music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Permasalahan Pengembangan Kelembagaan Petani

07.36 |


Permasalahan Pengembangan Kelembagaan Petani

Tugas Sosiologi Pertanian



Disusun Oleh
Arin Amini (13049)


Fakultas Pertanian
Univessitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2013

PERMASALAHAN PENGEMBANGAN KELEMBAGAAN PETANI

Petani jika berusahatani secara individu terus berada di pihak yang lemahkarena petani secara individu akan mengelola usaha tani dengan luas garapan kecil dan terpencar serta kepemilikan modal yang rendah. Sehingga, pemerintah perlu memperhatikan penguatan kelembagaan lewat kelompoktani karena dengan berkelompok maka petani tersebut akan lebih kuat, baik dari segi kelembagaannya maupun permodalannya. Kelembagaan petani di desa umumnya tidak berjalan dengan baik ini disebabkan (Zuraida dan Rizal, 1993; Agustian, dkk, 2003; Syahyuti, 2003; Purwanto,dkk, 2007):
1. Kelompoktani pada umumnya dibentuk berdasarkan kepentingan teknis untuk memudahkan pengkoordinasian apabila ada kegiatan atau program pemerintah, sehingga lebih bersifat orientasi program, dan kurang menjamin kemandirian kelompok dan keberlanjutan kelompok.
2. Partisipasi dan kekompakan anggota kelompok dalam kegiatan kelompok masih relatif rendah, ini tercermin dari tingkat kehadiran anggota dalam pertemuan kelompok rendah (hanya mencapai 50%)
3. Pengelolaan kegiatan produktif anggota kelompok bersifat individu. Kelompok sebagai forum kegiatan bersama belum mampu menjadi wadah pemersatu kegiatan anggota dan pengikat kebutuhan anggota secara bersama, sehingga kegiatan produktif individu lebih menonjol. Kegiatan atau usaha produktif anggota kelompok dihadapkan pada masalah kesulitan permodalan, ketidakstabilan harga dan jalur pemasaran yang terbatas.
4. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan tidak menggunakan basis social capital setempat dengan prinsip kemandirian lokal, yang dicapai melalui prinsip keotonomian dan pemberdayaan.
5. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan berdasarkan konsep cetak biru (blue print approach) yang seragam. Introduksi kelembagaan dari luar kurang memperhatikan struktur dan jaringan kelembagaan lokal yang telah ada, serta kekhasan ekonomi, sosial, dan politik yang berjalan.
6. Pembentukan dan pengembangan kelembagaan berdasarkan pendekatan yang top down, menyebabkan tidak tumbuhnya partisipasi masyarakat.
7. Kelembagaan-kelembagaan yang dibangun terbatas hanya untuk memperkuat ikatan horizontal, bukan ikatan vertikal. Anggota suatu kelembagaan terdiri atas
orang-orang dengan jenis aktivitas yang sama. Tujuannya agar terjalin kerjasama yang pada tahap selanjutnya diharapkan daya tawar mereka meningkat. Untuk ikatan vertikal diserahkan kepada mekanisme pasar, dimana otoritas pemerintah sulit menjangkaunya.
8. Meskipun kelembagaan sudah dibentuk, namun pembinaan yang dijalankan cenderung individual, yaitu hanya kepada pengurus. Pembinaan kepada kontaktani memang lebih murah, namun pendekatan ini tidak mengajarkan bagaimana meningkatkan kinerja kelompok misalnya, karena tidak ada social learning approach.
9. Pengembangan kelembagaan selalu menggunakan jalur struktural, dan lemah dari pengembangan aspek kulturalnya. Struktural organisasi dibangun lebih dahulu, namun tidak diikuti oleh pengembangan aspek kulturalnya. Sikap berorganisasi belum tumbuh pada diri pengurus dan anggotanya, meskipun wadahnya sudah tersedia.

Permasalahan yang dihadapi petani pada umumnya adalah lemah dalam hal permodalan. Akibatnya tingkat penggunaan saprodi rendah, inefisien skala usaha karena umumnya berlahan sempit, dan karena terdesak masalah keuangan posisi tawar ketika panen lemah. Selain itu produk yang dihasilkan petani relatif berkualitas rendah, karena umumnya budaya petani di pedesaan dalam melakukan praktek pertanian masih berorientasi pada pemenuhan kebutuhan keluarga (subsisten), dan belum berorientasi pasar. Selain masalah internal petani tersebut, ketersediaan faktor pendukung seperti infrastruktur, lembaga ekonomi pedesaan, intensitas penyuluhan, dan kebijakan pemerintah sangat diperlukan, guna mendorong usahatani dan meningkatkan akses petani terhadap pasar (Saragih, 2002).
Kesadaran yang perlu dibangun pada petani adalah kesadaran berkomunitas/ kelompok yang tumbuh atas dasar kebutuhan, bukan paksaan dan dorongan proyekproyek tertentu. Tujuannya adalah (1) untuk mengorganisasikan kekuatan para petani dalam memperjuangkan hak-haknya, (2) memperoleh posisi tawar dan informasi pasar yang akurat terutama berkaitan dengan harga produk pertanian dan (3) berperan dalam negosiasi dan menentukan harga produk pertanian yang diproduksi anggotanya (Masmulyadi, 2007).
Ada empat kriteria agar asosiasi petani itu kuat dan mampu berperan aktif dalam memperjuangkan hak-haknya, yaitu: (1) asosiasi harus tumbuh dari petani sendiri, (2) pengurusnya berasal dari para petani dan dipilih secara berkala, (3) memiliki kekuatan kelembagaan formal dan (4) bersifat partisipatif.
Dengan terbangunnya kesadaran seperti diatas, maka diharapkan petani mampu berperan sebagai kelompok yang kuat dan mandiri, sehingga petani dapat meningkatkan pendapatannya dan memiliki akses pasar dan akses perbankan.

NGATA TORO,SEBENAR-BENARNYA SIGI (sebuah narasi)
Masyarakat adat Toro adalah salah satu masyarakat yang memiliki aturan adat seperti yang saya sebutkan diatas. Pada tanggal 19-24 September 2010 saya berkesempatan mengunjungi kampung ini. Perjalanan ke kampung ini memerlukan waktu sekitar 3 jam dari Kota Palu, Sulawesi Tengah. Toro adalah sebuah desa atau ngata di kecamatan kulawi kabupaten sigi. Toro berjarak tempuh kurang lebih 80 km ke arah selatan dari ibu kota propinsi sulawesi tengah. Perjalanan dengan menggunakan mobil biasanya akan ditempuh dengan waktu sekitar 1 jam setengah sampai dua jam. Luas ngata toro setelah pemetaan pemerintah desa bersama yayasan tanah merdeka pada tahun 1999 adalah 22.950 ha, dari luas keseluruhan tersebut 18.360 ha adalah wilayah administrasi balai besar taman nasional. Sementara, sisanya adalah areal tempat tinggal penduduk, persawahan, kebun, dll. Jumlah kepala keluarga yang mendiami ngata toro hingga tahun 2012 adalah 602 kk dengan total jumlah 2.660 jiwa. 95% masyarakat ngata toro berprofesi sebagai petani sawah. Masyarakat asli di ngata toro adalah etnis moma. Etnis ini memang menempati sebagian besar wilayah kecamatan kulawi dan kulawi selatan. Selain etnis moma, terdapat juga etnis rampi dan toraja yang hijrah dari provinsi tetangga sulawesi selatan, dan sub-sub etnis kaili lainnya yang berasal dari lembah sigi, kota Palu dan sekitarnya.
 Dulunya terdapat sebuah kampung tua yang bernama malino. Kampung tersebut adalah kampung asal muasalnya ngata toro ini. Hal ini dibuktikan dengan keberadaan batu-batu pahat bekas tiang rumah. Perjalanan menuju kampung malino harus ditempuh dalam dua hari dua malam berjalan kaki menyusuri hutan ngata toro. Toro memang wilayah yang eksotis. Sawah yang terhampar luas sepanjang sisi timur serta hutan yang nampaknya terjaga dengan baik mengelilingi ngata toro. Hutan-hutan lebat yang merantai wilayah toro ini begitu hijau, sejuk serta menambah kental kesan alami yang sepanjang hari dapat dinikmati di ngata toro ini.
Masyarakat disini mengelola ribuan hektar hutan mereka dengan kearifan lokal yang terus diwarisi dari nenek moyang. Aturan-aturan adat diterapkan secara berkesinambungan pada pola kehidupan, guna menjaga hutannya dari berbagai jenis ancaman kerusakan alam akibat perambahan lahan. Masyarakat adat toro percaya bahwa mereka dari generasi ke generasi sudah melindungi alam dan sumber daya alam yang mereka miliki. Pembagian wilayah dan lahan garapan sudah mereka tentukan berdasar pada aturan adat. Mereka masih yakin dan percaya dengan aturan-aturan adat peninggalan nenek moyang mereka. Aturan-aturan adat ini sampai dengan sekarang masih menjadi acuan hidup seluruh masyarakat adat disana dan pelanggaran terhadapnya akan mengakibatkan sangsi-sangsi adat yang telah di tentukan pula sebelumnya.
Masyarakat adat Toro memiliki kelembagaan sendiri dalam menjalani kehidupan di kampungnya. Peran dan wewenang kelembagaan adat di Ngata Toro diantaranya adalah:
• Maradika, berperan mengatur hubungan ngata dengan ngata yang lain, menentukan peran dengan ngata lain, tempat keputusan apabila ada masyarakat yang membuat pelanggaran.
• Totua Ngata, berperan mengawasi aturan adat yang disepakati dalam musyawarah, menyelesaikan perselisihan, melaksanakan dan mengatur pelaksanaan perkawinan adat, menentukan besar kecilnya sanksi adat atas pelanggaran, mengubah dan membuat aturan adat yang baru, memimpin dan melaksanakan setiap upacara adat, memilih pemuda sebagai tondo ngata untuk dipersiapkan untuk prajurit perang dan pengawasan wilayah adat.
• Tina Ngata, berwenang merancang pekerjaan dalam pertanian terutama karena merekalah yang mengetahui dengan teliti ilmu perbintangan untuk dijadikan pedoman dalam bercocok tanam, mendinginkan konflik dalam ngata, serta mengatur kerja-kerja pengelolaan sawah dan ladang.
Dalam kepemilikan lahan, masyarakat adat Toro mengenal enam tata guna lahan secara tradisional. Pertama, Wana Ngkiki, yaitu zona hutan di puncak gunung yang didominasi oleh rerumputan, lumut dan perdu. Meskipun zona ini tidak dijamah aktivitas manusia, kawasan ini dianggap sebagai sumber udara segar, sehingga kedudukannya sangat penting. Hak kepemilikan individu tidak diakui di zona ini.
Kedua, Wana, yaitu hutan primer yang menjadi habitat hewan, tumbuhan langka, dan zona tangkapan air. Di zona ini setiap orang dilarang membuka lahan pertanian. Wana hanya boleh dimanfaatkan untuk kegiatan berburu dan mengambil getah damar, bahan wewangian dan obat-obatan serta rotan. Seluruh sumberdaya alam di zona ini dikuasai secara kolektif sebagai bagian dari ruang hidup dan wilayah kelola tradisional masyarakat. Kepemilikan pribadi di dalam zona ini hanya berlaku pada pohon damar yang biasanya diberikan kepada orang yang pertama mengambil atau mengolah getah damar itu.
Ketiga, Pangale, yaitu zona hutan semi-primer bekas yang pernah diolah menjadi kebun namun telah ditinggalkan selama puluhan tahun sehingga telah menghutan kembali. Zona ini biasanya dalam jangka panjang dipersiapkan untuk dikembangkan menjadi lahan kebun dan persawahan. Zona pangale biasanya juga dimanfaatkan untuk mengambil rotan dan kayu untuk bahan bagunan dan keperluan tumah tangga, pandan hutan untuk membuat tikar dan bakul, bahan obat-obatan, getah damar dan wewangian.
Keempat, Pahawa Pongko, yaitu campuran hutan semi-primer dan sekunder, merupakan hutan bekas kebun yang telah ditinggalkan selama 25 tahun keatas sehingga kondisinya sudah menyerupai pangale. Pepohonan di zona ini biasanya besar-besar. Seperti halnya pangale, zona ini tidak mengenal hak kepemilikan pribadi kecuali pohon damar yang ada didalamnya.
Kelima, Oma, yaitu hutan belukar yang berbentuk dari bekas kebun yang sengaja dibiarkan untuk diolah lagi dalam jangka waktu tertentu menurut masa rotasi dalam sistem perladangan bergulir. Di zona inilah hak kepemilikan pribadi atas lahan diakui.
Keenam, Balingkea, yaitu bekas kebun yang sudah berkurang kesuburannya dan sudah harus diistirahatkan. Meskipun begitu, lahan ini biasanya masih bisa diolah untuk budidaya palawija seperti jagung, ubi kayu, kacang-kacangan, cabe dan sayuran. Lahan ini sudah termasuk hak kepemilikan pribadi. Di zona inilah biasanya masyarakat adat Toro bertani sawah.
Selain adanya pembagian-pembagian wilayah hutan dan lahan. Masyarakat adat Toro juga memiliki aturan-aturan adat yang sangat ketat. Aturan-aturan adat ini mencakupi aturan dalam kehidupan sehari-hari, aturan pembukaan lahan dan hutan, pengambilan kayu dan kasus-kasus pencurian. Jika ada yang melakukan penebangan kayu tanpa izin lembaga adat maka akan dikenakan denda adat yaitu Hampole hangu , yaitu berupa 1 ekor kerbau, 10 dulang dan 1 lembar mbesa. Saat ini juga sedang berlaku aturan adat untuk tidak mengambil rotan (untuk dijual) selama satu tahun, atau istilah adatnya di Ombo. Aturan ini dikeluarkan oleh lembaga adat karena melihat ketersediaan rotan di dalam hutan sudah semakin berkurang.
Pada tahun 2002, 2003 dan 2010 Ngata Toro mendapat kunjungan studi banding tentang pengelolaan lingkungan dari pemerintah daerah Kutai. Negara Filipin dan pemerintah daerah Maluku Utara. Selain keindahan alam dan pengelolaannya yang sangat arif , kesadaran masyarakat terhadap bentuk-bentuk budaya sangat tinggi di Ngata Toro ini, orang – orang yang ramah dan terbuka menumbuhkan rasa nyaman bagi para pengunjung.
Keberadaan bangunan-bangunan publik dengan corak lokal masih dipertahankan, tidak hanya sebatas fisiknya saja, tapi bangunan–bangunan ini kemudian berfungsi sebagaimana harusnya, misalnya saja lobo. Lobo adalah sebuah bangunan adat dari batang-batang kayu tertentu yang selalu digunakan para tokoh adat dan masyarakat untuk no libu (berkumpul) guna membahas persoalan-persoalan ngata ataupun berkumpul untuk memutuskan suatu persoalan secara adat.
Selain Lobo juga terdapat paningku, gampiri serta bantaya yang juga memiliki fungsi masing-masing. Suatu waktu ketika sedang asik berjalan-jalan di perkampungan Ngata Toro, saya menyaksikan sebuah peristiwa yang cukup menarik, ada sekelompok anak-anak sekolah dasar sedang melakukan proses belajar mengajar di dalam Lobo, saya menghampirinya. Saya sangat kagum, ternyata anak-anak ini adalah siswa-siswi sekolah dasar al-khairat Toro yang kebetulan bergama kristen sedang belajar agama mereka di Lobo, setahu saya Al –khairat adalah sebuah perguruan islam yang terbilang besar di Sulawesi Tengah, biasanya sekolah-sekolah al-khairat hanya memiliki murid agama islam, tapi di Toro ada kenyataan di masyarakat yang menyentuh saya, bahwa bagi orang Toro, perbedaan prinsip hanyalah dinamika, bukan persoalan yang harus memecah kita menjadi kelompok-kelompok yang saling bermusuhan .
 Mereka memiliki perbedaan satu sama lain namun berupaya menghargainya sebab pemahaman mereka tentang hakikiat manusia adalah sama. Adat istiadat menjadi ruang mereka untuk lebur menjadi satu atap dalam kearifan budaya lokal Ngata Toro.


PERANAN GABUNGAN KELOMPOK TANI (GAPOKTAN) SEBAGAI LEMBAGA PEREKONOMIAN MASYARAKAT


Gapoktan adalah gabungan dari beberapa kelompok tani yang melakukan usaha agribisnis di atas prinsip kebersamaan dan kemitraan sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani bagi anggotanya dan petani lainnya. Gapoktan adalah organisasi petani ditingkat petani yang ada didesa paling dekat dengan petani. yang akan membantu petani dalam menyelesaikan permasalahan petani itu sendiri. Gapoktan harus berfungsi sebagai wadah petani itu sendiri dan sekaligus menjadi regulator dari semua kebutuhan petani. Gapoktan menjadi harapan petani dalam menjalankan usaha tani mereka ditingkat desa. Tujuan utama pembentukan dan penguatan Gapoktan adalah untuk memperkuat kelembagaan petani yang ada, sehingga pembinaan pemerintah kepada petani akan terfokus dengan sasaran yang jelas (Deptan, 2006).  
Pembentukan Gapoktan didasari oleh visi yang diusung, bahwa pertanian modern tidak hanya identik dengan mesin pertanian yang modern tetapi perlu ada organisasi yang dicirikan dengan adanya organisasi ekonomi yang mampu menyentuh dan menggerakkan perekonomian di Kelurahan melalui pertanian, di antaranya adalah dengan membentuk Gapoktan. Gapoktan tersebut akan senantiasa dibina dan dikawal hingga menjadi lembaga usaha yang mandiri, profesional dan memiliki jaringan kerja luas. Lembaga pendamping yang utama adalah Dinas Pertanian dan Kelautan Kota Cilegon, di mana para penyuluh merupakan ujung tombak di lapangan. Penguatan dari sisi lain adalah melalui implementasi berbagai kegiatan pemerintah yang didistribusikan ke Kelurahan, dimana Gapoktan selalu dilibatkan dalam setiap kegiatan yang memungkinkan. 
Permasalahan petani sampai sekarang adalah ketersediaan pupuk, benih berkuakitas,pestisida dan pemasaran pasca panen.Semua permasalahan ini harus diakomodir oleh pengurus Gapoktan dan sekaligus membantu petani menyesaikannya.Hal terpulang pada kualitas dan kemauan dari pengurus Gapoktan itu sendiri. Bantuan pemerintah yang mengarah pada penguatan organisasi Gapoktan sudah banyak, namun belum dimamfaatkan semaksimal mungkin untuk kepentingan petani itu sendiri.Bimbingan dan petunjuk dari semua yang terkait masih sangat dibutuhkan dan dilakukan secara berkelanjutan.
Gapoktan yang kuat dan mandiri dicirikan antara lain :
  1. Adanya pertemuan/rapat anggota/rapat pengurus yang diselenggarakan secara berkala dan berkesinambungan;
  2. Disusunannya rencana kerja gapoktan secara bersama dan dilaksanakan oleh para pelaksana sesuai dengan kesepakatan bersama dan setiap akhir pelaksanaan dilakukan evaluasi secara partisipasi;
  3. Memiliki aturan/norma tertulis yang disepakati dan ditaati bersama.
  4. Memiliki pencatatan/pengadministrasian setiap anggota organisasi yang rapih;
  5. Memfasilitasi kegiatan-kegiatan usaha bersama di sektor hulu dan hilir;
  6. Memfasilitasi usaha tani secara komersial dan berorientasi pasar;
  7. Sebagai sumber serta pelayanan informasi dan teknologi untuk usaha para petani umumnya dan anggota kelompoktani khususnya;
  8. Adanya jalinan kerjasama antara Gapoktan dengan pihak lain;
  9. Adanya pemupukan modal usaha baik iuran dari anggota atau penyisihan hasil usaha/kegiatan Gapoktan.
Gapoktan melakukan fungsi-fungsi, sebagai berikut :
  1. Merupakan satu kesatuan unit produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar (kuantitas, kualitas, kontinuitas dan harga);
  2. Penyediaan saprotan (pupuk bersubsidi, benih bersertifikat, pestisida dan lainnya) serta menyalurkan kepada para petani melalui kelompoknya;
  3. Penyediaan modal usaha dan menyalurkan secara kredit/pinjaman kepada para petani yang memerlukan;
  4. Melakukan proses pengolahan produk para anggota (penggilingan, grading, pengepakan dan lainnya) yang dapat meningkatkan nilai tambah;
  5. Menyelenggarakan perdagangan, memasarkan/menjual produk petani kepada pedagang/industri hilir.

AGGARAN DASAR DAN ANGGARAN RUMAH TANGGA
AD/ART Organisasi  berfungsi sebagai berikut :
  • untuk menggambarkan mekanisme kerja suatu organisasi
  • AD berfungsi juga sebagai DASAR pengambilan sumber peraturan/hukum dalam konteks tertentu dalam organisasi 
  • ART berfungsi menerangkan hal-hal yang belum spesifik pada AD atau yang tidak diterangkan dalam AD, Karena AD hanya mengemukakan pokok-pokok mekanisme organisasi saja. 
  • ART adalah perincian pelaksanaan AD 
  • Ketentuan pada ART relatif lebih mudah dirubah daripada ketentuan pada AD. 
  • Hal-hal yang tercantum dalam setiap AD/ ART suatu organisasi tergantung dari perhatian organisasi tersebut kepada suatu hal. Ada suatu hal yang dalam suatu organisasi dimasukkan dalam AD atau ART-nya karena dianggap penting, tetapi diorganisasi lain bisa jadi hal tersebut tidak dimasukkan dalam AD atau ART organisasi tersebut karena dianggap tidak penting. 







KONSEP WANITA TANI


Perempuan tani dari setiap daerah mempunyai masalah yang sama. Secara umum mereka menghadapi masalah yang sama pula. Yaitu tingkathidup yang rendah dan jumlah keluarga yang relatif besar, tingkat pendidikandan kesempatan belajar kurang, pengetahuan dan keterampilan yang sangatterbatas dan tertinggal dalam usaha tani, kurangnya sikap positif terhadapkemajuan baik karena adat, agama, maupunkebiasaan hidup.
Perempuan dalam proses pembangunan dipedesaan bukanlah berarti hanya sebagai suatu tindakan perikemanusiaan yang adil belaka, tindakan mengajar, mendorong perempuan dipedesaan untuk berpartisipasi dalam pembangunan merupakan suatu tindakan yang efisien. Ikut sertanya perempuan pada umumnya dalam pembangunan berarti pula memanfaatkan
sumber daya manusia dengan potensi yang tinggi. Perempuan tani sehubungan dengan peranan dan kedudukannya dalam rumah tangga perlu diberikan perhatian khusus yang secara bersama dikaitkan dengan kepentingan keluarga tani. Padahal banyak orang percaya kalau perempuan selayaknya berada dilingkungan rumah tangga dengan tugas-tugas seperti melahirkan dan membesarkan anak, serta mengurus suami, agar keluarga tentram dan sejahtera. Pandangan seperti itu dapat dibenarkan oleh penganut Teori Nature. Tetapi jika disimak, maka pandangan tersebut lebih memihak dan menguntungkan suami. Suami dengan segala aktifitasnya diluar rumah memungkinkan dihormati dan dihargai. Sementara isteri dengan ke-perempuan-nya ditempatkan pada posisi yang terpojok, karena perannya terbatas didalam rumah ( sektor
domestik), dan jerih payahnya tidak menghasilkan uang.
Perempuan memegang peranan penting sebagai ibu rumah tangga dengan berbagai jenis pekerjaan dari yang berat sampai yang ringan, seperti mengatur rumah tangga , memasak, mencuci, mengasuh dan mendidik anak. Namun sejalan dengan perkembangan teknologi bdisektor pertanian, maka perempuan tani perlu meningkatkan pengetahuan, keterampilan sehingga dapat mengambil manfaat yang sebesar-besarnya dari segala jenis sumber daya yang ada disekitarnya berupa sumber daya alam maupun sumber daya manusia.
Karena itu, kemajuan yang dicapai perempuan zaman sekarang dapat dijumpai pada banyak kaum hawa ini sebagai motor penggerak pembangunan dibidang pertanian, seperti kelompok tani, dalam kegiatan program peningkatan produksi pertanian, dalam kegiatan pasca panen
produksi pertanian. Termasuk mengandung beban kerja dirumah tangga seperti mengambil air, mencari kayu bakar, memasak, menjual hasil panen, mendidik anak-anaknya, sebagai ibu rumah tangga dan mengabdi kepada suaminya.
Di bidang pertanian, sejak semula dalam memenuhi kebutuhan untuk menambah tenaga kerja yang ada yaitu tenaga kerja lelaki dalam mengerjakan ladangnya atau sawah, tegalan atau kebun. Dalam pekerjaan yang menghasilkan pendapatan, pemilikan tanah pertanian dari warga desa menyebabkan berkurangnya kesempatan atau peluang kerja. Bagi mereka yang berhasil mendapatkan pekerjaan itu, waktu yang dicurahkan oleh perempuan lebih banyak dengan hasil yang lebih rendah jika dibandingkan dengan lelaki dari golongan sosial ekonomi yang sama. Karena itu, salah satu jalan untuk meningkatkan kesejahteranan hidup masyarakat tani yang
dapat dilaksanakan adalah mengikut sertakan perempuan tani dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan.
Namun dalam peningkatan produksi usaha tani perlu pula adanya peningkatan efesiensi tenaga kerja keluarga tani. Salah satu alternatifnya adalah melibatkan perempuan dalam berbagai kegiatan usaha tani. Kemajuan usaha tani bukan saja berguna bagi dirinya sendiri, tetapi melalui
perannya tersebut, perempuan tani telah turut menentukan berhasilnya suatu usaha, termasuk tenaga kerja lainnya, merupakan keharusan dalam melaksanakan kegiatan baik dibidang rumah tangga maupun usaha tani. Pendapatan sangat diperlukan bagi petani sebab dengan mengetahui jumlah pendapatan yang diperoleh maka dapat menentukan berapa upah usaha tani dalam setahun. Pendapatan petani adalah hasil yang diperoleh dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan. Karena itu, salah satu upaya untuk menambah tingkat pendapatan keluarga tani adalah dengan
memberi kesempatan berusaha bagi perempuan-perempuan tani yang merupakan sumber tenaga kerja yang potensial.
Keikutsertaan perempuan dalam kegiatan mencari nafkah tidak lain karena pendapatan lelaki tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Keikutsertaan anggota keluarga mencari nafkah merupakan upaya peningkatan pendapatan guna mengatasi masalah memenuhi kebutuhan hidup rumah tangga. Namun demikian perempuan juga diwajibkan
melaksanakan kewajibannya sebagai warga negara yang baik dan aktif dalam berbagai organisasi kewanitaan, serta menjunjung karirnya.


Keluarga
A.    Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang terdiri dari suami, isteri dan anak-anaknya. Keluarga ini terbentuk atas dasar perkawinan (ayah-Ibu), pertalian darah (anak-anak kandung) dan adopsi (anak-anak angkat). Ada dua macam bentuk keluarga yaitu :
1.      Keluarga  batih/somah/umpi/inti/segitiga abadi, dalam jenis ini anggotanya terdiri atas ayah, ibu dan anak yang belum menikah baik anak kandung maupun anak angkat/adopsi. Dengan tempat tinggal yang sama.
2.      Keluarga besar /extended family, dalam keluarga jenis ini anggotanya terdiri dari beberapa keluarga inti yang menggabungkan diri yang didasari anggapan masih satu keturunan/nenek moyang. Mereka menempati daerah yang sama, sedang besarnya anggota ada yang menganut sistem bilateral  (dari garis bapak dan ibu), ada yang menganut unilateral (dari garis bapak atau ibu).

B.  Tujuan pembentukan keluarga
1)      Untuk mendapatkan keturunan
2)      Untuk meningkatkan derajat atau status sosial seseorang
3)      Mendekatkan hubungan kekerabatan
4)      Harta peninggalan jangan sampai jatuh ditangan orang lain.

C. Fungsi keluarga
-         Fungsi pengatur seksual
-         Fungsi reproduksi
-         Fungsi sosialisasi
-         Fungsi afeksi
-         Fungsi penentuan status
-         Fungsi perlindungan
-         Fungsi ekonomis

D.  Keluarga Sebagai Suatu Unsur dalam Struktur Sosial
Keluarga merupakan satuan sosial yang paling mendasar mengandung maksud bahwaperwujudan masyarakat yang paling kecil/mendasar akan membentuk kesatuan sosial yang lebih luas, seperti kekerabatan, desa, komuniti, suku bangsa,dll. Jadi setiap anggota kesatuan masyarakat dilahirkan dari suatu keluarga tertentu atau dengan kata lain kesatuan sosial yang ada dalam masyarakat tersusun dari keluarga-keluarga.
Keberadaan keluarga sebagai satuan sosial yang mendasar ditandai dengan adanya gejala-gejala sosial yang memenuhi persyaratan suatu kehidupan sosial masyarakat diantaranya : adanya pola-pola interaksi sosial seperti hubungan antara ibu dan anak, hubungan Ayah dan Ibu. Juga adanya hubungan dan kewajiban diantara anggota keluarga sesuai statusnya.
Fungsi keluarga sebagai satuan sosial yang mendasar yaitu :
1.         Pemenuhan kebutuhan biologis
2.         Pemenuhan kebutuhan emosional/perasaan
3.         Pemenuhan kebutuhan pendidikan/sosialisasi
4.         Fungsi ekonomi
5.         Pengawasan/kontrol social

E. Keluarga sebagai lembaga yang khas
Keluarga adalah satu-satunya lembaga sosial, disamping agam, yang secara resmi telah berkembang disemua masyarakat. disamping keluarga merupakan dasar pembantu  utama struktur sosial  yang lebih luas, dengan pengertian bahwa lembaga-lembaga lainnya tergantung pada eksistensinya. Ciri  utama lain dari sebuah keluarga ialah fungsi utamanya yang dapat dipisahkan satu sama lain, tetapi tidak demikian halnya pada semua  sistem keluarga yang diketahui.

Kerabat
Pengertian kerabat adalah unit sosial yang orang-orangnya mempunyai hubungan keturunana/hubungan darah. Kerabat ini adalah perluasan  keluarga setelah anak-anaknya dewasa/menikah, memiliki anak, cucu dan seterusnya.
1)      Sistem kekerabatan bilateral/parental
Suatu sistem kekerabatan yang keanggotaannya dihitung dari 2 garis keturunan yaitu dari garis ayah dan ibu, artinya semua orang yang masih ada hubungan darah dengan ibu dan ayah dihitung sebagai anggota kerabat.
Ciri kerabat bilateral diantaranya :
-         Keanggotaanya dihitung  dari garis ayah dan ibu
-         Seseorang memiliki dua kakek dan dua nenek
-         Semua anak memiliki hak yang sama
-         Semua anak menjadi hak ayah dan ibu.
2)      Sistem kekerabatan unilateral patrilineal
Merupakan sistem kekerabatan yang keanggotaanya ditarik dari garis keturunan ayah, unit sosial dari kerabat ini diseut clan patrilineal. Sistem ini terdapat dimasyarakat Batak.
Ciri kerabat unilateral  patrilineal :
-         Menarik garis keturunan dari pihak ayah
-         Anak-anak menjadi hak ayah
-         Kaum laki-laki mendapat penghargaan dan kedudukan tinggi
-         Warisan jatuh pada anak laki-laki
-         Seseorang  memiliki satu kakek dari bapak
3)      Sistem kerabat unilateral matrilineal
Merupakan sistem kekerabatan yang keanggotaan ditarik dari garis keturunan ibu, unit terkecil dari kerabat ini disebut dengan clan matrilinier, sistem ini berada dimasyarakat Minangkabau.
Ciri kerabat unilateral matrilineal :
-         Menarik garis keturunan dari pihak dari pihak ibu
-         Anak-anak menjadi hak ibu
-         Kaum wanita mendapat penghargaan dan kedudukan yang tinngi
-         Warisan jatuh pada anak wanita
-         Seseorang memiliki satu nenek dari ibu.
4)      Kekerabatan double unilateral
Merupakan kerabat yang keanggotaannya ditarik dari garis ayah dan ibu secara bersama-sama sehingga akan terjadi seseorang menjadi anggota clan patrilineal (dari ayah) dan juga sebagai anggota clan matrilineal (dari ibu) secara bersama-sama.
5)       Sistem kekerabatan alteneren/berganti-ganti
Dalam sistem ini keanggotaan dihitung dari garis ayah dan ibu secara beragntian, sehingga status keanggotaan kekerabatan anak-anak yang dilahirkan sari suatu keluarga tersebut juga diganti, missal anak nomer satu termasuk kerabat patrilineal, maka anak nomer dua termasuk kerabat matrilineal, nomer tiga termasuk kerabat patrilineal dan seterusnya.

1 komentar:

Poskan Komentar