music

Total Tayangan Laman

Ada kesalahan di dalam gadget ini

LAPORAN PRAKTIKUM DPKP ACARA IV KUJUNGAN KELOMPOK TANI (PEMBUATAN ALAT PERAGA PENYULUHAN)

06.24 |


LAPORAN PRAKTIKUM
DASAR-DASAR KOMUNIKASI PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN

ACARA IV

KUJUNGAN KELOMPOK TANI
(PEMBUATAN ALAT PERAGA PENYULUHAN)


Disusun oleh :
1.      Meriyana                           (12785)
2.      Ulfah Nurul Hidayati        (12892)
3.      Arin Amini                        (13049)


LABORATORIUM PENYULUHAN DAN KOMUNIKASI PERTANIAN
JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2013



I.     PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
Pertanian adalah kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang dilakukan manusia untuk menghasilkan bahan pangan, bahan baku industri, atau sumber energi, serta untuk mengelola lingkungan hidupnya. Kegiatan pemanfaatan sumber daya hayati yang termasuk dalam pertanian biasa dipahami orang sebagai budidaya tanaman atau bercocok tanam serta pembesaran hewan ternak, meskipun cakupannya dapat pula berupa pemanfaatan mikroorganisme dan bioenzim dalam pengolahan produk lanjutan, seperti pembuatan keju dan tempe, atau sekedar ekstraksi semata, seperti penangkapan ikan atau eksploitasi hutan.
Sektor pertanian merupakan sektor yang mempunyai peranan strategis dalam struktur pembangunan perekonomian nasional. Karena dalam tahapan-tahapan kegiatannya  memerlukan tenaga kerja yang banyak mulai dari pembuatan bibit unggul, pembibitan, penebaran benih, sampai panen, dan terakhir pemasaan, semua ini bisa menyerap tanaga kerja bahkan bisa mengatasi pengangguran. Namun selama ini sektor pertanian merupakan salah satu sektor yang tidak mendapatkan perhatin secara serius dari pemerintah dalam pembagunan bangsa.
Pembangunan pertanian Indonesia hingga saat ini masih belum dapat menunjukkan hasil yang maksimal jika dilihat dari tingkat kesejahteraan petani dan kontribusinya pada pendapatan nasional. Hal penduduk Indonesia yang menggantungkan hidupnya pada sektor ini, serta perannya dalam penyediaan pangan masyarakat dan menjadi basis pertumbuhan di pedesaan. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah dimulai dari tahap yang paling kecil, yaitu membentuk kelompok tani padda setiap desa. Sehingga para petani mempunyai kelompok ataupun persatuan yang semakin menguatkan dan memudahkan mereka dalam bertani.
Salah satu kelompok tani yang dibentuk adalah kelompok tani Sri Rejeki. Kelompok tani ini dibentuk pada tahun 1970 dengan anggota masyarakat dusun Gedongan, desa Sinduadi, kecamatan mlati, kabupaten Bantul. Ada beberapa permasalahan pertanian mendorong para masyarakat membentuk kelompok tani Sri Rejeki. Permasalahan pertanian mengenai pemberantasan organisme penganggu tanaman yaitu yang menyebabkan penyakit layu Fusarium dan penyakit aktraksnosa, kemudian ketidakserenmpakan waktu tanam.
Kelompok tani Srirejeki ini berdiri dengan modal awal Rp.800.000 dan sekarang menjadi Rp.150.000.000 yang berasal dari koperasi simpan pinjam petani sekitar. Karena berdirinya kelompok tani ini sudah lama jadi pengaturan dan kekompakan kelompok tani srirejeki ini sudah bisa dikategorikan bagus, hal ini terlihat dari jumlah petani yang berperan aktif dalam kelompok tani adalah 63 petani, sedankan petani yang hanya ikut-ikut saja sebanyak 113 petani, dan dari total para petani yang ada di dusun gedongna ini hanya ada 3 petani yang tidak ikut dalam kelompok tani.
Susunan anggota kelompok tani Srirejeki:
1.         Pelindung      : Bapak Dukuh Supardi B.A.
2.         Ketua I                      : Bapak Sugeng
3.         Ketua II        : Bapak Sugino
4.         Sekretaris      : Bapak Pnut Riyadi
5.         Bendahara     : Bapak Muslam
6.         Koperasi        : Bapak Suroto dan Bapak Supriyadi
Kegiatan yang dilakukan kelompok tani :
1.         Pertemuan rutin setiap tanggal 5 pada setiap bulannya
2.         Musyawarah penentuan pola tanam
3.         Musyawarah penentuan kapan waktu tanam
4.         Koperasi Simpan Pinjam Srirejeki
5.         Penentuan dan pengaturan irigasi sebelum masa tanam
B.       TUJUAN
Tujuan diadakanya kunjungan petani pada kali ini yaitu;
1.         Melatih mahasiswa agar dapat merangsang dan membuat alat peraga penyuluhan yaitu poster, leafleat, atau folder berdasarkan masalah yang ada pada sasaran
2.         Melatih mahasiswa untuk memberikan penyuluhan dengan alat peraga penyuluhan
3.         melatih mahasiswa untuk melakukan difusi dan diseminasi inovasi kepada kelompok tani melalui alat peraga


II.           PERMASALAHAN PETANI

Permasalahan yang ada pada kelompok tani di Dusun Gedongan Kecamatan Mlati yaitu pada tanaman cabai. Tanaman cabai tersebut terkena penyakit fusarium dan antraknosa. Hal itu mengakibatkan banyak cabai yang gagal panen dan kebanyakan petani sulit untuk mengatasinya. Alhasil petani cabai di daerah tersebut sudah pasrah dalam menghadapi masalah tersebut. Selain itu masalah yang terjadi pada kelompok tani tersebut yaitu ketidakserempakan dalam penanaman. Beberapa petani yang lebih kaya (materi) biasanya menanam lebih dulu karena mereka bisa membeli tenaga kerja. Padahal sudah kesepakatan kelompok bahwa setelah panen ada jeda waktu sebulan. Oleh karena itu dibutuhkan pembenahan lebih lanjut tentang masalah tersebut.

III.        SOLUSI PERMASALAH

1.        Layu Jamur (Fusarium)
Layu ini disebabkan oleh infeksi jamur fusarium sp. Cara kerjanya menginduksi akar tanaman lalu membentuk koloni di pangkal batang tanaman. Jamur fusarium yang berkoloni tersebut menyedot nutrisi yang dibutuhkan tanaman sehingga suplai makanan yang diserap akar yang seharusnya di distribusikan ke jaringan tanaman menjadi berkurang dan lama-kelamaan berhenti dan mati.
Ciri- ciri cabai yang terserang penyakit ini ditandai dengan menguningnya daun-daun tua yang diikuti dengan daun muda, pucatnya tulang-tulang daun bagian atas, terkulainya tangkai daun, dan layunya tanaman. Batangpun membusuk dan agak berbau amoniak. Jika pangkalnya dipotong, akan terdapat warna cokelat berbentuk cincin dari berkas pembuluhnya. 
Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain dengan
1.      Memusnahkan tanaman yang terserang terserang,
Tanaman yang telah terserang layu fusarium sebaiknya segera dicabut dan dimusnahkan. Usahakan jangan sampai tanahnya tercecer dan bertebaran ke mana-mana karena dapat menulari tanaman yang sehat.  Setelah dicabut, taburi lubang bekas tanaman terserang tadi dengan kapur secukupnya dan lubang ditutup kembali dengan tanah.tanaman yang terserang jika dibiarkan saja akan menularkan spora jamur pada tanaman yang masih sehat akibatnya tanaman tersebut ikut terserang. Apabila hal ini terjadi tanpa ada pengendalian dan perhatian dari petani dikhawatirkan petani mengalami gagal panen karena semua tanaman cabai akan layu dan berujung mati. saluran pembuangan air harus betul-betul rapi.
2.      Pastikan tidak ada air menggenang di areal pertanaman cabai (Pengaturan irigasi)
Pengaturan irigasi yang baik sangat perlu dilakukan karena keadaan tanah yang terlalu lembab atau adanya air yang menggenang di permukaan tanah menyebabkan spora jamur berkembang biak dengan sangat cepat karena kondisi lingkungan sangat mendukung kehidupan spora jamur tersebut.
3.      Penggiliran tanaman (Pengaturan pola tanam)
Pergiliran tanaman lain selain tanaman dari famili Solancea (terung-terungan) perlu dilakukan.  Jika sebelumnya lahan pernah ditanami cabe atau tanaman lain yang masih satu famili, lebih baik jangan ditanami cabai lagi karenaspora jamur mampu beradaptasi hidup dalam tanah dalam waktu satu tahun, sehingga dikhawatirkan sporanya menyebar pada tanaman yang baru ditanam.
2.        Penyakit Anthracnose
 Penyakit anthracnose buah, disebabkan oleh jamur Coletroticum capsii. Penyakit antracnose sering disebut sebasgai penyakit patek oleh kalangan petani. Serangan jamur tersebut biasanya akan meningkat saat kelembaban tinggi disertai suhu udara yang tinggi pula. Gejala awalnya adalah kulit buah akan tampak mengkilap, selanjutnya akan timbul bercak hitam yang kemudian meluas dan akhirnya membusuk. Untuk pengendaliannya, ada beberapa hal yang perlu dilakukan:
  1. Menggunakan bibit yang sehat, jika menggunakan bibit sendiri, sebaiknya tidak menggunakan dari bekas cabai yang terserang antrak karena spora jamur tersebut mampu bertahan pada benih cabai.
  2. Memilih lokasi lahan yang bukan bekas tanaman cabai, terong, tomat dll (satu famili dengan cabai). Spora Colletotricum mampu beradaptasi hidup dalam tanah dalam waktu tahunan, dikhawatirkan spora jamur tersebut menular pada tanaman yang baru ditanam.
  3. Menggunakan pupuk dasar maupun kocoran yang rendah unsur Nitrogen, karena unsur N hanya akan membuat tanaman cabai menjadi rentan. Selain itu unsur N juga akan membuat tanaman menjadi rimbun yang akan meningkatkan kelembaban sekitar tanaman. Selain itu untuk mengurangi kelembaban ada baiknya digunakan jarak tanam yang ideal sesuai dengan varietas yang akan kita tanam, diusahakan jangan terlalu rapat karena hal ini akan sangat membahayakan.
  4. Penggunaan mulsa plastik untuk menghindari penyebaran spora jamur melalui percikan air hujan. Sebab buah cabai yang terserang antrak yang telah jatuh ke tanah dan terjadi hujan, percikannya dapat membawa spora jamur yang ada pada buah cabai tersebut.
  5. Apabila langkah-langkah diatas sudah dilakukan tetapi masih terjadi serangan penyakit antrak, sebaikanya tanaman yang sakit dibuang ataupun dibakar. Hal tersebut dilakukan untuk menghindari penyebaran spora jamur yang sangat cepat pada tanaman cabai.
  6. Tindakan lain yang perlu dilakukan adalah menyemprot dengan fungisida kontak (dithane, nordox, kocide, antracol, dakonil dll) bersamaan dengan sistemik (derosal, bion M, amistartop dll) dengan dosis yang cukup (jangan terlalu berlebihan).
3.        Ketidakserempakan Waktu Tanam
Ketidakserempakan waktu tanam petani mengakibatkan pengendalian hama lebih sulit dilakukan. Kecenderungannya petani yang memiliki materi lebih akan memilih menanam terlebih dahulu karena mereka butuh tenaga kerja tanam. Hal tersebut dapat diatasi dengan adanya kebijakan ketua kelompok tani dengan menetapkan kegiatan taam dilakukan bersama, dan untuk peani yang membutuhkan tenaga tanam lebih dapat mengambil tenaga tanam dari luar daerah. Pengambilan tenaga tanam dari luar daerah bisa dilakukan sebagai bentuk kerja sama antar kelompok tani pada daerah yang berbeda, sehingga keduanya memiliki hubungan simbiosis mutualisme yang tidak merugikan satu sama lain.




IV.        ALAT PERAGA

Poster adalah karya seni atau desain grafis yang memuat komposisi gambar dan huruf di atas kertas berukuran besar yang berisi pesan – pesan atau informasi yang biasanya di tempel di tembok – tembok, di tempat – tempat umum atau di kendaraan umum. Sifat sebuah poster adalah mencari perhatian mata sekuat mungkin.
Tujuan poster adalah menginformasikan kepada pembaca tentang sebuah informasi yang dikemas dengan kata-kata lebih singkat, padat, jelas dan menarik. Manfaat poster adalah agar para pembaca lebih mengerti apa yang ingin di ungkapkan sang penulis poster dengan menggunakan kata-kata yang lebih singkat dan sederhana.
Poster adalah gambar pada selembar kertas berukuran besar yang digantung atau ditempel di dinding atau permukaan lain. Poster merupakan alat untuk mengiklannkan sesuatu, sebagai alat propaganda, dan protes, serta maksud-maksud lain untuk menyampaikan berbagai pesan. Selain itu, poster juga dipergunakan secara perorangan sebagai sarana dekorasi yang murah meriah terutama bagi anak muda.
Kelebihan:
·           Dapat menjadikan motivasi bagi orang yang melihatnya.
·           Warna yang digunakan menarik perhatian.
·            Kata-katanya singkat dan jelas.
·           Khalayak umum dapat membacanya berulang-ulang kali
·           Ketika pembaca tidak paham pada satu bagian dari isinya, pembaca dapat menanyakan pada orang lain.
Kekurangan:
·           Terkadang tulisannya sukar dipahami.
·           Untuk menikmatinya diperlukan kemampuan membaca dan atensi atau perhatian, karena tidak bersifat auditif dan visual,
·           Pembaca harus bisa berimajinasi untuk menikmati dan memahaminya.
·           Membutuhkan proses penyusunan dan penyebaran yang kompleks dan membutuhkan waktu yang relatif lama.

V.           PENUTUP

KESIMPULAN
1.        Dari hasil wawancara dengan kelompok petani didapatkan beberapa masalah yaitu; penyakit layu fusarium dan antraknose yang menyerang tanaman cabai, serta ketidakserempakan waktu tanam.
2.        Pengendalian untuk penyakit anthracnose dan layu fusarium pada cabai bisa diatasi dengan 5P yaitu: pengaturan irigasi, pengaturan kelembaban, pengumpulan bibit cabai yang terserang penyakit antraknose, pencabutan tanaman, dan pengaturan pola tanam.


0 komentar:

Poskan Komentar