music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Struktur Susunan Petani Berdasarkan Inovasi, Stratifikasi Sosial, Diferensiasi Sosial

07.40 |


Struktur Susunan Petani Berdasarkan Inovasi, Stratifikasi Sosial, Diferensiasi Sosial

Tugas Sosiologi Pertanian


Disusun Oleh
Arin Amini (13049)


Fakultas Pertanian
Univessitas Gadjah Mada
Yogyakarta
2013
Struktur Susunan Petani Berdasarkan Inovasi
 Kategori Adopter
Anggota sistem sosial dapat dibagi ke dalam kelompok-kelompok adopter (penerima inovasi) sesuai dengan tingkat keinovatifannya (kecepatan dalam menerima inovasi). Salah satu pengelompokan yang bisa dijadikan rujuakan adalah pengelompokan berdasarkan kurva adopsi, yang telah duji oleh Rogers (1961). Gambaran tentang pengelompokan adopter dapat dilihat sebagai berikut:
1.    Innovators: Sekitar individu yang pertama kali mengadopsi inovasi. Cirinya: petualang, berani mengambil resiko, mobile, cerdas, kemampuan ekonomi tinggi
2.    Early Adopters (Perintis/Pelopor): yang menjadi para perintis dalam penerimaan inovasi. Cirinya: para teladan (pemuka pendapat), orang yang dihormati, akses di dalam tinggi
3.    Early Majority (Pengikut Dini): yang menjadi pera pengikut awal. Cirinya: penuh pertimbangan, interaksi internal tinggi.
4.    Late Majority (Pengikut Akhir): yang menjadi pengikut akhir dalam penerimaan inovasi. Cirinya: skeptis, menerima karena pertimbangan ekonomi atau tekanan social, terlalu hati-hati.
5.    Laggards (Kelompok Kolot/Tradisional): terakhir adalah kaum kolot/tradisional. Cirinya: tradisional, terisolasi, wawasan terbatas, bukan opinion leaders,sumberdaya terbatas.
Dengan pengetahuan tentang kategorisasi adopter ini dapatlah kemudian disusun strategi difusi inovasi yang mengacu pada kelima kategori adopter, sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal, sesuai dengan kondisi dan keadaan masing-masing kelompok adopter. Hal ini penting untuk menghindari pemborosan sumberdaya hanya karena strategi difusi yang tidak tepat. Strategi untuk menghadapi adopter awal misalnya, haruslah berbeda dengan strategi bagi mayoritas akhir,mengingat gambaran ciri-ciri mereka masing-masing (Rogers, 1983).
Hal-hal yang mempengaruhi difusi dalam Sistem sosial
Difusi inovasi terjadi dalam suatu sistem sosial. Dalam suatu sistem sosial terdapat struktur sosial, individu atau kelompok individu, dan norma-norma tertentu. Berkaitan dengan hal ini, Rogers (1995) menyebutkan adanya empat faktor yang mempengaruhi proses keputusan inovasi. Ke empat faktor tersebut adalah: 1) struktur sosial (social structure); 2) norma sistem (system norms); 3) pemimpin opini (opinion leaders);
Struktur Kelompok tani
Kelompoktani adalah kumpulan petani/peternak/pekebun yang dibentuk atas dasar kesamaan kepentingan, kesamaan kondisi lingkungan (sosial, ekonomi, sumber daya) dan keakraban untuk meningkatkan dan mengembangkan usaha anggota. Gapoktan adalah gabungan dari beberapa kelompok tani yang melakukan usaha agribisnis di atas prinsip kebersamaan dan kemitraan sehingga mencapai peningkatan produksi dan pendapatan usaha tani bagi anggotanya dan petani lainnya. Tujuan utama pembentukan dan penguatan Gapoktan adalah untuk memperkuat kelembagaan petani yang ada, sehingga pembinaan pemerintah kepada petani akan terfokus dengan sasaran yang jelas (Deptan, 2006).  
Pembentukan Gapoktan didasari oleh visi yang diusung, bahwa pertanian modern tidak hanya identik dengan mesin pertanian yang modern tetapi perlu ada organisasi yang dicirikan dengan adanya organisasi ekonomi yang mampu menyentuh dan menggerakkan perekonomian di Kelurahan melalui pertanian, di antaranya adalah dengan membentuk Gapoktan. Gapoktan tersebut akan senantiasa dibina dan dikawal hingga menjadi lembaga usaha yang mandiri, profesional dan memiliki jaringan kerja luas.
KARAKTERISTIK KELOMPOKTANI
Kelompok tani pada dasarnya adalah organisasi non formal di perdesaan yang ditumbuhkembangkan “dari, oleh dan untuk petani “, memiliki karakteristik sebagai berikut:
1). Ciri Kelompoktani
a.Saling mengenal, akrab dan saling percaya diantara sesama anggota.
b.Mempunyai pandangan dan kepentingan yang sama dalam berusaha tani.
c. Memiliki kesamaan dalam tradisi dan atau pemukiman, hamparan usaha, jenis usaha, status ekonomi maupun sosial, bahasa, pendidikan dan ekologi.
d. Ada pembagian tugas dan tanggung jawab sesama anggota berdasarkan kesepakatan bersama.
2). Unsur Pengikat Kelompoktani
a. Adanya kepentingan yang sama diantara para anggotanya.

b. Adanya kawasan usaha tani yang menjadi tanggung jawab bersama diantara para anggotanya.
c. Adanya kader tani yang berdedikasi untuk menggerakkan para petani dan kepemimpinannya diterima oleh sesama petani lainnya.
d. Adanya kegiatan yang dapat dirasakan manfaatnya oleh sekurang kurangnya sebagian besar anggotanya.
e. Adanya dorongan atau motivasi dari tokoh masyarakat setempat untuk menunjang program yang telah ditentukan.
3). Fungsi Kelompoktani
a. Kelas Belajar; Kelompoktani merupakan wadah belajar mengajar bagi anggotanya guna meningkatkan pengetahuan, keterampilan dan sikap (PKS) serta tumbuh dan berkembangnya kemandirian dalam berusaha tani sehingga produktivitasnya meningkat, pendapatannya bertambah serta kehidupan yang lebih sejahtera.

b. Wahana Kerjasama; Kelompok tani merupakan tempat untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam kelompoktani dan antar kelompoktani serta dengan pihak lain. Melalui kerjasama ini diharapkan usaha taninya akan lebih efisien serta lebih mampu menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan.

c. Unit Produksi; Usahatani yang dilaksanakan oleh masing masing anggota kelompoktani, secara keseluruhan harus dipandang sebagai satu kesatuan usaha yang dapat dikembangkan untuk mencapai skala ekonomi, baik dipandang dari segi kuantitas, kualitas maupun kontinuitas.

STRATIFIKASI SOSIAL
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, stratifikasi sosial, pelapisan sosial, atau struktur sosial vertical adalah penggambaran kelompok-kelompok sosial dalam susunan yang hirarkis, berjenjang. Ditingkat teoritik acap kali dipertanyakan mangapa dalam masyarakat terjai pelapisan-pelapisan, sebab kehidupan manusia dilekati oleh nilai. Keberadaan nilai selalu mengandung kelangkaan, tidak mudah didapat, dan oleh karenanya member “harga” pada penyandangnya. Siapa yang memperoleh lebih banyak “hal yang bernilai” maka akan semakin terpandang dan tinggi kedudukannya.
1)      Struktur Biososial
Sebagaimana dikemukakan di atas, diantara sejumlah factor yang menciptakan stratifikasi sosial adalah factor biologis. Konsep struktur biososial, yakni struktur sosial yang berkaitan dengan factor-faktor biologis, seperti jenis kelamin, usia, perkawinan, suku bangsa, dan lainnya.
2)      Desa satu kelas dan dua kelas
Dalam hal ini Smith dan Zopf mengemukakan dua type desa, yakni tipe satu kelas dan tipe dua kelas. Secara garis besarnya desa tipe satu kelas data digambarkan sebagai tipe desa yang pemilikan lahan pertanian warganya rata-rata sama. Perbedaan yang ada tidak bersifat senjang. Sedangkan desa tipe dua kelas secara garis besar digambarkan sebagai desa yang di dalamnya terdapat sejumlah kecil warga yang memiliki lahan yang amat luas, dan sebaliknya dalam jumlah besar merupakan warga yang tidak memiliki lahan pertanian.
Terdapat dua macam desa tipe satu kelas yang memiliki karakteristik yang berbeda. Pertama, adalah desa tipe satu kelas yang pemilikan lahan warganya rata-rata luas. Kedua, adalah desa tipe satu kelas yang pemilikan lahan warganya rata-rata sempit. Sedangkan desa tipe dua kelas cukup banyak terdapat di berbagai tempat dan merupakan pola tradisional di dunia ini.
3)      Dimensi-dimensi pelapisan sosial             
Stratifikasi sosial sebagai suatu paramida sosial akan lebih terlihat dalam desa tipe satu kelas, yakni apabila setidaknya memenuhi dua persyaratan. Pertama, apabila kesamaan dalam pemilikan tanah warganya tidak bersifat mutlak. Keseragaman dan kesamaan penguasaan tanah yang jelas di antara petani, umumnya lebih terlihat di negara-negara sosialis. Kedua, apabila tidak ada okupasi-okupasi lain di luar sector pertanian yang dapat menjadi alternative bebas bagi warganya. Dalam hal ini Smith dan Zopf mengetengahkan adanya lima factor yang determinan terhadap system pelapisan sosial masyarakat desa: pertama, luas pemilikan tanah dan sejauh mana pemilikan itu terkonsentrasi di tangan sejumlah kecil orang atau sebaliknya. Kedua, pertautan antara sector pertanian dan industri. Ketiga, bentuk-bentuk pemilikan atau penguasaan tanah. Keempat, frekuensi perpindahan petani dari lahan satu ke lahan lainnya. Kelima, komposisi rasional penduduk. Sutardjo Kartohadikoesoemo memberikan gambaran tentang penggolongan masyarakat desa di Jawa yang berlandaskan pemilikan tanah ini sebagai berikut:
a) Warga baku, ialah warga yang memiliki tanah pertanian dan pekarangan
b) Warga yang mempunyai rumah dan tanah pekarangan
c) Warga yang mempunyai rumah diatas pekarangan orang lain
d) Warga yang menikah dan mondok di rumah orang lain
e) Pemuda yang belum menikah
M. Jaspan menggambarkan adanya empat pelapisan sosial yang terdapat di kalangan masyarakat desa di daerah Yogyakarta.
1. Kuli kenceng, yakni mereka yang memiliki tanah pekarangan dan sawah.
2. Kuli gundul, yakni mereka yang hanya memiliki sawah.
3. Kuli karangkopek, yakni mereka yang memiliki pekarangan saja.
4. Indung tlosor, yakni mereka yang memiliki rumah saja diatas pekarangan orang lain.
Menurut Haar, pelapisan sosial masyarakat desa itu dibedakan atas:
  • Golongan pribumi pemilik tanah
  • Golongan yang hanya memiliki rumah dan pekarangan saja
  • Golongan yang hanya memiliki rumah saja diatas pekarangan orang lain


DIFERENSIASI SOSIAL
Definisi diferensiasi sosial adalah berkaitan dengan banyaknya pengelompokan-pengelompokan sosial yang ada dalam masyarakat itu tanpa menempatkannya dalam jenjang hirarkis. Konsep diferensiasi sosial ini secara teoritik acap kali dirumuskan bahwa semakin maju atau modern suatu masyarakat, semakin tinggi tingkat diferensiasiny, begitu pula sebaliknya. Bagaimana memahami pola-pola dasar pengelompokan sosial masyarakat desa, untuk memahaminya adalah dengan menegaskan terlebih dahulu apakah yang dimaksud dengan kelompok sosial itu. Menurut Smith dan Zopf, pengertian kelompok sosial harus mencakup 3 elemen yaitu, 1. Pluralitas subyek, 2. Interaksi antar subyek, 3. Solidaritas.
Khusus solidsritas ini, Emile Durkheim mengetengahkan dua tipe kohesi sosial, yakni:
  1. Kohesi yang didasarkan atas kesamaan-kesamaan di antara para anggota kelompok
  2. Kohesi yang disarankan atas hubungan saling tergantung dalam devisi kerja
Kohesi pertama, solidaritas mekanik yaitu dilandasi oleh solidarita yang terbentuk oleh kesamaan-kesamaan para anggota kelompok. Sedangkan kohesi sosial kedua, solidaritas organic yaitu dilandasi oleh solidaritas yang terbentuk justru oleh perbedaan namun saling tergantung.
Secara umum, memahami diferensiasi sosial masyarakat desa di Indonesia, hendaknya memahami pluralitas masyarakat Indonesia dalam berbagai dimensi dan aspeknya. Juga perlu dipahami kesejarahan yang menjadi titik tolak untuk memahami keaslian struktur sosial masyarakat desa kita secara umum.

Daftar Pustaka


http://kelurahan-purwakarta.blogspot.com/2012/02/peranan-gabungan-kelompok-tani-gapoktan.html



0 komentar:

Poskan Komentar