music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

ACARA I CYBER EXTENSION PEMANFAATAN CENDAWAN MIKROZA ARBUSKULA UNTUK MEMACU PERTUMBUHAN BIBIT MANGGIS

06.10 |


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN

ACARA I
CYBER EXTENSION


Disusun oleh :
NAMA : ARIN AMINI
NIM : 13049
GOLONGAN :B3

LABORATORIUM PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013



ANALISIS ARTIKEL CYBER EXTENSION
Nama : Arin Amini
NIM : 13049
Gol : B3
a.    Adakah nilai penyuluhan
·         Sumber Teknologi / ide
Upaya untuk mempercepat pertumbuhan akar pada tanaman manggis dengan menggunakan cendawan mikoriza sebagai alat biologis dalam bidang pertanian untuk dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Sehingga kendala pengembagan manggis dalam skala besar sekarang ini bisa sedikit terselesaikan.
·         Sasaran
Sasaranpada jurnal ini adalah  p,ara petani, diharapkan para petani bisa mek meggunakan cendawan mikroba untu menigkatkan pertumbuhan tanaman manggis.
·         Manfaat
Manfaat dari penggunaan cendawan mikoriza ini adalah dapat mempercepat pertumbuhan tanaman manggis dengan meningkatkan kemampuan akar manggis dalam penyerapan hara dan air yang sangat dibutuhkan bagi pertambahan tanaman. Selain itu aplikasi cendawan mikroza dapat membantu rehabilitasi lahan kritis dan meningkatkan produktivitas tanaman pertanian, perkebunan, kehutanan pada lahan-lahan marginal dan pakan ternak, dapat mempertahankan/meningkatkan kesuburan lahan dengan hanya menggunakan input organik dan menekan input bahan kimiawi yang dapat mencemarkan dan merusak lingkungan karena yang diguanakan adalah mikroorganisme bukan berasal dari bahan kimia, dan  meningkatkan produktivitas lahan-lahan marginal serta membantu rehabilitasi lahan kritis.
·         Nilai Pendidikan
Pada jurnal ini mengajak dan mengajarkan petani untuk menggunakan bahan-bahan organik sebagai pemacu pertumbuhan tanmanan manggis, bahan organik itu adalah cendawan mikoriza arbuskula (CMA) dimana CAM ini berperan sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Selain itu aplikasi cendawan mikroza dapat membantu rehabilitasi lahan kritis dan meningkatkan produktivitas tanaman pertanian, perkebunan, kehutanan pada lahan-lahan marginal dan pakan ternak. Sehingga penggunaan bahan-bahan kimia yang dapat merusak tanah dan kondisi sekitar dapat diminimalisir.
b.    Sebutkan dan Jelaskan nilai berita yang terkandung dalam artikel
·         Timelines : Program pengembangan tanaman manggis dalam skala luas sampai sekarang masih terkendala oleh berbagai masalah budidaya di antaranya adalah sangat lambatnya laju tumbuh tanaman baik pada fase bibit maupun setelah ditanam di lapang. Semaian manggis yang berumur 2 tahun banyak yang tidak mencapai tinggi lebih dari 15 cm. Lambatnya laju pertumbuhan tanaman manggis ini akibat dari kurang baiknya sistim perakaran yang dimiliki. Untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan upaya mempercepat pertumbuhannya dengan penggunaan cendawan mikroza sebagai alat biologis untuk mempercepat pertumbuhan akar sehingga kerja akar bisa maksimal untuk mengambil unsur-unsur hara dan mineral dari dalam tanah.
·         Importance : Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. Selanjutnya kapsul bermikroza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah.
·         Development : Dalam pembangunan bidang pertanian berkembang isu kebijaksanaan mengenai budidaya tanaman yang diarahkan pada upaya  mempertahankan/ meningkatkan kesuburan lahan dengan hanya menggunakan input organik dan menekan input bahan kimiawi yang dapat mencemarkan dan merusak lingkungan. Berkaitan dengan isu kebijaksanaan tersebut, tampak bahwa penggunaan CMA pada tanaman manggis dapat berperan ganda yaitu selain dapat memacu pertumbuhan bibit manggis, juga dapat mendukung kebijaksanaan pemerintah tersebut, karena CMA dapat menekan penggunaan pupuk kimiawi, meningkatkan produktivitas lahan-lahan marginal dan membantu rehabilitasi lahan kritis.
·         Human Interest : Pemanfaatan cendawan mikoriza arbuskula pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik. Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0,04% menjadi 0,19%. Penggunaan cendawan mikroza pada tanaman kopi, dapat meningkatkan bobot kering tanaman serta jumlah daun yang berbeda nyata dengan tanpa mikoriza. Selain itu, pada tanah dengan ketersediaan hara rendah, inokulasi CMA dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kakao. Pada tanaman pisang, inokulasi CMA juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N, P, K, dan Ca pada daun.
·         Consequence : Balitbu sudah mencoba memanfaatkan CMA untuk memacu pertumbuhan bibit manggis, yang dimulai dengan melakukan eksplorasi CMA di beberapa daerah sentra produksi manggis di Sumatera Barat. Hasilnya menunjukkan bahwa setelah 19 bulan diinokulasi CMA, ternyata CMA yang berasal dari daerah Sawahlunto Sijunjung dapat memacu pertumbuhan bibit manggis yang cukup signifikan yaitu sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan bibit manggis yang tidak diinokulasi CMA. Selain itu Balitbu Tropika melakukan penelitian tentang pengemasan spora CMA ke dalam bentuk yang lebih praktis dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Hasilnya menunjukkan bahwa spora CMA dapat dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang terbaik dari tanah hitam.




c.    Lampiran Artikel dari blog

Oleh : M. Jawal Anwarudin Syah, Irwan Muas dan Yusri Herizal

Nama : Frida heni
Nim   : 12647
kelompok : 1
golongan : B3
Program pengembangan tanaman manggis dalam skala luas sampai sekarang masih terkendala oleh berbagai masalah budidaya di antaranya adalah sangat lambatnya laju tumbuh tanaman baik pada fase bibit maupun setelah ditanam di lapang. Semaian manggis yang berumur 2 tahun banyak yang tidak mencapai tinggi lebih dari 15 cm. Lambatnya laju pertumbuhan tanaman manggis ini akibat dari kurang baiknya sistim perakaran yang dimiliki. Manggis memiliki akar-akar lateral yang relatif sedikit dan miskin akan bulu-bulu akar, sehingga kemampuannya menyerap hara dan air dari dalam tanah sangat terbatas. Untuk mengatasi masalah ini, perlu dilakukan upaya mempercepat pertumbuhannya dengan meningkatkan kemampuan akar manggis dalam penyerapan hara dan air yang sangat dibutuhkan bagi pertambahan tanaman. Penggunaan cendawan mikroza sebagai alat biologis dalam bidang pertanian dapat memperbaiki pertumbuhan, produktivitas dan kualitas tanaman tanpa menurunkan kualitas ekosistem tanah. Selain itu aplikasi cendawan mikroza dapat membantu rehabilitasi lahan kritis dan meningkatkan produktivitas tanaman pertanian, perkebunan, kehutanan pada lahan-lahan marginal dan pakan ternak.
Cendawan Mikroza Arbuskula (CMA) termasuk kelompok endomikoriza yaitu suatu
cendawan tanah yang bersifat simbiotik obligat dengan akar tanaman yang telah diketahui mempunyai pengaruh yang menguntungkan bagi pertumbuhan tanaman, karena dapat meningkatkan serapan hara. Struktur yang terbentuk akibat kerjasama yang saling menguntungkan antara cendawan mikroza dengan akar tanaman, mempunyai kemampuan untuk meningkatkan masukan air dan hara dari tanah ke dalam jaringan tanaman.      
Mekanisme hubungan antara CMA dengan akar tanaman adalah sebagai berikut, pertama-tama spora CMA berkecambah dan menginfeksi akar tanaman, kemudian di dalam jaringan akar CMA ini tumbuh dan berkembang membentuk hifa-hifa yang panjang dan bercabang. Jaringan hifa ini memiliki jangkauan yang jauh lebih luas daripada jangkauan akar tanaman itu sendiri. Hifa CMA yang jangkauannya lebih luas ini selanjutnya berperan sebagai akar tanaman dalam menyerap air dan hara dari dalam tanah.
Pemanfaatan cendawan mikoriza arbuskula pada beberapa tanaman komersial telah menunjukkan hasil yang cukup baik. Inokulasi CMA pada apel dapat meningkatkan kandungan P pada daun dari 0,04% menjadi 0,19%. Penggunaan cendawan mikroza pada tanaman kopi, dapat meningkatkan bobot kering tanaman serta jumlah daun yang berbeda nyata dengan tanpa mikoriza. Selain itu, pada tanah dengan ketersediaan hara rendah, inokulasi CMA dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman kakao. Pada tanaman pisang, inokulasi CMA juga mampu meningkatkan pertambahan tinggi tanaman serta kandungan hara N, P, K, dan Ca pada daun.
Kemampuan satu jenis CMA dapat berasosiasi dengan beberapa tanaman komersial
cukup luas, akan tetapi kesesuaiannya dalam bersimbiose dengan tanaman sangat dipengaruhi oleh berbagai kondisi tanah, jenis mikroza dan jenis tanaman. Berkaitan dengan hal tersebut di atas, Balitbu sudah mencoba memanfaatkan CMA untuk memacu pertumbuhan bibit manggis, yang dimulai dengan melakukan eksplorasi CMA di beberapa daerah sentra produksi manggis di Sumatera Barat. Tanah serta sedikit akar di sekitar perakaran manggis dewasa diambil dan selanjutnya dibawa ke laboratorium untuk penangkaran (trapping). Spora-spora yang sudah diperoleh ini selanjutnya diperbanyak secara kultur pot pada media pasir steril dengan tanaman inang Pueraria javanica selama 4 bulan.
Berbagai Jenis inokulum CMA yang diperoleh dari beberapa daerah sentra produksi
manggis ini selanjutnya diuji cobakan pada bibit manggis yang baru berumur 2 bulan (berdaun 2 helai). Bibit manggis ditanam di dalam pot percobaan yang berisi media tanah : pasir (1 : 1) yang telah difumigasi terlebih dahulu dengan fumigan (Basamid) selama 2 minggu. Setiap pot berisi 2 kg media dan terdiri dari satu tanaman. Sebelum transplanting bibit ke pot percobaan, terlebih dahulu dilakukan inokulasi CMA sebanyak 1 sendok makan inokulan yang ditempatkan di bawah perakaran bibit manggis. Selanjutnya di dalam rumah kaca dan dipelihara secara optimal.
Hasilnya menunjukkan bahwa setelah 19 bulan diinokulasi CMA, ternyata CMA yang
berasal dari daerah Sawahlunto Sijunjung dapat memacu pertumbuhan bibit manggis yang cukup signifikan yaitu sekitar 50% lebih cepat dibandingkan dengan bibit manggis yang tidak diinokulasi CMA.
Sampai saat ini inokulasi CMA pada tanaman dilakukan dengan cara meletakkan inokulum CMA ke bidang perakarannya. Inokulum tersebut adalah media penggandaan spora (biasanya pasir atau zeolit) yang mengandung spora CMA dan potongan-potongan akar tanam inang. Cara ini mempunyai kelemahan diantaranya sangat voluminous dengan bobot cukup mahal transportasinya. Selain itu, jumlah dan dosis spora CMA yang terdapat di dalam inokulum tidak diketahui dengan pasti. Berdasarkan hal tersebut, Balitbu Tropika melakukan penelitian tentang pengemasan spora CMA ke dalam bentuk yang lebih praktis dan sederhana dengan dosis spora yang diketahui secara pasti agar mudah diaplikasikan. Hasilnya menunjukkan bahwa spora CMA dapat dikemas ke dalam kapsul dengan menggunakan Carier (bahan pencampur) yang terbaik dari tanah hitam.
Daya simpan dari spora CMA yang dikemas ke dalam kapsul ini cukup lama, karena
penyimpanan sampai 18 bulan masih cukup infektif dan efektif dalam memacu pertumbuhan bibit manggis. Cara aplikasi kapsul ini juga sangat mudah yaitu dengan membuat lubang dengan sebilah bambu sebesar pensil di sebelah kiri atau kanan bibit manggis sedalam 4-5 cm. Selanjutnya kapsul bermikroza tersebut dimasukkan ke dalam lubang dan lubang ditutup kembali dengan tanah.
Dalam pembangunan bidang pertanian berkembang isu kebijaksanaan mengenai
budidaya tanaman yang diarahkan pada upaya mempertahankan/meningkatkan kesuburan lahan dengan hanya menggunakan input organik dan menekan input bahan kimiawi yang dapat mencemarkan dan merusak lingkungan. Berkaitan dengan isu kebijaksanaan tersebut, tampak bahwa penggunaan CMA pada tanaman manggis dapat berperan ganda yaitu selain dapat memacu pertumbuhan bibit manggis, juga dapat mendukung kebijaksanaan pemerintah tersebut, karena CMA dapat menekan penggunaan pupuk kimiawi, meningkatkan produktivitas lahan-lahan marginal dan membantu rehabilitasi lahan kritis.

M. Jawal Anwarudin Syah, Irwan Muas dan Yusri Herizal
Penulis dari Balai Penelitian Tanaman Buah Tropika, Puslitbanghorti
                                                                                    Dimuat dalam Tabloid Sinar Tani, 24 Oktober 2007


0 komentar:

Poskan Komentar