music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Ringkasan Sosper sebelum UTS

07.44 |


Sosiologi Pertanian
Sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu Socius yang berarti kawan, teman sedangkan Logos berarti ilmu pengetahuan. Ungkapan ini dipublikasikan pertama kali dalam "Cours De Philosophie Positive" karangan August Comte (1798-1857). Sosiologi dikenal sebagai ilmu pengetahuan tentang masyarakat.
Sosiologi adalah kehidupan manusia secara ilmiah yang penelaahannya didapatkan pada kehidupan kelompok tersebut (Horton, 2005). Menurut Soekanto (1986) dan Selo Soemardjan (1964), sosiologi adalah ilmu yang mempelajari pola hubungan manusia dengan kelompok atau antarkelompok manusia tentang proses sosial, struktur, atau perubahan sosial.
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam (bahasa Inggris: crop cultivation) serta pembesaran hewan ternak (raising). Komoditas pertanian yang berada di pinggir kota yaitu tanaman hias, sayuran, buah, dan kebutuhan pokok. Komoditas di desa berupa sayuran, buah, dan kebutuhan pokok.
Sosiologi Pertanian, menurut Ulrich Planck, adalah sosiologi yang membahas fenomena sosial dalam bidang ekonomi pertanian. Sosiologi memusatkan hampir semua perhatiannya pada petani dan permasalahan hidup petani.

Table 1. Sosiologi dalam Kegiatan Pertanian
Objek Sosiologi
Kegiatan Pertanian
Lahan
Penanaman
Pemeliharaan
Pemanenan
Pengepakan
Pengangkutan
Pemasaran
Interaksi Ekonomi
Jual-beli atau sewa menyewa lahan
Pembelian bibit dan alat pertanian, upah pekerja
Pembelian pupuk, upah pekerja
Tenaga petik
Tenaga pembungkus
Tenaga angkut
Jual beli hasil pertanian
Interaksi Ekologi
Pengolahan tanah (penggemburan tanah) dan pengairan
Jarak tanam, kedalaman, dan jumlah bibit per lubang
Penyiangan, pengairan, pengendalian hama penyakit, dan pemupukan
Pencabutan, pemetikan, dan pemotongan tanaman
Pengaturan suhu dan kelembapan
Pengaturan suhu, kelembapan, dan penempatan letak
Pengaturan suhu, kelembapan, dan penempatan letak
Aturan-Aturan
Lahan harus subur
Jarak tanam, kedalaman, dan jumlah bibit per lubang
Intensitas penyiangan, pengairan dan pemupukan per hektar
Umur panen, warna buah,dan cara pemanenan
Suhu dan kelembapan yang sesuai
suhu, kelembapan, dan penempatan letak yang sesuai
Pemilihan kualitas hasil


Peradaban Pertanian
Peradaban berasal dari bahasa Arab, adab yang berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Manusia yang beradab adalah manusia yang memiliki kesopanan dan berbudi pekerti. Manusia yang tidak beradab disebut biadab.
Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, peradaban ialah bagian- bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti kesenian. Menurut Oswalg Spengl, peradaban adalah kebudayaan yang mengalami perubahan dan menekankan pada kesejahteraan fisik dan material. Selain itu, peradaban juga dapat diartikan sebagai kebudayaan yang mengalami kemajuan yang tinggi atau kemajuan yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa.
Peradaban merujuk pada suatu masyarakat yang kompleks. Suatu peradaban bisa digunakan untuk mengetahui kemajuan suatu bangsa. Selain itu, peradaban juga bisa menjadi pembeda antar zaman. Seperti halnya sebuah evolusi, peradaban juga selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dapat mengarah ke arah kemajuan ataupun ke arah hilangnya peradaban tersebut.
Pertanian merupakan sebuah peradaban. Pertanian itu merupakan salah satu bentuk perdaban yang pertama kali muncul. Sebelum manusia mengenal tulisan, pertanian sudah dikenal manusia pada masa itu. Peradaban pertanian yang semula hanya mengambil langsung dari alam dan berpindah-pindah (nomanden), mulai menggunakan pola penanaman dengan lahan yang tetap. Dalam perkembangannya, manusia menciptakan penanaman yang efektif dan sistem jual beli hasil pertanian.
Kecerdasan manusia membuat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat. Hal ini menimbulkan budaya instan di masyarakat. Banyak petani tidak sabar sehingga menggunakan pestisida berlebih agar dapat menghilangkan hama dengan cepat. Dampaknya, zat yang terkandung dalam pestisida terakumulasi di tanah dalam jumlah yang besar. Zat ini dapat mematikan mikroorganisme di tanah dimana mikroorganisme sendiri dapat menyuburkan tanah secara alami. Pestisida yang terakumulasi dapat mengganggu rantai makanan, merusak ekologi, dan ekosistem. Ketika ekstensifikasi pertanian, lahan pertanian dibuka dengan menebangi hutan. Akibatnya, pemanasan global pun terjadi. Untuk itulah diperlukan suistanable agriculture yang mana hasil dari pertanian bisa dinikmati seluruh umat manusia tanpa kerusakan lingkungan.

                                                                                                                                                            I.            Struktur Pertanian
Budidaya tanaman berwawasan lingkungan adalah suatu budidaya pertanian yang direncanakan dan dilaksanakan dengan memperhatikan sifat-sifat, kondisi dan kelestarian lingkungan hidup, dengan demikian sumber daya alam dalam lingkungan hidup dapat dimanfaatkan sebaik mungkin sehingga kerusakan dan kemunduran lingkungan dapat dihindarkan dan melestarikan daya guna sumber daya alam dan lingkungan hidup.
A.      Pertanian Konvensional dan Modern

Sistem pertanian Revolusi Hijau juga  dikenal dengan sistem pertanian yang konvensional.  Program Revolusi hijau diusahakan melalui pemuliaan tanaman untuk mendapatkan varietas baru. Sistem pertanian konvensional adalah sistem pertanian yang bertumpu pada bahan-bahan kimia buatan (pupuk dan pestisida). Sistem pertanian konvensional dengan penggunaan pupuk kimia yang merusak tanah dan penggunaan pestisida kimia yang meracuni berbagai biota alam. Pertanian modern sendiri telah berorientasi pada pertanian berkelanjutan (sustainable), ekologi (eco-farming), dan organik dimana dalam prosesnya mengurangi penggunaan bahan-bahan kimia.

B.      Pertanian Berkelanjutan
Pertanian berkelanjutan adalah pertanian yang berlanjut untuk saat ini, saat yang akan dating, dan selamanya. Artinya pertanian tetap ada dan bermanfaat bagi semuanya dan tidak menimbulkan bencana bagi semuanya (tidak merusak lingkungan). Dengan kata lain, pertanian yang bisa dilaksanakan saat ini dan saat yang akan datang.
Dapat dikatakan pertanian berkelanjutan (sustainable agriculture) adalah pemanfaatan sumber daya yang dapat diperbaharui (renewable resources) dan sumber daya tidak dapat diperbaharui (unrenewable resources). Proses produksi pertanian mengarah pada penggunaan produk hayati yang ramah lingkungan dan harus bisa menjamin ketahanan pangan bagi rakyat dan bangsanya. Pertanian berkelanjutan berbicara masalah peningkatan hasil panen atau produksi komoditi, diversivikasi pangan, dan penyiapan infrastruktur.
C.      Pertanian Ekologi
Pertanian Ekologi merupakan sistem budidaya tanaman yang menjaga kelestarian lingkungan hidup serta kesehatan konsumennya. Pertanian ini mengamati hubungan saling ketergantungan dalam suatu ekosistem alam, misalnya hutan.  Semakin beragam komposisi pertanian organiknya, maka akan semakin stabil sebuah ekosistem yang ada di dalamnya.
Pertanian ekologi ini bertentangan dengan pertanian industri yang mengacu pada spesialisasi produksi secara monokultur dimana mengakibatkan kerusakan lingkungan dan krisis sosial ekonomi petani skala kecil. Pertanian industri telah diindikasikan sebagai salah satu penyumbang pemanasan global. Pertanian industri hanya bersumbu pada kepentingan pasar.
D.      Pertanian Organik
Pertanian organik adalah sistem produksi pertanian yang menghindari atau sangat membatasi penggunaan pupuk kimia (pabrik), pestisida, herbisida, zat pengatur tumbuh dan aditif pakan, hasil rekayasa genetik, serta menekan pencemaran udara, tanah, dan air. Dengan kata lain, pertanian organik merupakan teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis.
Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus berlabel aman dikonsumsi (food safety), kandungan nutrisi tinggi (nutritional) dan ramah lingkungan (eco-labelling).
1.       Perkembangan Pertanian Organik

Praktek pertanian yang menggunakan bahan-bahan kimia buatan pabrik (agrokimia) menimbulkan permasalahan terhadap kerusakan ekosistem lahan pertanian dan kesehatan petani itu sendiri. Akibatnya,  hama dan penyakit tanaman tidak menurun, tetapi justru semakin kebal terhadap bahan-bahan kimia dan mikroorganisme penyubur tanah pun nyaris hilang. Hal ini menyebabkan petani memerlukan dosis yang lebih tinggi untuk membasminya. Ini artinya, petani tidak saja menebar racun untuk membasmi hama dan penyakit, tetapi juga meracuni dirinya sendiri. Untuk itu perlu adanya penggunaan pupuk organic yang ramah lingkungan.

2.       Peluang Pertanian Organik di Indonesia

Pasar produk pertanian organik di dalam negeri sangat kecil, hanya terbatas pada masyarakat menengah ke atas. Hal ini dikarenaka belum adanya insentif harga yang memadai untuk produsen produk pertanian organik, perlu investasi mahal pada awal pengembangan karena harus memilih lahan yang benar-benar steril dari bahan agrokimia, dan belum ada kepastian pasar sehingga petani enggan memproduksi komoditas tersebut.

3.       Budidaya Pertanian Organik

a.       Lahan
Lahan pertanian berasal dari praktek pertanian tradisional atau hutan alam yang tidak pernah mendapatkan asupan bahan-bahan agrokimia (pupuk dan pestisida). Namun, bila lahan yang digunakan berasal dari lahan bekas budidaya pertanian konvensional perlu dilakukan konversi lahan.
b.       Benih
Benih yang digunakan bukan hasil perlakuan rekayasa genetika, tetapi benih lokal atau benih hibrida yang telah beradaptasi dengan alam sekitar.
c.        Penanaman
Sistem penanaman dengan tumpangsari (keanekaragaman varietas) dan pergiliran tanaman.
d.       Pemeliharaan
Pemeliharaan berupa pemupukan dengan pemupukan organik dan pengendalian HPT/OPT.
e.        Panen dan Pasca Panen
Kegiatan panen dan pasca panen harus menekan terjadinya kerusakan karena  akan menentukan kualitas yang didapat.
4.       Kelemahan Sistem Pertanian Organik
a.       Ketersediaan bahan organik terbatas dan takarannya harus banyak
b.       Hasil pertanian organik lebih sedikit jika dibandingkan dengan pertanian non-organik
c.        Pengendalian organisme pengganggu secara hayati masih kurang efektif jika dibandingkan dengan penggunaan pestisida kimia.
d.       Terbatasnya informasi tentang pertanian organik.
5.       Kelebihan Sistem Pertanian Organik
a.       Meningkatan aktivitas organisme yang menguntungkan bagi tanaman.
b.       Meningkatkan cita rasa dan kandungan gizi.
c.        Meningkatkan ketahanan dari serangan organisme pengganggu.
d.       Memperpanjang unsur simpan dan memperbaiki struktur.
e.        Membantu mengurangi erosi.
E.       Pertanian Subsisten dan Komersial

Subsiten merupakan terjemahan dari kata “subsitance” yang bersal dari kata “subsist” berarti hidup. Pertanian subsiten adalah pertanian dengan tujuan utama memenuhi kebutuhan hidup. Pertanian subsiten ini hanya berkaitan langsung dengan kegiatan On Farm. Di samping itu, lahan yang digunakan produksi sempit sehingga semakin modern pertanian, maka jumlah pertanian subsiten semakin kecil.
Pertanian komersial adalah suatu usahatani dengan sumua hasil pertanian dijual ke pasar dan ditujukan untuk mendapatkan keuntungan. Pertanian jenis ini mengusahakan tanaman komoditi ekspertanian organikr atau dalam negeri.

F.       Lahan Basah dan Lahan Kering Pertanian

Jenis tanaman utama di lahan basah adalah padi. Lahan basah yang menggunakan sumber air irigasi dinamakan sawah irigasi, sedangkan lahan basah yang mengandalkan air hujan dinamakan sawah tadah hujan. Lahan kering sendiri adalah lahan yang dapat digunakan untuk usaha pertanian dengan menggunakan air secara terbatas dengan mengharapkan curah hujan. Lahan ini memiliki kondisi agro-ekosistem yang beragam, umumnya berlereng dan peka terhadap erosi.
Indonesia mempunyai aset nasional berupa pertanian lahan kering sekitar 111,4 juta ha atau 58,5% dari luas seluruh daratan. Definisi lain lahan kering adalah lahan tadah hujan (rainfed) yang dapat diusahakan secara sawah (lowland, wetland) atau tegal atau ladang (upland). Kriteria yang membedakan lahan kering adalah sumber air. Sumber air bagi lahan kering adalah air hujan, (Notohadiprawiro, 1988 dalam Suyana, 2003). Komoditas yang biasa ditanam pada pertanian lahan kering adalah jagung, ubi ubian dan kacang-kacangan.
Tiga permasalahan utama usaha tani lahan kering, yaitu: erosi (terutama bila lahan miring dan tidak tertutup vegetasi secara rapat), kesuburan tanah (umumnya rendah sebagai akibat dari proses erosi yang berlanjut), dan ketersediaan air (sangat terbatas karena tergantung dari curah hujan). Usaha tani di lahan kering hanya menghasilkan pendapatan yang rendah sehingga pada umumnya petani tidak sejahtera.

Teknologi pada lahan kering:
1.       Teknologi Pengapuran, Pemupukan dan Pemberian Bahan Organik
Teknologi dalam pengelolaan tanah masam adalah (1) pengapuran, (2) pemupukan, (3) pemberian bahan organik, dan (4) penggunaan tanaman yang toleran terhadap aluminium Nursyamsi (1996).
2.       Teknologi Konservasi Tanah dan Air
Pengolahan tanah harus menghasilkan permukaan tanah yang kasar sehingga simpanan depresi dan infiltrasi meningkat.
3.       Teknologi Konservasi Hedgerows
Sistem tanam pada usahatani konservasi dengan teknologi hedgerows merupakan kombinasi antara tanaman penguat teras, tanaman penutup tanah, tanaman semusim, dan tanaman tahunan (Sudaryono, 1995).
4.       Teknologi Usahatani Terpadu
Melakukan perpaduan komoditas tanaman pangan/semusim dengan tanaman tahunan dan ternak (Abdurrachman et.al., 1997).
5.       Seleksi Tanaman Adaptif
Tanaman pangan adaptif adalah tanaman yang di satu sisi mampu beradaptasi dan di sisi lain mampu berproduksi secara optimal (Manwan, 1993).

G.      Dataran Rendah dan Dataran Tinggi

Dataran rendah merupakan daerah datar yang memiliki ketinggian hampir sama. Daerah dataran rendah cocok dijadikan wilayah pertanian, perkebunan, peternakan, kegiatan, industri, dan sentra-sentra bisnis. Penduduk di daerah dataran rendah yang mengolah lahan pertanian memanfaatkan awal musim penghujan untuk pengolahan tanah pertanian. Hal ini karena kondisi lahan di daerah dataran rendah sangat bergantung pada musim.
Wilayah Indonesia pada daerah dataran tinggi memiliki sistem pegunungan yang memanjang dan masih aktif. Relief dataran dengan banyaknya pegunungan dan perbukitan, menyebabkan Indonesia memiliki kesuburan tanah vulkanik, udara yang sejuk, dan alam yang indah. Dataran tinggi biasanya dijadikan sebagai daerah tangkapan air hujan (catchment area). Dataran tinggi yang ditumbuhi pohon besar dengan kondisi hutan yang masih terjaga berfungsi mencegah erosi, sebagai suaka margasatwa, cagar alam. Penduduk daerah pegunungan juga banyak yang memanfaatkan suhu udara yang dingin untuk menanam sayuran dan tanaman perkebunan.
Penduduk di daerah dataran rendah biasanya menggunakan pakaian yang tipis karena suhu di daerah ini panas. Untuk mengurangi suhu yang panas ini, rumah-rumah dibuat banyak ventilasi dan atap terbuat dari genting tanah. Penduduk di daerah dataran rendah biasanya menggunakan pakaian yang tebal karena suhu di daerah ini dingin. Intensitas matahari yang tidak banyak menyebabkan rumah di daerah ini berventelasi yang sedikit agar udara dingin tidak masuk ke dalam rumah dan atap terbuat dari seng agar panas matahari dapat tersimpan.

                                                                                                                                           II.            Pertanian sebagai Peradaban
Peradaban berasal dari bahasa Arab, adab yang berarti akhlak atau kesopanan dan kehalusan budi pekerti. Manusia yang beradab adalah manusia yang memiliki kesopanan dan berbudi pekerti. Manusia yang tidak beradab disebut biadab.
Menurut Prof. Dr. Koentjaraningrat, peradaban ialah bagian- bagian kebudayaan yang halus dan indah seperti kesenian. Menurut Oswalg Spengl, peradaban adalah kebudayaan yang mengalami perubahan dan menekankan pada kesejahteraan fisik dan material. Selain itu, peradaban juga dapat diartikan sebagai kebudayaan yang mengalami kemajuan yang tinggi atau kemajuan yang menyangkut sopan santun, budi bahasa, dan kebudayaan suatu bangsa.
Peradaban merujuk pada suatu masyarakat yang kompleks. Suatu peradaban bisa digunakan untuk mengetahui kemajuan suatu bangsa. Selain itu, peradaban juga bisa menjadi
pembeda antar zaman. Seperti halnya sebuah evolusi, peradaban juga selalu mengalami perubahan dari waktu ke waktu, dapat mengarah ke arah kemajuan ataupun ke arah hilangnya peradaban tersebut.
Pertanian merupakan sebuah peradaban. Pertanian itu merupakan salah satu bentuk perdaban yang pertama kali muncul. Sebelum manusia mengenal tulisan, pertanian sudah dikenal manusia pada masa itu. Peradaban pertanian yang semula hanya mengambil langsung dari alam dan berpindah-pindah (nomanden), mulai menggunakan pola penanaman dengan lahan yang tetap. Dalam perkembangannya, manusia menciptakan penanaman yang efektif dan sistem jual beli hasil pertanian.
Kecerdasan manusia membuat ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat. Hal ini menimbulkan budaya instan di masyarakat. Banyak petani tidak sabar sehingga menggunakan pestisida berlebih agar dapat menghilangkan hama dengan cepat. Dampaknya, zat yang terkandung dalam pestisida terakumulasi di tanah dalam jumlah yang besar. Zat ini dapat mematikan mikroorganisme di tanah dimana mikroorganisme sendiri dapat menyuburkan tanah secara alami. Pestisida yang terakumulasi dapat mengganggu rantai makanan, merusak ekologi, dan ekosistem. Ketika ekstensifikasi pertanian, lahan pertanian dibuka dengan menebangi hutan. Akibatnya, pemanasan global pun terjadi. Untuk itulah diperlukan suistanable agriculture yang mana hasil dari pertanian bisa dinikmati seluruh umat manusia tanpa kerusakan lingkungan.
                                                                                                                                                                    I.            Konsep Settlement
Pola penyebaran pemukiman desa:
Menurut Paul H. Landis
1.       The Farm Village Type (FVP)
Tipe desa yang penduduknya tinggal bersama di suatu tempat dengan lahan pertanian di sekitarnya.
2.        The Nebulous Farm Type (NFT)
Tipe desa yang sebagian besar penduduknya tinggal bersama disuatu tempat dengan lahan pertanian disekitarnya dan sebagian kecil penduduknya tersebar keluar pemukiman pokok karena pemukiman pokok sudah padat.
3.       The Arranged Isolated Farm Type (AIFT)
The arranged isolated farm type (AIFT) adalah pola permukiman dimana penduduk tinggal di sekitar jalan dan masing-masing berada di lahan pertanian mereka, dengan suatu trade center diantara mereka. Pola permukiman ini umumnya umumya terdapat di sepanjang tepi sungai. AIFT merupakan pola permukiman yang ideal baik dilihat dari segi ekonomis dan kehidupan social. Tipe desa yang penduduknya bermukim sepanjang jalan utama.
4.       The Pure Isolated Farm Type (PIFT)
Pola permukiman yang penduduknya tinggal dalam lahan pertanian mereka masing-masing, terpisah dan berjauhan satu sama lain, dengan suatu trade center.
Tipe desa yang penduduknya tinggal tersebar, terpisah dari lahan pertanian masing-masing dan terpusat pada satu pusat perdagangan.

Trade center (TC) memiliki peranan yang besar terhadap dinamika kehidupan masyarakat desa, baik pada AIFT maupun PIFT. TC tidak hanya berfungsi sebagai pasar tempat menjual produk pertanian dan membeli barang-barang kebutuhan petani, melainkan juga media untuk bertemu dan berkomunikasi antara warga satu dengan yang lain. Sebab, di TC juga bertempat tinggal orang-orang dengan berbagai keahlian seperti dokter, ahli hukum, guru, ahli mesin, dan lain-lain sehingga tempat ini menjadi tempat pelayanan (service center).
Menurut Alvin L. Bertrand
1.       Pola memanjang (line village community)
Penduduk menyusun tempat tinggal mengikuti aliran sungai atau jalur jalan dan membentuk suatu deretan perumahan.
2.       Pola memusat (nucleated agriculture village community)
Bentuk pola bergerombol dan berkelompok membentuk suatu inti yang disebut nucleus.
3.       Pola pasar terbuka (open country or trade center community)
Pola pemukiman tersebar di daerah pertanian, antara satu desa dengan desa lain terjalin hubungan dagang karena perbedaan produksi dan kebutuhan.

Perkembangan suatu desa dipengaruhi oleh sistem perhubungan dan sarana transportasi di wilayah tersebut. Faktor yang mempengaruhi adalah topografi, letak desa, dan fungsi desa bagi kota atau daerah sekitarnya.

                                                                                                                                                            II.            Pertanian yang Layak

Struktur sosial pertanian salah satunya kelembagaan. Kelembagaan pertanian adalah norma atau kebiasaan yang terstruktur dan terpola serta dipraktekkan terus menerus untuk memenuhi kebutuhan anggota masyarakat yang terkait erat dengan penghidupan dari bidang pertanian di pedesaan. Dalam kehidupan komunitas petani, posisi dan fungsi kelembagaan petani merupakan bagian pranata sosial yang memfasilitasi interaksi sosial atau social interplay dalam suatu komunitas. Kelembagaan pertani juga memiliki titik strategis (entry point) dalam menggerakkan sistem agribisnis di pedesaan. Untuk itu segala sumberdaya yang ada di pedesaan perlu diarahkan/diprioritaskan dalam rangka peningkatan profesionalisme dan posisi tawar petani (kelompok tani). Saat ini potret petani dan kelembagaan petani di Indonesia diakui masih belum sebagaimana yang diharapkan (Suradisastra, 2008 dalam Nasrul, 2012).
Menurut Dimyati (2007) dalam Nasrul (2012), permasalahan yang masih melekat pada sosok petani dan kelembagaan petani di Indonesia adalah:
1.       Masih minimnya wawasan dan pengetahuan petani terhadap masalah manajemen produksi maupun jaringan pemasaran.
2.       Belum terlibatnya secara utuh petani dalam kegiatan agribisnis. Aktivitas petani masih terfokus pada kegiatan produksi (on farm).
3.       Peran dan fungsi kelembagaan petani sebagai wadah organisasi petani belum berjalan secara optimal.
Pertanian yang layak ditandai dengan adanya usaha pertanian bersama (kolektif). Dapat digambarkan sebagai berikut:
1.       Pengendalian hama dan penyakit
Pengendalian ini akan lebih baik bila dilakukan secara bersamaan. Bila masing-masing petani mengendalikan secara individual, terdapat kemungkinan hama dan penyakit berpindah ke lahan pertanian lainnya.
2.       Irigasi
Air sebagai kebutuhan pokok dalam pertanian sangat diperlukan. Oleh karena itu, perlu adanya pergiliran penggunaan air sebagai irigasi. Hal ini terutama pada wilayah yang kekurangan air.
3.       Luas lahan ideal
Luas lahan ideal ini dapat dilakukan dengan Pewarisan lahan akan lebih baik bila diwariskan pada salah seorang ahli waris saja. Hal ini berkaitan dengan luas lahan pertanian yang ideal (kurang lebih setengah hectare).
4.       KUD
Saat panen tiba, petani membuat gudang bersama untuk nantinya menjual hasil panen ketika harga tinggi. KUD juga memberikan kredit modal untuk petani dimana terjadi koordinasi pembagian modal ke tiap-tiap petani. KUD hendaknya dipegang oleh beberapa anggota petani itu sendiri sehingga mengetahui betul keadaan yang sebenarnya.

                                                                                                                                                         III.            Sewa Lahan Pertanian

Tanah merupakan aset Negara yang sangat penting. Sejumlah hak-hak yang berhubungan dengan tanah telah diatur dalam UUPA. Lembaga-lembaga hak atas tanah tersebut dapat dibedakan atas hak-hak atas tanah yang primer dan hak-hak atas tanah yang sekunder. Hak-hak atas tanah yang primer adalah hak-hak atas tanah yang umumnya diberikan oleh Negara, dalam hal ini Badan Pertanahan Nasional, yang termasuk didalamnya sebagaimana pengaturan dalam pasal 16 UUPA adalah hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai. Kemudian hak-hak atas tanah yang sekunder adalah hak-hak yang memberi kewenangan untuk menguasai dan mengusahakan tanah pertanian kepunyaan orang lain, termasuk di dalamnya sebagaimana pengaturan dalam pasal 53 UUPA adalah hak gadai, hak usaha bagi hasil, hak menumpang, dan hak sewa tanah pertanian.
Pelaksanaaan sewa-menyewa tanah pertanian di daerah pedesaan umumnya terjadi atas dasar adanya rasa saling percaya dan kejujuran antara penyewa dan pemberi sewa serta perjanjian sewa menyewa yang dilakukan berdasar pada hukum adat dan kebiasaan masyarakat setempat, serta dilakukan di depan kepala adat atau kepala desa, ini tentu saja berbeda dengan pengaturan formal pelaksanaan perjanjian hak sewa tanah pertanian yang harus dilakukan di depan pemerintah setempat, serendah-rendahnya camat yang juga memperkuat kesaksian tentang adanya perjanjian tersebut.

                                                                                                                                                  I.            Sistem Irigasi di Indonesia
Irigasi merupakan upaya yang dilakukan manusia untuk mengairi lahan pertanian. Dalam dunia modern, saat ini sudah banyak model irigasi yang dapat dilakukan manusia. Pada zaman dahulu, jika persediaan air melimpah karena tempat yang dekat dengan sungai atau sumber mata air, maka irigasi dilakukan dengan mengalirkan air tersebut ke lahan pertanian. Namun demikian, irigasi juga biasa dilakukan dengan membawa air dengan menggunakan wadah kemudian menuangkan pada tanaman satu per satu. Untuk irigasi dengan model seperti ini di Indonesia biasa disebut menyiram.
Petani di Indonesia telah memiliki andil yang besar dalam pengelolaan irigasi bagi persawahannya. Selain adanya sistem Subak di Bali, juga terdapat Mitra Cai di Jawa Barat, Dharma Tirta di Jawa Tengah, dan Tuo Banda di Sumatera Barat.
1.       Ulu-ulu dan Ili-ili
Ili-ili adalah pihak yang bertanggungjawab mengelola irigasi di tingkat hamparan. Ulu-ulu adalah pihak yang mengelola irigasi di tingkat desa atau pejabat pamong desa yang pekerjaannya khusus mengurusi pengairan ke sawah. Ulu-ulu berfungsi sebagai pengolah dan pengevaluasi data, melakukan bimbingan dan pembinaan, serta koordinasi sarana irigasi di bidang pengairan dan lingkungan hidup. Pamong tani desa berfungsi sebagai pembina dalam kegiatan kelompok-kelompok tani di desa dan pengawas terhadap penyaluran bantuan kepada masyarakat.
Subak adalah organisasi adat yang mengatur sistem irigasi di Bali. Sistem ini membagi air yang dipakai oleh petani di sawah. Masyarakat Bali menggunakan sistem ini agar semua petani mendapatkan jumlah air yang sama untuk padi mereka. Sistem ini didasari oleh konsep Tri Hita Karana (tiga jalan menuju kebahagiaan) yaitu berhubungan baik dengan Tuhan, alam dan manusia.
Subak bermanfaat sekali bagi petani, terutama saat musim kemarau. Air dibagi secara adil agar semua petani mendapatkan hasil panen yang maksimal dan sama. Dengan sistem ini, petani tidak bisa memonopoli air karena masing-masing petani mendapatkan giliran. Sistem irigasi ini diatur oleh seorang pemuka adat, yang juga seorang petani. Anggotanya adalah petani-petani yang mempunyai sawah di daerah yang sama. Biasanya mereka mengadakan pertemuan rutin untuk membahas dan membuat keputusan penting.
Revolusi hijau telah menyebabkan perubahan pada sistem irigasi ini, dengan adanya varietas padi yang baru dan metode yang baru, para petani harus menanam padi sesering mungkin, dengan mengabaikan kebutuhan petani lainnya. Ini sangatlah berbeda dengan sistem Subak, dimana kebutuhan seluruh petani lebih diutamakan. Metode yang baru pada revolusi hijau menghasilkan pada awalnya hasil yang melimpah, tetapi kemudian diikuti dengan kendala-kendala seperti kekurangan air, hama dan polusi akibat pestisida baik di tanah maupun di air. Akhirnya ditemukan bahwa sistem pengairan sawah secara tradisional efektif untuk menanggulangi kendala ini.
Para ilmuwan yang meneliti Subak antara lain Clifford Geertz dan J. Stephen Lansing. Pada tahun 1987, Lansing bekerja sama dengan petani-petani Bali untuk mengembangkan model komputer sistem irigasi Subak. Dengan itu, ia membuktikan keefektifan Subak serta pentingnya sistem ini. Sayangnya, sistem irigasi ini semakin sulit dijumpai sekarang. Seiring perkembangan kota, banyak sawah yang berganti fungsi menjadi gedung-gedung bertingkat, jalan umum, rumah-rumah, dll.
3.       Mitra Cai
Kelompok Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Mitra Cai merupakan salah satu bentuk perkumpulan petani dengan kegiatan yang dikhususkan pada pengelolaan dan pembagian air irigasi. Manfaat dengan adanya kelompok P3A Mitra Cai ini, penggunaan air irigasi menjadi lebih efisien dan berkeadilan sehingga tidak menyebabkan terjadinya perselisihan diantara sesama petani pemakai air.
4.       Dharma Tirta
Petani yang tergabung dalam perkumpulan Dharma Tirta diberi bekal tentang pengelolaan irigasi. Sebagian pengelolaan ini diserahkan kepada petani dan sebagian pemerintah. Hal ini dimaksudkan untuk memberi petani kesempatan mengatur kebutuhan airnya sendiri.
                                                                                                                                         II.            Organisasi Irigasi di Indonesia
Organisasi petani irigasi atau Organisasi Petani Pengguna Air (OPPA) yang sekarang disebut perkumpulan petani pemakai air (P3A) betujuan menampung masalah dan aspirasi petani yang berhubungan dengan air untuk tanaman dan bercocok tanam. Wadah bertemunya petani untuk saling bertukar pikiran, membuat keputusan-keputusan guna memecahkan permasalahan yang dihadapi bersama oleh petani, dan upaya untuk memenuhi kebutuhan air irigasi untuk usaha pertaniannya. Dalam tahapan perkembangannya, organisasi ini diharapkan mampu menyediakan sarana produksi pertanian dan upaya pemasarannya.
HIPPA (Himpunan Petani pemakai Air atau Asosiasi petani menggunakan air irigasi) adalah sebuah asosiasi yang dipasang untuk mengendalikan air irigasi dan bangunan, operasi, dan pengelolaan fasilitas irigasi berdasarkan permintaan Presiden tahun 1980.
Latar belakang pemberdayaan HIPPA adalah dalam rangka pengembangan dan pengelolaan sIstem irigasi partisipatif yang bertujuan untuk mendukung produktivitas lahan guna meningkatkan produksi pertanian, ketahanan pangan, dan kesejahteraan petani. Pemberdayaan HIPPA dilakukan melalui metode sosialisasi, motivasi, latihan dan kunjungan, pertemuan berkala, fasilitasi, pendampingan dan metode lain yang dilaksanakan secara berkesinambungan.  Peranan HIPPA dalam pengelolaan jaringan irigasi. Pada tahun anggaran 2011 dan 2012 banyak dilaksanakan Rehabilitasi jaringan irigasi tingkat desa.. Pelibatan petani melalui HIPPA dalam system pengawasan kegiatan jasa konstruksi ini akan sangat membantu dalam rangka meningkatkan peranan petani dalam pengembangan dan pengelolaan sistem irigasi.
                                                                                                                                            III.            Penggilingan Padi Keliling

Usaha penggilingan padi merupakan faktor penting dalam pengelolaan pasca panen produksi padi/beras, karena kualitas beras giling ditentukan juga oleh kualitas penggilingan. Penggilingan padi merupakan pusat pertemuan antara produksi, pasca panen, pengolahan, dan pemasaran gabah/beras sehingga pengilingan padi merupakan mata rantai penting dalam suplai beras nasional untuk mendukung ketahanan pangan nasional. Proses penggilingan padi dilakukan dua tahap yaitu Tahap I pengelupasan kulit dan Tahap II pemisahan beras dengan bekatul/dedak.
Pada proses Tahap I, padi kering yang dimasukan kedalam alat akan dikelupas kulitnya dan dipisahkan antara kulit dan padi kelupas. Hasil akhir dari proses tahap I adalah padi kelupas yang masih bercampur dengan dedak/bekatul dikeluarkan dari mesin sebelah kiri, sedangkan kotoran, biasanya berupa potongan jerami, serta kulit padi dikeluarkan dari sebelah kanan mesin. Pada Tahap II, dilakukan pemisahan antara bekatul/dedak dengan beras yang ditampung secara terpisah.
Mobil selepan padi merupakan teknologi baru yang berkembang di masyarakat untuk menjawab kebutuhan masyarakat pedesaan khususnya yang berlokasi jauh dari pabrik penggilingan padi. Namun, hal ini menyebabkan pro dan kontra pada masyarakat. Di satu sisi teknologi ini membuat sebagian orang merasa diuntungkan karena tidak perlu repot-repot membawa gabah kerig giling ke pabrik penggilingan yang berlokasi jauh dari rumahnya. Di sisi lain, para pengusaha yang memiliki pabrik penggilingan padi merasa dirugikan, karena sebagian pengguna jasanya beralih kepada mobil selepan padi. Namun pandangan masyarakat secara umum menyebutkan bahwa kualitas beras hasil penggilingan pabrik lebih baik dibandingkan dengan penggilingan pada mobil selepan padi, oleh karena itu masyarakatlah yang dapat mimilih teknologi mana yang akan digunakan untuk penggilingan padi.

                                                                                                                                                  I.            Interaksi Sosial Pertanian

Pertanian dalam arti luas berarti segala kegiatan produksi yang berlandaskan pertumbuhan dari hewan dan tumbuhan. Petani merupakan individu yang menjalankan usaha pertanian. Di desa biasanya petani memiliki tiga tugas yang vital dalam usaha pertaniannya. Pertama, petani sebagai penggarap lahan usahanya. Petani biasa menggarap sendiri lahannya dan biasanya meminta bantuan masyarakat lain saat akan menanam dan memanen. Kedua, petani sebagai pengatur kapan waktu yang baik untuk menanam dan tentu juga memasarkan hasil panennya. Ketiga, petani sebagai manusia juga menjalani kehidupannya sehari-hari dalam bermasyarakat.
Interaksi sosial dalam pertanian terjadi dengan adanya kerjasama antar pihak. Saat penyiapan lahan, terjadi interaksi antara petani dengan pemilik traktor. Saat penanaman, terjadi petani akan beinteraksi dengan tenaga penanam dan penjuat bibit. Saat pemupukan, petani akan berinteraksi dengan pemilik hewan ternak atau penjual pupuk. Termasuk dalam penyiangan ataupun pengendalian OPT, petani memerlukan tenaga buruh. Bila tanah yang digunakan bukan milik petani, maka terjadi pula interaksi antara petani dengan pemilik lahan.
Petani menggunakan pupuk, baik pupuk kandang maupun pupuk organik terjadi interaksi antara si pemilik hewan ternak atau si penjual pupuk. Petani memperoleh benih, bibit, pembasmi hama, dan alat pertanian dari pedagang. Antara petani dengan pedagang memiliki pola hubungan yang saling bergantung karena petani tidak memiliki waktu dan transportasi yang memadahi untuk membeli ke kota. Petani juga biasa menjual hasil panennya kepada pedagang atau biasa disebut tengkulak. Petani tidak ingin repot-repot menjemur dan menggiling padi. Mereka lebih suka langsung menujualnya dan uangnya mereka belikan beras di pasar. Saat akan panen ada dua hal yang biasanya dilakukan oleh petani. Pertama, mereka panen sendiri. Kedua, komoditas akan dijual langsung diladang “ditebasno” (diborong pembeli). Dalam pemanenan ditebasno, pembeli akan menyewa tenaga untuk memanennya dengan sistem bawon. Sistem bawon  adalah sistem bagi dimana pembagiannya 1:10, si tukang panen 1 bagian dan si pembeli  10 bagian.
Selain kerja sama antarpetani, sering kali terjadi kompetisi dan konflik. Kompetisi bisa terjadi pada petani commercial dalam hal hasil produksi dan pemasaran. Petani berlomba-lomba untuk meningkatkan hasil produksinya dan mendapatkankan pasar hingga ke tingkat ekspor. Konflik yang terjadi bisa berupa pengelolaan irigasi di lahan kering. Untuk itulah, irigasi membutuhkan suatu bentuk organisasi yang dapat mengatur pembagian irigasi.
                                                                                                                                        II.            Fungsi Norma Sosial Pertanian
Norma sosial berfungsi sebagai pedoman masyarakat berperilaku, mempersatukan kehidupan masyarakat dalam bidang pertanian, dan untuk melakukan kontrol sosial. Contohnya mengingatkan satu sama lain tentang waktu bertanam atau membantu satu sama lain dalam pembagian modal. Kelemahan pada petani adalah sulit bersepakat dalam menjual hasil produksi atau ketidakpercayaan dalam bidang ekonomi.
Jenis nilai dan norma sosial pada masyarakat petani tidak berbeda dengan nilai dan norma sosial pada masyarakat secara umum. Hanya saja masyarakat petani pada umumnya merupakan masyarakat pedesaan, nilai dan norma sosial lebih kuat dirasakan pada masyarakat ini. Hal ini dikarenakan masyarakat petani masih cenderung memegang teguh budaya (adat istiadat) mereka. Pola kehidupan masyarakat petani selalu berdasarkan pada sistem norma dan nilai sosial yang berlaku dan sudah disepakati bersama (konsensus).
                                                                                                                            III.            Pola Organisasi Kehidupan Pertanian
A.      Usaha Tani
Usaha tani (farming) adalah bagian inti dari pertanian karena menyangkut sekumpulan kegiatan yang dilakukan dalam budidaya. Usahatani merupakan upaya petani untuk menggunakan atau memanfaatkan seluruh sumberdaya (tanah, pupuk, air, obat-obatan, uang, tenaga dan lain-lain) dalam suatu usaha pertanian secara efisien sehingga dapat diperoleh hasil berupa produksi maupun keuntungan finansial secara optimal. Revitalisasi pertanian akan berekonomi kerakyatan bagi petani jika terfokuskan pada revitalisasi usaha tani. Ukuran dari keberhasilan pengelolaan adalah usahatani yang dilakukan mendapatkan keuntungan yang seimbang.
Faktor yang mempengaruhi keberhasilan usahatani adadua. Pertama, faktor yang melekat pada usahatani sendiri, meliputi individu petani beserta kelembagaannya, tanah untuk usaha tani, tenaga kerja (dalam keluarga dan luar keluarga), modal, tingkat penguasaan teknologi, dan biaya belanja keluarga. Kedua, faktor di luar usahatani meliputi tersedianya sarana transportasi dan komunikasi sehingga memberikan kemudahan bagi petani untuk memperoleh informasi guna menentukan komoditas pilihan dalam usahatani, saprotan, dan akses mudah mencapai pasar. Di samping itu, fasilitas kredit dan memudahkan petani untuk memperoleh informasi cara budidaya dan teknologi pertanian.
B.      Kibbutz
Kibbutz biasa diterapkan di Israel yang mayoritas merupaka orang Yahudi. Kibbutz yang pertama kali berdiri adalah kibbutz pertanian dimana orang bertani. Kibbutz ini memiliki sistem kelompok, mereka beramai-ramai melakukan kerja pertanian dari mulai mengarap, menanam, membuat saluran sampai menjualnya. Pembagian hasil merata untuk  semua anggota kibutz. Semua anggota kibutz berbagi bersama baik dalam hal pengetahuan maupun penghasilan. Jika dalam kibbutz itu ada insinyur pertanian, dia tak akan sayang membagi ilmunya untuk yang lain. Begitu juga dengan orang yang memiliki keahlian teknik membuat mesin-mesin pertanian. Saat ini Kibbutz di Israel tidak hanya pertanian, namun meliputi teknologi, perikanan, dan peternakan.
C.      Perusahaan Pertanian
Salah satu perusahaan pertanian Indonesia adalah PT. Pupuk Indonesia (Persero) adalah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dahulu dikenal dengan nama PT. Pupuk Sriwidjaja (Persero) atau PUSRI (Persero). Perusahaan ini merupakan produsen pupuk urea pertama di Indonesia. Pupuk merupakan produk utama perseroan. Jenisnya meliputi urea, ZA, fosfat, phonska, NPK, ZK, dan pupuk organik. PT Pupuk Indonesia (Persero) memiliki tujuh anak perusahaannya mengoperasikan 14 pabrik urea dan 13 pabrik amoniak di lokasi-lokasi yang tersebar di Pulau Jawa, Sumatera, dan Kalimantan.
Adler Seeds adalah perusahaan Amerika yang didirikan pad 1937 oleh Howard Adler di Sharpsville, Indiana. Produk yang dihasilkan adalah biji hibrida jagung, varietas kedelai, dan varietas gandum. Agri South Africa atau AgriSA yang merupakan perdagangan pertanian di Afrika Selatan yang mewakili lebih dari 70 000 tingkat petani komersial kecil dan besar. Didirikan pada tahun 1904, perusahaan ini adalah produsen pertanian komersial dan agribisnis.
D.      WILUD (Wilayah Unit Desa)
Wilayah Unit Desa dilaksanakan pada tahun 1969-1979. Wilud ini terdiri dari satu atau lebih desa dan masing-masing wilud meliputi 600-1000 hektar lahan basah. Wilud dibagi menjadi catur sarana atau empat sarana yaitu unit pelayanan penyuluhan, unit pelayanan modal (Bank Rakyat Indonesia atau BRI), Koperasi Unit Desa (KUD), dan kelompok tani.

0 komentar:

Poskan Komentar