 2012. Perubahan sosial budaya. <http://id.wikipedia.org/wiki/Perubahan_sosial_budaya >. Diakses Tanggal 17 Juni 2013.   


0 komentar:

Poskan Komentar