music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

Studi kasus

10.21 |


Nama  : Arin Amini
NIM     : 13049
Studi kasus
permasalahan
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) bagi masyarakat Indonesia bukanlah fenomena baru. Kenyataan ini diperkuat dengan pernyataan Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan yang mengatakan bahwa 11,4 % dari 217 juta penduduk Indonesia atau 24 juta terutama di pedesaan pernah mengalami kekerasan dan terbesar adalah kekerasan dalam rumah tangga (Soedjendro, 2005). Menurut catatan Mitra Perempuan, hanya 15,2 % perempuan yang mengalami KDRT menempuh jalur hukum, dan mayoritas (45,2 %) memutuskan pindah rumah dan 10,9 % memilih diam. Berdasarkan studi kasus persoalan Kekerasan Terhadap Istri (KTI) yang masuk di Rifka Annisa Women’s Crisis Center pada tahun 1998, dari 125 kasus KTI, 11 % diantaranya mengakhiri perkawinannya dengan perceraian, 13 % mengambil jalan keluar dengan cara melaporkan suami ke polisi, ke atasan suami, atau mengajak berkonseling, dan mayoritas korban   (76 %) mengambil keputusan kembali kepada suami dan menjalani perkawinannya yang penuh dengan kekerasan 
Solusi
Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi dan mengurangi  kekerasan dalam rumaah tangga yang terjadi adalah sebagai berikut:
1.    isteri dan suami lakukan dialog. Keduanya harus cari solusi atas masalah yang dihadapi untuk memecahkan masalah yang menjadi penyebab terjadinya KDRT
2.    Selesaikan masalah KDRT dengan kepala dingin. Cari waktu yang tepat untuk sampaikan bahwa KDRT bertentangan hukum negara, hukum agama, budaya dan adat-istiadat  masyarakat.
3.    Bagi para istri harus dapat asertif kepada orang lain, dan berani berkata “’tidak” pada pasangan apabila sesuatu hal tidak berkenan di hatinya.
4.    Bagi para pelaku kekerasan (suami), agar bisa mengerti dan memahami kalau anak dan istri adalah merupakan tanggung jawabnya, sehingga masalah-masalah yang timbul seperti penghasilan yang tidak diberikan kepada istri tidak terjadi karena adanya rasa tanggung jawab dari suami. Begitu juga dengan gaya hidup yang berbeda, agar adanya saling pengertian satu sama lain dan suami yang bekerja di luar kota agar tetap menjaga komunikasi dengan keluarga terutama terhadap istri dan anak-anaknya, supaya masalah-masalah yang ada tidak menimbulkan kekerasan dalam rumah tangga.
5.    Laporkan kepada keluarga yang dianggap berpengaruh yang  bisa memberi jalan keluar terhadap  penyelesaian masalah KDRT supaya tidak terus terulang.
6.    kalau sudah parah KDRT seperti korban sudah luka-luka, maka dilakukan visum.
7.    Laporkan kepada yang berwajib telah terjadi KDRT.  Melapor ke polisi merupakan  tindakan paling  terakhir karena bisa berujung kepada perceraian.
8.    perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga untuk memberikan penguatan psikologis pada perempuan kekerasan dalam rumah tangga. Hal ini perlu dilakukan karena pada umumnya perempuaan korban kekerasan dalam rumah tangga mengalami kerapuhan psikologis sebagai akibat penolakan, penyia-nyiaan dan kekerasan oleh pasangan. 
9.    pemerintah memberikan penyuluhan kepada warganya bahwa KDRT itu seharusnya tidak terjadi, serta dijelaskan juga bagaimana supaya bisa menghindari KDRT




0 komentar:

Poskan Komentar